
"Kami tak bersalah, kami sudah mencoba menghindari kekerasan tapi mereka masih terus mengganggu kami," kata Jaya mencoba memberikan penjelasan kepada kelima orang di depannya.
"Kalian pikir kami peduli dengan semua alasan itu..!, kalian telah mengacau disini berarti kalian berurusan dengan Gajah Alas." balas salah satu dari lima orang itu dengan muka garang.
"Kalian tak akan kami lepaskan sebelum mengganti dengan upeti yang kami tetapkan." sahut anggota Gajah Alas yang lainnya.
"Hmm...jadi yang menjadikan masyarakat disini terjerat dalam kemiskinan itu kalian..?."
Kata Jaya yang kini mulai tertarik mengorek tentang kesenjangan yang ada di sana.
"Merekalah yang bodoh, dan kami hanya mengambil upeti hak kami," kata salah satu anggota Gajah Alas itu dengan penuh kesombongan.
"Kalian lah yang memeras mereka..!."
"Kami tak memeras, tapi itu upeti dan uang keamanan tinggal di wilayah ini."
Rupanya rumah rumah mewah disini kebanyakan adalah milik para anggota Gajah Alas beserta pengikutnya dan rumah rumah yang terlihat miskin tentu saja adalah rumah warga yang di peras nya.
Jaya yang sebenarnya tak ingin ikut campur menjadi geram dengan orang orang di depannya.
Keinginan memberantas kejahatan dan menegakkan keadilan makin tumbuh begitu kuat di hatinya.
"Hari ini aku bersumpah demi langit dan bumi akan menghancurkan kelompok seperti kalian..!." teriak Jaya dengan marah, Narimo mulai menyingkir dengan menuntun ketiga kudanya.
Baroto sudah kembali bersiap untuk bertarung, dengan mengerahkan tenaga dalam yang di alirkan di dua lengannya.
"Cuiih...!, sebelum kau menghancurkan kelompok seperti kami, sudah akan kami cincang kau..!!," sahut salah satu anggota Gajah Alas dengan penuh kesombongan, memberi isyarat mengepung dua orang lawannya.
Kelima orang itu lalu mengepung Jaya dan Baroto.
Mereka mengeluarkan pedang dan mulai memutar mutarkan nya, memainkan jurus jurus nya.
"Seraang...!!."
Salah satu anggota Gajah Alas sudah melesat, menyabetkan pedang nya membabat ke arah Jaya.
"Mati kau...!!," teriak penebas pedang itu sambil meloncat menyabetkan senjata tajam nya itu.
Wuuuss...!!
Jaya yang di serang dengan sambaran pedang tersebut sedikit maju, menyambut lawannya lalu menangkis lengan lawannya.
Plaaak...!!
Sambaran pedang itu jadi sedikit melenceng dengan tepisan Jaya tersebut.
Sebuah sambaran pedang lainnya datang dari belakang mencoba merobek punggung Jaya.
"Hiaaaa..!."
Dengan posisi masih membungkuk menangkis pedang tadi, Jaya kini menghindari sabetan pedang yang berasal dari belakang tubuhnya.
Wuuuss..!!
Sambaran pedang itu lewat sedikit jauh oleh gerakan badan Jaya yang meliuk menghindarinya.
Kecepatan tinggi dari penyerang disertai dengan tenaga penuh dalam melakukan serangan sedikit merepotkan.
Kini pertarungan menjadi dua kelompok dengan dua orang Gajah Alas menyerang Baroto dan tiga orang mengeroyok Jaya Sanjaya.
"Hiaaaa..!."
Kembali Jaya meloncat saat sebuah pukulan melesat di antara tebasan tebasan pedang.
JDUAARRT...!!
__ADS_1
Jaya menyambut pukulan tersebut dengan jurus Selaksa Ombak Menerjang, membuat penyerangan nya terpental. sementara dua sisanya masih merangsek mencoba menyerang Jaya tanpa rasa takut.
Sementara itu dua penyerang yang mengeroyok Baroto juga masih sibuk mencoba merobohkan nya.
Taaang...!!
Sambaran pedang lawan di tangkis tangan Baja Baroto.
Tangan yang sekuat Baja itu terjulur mencoba meraih leher lawannya, setelah berhasil menangkis sambaran pedang lawannya.
Sreeeett..!
Sambaran tangan Baroto di tepis pedang lawan yang lehernya coba di remas Baroto.
Dua kelompok pertarungan itu makin seru berlangsung di tengah gelapnya malam yang kian larut.
Jaya sudah memangil tombak kyai Seto Ludiro dan tameng Wojo Digdoyo dari ruang dimensi dan memunculkan nya dalam jarak tertentu, untuk menghadapi ketiga lawannya yang ternyata cukup alot.
Ziing..!
Ziiiing....!!
Dua senjata yang meluncur dari jarak beberapa tombak itu mengagetkan lawan lawannya.
Seakan ada yang melemparkan dua senjata tersebut.
Dengan adanya senjata itu Jaya bergerak bagai burung tumbuh sayap nya, menari berputar memainkan jurus jurus andalannya.
Kini ketiga lawan yang semenjak tadi kesulitan menyerang Jaya makin keteteran dengan lawan yang sudah memegang tombak dan perisai di tangannya.
Traaang...!
Taaang....!!
Semua sambaran pedang itu tertahan perisai dan tertangkis tombak Jaya yang di putar membentuk perisai buatan.
Jleeeebb...!!
"Aarch..!."
Jeritan anggota Gajah Alas terdengar melengking di malam yang kian pekat tersebut.
Darah menyembur dari bekas tusukan tombak Jaya bersama dengan tumbangnya salah satu anggota Gajah Alas.
"Setaaan Alaaas...!!, keparaat..!!," teriak sisa anggota Gajah Alas.
Keduanya makin beringas menyerang Jaya yang dengan santai memutar tombak nya meladeni serangan tersebut.
Taaaang...!
Kembali sambaran pedang lawan kandas di perisai Wojo Digdoyo, sebelum sebuah tusukan tombak melesat membalas serangan itu dan bersarang di dada lawannya.
Sriing...!!
Jreeesss..!!
Tusukan itu sukses membuat lawanya berhenti bergerak karena jantung lawan langsung hancur terkena tusukan tombak pusaka.
Tinggal satu lawan yang kini sudah pucat wajahnya, dan mencoba kabur namun Jaya tak membiarkan itu terjadi.
"Huh... mencoba kabur..?, tak semudah itu..!," teriak Jaya, membuat lawannya makin pucat wajahnya.
Sriing ...
Jleeeebb...!!
__ADS_1
Tusukan tombak Jaya berkelebat dengan cepat menghentikan niat lawan nya yang sudah gelisah untuk kabur.
"Aaaaarrcchh..!."
Jeritan panjang lawan dari Jaya melengking tinggi sebelum terdiam untuk selama lamanya.
Dua lawan Baroto yang menyadari ketiga rekannya sudah tewas menjadi gelisah, bahkan kini lawannya itu sudah meloncat membantu Tangan Baja lawan yang di hadapi nya.
"Kau hadapi yang itu paman..!, biar cecunguk ini aku yang lawan..!," teriak Jaya memberikan perintah, yang tentu saja di sambut dengan senang hati oleh Baroto.
Dengan cepat kedua orang itu menyerang sisa dua orang Gajah Alas.
Wuuusss..
Craaak...!
Baroto langsung melesat maju, mencengkeram leher lawan sebelum meremasnya.
Kreeekkkk...!!
Lawannya langsung melotot sebelum luruh karena nyawanya melayang.
Sedangkan satu lawan yang di hadapi Jaya langsung terhempas dengan lesakan Kyai Seto Ludiro yang menancap di dadanya.
**
Pagi menjelang dengan matahari sudah menyembul di ufuk timur, memancar kan sinar nya menerangi alam setelah semalaman gelap.
Cerahnya matahari seakan berbanding terbalik dengan suasana di pemukiman dimana Jaya saat ini berada.
Sisa sisa pertempuran semalam masih jelas terlihat, permukaan tanah yang tercabik beserta sedikit reruntuhan dan juga beberapa pepohonan yang tumbang.
Mayat mayat masih bergelimpangan bekas pertarungan disana.
Jaya sudah berdiri tegak dengan Baroto dan Narimo di sampingnya, menatap para kaki tangan Kelompok Gajah Alas yang kini tertunduk ketakutan.
"Kuburkan teman teman kalian ini..!, mulai sekarang aku yang akan mengawasi tempat ini..!," ancam Jaya kepada para penjaga keamanan rumah hiburan di sana.
Dengan masih ketakutan orang orang itu menuruti perintah Jaya.
Jaya bahkan memanggil tetua kampung tersebut yang selama ini tak berdaya, untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di sana, dengan di saksikan olehnya.
Bahkan Jaya membubarkan tempat judi tersebut, setelah membagi bagikan semua asetnya kepada seluruh rakyat di saksikan pemimpin desa tersebut.
"Aku mengampuni nyawa kalian..!, jika aku kembali melewati tempat ini dan kalian masih berlaku seperti ini akan aku tebas lehermu..!," ancam Jaya kepada para bekas penjaga keamanan tersebut sambil menyerahkan beberapa bekal hidup karena tempat maksiat itu sudah di hancurkan.
"Terima kasih pendekar..," hanya itu yang di ucapkan orang orang bekas pekerja di tempat tersebut.
**
Di tempat lain nampak sebuah bayangan berkelebat meninggalkan jurang hutan larangan.
Bergerak dengan ringan meloncat loncat meninggalkan tempat tersebut.
Nampak nya Kumala sudah meninggal kan tempat sang Betoro Kolo Kolo Ireng, tempat nya memperdalam ilmu jurus Mata Iblis.
Dengan berbekal jurus Mata Iblis yang makin hebat dan beberapa jurus ilmu Kanuragan yang di ajarkan sang Legenda Mata Iblis dia kembali ke permukaan dunia persilatan.
"Aku akan kembali ke Ngarsopuro dimana kelompok ayahku berada." gumam Kumala sambil meloncat loncat dari satu tempat ke tempat yang lain.
Pagi itu adalah hari pertama Kumala keluar dari wilayah Hutan Larangan setelah hampir enam bulan memperdalam ilmu Kanuragan nya.
"Hmm..senangnya bisa melihat indahnya alam ini," gumam Kumala masih berloncatan menuju ke arah yang di tuju.
Wilayah yang berada di timur Ngarsopuro tepatnya wilayah perbatasan itu masih jauh dari Ngarsopuro dan membutuhkan waktu beberapa hari lagi untuk sampai di sana.
__ADS_1
____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....