Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Ikut Memburu Pusaka


__ADS_3

Kehebatan para pemburu pusaka tak di ragukan lagi.


Tiap kelompok memperlihatkan kehebatan dari kekuatan masing masing.


Semua menuju ke arah tenggara dari Kerajaan Agung Karang Pandan tersebut.


Sebuah kelompok yang terdiri dari lima orang juga nampak meloncat loncat dari pohon ke pohon.


Jika di lihat dari tanda garis yang ada di dahi, kelompok ini bernama kelompok Iblis Pemusnah.


Mereka adalah kelompok yang berasal dari golongan hitam.


Entah dengan maksud apa kelompok ini mau mengikuti sayembara yang di adakan oleh Kerajaan Agung Karang Pandan, karena jika di lihat karena ingin harta benda dan kedudukan kelompok ini sudah mempunyai itu semua.


Di wilayah Kerajaan Agung Pati Sruni, kelompok Iblis Pemusnah cukup di kenal dan di takuti, karena itu meski tak memiliki Kedudukan resmi di pemerintahan tapi kelompok ini memiliki wilayah cakupan kekuasaan yang luas tanpa bukti tertulis.


Bahkan konon Kelompok ini di sinyalir menjadi tokoh di balik layar kesuksesan dari Maha Raja Pati Sruni yang bergelar Maha Raja Jombang Wirajuda.


"Kakak pertama lihatlah di depan ada sekelompok orang..," seru pria dengan tiga garis putih di dahi nya.


Pria yang di panggil kakak pertama menatap jauh di depan mereka.


Saat itu kelima orang tersebut tengah duduk istirahat di dahan sebuah pohon yang sangat tinggi.


"Hmm benar sekali apa katamu adik ketiga..," jawab pria dengan satu garis putih di dahi nya tersebut.


"Nampak nya mereka juga ingin mendapatkan pusaka tersebut," seru pria di samping Kakak pertama tadi, dia adalah pria dengan dua garis putih di dahi nya.


"Darimana mereka berasal ya..?," tanya salah satu pria dengan badan paling besar dan cambang serta kumis lebat, tapi di dahi nya terdapat lima garis putih.


"Entahlah..., sebaiknya kita hati hati saja kakak Pertama..?," tanya pria dengan empat garis putih di dahi nya.


"Ya...jika aku lihat dari sini mereka berjumlah puluhan orang."


**


Orang orang Es Abadi sedang menikmati makanan yang mereka dapatkan.


Daging kerbau bakar, tercium sangat menggoda siapa saja yang mencium bau nya.


Tak jauh dari rombongan tersebut terlihat sesosok pria tua dengan pakaian compang camping terlihat duduk di bawah pohon.


Entah sejak kapan sosok itu ada di sana, nampak menatap kerumunan puluhan orang yang tengah menikmati Bakaran daging kerbau.


Orang orang partai Es Abadi tak ada yang menghiraukan sosok pria tua tersebut.


"Aaauuwww...!!."


Tiba tiba pria tua itu berteriak teriak tak jelas sambil memegangi perutnya.


"Lapaar...!!," teriaknya masih memegangi perutnya.

__ADS_1


Orang orang Partai Es Abadi hanya menatap tajam tak ada satupun yang bergerak mendekat, apalagi membagi makanan.


"AAAAAUUUWWWW...!!!."


Sebuah suara teriakan yang lebih mirip lolongan itu makin keras terdengar hingga terasa sakit telinga orang orang partai Es Abadi.


"Keparaat...!!, gembel sialan..!!, membuat nafsu makan ku jadi hilang..!," teriak Ki Brengos pemimpin kelompok partai Es Abadi tersebut.


Teriakan pemimpin itu membuat salah satu anggota partai Es Abadi ikut berang, "Kurang ajar..!! biar aku bereskan gembel itu, tetua..!," katanya sambil berlalu pergi ke arah pria tua dengan baju compang camping tersebut.


"Tahaan..!!," teriak Ki Brengos, lalu melemparkan segumpal daging bakar.


"Berikan saja daging itu pada nya..hari ini aku sedang longgar hati ku..," kata Ki Brengos memberikan sebongkah daging yang sedikit gosong.


Anggota partai Es Abadi itu menghampiri pria tua tersebut dengan bersungut-sungut, " Ni gembel makanan, untung saja tetua ku berbaik hati..!."


Anggota partai Es Abadi itu lalu melemparkan segumpal daging itu dengan kekuatan penuh berniat memberikan pelajaran, dan jika daging itu mengenai kepala orang itu mungkin rasanya seperti di tonjok.


Wuuusss...!!


Daging itu melesat kuat dengan gelombang angin yang menunjukkan kekuatan sang pelempar.


Taaapp...!!


Tapi dengan cekatan kakek tua itu menangkap daging tersebut dengan cara yang unik, dia meloncat bagai seekor anjing menangkap mangsa, dengan mulutnya.


Si pelempar sedikit kaget, niatnya memberi pelajaran, tapi malah di remehkan sang kakek dengan gaya tangkapan nya.


Kakek tua itu, tak menghiraukan apapun, memakan daging bakar yang hampir gosong itu dengan lahapnya.


"Ada apa ..?, kenapa marah marah..? ," tanya teman anggota partai Es Abadi, saat melihat teman sesama anggota itu nampak mengumpat.


"Gembel sialan..!!," umpat nya lagi sambil sama sama menoleh ke arah dimana kakek itu berada.


Namun semua nampak terkejut, karena tak di dapati sang kakek gembel disana lagi, padahal mereka tak mendengar sedikit pun gerakan orang melangkah atau melesat pergi.


Sangat luar biasa kemampuan sosok tersebut.


**


Jaya Sanjaya terlihat sudah akan meninggalkan padepokan perguruan Mata Dewa.


Sebuah perguruan yang tertutup sehingga tak ada yang tau jika hunian itu adalah sebuah perguruan ilmu Kanuragan tingkat tinggi.


Berkat bujukan dari Randu Sembrani dan Nyai Nilam Sari, akhirnya Pelangi bersedia di tinggalkan oleh Jaya Sanjaya.


"Ilmu Kanuragan mu masih terlalu rendah jika mau berkelana murid ku," kata Nyai Nilam Sari membujuk Pelangi kala itu.


"Jika nanti sudah waktunya aku sendiri yang akan menemani mu keliling jagat," sahut Randu Sembrani juga ikut membujuk sang gadis.


Setelah di bujuk dan dirayu dengan berbagai cara akhirnya Pelangi bersedia di tinggalkan oleh Jaya Sanjaya di tempat tersebut, dengan syarat paling lama enam purnama harus di jemput lagi.

__ADS_1


"Pokonya aku enggak mau tau..!, Kakang Jaya harus menjemput ku di sini paling lama enam purnama..!," rajuk Pelangi dengan berlinang air mata.


Jaya yang mendapatkan ijin gadis tersebut langsung mengangguk, entah mengapa dirinya tak akan lega bila gadis itu belum memberikan ijin nya, padahal bisa saja dia pergi diam diam tanpa sepengetahuan siapapun.


Rasanya setiap bersama gadis itu hatinya merasa senang saja, dan tak ingin membuat nya kecewa.


"Kakang berjanji akan ingat pesan ini, tapi Kakang juga berharap selama Kakang tinggal Dinda Pelangi harus berlatih dengan giat, meningkatkan diri agar kita bisa mengembara bersama sama kedepan nya.," kata Jaya Sanjaya, membuat Pelangi gembira meskipun sedih akan di tinggalkan.


Kini Jaya Sanjaya sudah berada di depan pendopo hunian tersebut, berpamitan dengan Randu Sembrani, Nyai Nilam Sari serta Pelangi dan penghuni yang lainnya.


"Ingat semua pelajaran tata letak yang aku ajarkan," kata Randu Sembrani kepada Jaya Sanjaya.


Ilmu tata letak adalah sebuah ilmu semacam peta jika di saat sekarang, mengajarkan dimana lokasi sebuah kerajaan kota dan sebagainya yang saat itu juga ada.


"Akan aku ingat semuanya kek, lagian aku sudah menggambarkannya di sini ," kata Jaya menunjukkan sebuah kain dengan gambar peta Panca Buana beserta kerajaan kecil yang di naungi nya.


"He.he..he...anak pintar," sahut Nyai Nilam Sari terkekeh menatap Jaya Sanjaya.


Pelangi hanya menatap dengan tatapan kosong matanya penuh air mata, meskipun dia mengijinkan jaya pergi tapi itu sebenarnya pilihan yang terakhir bagi nya.


**


Jaya melajukan kuda nya menuju arah tenggara dimana orang orang nampak berbondong bondong ke sana.


Berita tentang pusaka itu juga menggelitik hatinya, siapa tau itu adalah pecahan kekuatannya dan bisa mengembalikan ingatan tentang siapa dirinya sesungguhnya, meskipun roh tombak Seto Ludiro dan roh perisai Wojo Digdoyo sudah memberi tahukannya.


Berkelana seorang diri seperti ini ada kekurangan dan kelebihan nya.


Kekurangannya dia sedikit bingung, meskipun sudah di ajarkan masalah tata letak, dan segala pernak pernik kehidupan oleh Randu Sembrani dan Nyai Nilam Sari.


Namun kelebihannya dia bisa seenaknya sendiri dalam berkelana, mau berhenti di manapun kapan pun, mau berbuat apapun, bahkan mau berjalan kemana pun tak ada yang melarang.


Kruyuuk...! kruyuuk...!!


"Uhh.. Perutku mulai lapar," kata pelan Jaya Sanjaya sambil menatap ke arah matahari yang ternyata sudah condong ke barat, padahal saat itu dirinya tengah berada di hutan meskipun tak terlalu lebat dan rimbun karena hutan itu berada dalam wilayah antara satu kota ke kota yang lainnya dengan jarak tak terlalu jauh.


"Waah...mulai malam, padahal aku tak tau berapa lama lagi kota terdekat dari hutan ini," kata pelan Jaya Sanjaya, lalu menggebrak kudanya agar lebih cepat melaju.


Mendekati matahari tenggelam Jaya sudah tiba di sebuah wilayah yang lumayan ramai, orang orang menyebutnya kota Bintang, karena merupakan kota perbatasan antara dua wilayah Kerajaan Agung Karang Pandan dan Pati Sruni.


Perbatasan antara kerajaan Sirih Putih yang berada di bawah naungan Kerajaan Agung Karang Pandan dan kerajaan kecil Bumi Asih yang berada di bawah naungan Kerajaan Agung Pati Sruni.


Kota Bintang sendiri masih termasuk wilayah kerajaan Sirih Putih.


Kota yang lumayan ramai itu, kini makin ramai dengan banyaknya para pendekar berdatangan di sana.


karena di kerajaan Bumi Asih yang ada di sebelah kota inilah di sinyalir Pecahan Ndaru Kolocokro itu jatuh, jadi di mungkinkan pusaka tersebut ada di wilayah kerajaan Bumi Asih.


____________


Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejak nya...

__ADS_1


__ADS_2