Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Di buru kelompok yang lain...


__ADS_3

Kumala malah tertawa keras mendengar keluhan Pelangi yang tak memiliki uang sepeser pun.


"Iih Kaka Kumala malah senang mentertawaiku.." sungut Pelangi dengan muka cemberut.


Kumala kembali tertawa meskipun tak sekeras tadi.


"Lihatlah ini adik, uang kita," sahut Kumala memamerkan sebuah kantong yang dia keluarkan dari balik bajunya yang berlapis lapis tersebut.


"Uang?, uang kita?." tanya Pelangi dengan kebingungan.


"Iya..uang kita berdua," sahut Kumala menegaskan perkataan nya.


"Kok bisa?, aku tak merasa menitipkan uang ke Kaka"


Pelangi yang kebingungan masih menatap Kantong yang terlihat penuh dengan isinya tersebut.


"Di kantong ini ada koin emas, dan beberapa emas perhiasan yang bisa di tukar uang."


"Ini aku dapatkan dari pemimpin kota Lembah Emas, saat kami melintas di sana."


"Intinya....kami saat itu membantu Kota itu terbebas dari orang jahat, dan aku yang dikira istri Kakang Jaya, mendapatkan uang uang ini sebagai tanda ucapan terima kasih mereka kepada Kakang Jaya beserta rombongan."


"Jadi karena ini untuk istri kakang Jaya, berarti adik Pelangi juga punya hak atas harta benda ini." kata Kumala panjang lebar menerangkan asal muasal uang uang emas tersebut.


"Karena kita adalah calon istri Kakang Jaya," kata Kumala lagi sambil tersenyum dengan penuh percaya diri mengaku sebagi calon istrinya.


Pelangi hanya membulatkan bibir merahnya, mendengar penjelasan dari Kumala dengan sedikit berapi api.


"Pokonya nanti jika sudah di kota kita akan senang senang dengan uang ini." Kata Kumala lagi sambil tersenyum senang.


Pelangi hanya mengangguk dengan wajah berbinar dan nampak senang.


Mereka berkuda dengan santai, sambil berbincang hingga terus masuk dan membelah hutan selepas keluar dari batas wilayah kerajaan Sirih Putih.


**


"Sudahlah Dinda...mungkin sudah suratan takdir jika kita kehilangan anak kita," pelan dengan penuh hati hati Jambumangli mencoba menghibur istrinya yang selalu bersedih karena kehilangan satu satunya anaknya.

__ADS_1


Istri Jambumangli menoleh menatap suaminya masih menangis dengan pandangan teramat sedih, "Kakang semudah itu mengiklaskan Kumala anak kita?, tak adakah sedikit saja rasa sayang di hati kakang dengan satu satunya anakmu?." dengan sinis istri Jambumangli berkata.


"Dinda jangan berkata begitu, bertukar nyawa pun aku lakukan untuk Kumala anak kita," sahut Jambumangli sambil berkaca kaca matanya.


Semenjak berita hilangnya Kumala kedua suami istri itu sering terlibat pertengkaran, apalagi penyebab nya jika bukan karena hilangnya Kumala di markas Mata Iblis.


"Apakah kakang tidak pernah berfikir jika kelompok kakang memang sengaja ingin menghabisi anakmu?dan kakang hingga saat ini hanya berdiam diri berpangku tangan?."


Istri Jambumangli menyerang suaminya dengan kata kata kasar yang di ucapkannya.


"Hati hati Dinda jika bicara, bahkan dinding juga bisa mendengar perkataan ini..!," sedikit kasar Jambumangli mengingatkan istri nya.


Kembali istri Jambumangli menangis sesenggukan memilukan.


"Percayalah aku tak akan tinggal diam Dinda," kata Jambumangli kembali mencoba mendekat dan meraih istri nya dalam rengkuhannya namun malah di tepis sang istri.


"Hu..hu..hu..aku akan tetap mencari anakku," tangis sang istri makin terdengar keras dan memilukan.


Jambumangli menarik nafasnya, bukannya dia tak berusaha, usaha sudah di kerahkan dengan mati matian, bahkan kini dirinya setengah hati mengikuti kegiatan Mata Iblis di karenakan selalu mencari titik terang keberadaan Kumala.


Kembali Jambumangli menarik nafasnya dalam dalam, pikiranya melanglang buana kemana mana.


**


"Panggil kelompok Srigala Merah, aku akan memberikan tugas untuk nya."


"Baik tetua," sahut salah satu anggota Jiwa Abadi yang bertugas menjadi prajurit penjaga.


"Untuk kalian nanti akan ada tugas baru yang akan menyusul..,"kata Iblis Wora yang di angguki oleh Iblis Wari.


Iblis Wora dan Iblis Wari konon di ciptakan dengan bentuk dan bahkan hati yang sama, dalam arti kata mereka mampu berkomunikasi hanya dengan saling diam, dan percakapan dalam hati, meskipun kadang kadang mereka juga berbincang layaknya manusia biasa.


Rakumba menjura menghormat kepada kedua tokoh Tetua Agung Jiwa Abadi tersebut karena akan mendapatkan tugas baru bersama kelompok nya.


"Kalian bisa meninggalkan tempat ini, beristirahat lah sampai mendapatkan tugas baru sebentar lagi," sahut Iblis Wari sambil mengibaskan tangannya tanda mengusir kelompok Rakumba, Burgundi dan Jalak Wiguna si muka merah, beserta anak buahnya.


"Terimakasih atas kebaikan Tetua agung," sahut Rakumba kembali menjura, menghormat sebelum meninggalkan tempat pertemuan tersebut bersama rombongan nya.

__ADS_1


Tak berapa lama setelah kelompok Rakumba undur diri, datangkan sekelompok orang menggunakan baju rompi dengan motif bulu bulu dengan aneka ragam senjata datang menghadap kepada dua Iblis tersebut.


Sekitar limapuluhan orang nampak memasuki ruang pertemuan dan mulai duduk bersila di depan dua Iblis tersebut.


"Kami menghadap kepada Tetua Agung yang kami di muliakan," salam salah satu orang dari kelompok tersebut, yang menggunakan semacam penutup kepala berbentuk Kepala Srigala.


"Krash...aku memanggilmu kemari karena ada sebuah tugas yang teramat penting," sahut Iblis Wari menatap ke arah pria dengan badan hampir setinggi dua iblis itu.


Ya Sepasang Iblis memang memiliki tinggi badan yang sangat menjulang tak seperti kebanyakan orang, dua iblis ini hampir satu setengah kali tinggi badan manusia biasa.


Pria tinggi besar yang di panggil dengan nama Krash menaikan wajahnya yang sempat menunduk tadi, menatap sang Junjungan.


"Sebuah kehormatan bagi saya pribadi dan kelompok kami secara umum, mendapatkan tugas dari tetua yang Agung," balas Krash dengan sembah sujud merunduk lagi sambil bersila di hadapan dua Iblis tersebut.


"Mendekat lah.." perintah sang Iblis.


Setelah Krash mendekat, Iblis Wora berdiri lalu mengangsurkan sebuah senjata berupa pedang pendek, "Ini adakah senjata yang sempat berbenturan dengan senjata kelompok yang menggangu urusan kita, carilah dan musnahkan kelompok itu, bawalah pasukan terbaikmu." perintah nya.


Krash menyambut senjata tersebut mencium ciumnya selayaknya seekor anjing liar, matanya terpejam dan lidahnya menjilat menjulur menangkap aroma dari pedang pendek tersebut.


Bau dari senjata yang terakhir berbenturan dengannya termasuk aroma dari kibasan pakaian lawan sudah tercetak di ingatanya.


Krash nampak mengangguk anggukan kepala nya.


"Bawalah senjata itu..siapa tau kau butuh memastikan kembali," kata Iblis Wari menimpali saudaranya.


"Sendiko dawuh Yang Mulia Tetua Agung." balas Krash lalu menyimpan senjata tersebut setelah tadi melakukan ritual pelacakan.


"Aku pinjamkan kepada mu sebuah pusaka gada Wesi Kuning, sebuah pusaka tingkat Dewa yang akan memudahkan mu menjalankan misi ini."


Gada Wesi kuning adakah senjata tingkat Dewa, sebenarnya ini adalah senjata andalan Iblis tersebut, namun karena begitu mempercayai anak buahnya dan demi menjalankan misi nya maka dia meminjamkan senjata tersebut.


"Sekarang pergilah, tunaikan tugas itu tanpa gagal...ingat tanpa Gagal..!!," teriak Iblis Wari.


Setelah menjura dan menghormat rombongan Srigala Merah akhirnya meninggal kan tempat tersebut setelah mendapat kan kejelasan tugas dengan barang bukti sebagai panduannya.


Pedang pendek itu adalah salah satu senjata milik Sugara saat bertarung dengan Burgundi waktu itu.

__ADS_1


___________


Jangan lupa tinggalkan jejak nya...maaf hari kemarin tak sempat update jadi gantinya hati ini.... makasih Kaka....


__ADS_2