
"Maaf kisanak apakah di dekat sini ada penginapan dan juga warung makan..?," tanya Jaya dengan sopan kepada seorang pria lokal, karena nampaknya pria tersebut hanya berjalan kaki dengan pakaian seadanya, membawa semacam keranjang di punggungnya.
"Oh..tentu saja ada, kisanak," sahut pria tersebut dengan ramah.
"Mari aku tunjukan tempat nya," katanya lagi, sambil berjalan lebih dulu.
Jaya yang merasa tak enak lalu turun dari kudanya, menuntun nya dan mengikuti langkah pria tersebut, yang ternyata adalah salah seorang pelayan di sebuah warung makan beserta penginapan.
"Inilah penginapan Kidung Malam, di sini juga ada tempat makannya, karena saya bekerja sebagai pelayan di sini," kata pria tersebut dengan masih tersenyum sopan.
"Terimakasih paman," kata Jaya Sanjaya, merubah panggilannya begitu menyadari jika pria tersebut sudah paruh baya.
"Oh...sama sama Nakmas," sahut pria tersebut dengan cepat menimpali perkataan Jaya Sanjaya.
"Namaku Narimo, Nakmas bisa memanggilku begitu atau jika Nakmas butuh bantuan pemandu perjalanan akulah orangnya karena aku sudah keliling di Kerajaan Panca Buana semenjak aku bocah," kata pria yang mengaku bernama Narimo tersebut.
"Tapi dengan bayaran tentunya..," katanya lagi sambil tersenyum ramah.
"Benarkah paman..?."
"Tentu saja benar Nakmas," kata Narimo sambil tersenyum ramah, "Sudah ..sudah, obrolan nya kita sambung nanti, ini mau pesan apa..? biar aku pesankan nanti sekalian aku hidangkan," kata Narimo lagi.
"Apa saja yang penting enak dan murah," kata Jaya Sanjaya, meskipun hartanya melimpah di gelang penyimpanan, namun Jaya tak mau gegabah menghambur kan uang nya.
Dia berfikir di alam ini pasti butuh banyak biaya, terbukti tadi omongan Narimo yang bersedia menjadi pemandu atau petunjuk jalan dengan imbalan.
"Bagaimana jika nasi dan ayam hutan bakar..?." tanya Narimo mengusulkan.
"Ya boleh lah paman..," sahut Jaya Sanjaya mengangguk.
Narimo bergegas memesankan makanan dan melanjutkan pekerjaannya bantu bantu di sana.
Di tempat yang lumayan ramai itu, Jaya bisa mendapatkan banyak sekali berita.
Bukan hanya masalah pusaka, namun juga tentang sayembara dari Kerajaan Agung Karang Pandan.
"Waah gawat ini, berarti akan banyak para pendekar yang memburu pusaka ini, dengan berbagai kepentingan."
**
Malam itu Jaya menginap di penginapan tersebut.
Jurus Mata Dewa sudah berhasil dia kuasai meski mungkin belum sehebat Legenda nya, namun setidaknya dia tak begitu buta dengan kekuatan dan kelemahan jurus tersebut.
Salah satu Kelemahan dari Jurus ini adalah jika lawannya memiliki tingkatan tenaga dalam yang tinggi maka dia tak akan terpengaruh banyak oleh jurus tersebut, dalam artian hanya beberapa kedipan mata lawan sudah mampu terbebas dari pengaruh jurus ini, bahkan seperti dirinya yang tak terpengaruh oleh jurus tersebut karena ada kekuatan Dewa yang melingkupi nya.
Tapi di alam ini memangnya siapa yang memiliki tenaga dalam tingkat Dewa, baik itu tingkat Dewa Perunggu, Dewa Perak apalagi tingkat Dewa Emas.
Jaya Kembali mengeluarkan pusaka Illahi nya yang selama ini tertidur di ruang dimensi nya.
Entah kenapa saat seperti ini dirinya butuh teman untuk bercakap cakap dengannya.
Bersama dengan munculnya fisik kedua senjata tersebut maka roh pusaka itu juga ikut terbangun.
"Ada apa kau membangunkan aku..Dewa Cakra Tirta Sanjaya..?
"Ish..jangan kau sebut nama itu, aku tak sehebat itu, aku hanya manusia biasa."
__ADS_1
"Tapi namamu memang Cakra Tirta Sanjaya...!, aku harus menyebut apa..?."
Tombak dan perisai itu nampak bergerak gerak, di depan sang Dewa yang kini sudah menjadi manusia biasa karena kekuatannya masih tersegel.
"Terserah kalian lah..!." sahut Jaya akhirnya pasrah saja.
"Ada apa kau membangunkan kami..?."
"Aku hanya ingin berbincang dengan kalian, karena banyak yang sudah tak kuingat lagi."
Kemudian mereka berbincang cukup lama, bahkan sangat lama.
Selama ini mereka tak pernah berbincang sebegitu lamanya.
"Oh..jadi begitu..?."
"Benar...kami senjata Illahi akan tertidur jika bukan pemilik kami yang membangunkan nya."
"Terus bagaimana dengan pusaka Kitab ini..?."
"Kitab itu bernama Kaweruh Jagat, setelah memilikinya kau akan bisa mengingat dan merasakan semua kehidupan mu di masa lampau jika berhasil membaca nya."
" Selain itu ilmu Kanuragan mu akan kembali makin sempurna dengan kau pelajari kitab itu, meski belum sesempurna Dewa Perang, karena masih banyak perlengkapan mu yang tercecer."
"Tapi dengan kemampuan mu saat ini akan sangat sulit untuk mendapatkan pusaka itu."
"Meskipun kami berdua membantu mu..!."
"Maka berjuang lah sekuat tenaga untuk mendapatkan nya kembali."
Jaya Sanjaya mengangguk angguk mendengar penjelasan tersebut.
**
Setelah semalam berbincang dan mendapatkan pencerahan dari roh pusaka Illahi, pagi ini Jaya terlihat makin bersemangat mendapatkan pusaka nya kembali.
"Aku harus mendapatkan nya, meski seberat apapun perjuangan ku.."
Jaya sudah menaiki kudanya berniat melanjutkan perjalanan nya kembali untuk memburu pusaka tersebut.
"Nakmas...! Nakmas...!!," sebuah teriakan panggilan memaksa Jaya Sanjaya menghentikan kudanya.
"Ada apa paman..?," tanya Jaya begitu tau siapa yang memanggil dirinya.
Rupanya Narimo pelayan dari penginapan dan warung makan itu yang memanggil nya.
"Bagaimana tawaran ku, menjadi penunjuk jalan bagi Nakmas..?," kata Narimo.
Jaya Sanjaya yang tak berniat memakai jasa nya, hanya menatap ke arah pria paruh baya itu.
"Aku tak butuh jasa mu paman, maaf."
"Aku bisa menjadi pelayan mu, Nakmas, bayaran ku pun tak mahal," katanya lagi bersikeras mengikuti jaya Sanjaya.
"Paman minta bayaran berapa..?."
Tanya Jaya mencoba bernegosiasi dengan Narimo.
__ADS_1
"Kita bicarakan itu nanti setelah Nakmas berhasil mendapatkan apa yang Nakmas cari, yang penting aku bisa pergi dari tempat ini," kata Narimo dengan pandangan sedihnya.
Jaya menarik nafasnya, menimbang sesaat," Baiklah aku mau paman jadi penunjuk jalan ku.."
Mendengar itu Narimo bersorak gembira, lalu berlari mengambil kuda nya.
Jaya yang malah keheranan melihat kuda dari pria paruh baya itu penuh dengan perlengkapan untuk berkelana.
"Cck..cck..," decak Jaya sambil menggelengkan kepalanya, melihat tingkah laku pria paruh baya itu.
**
Dua orang nampak sudah berada di luar kota Bintang, berkuda melewati perbukitan yang sedikit tandus.
Kini keduanya itu sudah memasuki wilayah kerajaan kecil Bumi Asih yang berada di wilayah Kerajaan Agung Pati Sruni.
Di bukit yang cukup tandus itu, bisa di lihat beberapa kelompok orang orang yang nampak bergerak menuju ke arah yang sama.
Sebelah tenggara dari kerajaan Bumi Asih, dan itu bisa di pastikan jika orang orang itu adalah para pemburu pusaka.
"Paman..nampaknya berita penemuan pusaka di sini sudah tersebar luas, bukti nya banyak orang yang berdatangan kemari," kata Jaya sambil menunjuk rombongan orang orang di depannya.
"Tentu saja Nakmas, karena sejak jatuhnya Cahaya Keberuntungan delapan belas tahun yang lalu, orang orang baru menyadarinya serpihan Cahaya itu sekarang, karena mereka terfokus mengejar sinar terbesar yang di beri nama Ndaru Kolocokro di kerajaan Agung Karang Kadempel tepat nya kerajaan Ngarsopuro yang katanya malah menimpa seorang bayi." sahut Narimo menjelaskan sesuatu yang sudah jelas bagi Jaya Sanjaya.
"Terus bagaimana orang orang ini tau jika di tempat ini pusaka itu berujud Kitab Sakti..?
"Tentu saja tau Nakmas, lah wong kitab tersebut seperti di letakkan di tengah tengah jurang yang ada altar nya." kata Narimo.
Jaya kaget mendengar perkataan Narimo, jika benar menurut nya di tengah jurang ada altar yang menaruh Kitab tersebut.. sungguh luar biasa bukan.
"Bagaimana paman bisa tau selengkap itu..?."
"He.he..he ...Nakmas meremehkan aku, jelek jelek gini aku jaman muda adalah mata mata bayaran," kata Narimo, lalu pandangan nya meredup sedih.
"Apa yang membuat paman berhenti..?.''
Narimo menghela nafas panjang.
"Semua ku hentikan setelah keluarga ku menjadi korban, orang orang biadab yang mungkin dendam kepada ku, melampiaskan semua nya kepada anak dan istri ku..makanya aku sebenarnya sudah ingin pergi dari kota kelahiran ku sejak dahulu kala." Kata Narimo dengan wajah penuh kesedihan.
"Sejak itu aku berniat akan memanfaatkan kemampuan ku untuk kebaikan, memberikan informasi bukan untuk tindak kejahatan."
Keduanya terus melanjutkan perjalanan sambil tetap berbincang, melewati sekelompok orang yang menatap tajam kearah keduanya.
Orang orang yang berpakaian serba hijau tersebut nampak menatap tajam ke arah Jaya dan Narimo.
Mendapat tatapan tajam, Narimo sedikit berbisik pelan kepada Jaya Sanjaya.
"Mereka orang orang Desa Pucung, ahli racun," kata Narimo pelan.
"Hmm..," Jaya hanya mengangguk, lalu terus berkuda melewati nya.
Orang orang desa Pucung hanya berdecih pelan, merasa ada saingan untuk memburu pusaka.
"Jangan khawatir..hanya anak bawang..," kata salah satu orang tersebut meremehkan Jaya dan Narimo.
"Iya...benar katamu...," sahut yang lainnya sambil terbahak bahak.
__ADS_1
____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...