
"Selanjutnya siapa yang akan maju...!." Jaya dengan penuh percaya diri menantang lawan lawannya yang masih dalam posisi mengepung melingkupi nya.
SLAAARRAT...
Sesosok bayangan melesat dengan kecepatan tinggi, maju langsung memberikan sebuah hantaman ke arah Jaya.
Aura pukulan yang begitu kuat mengarah langsung ke arah kepala.
Gelombang serangan yang mampu menghancurkan batu karang hanya dengan lewatnya gelombang angin serangan itu menerabas udara, memecah kehampaan.
"Huh.." Jaya mendengus, masih acuh tak acuh, dengan sedikit bergeser Jaya menaikan tangan kiri yang memegang perisai Wojo Digdoyo, menghadang hantaman serangan tersebut.
DUAAARR...
Ledakan terdengar begitu Jaya mengibaskan tangan kanannya, serangan yang begitu kuat tersebut langsung buyar, kemudian dengan sangat cepat tangan kanannya bergerak lalu tombak yang di pegang nya langsung menusuk cepat ke arah lawan yang baru menyerangnya.
Mata Dewa yang baru saja menyerangnya terbeliak seketika, dirinya adalah seorang Dewa yang di kenal karena kecepatan serangan nya, namun kini serangan nya dengan mudah di hadang bahkan dirinya di serang balik.
CRAAASH.....
Tusukan tombak itu melesat lebih cepat dari gerakan dewa penyerang, mata tombak langsung bersarang di dada sang Dewa.
"Aaaaa..."
Dadanya terkoyak, sang Dewa menjerit-jerit dengan raut wajah yang tidak puas, pasalnya kecepatan yang selama ini di andalkan tak mampu membuatnya unggul atas lawannya.
"Matilah kau...!."
Jaya tetap menahan tusukan tombak nya, bahkan saat lawannya mencoba melepaskan diri dari tusukan agar bisa memperbaiki kerusakan di tubuh nya tak diberi peluang untuk itu.
"Rontok Raga Abadi mu...!!." teriak Jaya sambil mengguncang guncangkan tusukan tombaknya, tindakan tersebut secara tak langsung membuat kerusakan di tubuh lawan kian parah pasalnya saat raga lawan meregenerasi jaringan tubuh langsung di rusak lagi dengan gerakan menusuk nusuk begitu berulang ulang.
Dewa penyerang makin pias wajahnya, Raga Abadi nya langsung berguguran karena mendapatkan serangan berulang kali. "Mati Ingsun."
"Keparaat....!, dasar Bajingaaan...!," Aryo Baruno berteriak mengumpat melihat dua anak buahnya langsung celaka hanya dalam beberapa serangan.
"Semuanya seraaang...!!." Aryo Baruno berteriak keras.
Ledakan tenaga aura dewa langsung menggelegar menyapu apapun yang ada di sekitar mereka.
__ADS_1
Semua Dewa itu langsung menyerbu maju menyerang ke arah Jaya.
Jaya langsung melempar tubuh Dewa yang tadi ada di ujung tombak untuk menyerangnya. Dia mengibaskan nya bagaikan seonggok daging kotor yang menempel di senjata nya.
SLAAARAAAK....!
Dewa itu terlempar jauh dengan lapisan Raga Abadi yang sudah rontok dari tubuh nya, mukanya sangat pucat karena lapisan yang melindungi nyawanya kini sudah menghilang.
Jaya langsung menyongsong datangnya serangan dari para Dewa pengeroyoknya.
Aneka senjata berdesing menyasar tubuh nya dengan luapan ledakan energi kekuatan yang sangat merusak.
Gelombang kekuatan yang sangat mengerikan menebas kearah Jaya.
SRIIING....
SRIIINNGG....
"HIAAAAAA.......!."
Begitu teriakan para penyerang terdengar disertai dengan sambaran senjata senjata itu, sebuah badai tercipta menggempur ke arah Jaya.
BLUAAAAAAARRRRR.......
Jaya menangkis semua serangan yang menyambar ke tubuh nya. Percikan api tercipta berturut-turut saat senjata senjata itu beradu dengan kuat.
Gelombang tsunami menyebar ke seantero penjuru akibat ledakan benturan kekuatan itu saat beradu.
Jaya terperosok masuk ke dalam tanah sedalam paha dan tercipta sebuah kawah dengan diameter ratusan meter, bagaimana pun kekuatan Lima puluh Dewa sangatlah dahsyat.
Sedangkan lawan lawannya terlempar beberapa ratus meter jauhnya, akibat badai ledakan yang terjadi dan mementalkan mereka.
"Uugh.., dasar payah..," Jaya mengumpat pelan sambil mengusap sedikit darah di sudut mulut nya.
"Keparaat...!, kurang ajar, kuat juga sosok ini, pantas saja semua pada menyerah saat memburunya.'' Aryo Baruno sedikit mengeluh, dirinya tak mengira bahwa Dewa yang diburunya sekuat itu, bahkan mampu menghadang hantaman serangan semua anggota termasuk dirinya.
**
Di tempat lain, tepatnya di Alam Dewa.
__ADS_1
Ratusan bahkan ribuan Iblis sudah berhasil menyeberang ke alam para Dewa tersebut.
Mereka datang dengan kekuatan penuh yang diperkirakan akan sanggup menghancurkan kekuasaan di alam Dewa.
"Ggrrrooaaar...!, aku tak sabar menghancurkan alam ini beserta isinya.." kata petinggi iblis.
"Hhhuuuaa...huaa...haa.haa...begitu juga dengan ku, ingin ku balas semua perlakuan mereka terhadap ras kita." sahut petinggi para Iblis lainnya dengan menyeringai menakutkan.
Tempat yang tersembunyi tersebut kini sudah penuh dengan pasukan Iblis, mereka bersarang di wilayah itu hingga beberapa saat untuk menghimpun kekuatan menyerang para Dewa.
"Ggrrrhhh..., kita harus bersabar sebentar, menunggu perintah selanjutnya dari Jendral Iblis Merah dan Jendral Iblis Hitam, karena masih menunggu kebangkitan Raja Agung menuju kesempurnaan."
"Benar apa katamu, kita harus mengingatkan para anggota agar tak keluar dari lapisan pelindung yang menjaga keberadaan kita disini."
Sebuah jurang di pedalaman Alam Dewa dengan luas yang tak terkira kini telah menjadi markas Iblis, mereka sudah siaga berkumpul di sana menunggu kebangkitan Raja Agung Iblis dan perintah nya.
Saat ini wilayah tersebut memang nampak selalu tertutup kabut tebal di sekitar nya, mengelilingi tempat itu dari pengawasan dunia luar, seakan menjaga dari penglihatan yang lainnya.
Kabut misterius yang sesungguhnya lapisan pelindung alam tersebut di ciptakan oleh para petinggi Iblis, melindungi keberadaan para Iblis dari deteksi para Dewa.
Lapisan berujud kabut yang melingkupi hutan belantara beserta jurang jurang nya dengan area yang sangat luas, menjaga keberadaan iblis selama ini.
"Ya aku akan mengingatkan mereka dengan keras, jangan sampai melewati batas yang telah kita tentukan, jika ada yang melanggar pasti aku hukum berat."
"Bagus, jangan sampai keberadaan kita terendus pihak lawan." kata petinggi iblis berwajah burung dengan paruh tajamnya.
"Ayo kita awasi kembali pekerjaan para kepala kelompok dalam melakukan tugas kewajiban nya." sahut petinggi iblis lainnya, yang bermuka seperti monyet, menghentikan obrolan keduanya.
Dua petinggi iblis itu langsung melesat laksana sebuah sinar menerabas jurang di hutan tersebut.
**
Pertarungan di tanah Utara makin dahsyat dan menakutkan. Kini alam tersebut sudah porak poranda, hancur berantakan. kawah kawah dadakan bermunculan di sana, menciptakan lubang lubang yang tak beraturan tercipta akibat dari hempasan gelombang angin pukulan dari yang bertarung di sana.
Gunung dan bukit banyak yang luruh, longsor terhantam badai serangan dari yang tengah bertarung.
Para pengeroyok Jaya masih kesulitan untuk menaklukan sang Dewa Perang, meski dikeroyok oleh lima puluhan Dewa tak membuat satu sosok tersebut terdesak. Alih alih gambaran sedikit keunggulan, para pengeroyok itu malah terkadang kocar-kacir diserang oleh Jaya Sanjaya.
Kekuatan sang Dewa Perang memang benar benar menakutkan, satu demi satu para Dewa pengeroyoknya berguguran setelah lapisan Raga Abadi yang membuatnya tak mudah mati dan bisa meregenerasi anggota tubuh dewa musnah di luruh kan Jaya.
__ADS_1
Kini tercatat hampir separuh dari dewa pengeroyoknya sudah mati, mereka mati setelah keajaiban dari Raga Abadi luruh dan musnah sehingga raga mereka tak lebih dari raga orang biasa yang bisa terluka dan akhirnya mati.