Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Tiba di Ngarsopuro...


__ADS_3

Pelangi yang masih trauma dengan kehidupan masa lalu masih belum terlalu percaya diri, bayangan dirinya yang lemah dan di buru oleh para pendekar busuk membuat hatinya gundah, bayangan para prajurit yang membela nya hingga bertaruh nyawa membuat dada nya sesak bila mengingat itu.


Padahal kehebatannya kini sudah lumayan tinggi dengan jurus Mata Dewa yang dimiliki nya serta jurus Manggar Pecah yang sudah di kembangkan nya juga jurus jurus lain ajaran Randu Sembrani dan Nyai Nilam Sari, membuatnya menjadi wanita pilih tanding, setingkat Kumala anak ajaib dari trah Mata Iblis, yang hanya satu strip di bawah Kehebatan Ratu Mata Iblis yang penuh pengalaman hidup.


"Apa kamu ragu dengan kemampuan mu?, heumm?," pelan Jaya berbisik.


"Kemampuan diriku yang selalu membelamu?, dan kemampuan seluruh anggota Awan Putih ini?," kata Jaya lagi mengingatkan, sambil menunjuk semua yang berkuda di belakangnya.


Mendengar itu Pelangi langsung tersenyum sumringah, menoleh kepada Jaya, Kumala dan yang lainnya, semua juga tersenyum ke arahnya sambil mengangguk.


"Aku percaya, kakang dan semuanya pasti akan membantuku," kata Pelangi tersenyum mengepalkan tangannya keatas.


"Naah itu baru anggota Awan Putih namanya, tak mudah menyerah dan penuh semangat." sahut Jaya tersenyum, melihat tingkah polah Pelangi.


Pelangi kembali tersenyum.


Rombongan tersebut makin menuju ke pusat kota raja tepatnya akan menuju ke istana Ngarsopuro.


Tatapan orang orang yang menelisik tak lagi di hiraukan, apalagi kini mereka makin memasuki keramaian dimana orang makin lalu lalang memenuhi kebutuhan sendiri sendiri.


**


Di salah satu ruang istana.


"Lapor tuan Senopati Kidang Semeleh, hamba melihat serombongan orang dari arah selatan."


"Hamba melihat seperti nya Ndoro Putri Pelangi ada di dalam nya" sahut prajurit mata mata tersebut.


Kidang Semeleh terjingkat kaget, "Heh..hati hati jika bicara," seru Kidang Semeleh, berdebar dengan berbagai perasaan.


Kedatangan tuan Putri pasti akan membuat kegaduhan lagi.


"Benar tuan Senopati.'' sahut prajurit itu lagi, yakin dengan pengamatan nya.


"Baik, hati hati jangan sampai berita ini tersebar, siapkan pengamanan lebih ketat, aku akan melaporkan kepada Yang Mulia." sahut Kidang Semeleh segera bergegas menuju ke istana Ngarsopuro.


Di dalam istana Ngarsopuro, sang prabu Danar Kencono beserta sang Patih Aruno Kerto tengah berbincang mengenai semua permasalahan di Ngarsopuro, membahas dan menerima laporan beberapa permasalahan yang terjadi di kerajaan itu.


Tiba-tiba seorang prajurit penjaga memasuki ruangan tersebut.


"Ampun Yang Mulia, di luar ada Senopati Kidang Semeleh ingin menghadap."


Prabu Danar Kencono menoleh kearah paruh Aruno Kerto, "Apakah ada tugas yang tengah kau perintah kan kepada nya kakang?."


"Tidak ada Yang Mulia," sahut sang Patih sembari menggelengkan kepalanya.


Keduanya saling pandang juga bertanya tanya, karena ini bukan waktunya bagi para Senopati untuk menghadap dan melaporkan kegiatan nya.


"Perintah kan dia masuk..!," sahut sang prabu Danar Kencono.

__ADS_1


Setelah menghaturkan sembah prajurit penjaga tersebut kembali undur diri, untuk memanggil sang Senopati.


Dengan sedikit membungkuk lalu menghaturkan sembah Senopati Kidang Semeleh maju melangkah mendekat.


"Ampun Yang Mulia Prabu Danar Kencono, hamba menghadap di luar jadwal yang sudah di tetapkan."


"Ada apa Senopati? apakah ada hal yang sangat penting hingga kau menghadap ku?''


"Benar Yang Mulia.."


Kidang Semeleh terdiam sesaat, menarik nafasnya kemudian berujar, "Ada sebuah rombongan dari selatan, dan terlihat Ndoro Putri Ayu Pelangi ada di dalamnya."


Prabu Danar Kencono terkesiap kaget, begitu pula dengan Patih Aruno Kerto.


"Apakah benar apa yang kau katakan??."


"Benar Yang Mulia."


Prabu Danar Kencono berdiri dari duduknya, jelas sekali kegelisahan ada di raut wajahnya.


Jujur, sebagai orang tua pasti dirinya sangat merindukan anak semata wayangnya, namun jika mengingat sebentar lagi pasti akan ada kekacauan dirinya begidik ngeri.


Patih Aruno Kerto yang juga kaget, kemudian berkata, "Ampun Yang Mulia, apa sebaiknya segera kita perintahkan orang untuk menjemput mereka, jangan sampai terlalu lama di jalanan hingga membuat banyak orang melihat hal ini."


Prabu Danar Kencono masih terdiam, "Siapkan juga para prajurit, seakan kita akan berperang..!," perintah Yang Mulia Prabu Danar Kencono akhirnya.


"Sendiko dawuh Yang Mulia."


**


"Waah..ternyata Ngarsopuro tak kalah dengan kota lain?," pelan Pelangi mengagumi keindahan kota tersebut.


Ngarsopuro memang merupakan kerajaan yang terkenal maju di wilayah tengah tersebut, kemakmuran nya hanya bisa dikalahkan oleh Kerajaan Agung Karang Kadempel yang menaunginya.


"Iya..adik, Ngarsopuro berada di urutan kedua yang paling hebat di wilayah tengah ini." sahut Kumala.


"Aku jadi ingin keliling dan belanja jika seperti ini," Pelangi kembali berkata pelan.


Kumala tersenyum mendengar itu, "Aku juga adik."


Belum selesai mereka berbincang serombongan prajurit sudah berdatangan, mereka dipimpin oleh Kidang Semeleh dan Jayeng Rono yang mendampingi nya.


Pelangi yang melihat kakek bongkok itu langsung tersenyum, dan menghambur memeluk nya.


"Kakeeeek.."


Jayeng Rono mengusap pelan rambut pelangi, tersenyum senang diiringi sedikit lelehan air mata.


Bayi yang dulu di gendongnya dengan taruhan nyawa kini sudah besar tanpa terasa, dan mereka sudah berpisah satu tahun lebih.

__ADS_1


Jaya hanya tersenyum menjabat tangan Jayeng Rono, yang dibalas dengan usapan sayang kakek bongkok tersebut di kepala Jaya.


"Kau menjaganya dengan baik Jaya."


Jaya lagi lagi hanya mengangguk, dirinya juga senang bertemu dengan kakek bongkok didepannya, orang pertama yang memberi kebaikan di alam ini.


"Maaf semuanya, kita harus segera ke istana, jangan sampai banyak yang tahu masalah ini," kata Kidang Semeleh mengingatkan semuanya.


Menyadari itu kini semuanya bergerak cepat menuju istana Ngarsopuro.


**


Kedatangan Pelangi ke istana Ngarsopuro, seakan menyulutkan api di kayu kering yang di beri minyak.


Berita itu menyebar begitu cepatnya.


"Putri itu telah kembali?."


"Ya..benar, putri Ndaru Kolocokro telah kembali."


"Persiapkan anggota kita, segera ke istana..!." kata salah satu kelompok menamakan diri Golok Naga.


Golok Naga adakah salah satu kelompok Madya mendekati kelompok Utama di Serikat Pendekar.


Kekuatannya juga patut di perhitungkan di jagat persilatan, dengan seorang tetua agung bernama Anuso Birowo.


Anuso Birowo dibantu dua tetua utama yaitu Suroloyo dan Pati Kerto.


Kelompok ini bermarkas di sisi Utara Ngarsopuro, tepatnya di perbatasan Ngarsopuro dengan Karang Kadempel.


"Kita harus dapat kan gadis itu apapun yang terjadi."


Tentang Ndaru Kolocokro selama ini orang memang benar, jika memang sinar itu membawa semacam senjata. Seperti waktu itu lesatan lima sinar itu juga membawa senjata yang terlempar ke segala arah di Panca Buana.


Namun yang terlempar di Ngarsopuro pecah menjadi dua yaitu warna api kuning dan api Biru, yang kuning menimpa Pelangi dan yang biru yang sejatinya membawa pusaka bersama Jaya Sanjaya terlempar ke dalam gua, namun api biru yang tak terlihat jelas tersebut malah terabaikan, dan orang mengira Api yang menimpa Pelangi tersebutlah inti dari Ndaru Kolocokro malam itu, meskipun tak di pungkiri jika cahaya kuning tersebut juga memiliki berkah membuat struktur tubuh Pelangi menjadi sosok pilih tanding seperti sekarang, hanya dalam waktu kurang dari satu tahun berhasil menguasai jurus Mata Dewa dan tingkat kependekaran nya meningkat cepat setingkat pendekar Raja Perak akhir.


"Baik Tetua Agung," sahut Suroloyo sambil menjura kepada Anuso Birowo, sebelum akhirnya pergi untuk menyiapkan anak buahnya.


**


Kelompok Awan Putih di terima oleh sang prabu Danar Kencono dengan sangat baik, layaknya tamu agung.


Mereka langsung di jamu dan di tempatkan di ruangan yang biasa untuk menyambut tamu dari kerajaan lain setingkat Raja.


Sedangkan Pelangi langsung di bawa ke dalam istana kaputren untuk di dandani layaknya seorang putri raja.


Ibu permaisuri tak bisa menyembunyikan rasa senangnya akhirnya bisa kembali bertemu dengan putrinya, putri yang dirindukan selama ini, hingga keduanya bertangisan bersama.


Tanpa mereka semua sadari, banyak kelompok pendekar yang sudah bergerak menuju Ngarsopuro begitu mendengar berita yang beredar.

__ADS_1


____________


Jangan lupa tinggalkan jejak nya....


__ADS_2