
Loraka dan Reksan tercekat, menyaksikan kematian salah satu rekannya.
Tiba tiba badannya menggigil, rasa jerih menghampiri lubuk hatinya.
Selama ini sangat jarang, bahkan tak pernah dirinya melihat ada sosok Dewa mati di depan matanya, selama ini mereka hanya tahu jika Dewa bisa mati jika Raga Abadinya habis, tapi tak benar benar melihat langsung di depan mata. Semenjak peperangan dengan Iblis ribuan tahun yang lalu, tak pernah ada lagi peperangan besar yang membuat seorang Dewa mengalami kematian, dan kini dengan mata kepala sendiri dua Dewa Prajurit itu melihat rekannya mati, dengan cara mengenaskan.
"Apakah kalian masih merasa tak bisa mati..?!, masih menganggap makhluk yang ada di alam ini lemah?." sindir Jaya, melihat dua lawan di depannya terpaku berdiri di kejauhan.
Keduanya tercekik lehernya, tak mampu menjawab apa yang di tanyakan Jaya.
"Sekali lagi aku tanya kepada kalian, ada kepentingan apa kalian para Dewa berada di alam ini..?."
Loraka dan Reksan saling pandang, enggan untuk menjawab apa yang di tanyakan lawannya.
"K- kami hanya di tugaskan mengawasi alam ini, dan k...k-kebetulan kami melihatmu bertarung selama ini." jawab Loraka sedikit tergagap.
"Hanya itu..?, tanpa ada maksud lainnya?, seperti mengawasi ku misalnya?."
Keduanya terdiam, menatap Jaya dengan ketakutan, seakan kini sosok pemuda di depannya sudah berubah menjadi monster ganas yang menakutkan.
"Ya..k..kami di tugaskan untuk itu."
"Kalian di tugaskan oleh Kaisar Dewa mengawasiku?," Jaya mempertegas perkataannya.
Keduanya mengangguk kecil, namun sikap mereka masih tetap waspada takut takut jika Jaya tiba tiba menyerang.
"Kembalilah ke alam kalian, kami di sini akan baik baik saja..!, tanpa campur tangan kalian." Jaya mengusir dua Dewa prajurit tersebut dari alam manusia, "Sampaikan itu kepada Kaisar kalian, karena jika masih saja menggangguku, aku tak segan menyusul kalian ke sana."
Jaya mengusir dua Dewa prajurit yang sudah tak melakukan penyerangan terhadap dirinya.
Dengan segera Loraka dan Reksan melesat terbang ke angkasa, begitu mendapat kesempatan pergi, keduanya kini tersadar jika banyak makhluk lain yang ternyata sangat kuat di seluruh Jagat Raya ini, dan itu berbahaya untuk mereka.
**
Setelah kepergian dua Dewa prajurit, Jaya langsung melesat terbang ke arah markas Awan Putih.
Markas yang telah di tinggalkan selama lebih dari satu purnama lamanya.
Hari sudah makin sore, bahkan matahari sudah beranjak tenggelam di sisi barat, saat Jaya tiba di sekitar wilayah Awan Putih, dari angkasa Jaya sudah bisa melihat markas tersebut.
"Hmm, sudah lama tak melihat tempat ini membuatku kangen juga.'' Jaya tersenyum kecil, makin mempercepat laju terbangnya. Rasa kangen ingin bertemu dengan semua orang yang ada di sini terutama bertemu dengan kedua gadisnya.
Jaya melesat cepat, menyelinap di balik awan lalu meluncur tepat di lantai tiga di mana kamar tempat istirahatnya berada, kamar yang lama di tinggalkan karena urusan di Selayang Pandang.
"Aah, akhirnya aku kembali juga kemari."
__ADS_1
Belum lama Jaya berdiri di lantai tersebut, memgamati sekitarnya yang tak tampak ada perubahan sambil tolah toleh, apalagi kini suasana mulai menggelap.
Tiba tiba dirasakan nya sebuah angin serangan menyerang ke arahnya.
Wwuuuuss...!
"Dasaar.. Penyusuupp..!, kau ingin mencuri di sini...!." sebuah bentakan diiringi sebuah serangan menyambar tubuhnya.
Jaya meloncat menghindari serangan tersebut, bukan hanya satu tapi dua serangan datang dari dua sisi.
Wuuusss....
Plaaakk...!! plaaakk...!!
Jaya menangkis serangan jarak jauh tersebut, dengan menepis pukulan itu.
Jaya yang memiliki pandangan tajam meski dalam kegelapan tersenyum, begitu menyadari siapa sosok penyerangnya.
Ya, rupanya Kumala dan Pelangi lah sosok yang menyerang Jaya di kegelapan lantai tiga bangunan dimana kamar nya itu berada.
Selama Jaya belum kembali memang ruang lantai tiga bangunan itu tak pernah di gunakan, hanya di bersihkan tanpa ada yang berani memakainya, bahkan kamar Pelangi dan Kumala berpindah tak di lantai tersebut karena Jaya tak ada di sana.
"Hmm, dasar maling...apa yang kau cari di sini...!," bentak Kumala dari sisi kiri.
"Jangan harap kau bisa lolos dari kami berdua..!," sahut Pelangi di sisi yang lain.
"Hiaaaa....!!." CLAAAAAPP...!!
Dua gadis itu meloncat melepaskan serangan jurus mata andalan keduanya, jurus Mata Dewa dan Mata Iblis.
Dua lesatan cahaya langsung mengurung Jaya tanpa sedikitpun di cegahnya.
BLAAAR..
Begitu dua gelembung tipis itu mengurung Jaya lalu meledak membuat badan Jaya terpental membentur dinding lorong ruang di lantai tersebut.
BRAAAKK..!
"Argh..!." suara teriakan Jaya menggema kecil di lorong ruang lantai tiga tersebut, membuat dua gadis itu tercekat bergitu mengenal suara tersebut.
"Haah..!, Kakang...!."
"Kakang Jaya...!!.''
Jerit kedua gadis itu dengan suara parau.
__ADS_1
Jaya yang sengaja tak menangkis semua serangan itu terkapar di lantai setelah terpental membentur dinding, baginya serangan tersebut tak akan melukainya apalagi mencelakainya berkat Raga Abadi.
Pelangi dan Kumala langsung menghidupkan lampu yang ada di lantai itu, lalu menghambur memeluk Jaya yang sengaja tak juga bangkit dari baring nya.
"Kakaaang...!," dua gadis itu tak kuasa menahan tangisnya, merasa sudah membuat celaka sosok yang selalu di rindukannya selama ini.
**
Pelangi dan Kumala masih cemberut, merajuk dan marah karena merasa di jahili oleh Jaya.
Bahkan saat mereka sudah berkumpul di pendopo dalam, tempat anggota kelompok itu biasa berkumpul membahas sesuatu, dua gadis itu masih saja mendiamkan nya.
"Aku minta maaf Dinda..." bisik Jaya kepada dua gadis yang duduk di dekatnya, mencoba berdamai dengan keduanya.
"Huuh..!, kami benci Kakang..!," rajuk keduanya, lalu melengos mengalihkan pandangan matanya, dan Jaya hanya menghela nafasnya saja karena merasa bersalah.
Malam itu semua anggota Awan Putih berkumpul di pendopo dalam, selain menyambut kedatangan sang Tetua Agung juga membahas beberapa hal yang selama ini terjadi.
Jaya duduk di depan bersama para petinggi lainnya, serta Pelangi dan Kumala yang masih saja mendiamkannya karena jengkel.
"Jadi kakek Koloireng bersama paman Baroto dan paman Pitu Geni pergi ke perguruan Tiga Batu Jajar?."
"Benar Nakmas, selama kepergian Nakmas kami tetap berusaha menjadi kelompok yang membela kebenaran dan menegakkan keadilan." sahut Sumanjaya.
Sumanjaya lalu menceritakan apa yang terjadi selama Jaya tak ada, menceritakan apa saja yang terjadi di dunia persilatan dan alam ini.
Jaya mengangguk saja karena apa yang di ceritakan Sumanjaya sedikit banyak di alami olehnya, saat membantu Kawedanan Bojang pimpinan Wedono Bunaran.
"Saat ini perguruan itu tengah mendapat ancaman dari kelompok Bayangan Kegelapan, kelompok yang mulai muncul semenjak berakhirnya Purnama Berdarah."
Sumanjaya bercerita panjang lebar tentang misi yang di emban anggota Awan Putih.
**
Jaya masih duduk di beranda yang ada di lantai tiga, menikmati suasana yang sudah lama tak lakukannya.
Dua gadis itu masih merajuk, meski pun begitu keduanya tampak selalu berseliweran seakan minta di sapa terlebih dahulu.
Meski malam kian larut, namun dua gadis itu tak juga masuk ke kamarnya. Jaya yang menyadari itu tersenyum saja, dirinya tahu jika dua gadis tersebut masih merajuk dan ingin di sapa.
"Apa kalian begitu benci sama Kakang?, hingga mendiamkan Kakang, jika memang begitu Kakang mau pergi saja," goda Jaya kepada keduanya, sambil berdiri dari duduknya seperti mau melesat terbang pergi meninggalkan tempat tersebut.
Begitu mendengar Jaya berucap demikian dua gadis itu langsung menghambur memeluk Jaya, karena sebenarnya keduanya sudah sangat merindukan calon suaminya tersebut, "Jangan pergi Kakang."
________
__ADS_1
Jejaknya.....