
Kakek Randu Sembrani dan Nyai Nilam Sari sudah duduk bertiga dengan Jaya Sanjaya.
"Katakan siapa sebenarnya dirimu anak muda..?." tanya Randu Sembrani dengan menatap tajam ke arah Jaya Sanjaya.
Nyai Nilam Sari juga menatap tajam ke arah Jaya Sanjaya, menilai sosok pemuda di depannya.
Jaya menarik nafasnya dalam dalam, kemudian mulai bercerita bagaimana dirinya terbangun sudah berada di dalam gua.
Meskipun Jaya Sanjaya sudah berbincang dengan roh tombak dan roh perisai mengenai siapa dirinya menurut dua roh pusaka itu, tapi Jaya tak mengatakan nya.
Biarlah apa yang di alaminya yang menjadi sebuah cerita bila ada orang yang bertanya.
"Ohh...jadi kau pemuda yang di buru oleh ratusan orang di gua bukit Pancala..?." sahut Nilam Sari.
"Bagaimana Kakek dan Nenek bisa tau..Apa kalian juga memburuku ..?." tanya Jaya sedikit meningkat kan kewaspadaan nya.
Sepasang suami istri itu tertawa terbahak, "Aku bukan orang yang kurang kerjaan.'' Kata Randu Sembrani.
"Perkenalkan nama ku Randu Sembrani dan ini istriku Nilam Sari," kata Kakek tersebut sambil menunjuk istri nya, saat menyebut nama sang istri.
"Di dunia persilatan kami di kenal dengan julukan Sepasang Mata Dewa dari selatan, karena memang asal kami dari sana, tepatnya kerajaan Agung Karang Pandan."
"Lebih tepatnya lagi, kerajaan kecil bernama kerajaan Sirih Putih yang berada di sisi selatan dan ada di bawah naungan kerajaan Agung Karang Pandan."
"Kami sengaja turun gunung karena mendengar bangkitnya sebuah kekuatan yang bernama Mata Iblis yang menjadi saingan kami."
"Selain itu kami turun gunung juga karena ingin mencari anak murid kami yang tersesat dan menjadi jahat bergelar si Mata Elang."
"Dan jika Jagat Dewa Batara mengijinkan kami ingin mencari murid pengganti yang akan mewarisi ilmu Kanuragan kami."
Randu Sembrani sesaat diam, menarik nafas sambil tersenyum menatap ke arah Jaya Sanjaya.
"Dan kami sudah menemukan calon murid tersebut," kata Randu Sembrani masih terus menatap Jaya dan tersenyum lagi.
"Apa maksud kakek..? siapa murid tersebut..?," tanya Jaya sedikit keheranan, menatap suami istri tersebut bergantian.
"Kamu dan gadis itu..!, aura kalian yang sama, sangat cocok untuk mempelajari jurus Mata Dewa," kata Nilam Sari tanpa berputar putar lagi.
"A..a-aku dan Dinda Pelangi..?." sahut Jaya tergagap, masih kebingungan.
"Ya...meski kamu sudah hebat, dan aku juga tak tau kenapa jurus ini bisa tak mempan untuk mu, mungkin karena kau sudah memiliki dasar dari jurus ini, tanpa kau sadari."
"Maka kami tertarik menjadikan kamu pewaris ilmu ini."
"Selain itu juga tak mungkin kan aku membawa gadis itu seorang diri, kalian pasti tak akan mengijinkan," sahut Randu Sembrani lagi, mengemukakan alasannya, mengapa bersikeras menjadikan dua anak muda di depannya sebagai muridnya.
Jaya hanya mengangguk masih memikirkan perbincangan tersebut.
__ADS_1
"Kita bahas lagi nanti, jika Yang Mulia dan lainnya sudah pulih kembali," kata Randu Sembrani dengan bijak, karena mereka tau bahwa Pelangi adalah putri Raja Danar Kencono.
**
Kumala sudah sedikit kuat badannya, pengobatan kakek itu sungguh luar biasa hebat nya.
Mereka kini tengah duduk di depan gua dan mulai berbincang-bincang.
"Ceritakan siapa dirimu..? dan darimana asalmu..? dan mengapa bisa sampai di hutan Larangan ini."
"Hutan ini sudah aku jaga semenjak ratusan tahun yang lalu, karena memang seperti itu yang di perintahkan oleh guru ku, dan itu juga perintah dari guru nya, aku memang sengaja menghajar siapapun yang berani kurang ajar di sini, hingga tak ada yang berani kemari."
Kumala menatap sosok kakek yang telah menolongnya yang kini ada di depannya.
Seorang Kakek dengan badan yang masih bugar dan kekar, berpakaian serba hitam dengan pancaran mata yang tajam penuh wibawa, hanya dengan menatap matanya bisa membuat seseorang menjadi ketakutan apalagi yang menatap lawan lawannya.
"Nama saya Kumala, saya anak seorang tokoh dari kelompok Mata Iblis yang termasuk dalam lingkaran Ring," kata Kumala, dengan menundukkan wajahnya, menyebutkan nama dan asal keluarga nya.
Kemudian Kumala menceritakan semua yang di alaminya hingga akhirnya dia di curangi oleh Ratu Dewi Mata Iblis.
"Hmm, wanita yang licik...," terdengar sang kakek mendengus, mendengar cerita Kumala.
"Tapi benarkah kau tak tertarik menajdi Ratu Mata Iblis..?."
Kumala tersenyum kecut, " Sewaktu masih anak anak aku sangat ingin menjadi seorang Ratu Dewi Mata Iblis, tapi semakin dewasa aku semakin enggan, apalagi jika menjadi Ratu Mata Iblis harus menjadi seorang selir dari pria yang tak kusukai," kata Kumala kembali menundukkan wajahnya, "Aku telah menyukai seorang pemuda."
"He.he..he.."
Entah kenapa kakek itu menjadi sangat sayang kepada gadis di depannya, setelah beberapa hari ini bersama, sang kakek menganggap Kumala seperti cucunya sendiri.
"Karena kau tertarik dengan pria lain..? kau jadi tak menginginkan posisi Ratu Mata Iblis..?," sahut sang Kakek menimpali cerita Kumala.
Kumala mengangguk pelan, menundukkan wajahnya dalam dalam.
"He.he..he.., kau bisa menjadi seorang Ratu Dewi Mata Iblis tanpa harus menjadi selir siapapun," kata Sang Kakek.
Kumala hanya terdiam dengan lesu, "Kakek tak tau apapun tentang Mata Iblis, makanya kakek bicara seperti itu." sahut Kumala dengan lemah.
Sang Kakek makin keras tertawa nya.
"Memang siapa yang membuat peraturan, jika Lelaki terhebat di mata Iblis harus mengawini wanita terhebat mata Iblis..ha. ha..ha..," seru sang Kakek di akhiri dengan tertawa geli.
Kumala terhenyak, kemudian menyadari kebenaran perkataan sang Kakek.
"Memangnya Kakek tau tentang peraturan di kelompok ku Mata Iblis..?." sungut Kumala, yang juga kesal dengan peraturan dari kelompok Mata Iblis.
Kakek itu langsung berdiri, "Namaku adalah Koloireng, di trah Mata Iblis aku dikenal dengan nama Betoro Kolo Mata Iblis," kata Koloireng.
__ADS_1
Mendengar gelar dari sang kakek sontak membuat Kumala menggigil, ketakutan lalu bersimpuh di kaki sang Kakek.
"Ampun..., mohon ampun Sesepuh Yang Agung, hamba yang bodoh ini telah kurang ajar di depan Sesepuh." kata Kumala tak bisa menyembunyikan keterkejutan nya.
Kumala langsung bersimpuh di hadapan sang kakek tersebut.
Batarakolo Mata Iblis adalah sosok yang legendaris di kalangan kelompok Mata Iblis, sosok yang sangat hebat dan menjadi panutan yang sangat di Agungkan berkat kehebatan Mata Iblis nya.
Namun selama ini semua orang di kelompok Mata Iblis menganggap sang Legenda sudah mati dengan cara menghilang atau istilah nya Moksa.
"Bangun lah Kumala cucuku, dan juga murid ku."
"Mau kan kamu menjadi murid ku..?." tanya Koloireng atau Batorokolo Mata Iblis dengan membangunkan Kumala yang masih bersujud.
"M..m.mau Sesepuh Yang Agung..," kata Kumala dengan tergagap.
Betorokolo Mata Iblis hanya tersenyum melihat reaksi gadis muda tersebut.
"Panggil saja aku kakek..., kakek Koloireng," kata Sang legenda Mata Iblis itu sambil tersenyum.
Kumala hanya mengangguk tanpa suara, namun sudah mengangkat wajahnya.
**
"Jika Pelangi tak segera kuat maka selama nya akan seperti ini terus, di kejar dan diburu ," kata Kakek Randu Sembrani dengan suara yang tegas.
"Apa kalian ingin seperti ini terus..?, di kejar kejar para perusuh yang menginginkan darah dan mungkin juga daging mu..," sahut Nyai Nilam Sari menimpali perkataan suaminya.
"Aku sengaja mengajak Jaya juga agar kalian tak ragu kepada kami, selain Jaya juga merupakan pemuda yang sangat berbakat meskipun masih penuh misteri asal muasalnya," kata kakek Randu Sembrani.
"Maaf Kakek Randu dan Nyai Nilam, bukan kami meragukan kalian, kami tau jika kalian merupakan Legenda di alam ini, siapa yang tak mengenal Sepasang Mata Dewa dari selatan, yang kekuatannya membuat kami semua merinding." kata Prabu Danar Kencono.
"Tapi kami masih merasa rindu dengan anak kami Pendekar Agung, kami belum siap berpisah lagi," kata Permaisuri sambil menangis, memotong pembicaraan itu.
Semua masih merasa keberatan dengan perpisahan tersebut, karena mereka baru sejenak bertemu.
"Ampun Yang Mulia Prabu, sebetulnya benar apa yang di katakan oleh pendekar Agung berdua ini, jika seperti ini terus maka keselamatan Putri Pelangi yang malah terancam," kata Senopati Kidang Semeleh memotong perbincangan itu.
"Ya memang benar seperti itu, Prabu," sahut guru Benowo menegaskan.
Prabu Danar Kencono dan Permaisuri nampak terdiam, merenungkan semuanya.
Perkataan semuanya memang ada benarnya.
Sungguh kedua orang tua itu enggan berpisah dengan anak nya, namun demi keselamatan anaknya lah keputusan itu harus di ambil.
"Saya Setuju, anakku menjadi murid Pendekar Agung, mohon di bimbing dan di didik sebaik mungkin, agar menjadi seorang yang pilih tanding, membela kebenaran dan keadilan," kata Sang Prabu Danar Kencono menjura, akhirnya mengambil keputusan.
__ADS_1
___________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...