
"Siapa Dia..?, kekuatannya sungguh menakutkan."
"Seumur hidup baru kali ini ki trmukan lawan sehebat dirinya."
"Bukan hanya kuat tapi juga penuh welas asih."
"Mereka kelompok apa..?."
Agni Mahesa Suro masih terpekur, memikirkan sosok yang telah mengalahkannya, ada banyak pertanyaan yang berputar di otak nya.
Sosok yang membuatnya penasaran, bukan hanya kekuatannya yang dahsyat, tapi juga penuh pengampunan, menandakan betapa hebatnya sosok tersebut.
Menandakan sebuah kekuatan yang sesungguhnya, kekuatan yang tak terbatas, karena tak takut di bayangi jika bekas lawannya menuntut balas, tapi hanya orang bodoh yang akan melakuakan itu, bukan? menuntut balas.. padahal sudah di ampuni.
"Ampun tetua, kami tak berhasil melacak kelompok itu, mereka seakan di telan bumi," lapor serombongan anak buah Jrabang Geni, hingga membuyarkan Agni Mahesa Suro yang tengah merenung.
"Apakah kalian juga tak mengetahui mereka kelompok darimana?."
"Tidak Tetua, kami tidak tahu itu."
Agni Mahesa Suro mengangguk, rasa penasarannya belum terjawab hingga kini, dan itu sebenarnya makin mengusik nya.
**
Rombongan Jaya sudah meninggalkan kota Batu Intan, menuju ke arah barat untuk kembali ke markas Awan Putih.
Kereta kuda yang di naiki Baroto, Pitu Geni dan Anuso Birowo yang ada di belakang kereta Jaya, kini sudah sarat muatan bahan pokok, bahkan banyaknya barang lebih banyak dari barang seserahan yang di bawa di awal perjalanan.
Membuat perjalanan tersebut makin terasa lambat.
Jaya masih berbincang dengan Koloireng, membicarakan tentang Agni Mahesa Suro legenda Api Suci yang baru saja di kalahkan Jaya.
"Dia tokoh dari Api Suci awalnya, sebelum melanglang buana."
"Tapi tak kusangka sekarang malah menjadi pemimpin sebuah pasukan pemerintahan."
"Padahal saat muda dahulu, dia merupakan orang yang tak mau terikat dengan sesuatu, termasuk kepada Api Suci sendiri."
Jaya menoleh kepada Koloireng, "Maksud kakek dia bukan jajaran pemimpin di Api Suci?."
Koloireng menggeleng, "Dia tak mau menjadi petinggi di kelompok tersebut, karena tak mau terikat, itu menurut kabar yang aku tahu."
"Tapi dia termasuk tokoh kuat di sana, bahkan terhitung menjadi sosok legenda dengan jurus api nya ."
"Ya..," Jaya mengangguk, kehebatan pedang apinya memang tak di ragukan, jika lawannya bukan dirinya mungkin sudah di bakar hangus tadi.
"Tapi kenapa kini dia mau menjadi pasukan pemerintah?, yang hidupnya jadi terikat?."
"Itu yang tidak aku tahu Nakmas," sahut Koloireng, " Semua pasti mengalami perubahan, seperti halnya diriku yang akhirnya keluar dari pengasinganku karena merindukan murid ku Kumala," kata Koloireng lagi.
Jaya mengangguk kecil, menatap ke arah jalanan yang kini kian menanjak dan mulai memasuki hutan dengan pepohonan yang mulai lebat.
**
Dua sosok terlihat masih bertarung di tengah lebatnya hutan.
Kedua nya saling gempur dan saling serang, tak ada yang mau mengalah.
"Aku akan menghajarmu...!." seru sosok baju compang camping layaknya gembel, menghantamkan sebuah pukulan dari senjata tongkat yang berwarna kehijauan tersebut.
Wuuuss...!
__ADS_1
Taaaakk...!!
"Coba saja...!, tak akan mudah...!," sahut lawannya yang berbaju tambalan tapi lebih rapi, menangkis serangan itu dengan senjatanya, sebuah tongkat berwarna kuning.
Dua sosok itu masih terlibat pertarungan dengan seru, mereka adalah sesama kelompok pengemis.
Benar, keduanya adalah sesama anggota partai pengemis, hanya saja tengah pecah kongsi.
Beberapa ratus tahun yang lalu menurut apa yang di ceritakan orang orang, terdapatlah seorang keturunan salah satu raja yang tersisih dari lingkungannya.
Anak raja itu akhirnya berhasil terusir dari istana nya, di tendang keluar dan tak di akui sebagai pewaris kerajaan itu.
Pangeran itu lalu menggelandang dalam penyamarannya dan membentuk sebuah kelompok.
Kelompok pengemis-lah yang di bentuk sebagai penyamaran saat itu, untuk menghindari kecurigaan dari lawannya.
Dalam perjalanan waktu kelompok pengemis itu menjadi besar, bahkan menjadi sebuah kelompok yang cukup di perhitungkan di dunia persilatan.
Namun seperti pepatah, semakin tinggi pohon semakin kencang angin bertiup, begitu juga dengan kelompok tersebut yang banyak di terpa masalah.
Akhirnya kelompok pengemis terpecah belah menjadi beberapa kelompok, salah satunya kelompok pengemis tongkat hijau dan pengemis tongkat kuning yang hingga kini masih eksis.
"Pecaah...ndas mu...!." teriak pria dengan tongkat kuning, meloncat menyabetkan tongkat itu menyasar kepala pengguna tongkat hijau.
Wwuuuusss...
Lelaki dengan baju compang camping bersenjata tongkat hijau itu, melempar tubuhnya, menghindari gebukan senjata lawan.
PRAAAKKK...!
Hantaman itu menyasar sebatang pohon yang cukup besar, membuat pohon tersebut retak dan hampir patah.
Si baju compang camping membalas, menyabetkan tongkat kehijauannya ke arah badan lawannya.
DUAAARRR..!
Serangan itu di tangkis dengan tongkat kuning lawan, hingga terdengar sebuah ledakan.
Dua orang itu sama sama terlempar akibat benturan keras itu.
BRAAAAALLL...
Tubuh pria baju compang camping itu terlempar hingga menabrak dan jatuh di depan kereta kuda Jaya yang masih melintas, sedangkan pria dengan baju penuh tambalan namun terlihat rapi terlempar ke arah sebaliknya.
"Aarcch..!," teriak pelan sosok bersenjata tongkat hijau itu sembari memegang dadanya.
Jaya dan Koloireng langsung menghentikan keretanya, memeriksa sosok yang menghantam kereta kuda mereka.
"Apa kisanak tak apa apa?."
Orang itu meringis kesakitan memegang dadanya, sedikit mengangguk.
Sementara itu sosok laki laki tongkat kuning terpental hingga mengenai serombongan orang yang ternyata kelompoknya.
"Sambilangu...!!." teriak salah satu dari rombongan yang di tabrak pria tongkat kuning itu.
"Tetua sembilan...!!," balas Sambilangu meringis, sambil memegang dadanya yang terasa ampeg dan sakit.
Pria baju penuh tambalan yang bersenjata tongkat kuning itu bernama Sambilangu, salah satu pasukan mata mata dari Partai Pengemis Tongkat Kuning.
"Ada apa?, kenapa kau bisa mencelat seperti ini..?."
__ADS_1
"Saya habis bertarung dengan Lumiran, salah satu anak buah Respati," sahut Sambilangu, menjawab pertanyaan laki laki yang di panggil tetua Sembilan.
"Anak buah Pengemis tongkat hijau..!!." seru laki laki itu.
"Benar tetua sembilan..!."
Laki laki itu menggeram, "Ayo..kita cari anak buah tongkat hijau itu, kita korek apa yang ingin di awasi nya..!."
Sambilangu mengangguk dan menunjuk ke arah terlemparnya sang lawan.
"Arah sana Tetua..!."
**
Jaya masih membantu pria paruh baya dengan baju compang camping.
Mendudukannya lalu meminta kepada Kumala, untuk memberikan air putih.
"Bagaimana..?, apa sudah sedikit lega..?."
"Terimakasih tuan, atas bantuannya." sosok yang bernama Lumiran tersebut terseyum, setelah menerima segelas air putih yang di kini habis di minumnya.
"Apa yang terjadi?, kenapa bisa terlempar menabrak keretaku..?.''
Lumiran menarik nafasnya, sebelum berkata.
"Saya habis bertarung dengan seseorang."
Sebelum Lumiran menyelesaikan ceritanya, dari arah sebelah samping berbondong bondong bermunculan banyak orang dengan pakaian penuh tambalan namun terlihat rapi dan di buat buat pola tambalannya.
Orang orang dari Partai Pengemis Tongkat Kuning itu dengan cepat mendekat ke arah Jaya dan rombongan yang masih mengerubungi Lumiran.
"Serahkan orang itu pada kami..!!," teriak Tetua sembilan yang aslinya bernama Bajul Petak.
Hampir semua anggota Jaya menoleh ke arah puluhan orang yang bermunculan itu.
"Maksudnya..?."
"Serahkan keparat itu..!, dia akan kami bawa ke markas kami.." teriak Bajul Petak dengan mata melotot.
Lumiran seketika memucat wajahnya, dia tahu siapa yang berbicara, salah satu Tetua di Partai Pengemis Tongkat Kuning yang sangat kuat dan di takuti.
"Memangnya apa kesalahannya?." Jaya mencoba bertanya, mencari ujung perselisihan mereka, siapa tahu bisa di damaikan.
"Apa urusan mu mencampuri masalah kami?, sudah bosan hidup..!," gertak Bajuk Petak, dengan wajah garangnya.
Jaya yang semula tak mau ikut campur, menjadi semakin tertarik dan penasaran dengan sikap dan gaya dari orang orang yang baru datang itu.
"Bukan ikut campur kisanak, hanya ingin memastikan saja, apa sebenarnya pokok permasalahan kalian."
"Cuiih...!, jangan jadi orang yang sok mengurusi urusan orang, karena katanya orang yang suka mencampuri urusan orang akan mati duluan..!." Bajul Petak berkata dengan sedikit ancaman.
Jaya hanya mendesis saja.
"Sok bijak..padahal bejat..," gumam Pitu Geni.
"Benar..," sahut Anuso Birowo dan Baroto hampir bersamaan.
___________
Jejaknya.....
__ADS_1