Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Kembali kepada sang Pemilik


__ADS_3

Jaya yang menyadari betapa berbahaya nya kekuatan hantaman pukulan lawan, dan berniat mencelakai mereka bertiga, langsung bergerak maju untuk menangkisnya.


Wuuusss...


Pedang Angin Puyuh yang sudah di cabut nya bergerak cepat untuk menangkis hantaman senjata lawan.


Namun sebelum terjadi benturan, tiba tiba gerakan serangan lawan berbelok arah dan hampir saja menghantam sisi tubuh yang lainnya, jika tak lekas menghindar.


JDAAAAARRT...!!


Ledakan keras terjadi saat tongkat tersebut menghantam sebatang pohon yang ada di sebelah Jaya Sanjaya.


Pohon besar tersebut langsung dongkah, batangnya yang secakupan lengan dua orang dewasa itu hancur terutama pada bekas pukulan tongkat hijau Sumantri.


Semua yang melihat pertarungan itu sedikit terbelalak, apalagi kelompok pencoleng... langsung mengkerut hatinya, "Untung saja kita belum mengusik rombongan itu, bisa langsung mampus jika kita berani menggangu tadi."


"Benar katamu," sahut yang lain sambil begidik ngeri dan menjauh, takut terkena imbas pertarungan itu.


Sumantri mundur sesaat mempersiapkan serangan berikutnya.


Jurus Mata Malaikat kini sudah di aktifkan nya untuk menyerang lawannya.


Melihat aura yang berputar di badan sang lawan, Jaya yang memiliki pandangan mata seorang dewa sangat tau bahwa lawannya bukan pendekar yang memiliki jurus biasa, apalagi kini zirah sayap Garuda masih menempel di tubuh lawannya dan roh pusaka tersebut belum akfit untuk merespon panggilannya.


Wuuusss....


Sumantri melesat lagi dengan kecepatan yang luar biasa di karenakan zirah sayap Garuda gerakan nya makin ringan dan sangat cepat.


Wuuung....!!


Kembali tongkat hijau melesat menghantam ke arah badan Jaya.


Jaya yang merasa sambaran tongkat itu mengarah ke sisi kiri kepalanya, sudah bersiap menangkis hantaman tersebut, namun lagi lagi berkat jurus Mata Malaikat, Sumantri bisa menduga niatan Jaya yang akan menangkis pukulan tersebut dan sedikit membelokkan pukulannya mengarah ke dada samping kiri Jaya.


Traaang...!!


Di sepersekian detik Jaya masih mampu menangkis hantaman tersebut, meskipun tak kokoh posisi tangkisannya.


Jaya terpental mundur akibat kuatnya hantaman itu, juga posisinya yang tak ideal untuk menangkis pukulan tersebut.


"Uughh..." keluh Jaya sedikit terdorong ke belakang.


Sumantri hanya meringis, menyadari pukulannya kembali gagal. menandakan lawannya memiliki kecepatan yang hebat, karena bisa menangkis hantaman nya yang berbelok arah secara tiba tiba.


"Hebat juga kau anak muda..!," teriak Sumantri memuji lawannya yang memiliki kecepatan luar biasa baginya.


Jaya tersenyum miring mendengar pujian tersebut, mengawasi lawannya dengan seksama, topeng yang aneh karena tak ada celah untuk lubang mata, bahkan lubang mata itu seakan di tutupi.


"Hmm, apa kau pengguna jurus Mata Malaikat?.'' tebak Jaya karena teringat akan kehebatan kakek Sumanjaya si Mata Malaikat yang menjadi bawahan nya di Awan Putih, sedikit mirip dengan lawannya kali ini.


Sumantri tercekat, sesaat badannya terdiam kaku, bagaimana lawan bisa mengetahui jurus rahasia tersebut?.


Namun di tepisnya rasa penasaran itu, dia menduga lawannya hanya mencoba menerka nerka saja.


'Hmm, memangnya kau mengetahui tentang jurus tersebut?." ledek Sumantri meremehkan lawanya.


**


Pyong Karund yang kini tengah di keroyok oleh Kumala dan Pelangi sedikit kerepotan, padahal jurus Langkah Iblis yang di miliki nya mampu untuk menghadapi lawan setingkat Dewa Perunggu sekalipun.


Kecepatan jurus tersebut selama ini menjadi senjata andalannya dalam bertarung, namun kini jurus itu seakan tak berguna karena kecepatan pancaran serangan dari mata kedua gadis di depannya sangat merepotkan dirinya.

__ADS_1


Selain itu gabungan kekuatan dua gadis muda lawannya benar benar saling menutupi celah kekurangan nya.


"Aku terpaksa menggunakan senjata andalan ku," seru Pyong Karund kemudian mengambil sepasang cincin besi yang ada di punggungnya.


Dua cincin besi dengan jari jari hampir satu hasta itu kini sudah berada di dua tangan Pyong Karund.


Ring Besi dengan diameter hampir satu meter itu sudah berputar putar di mainkan oleh Pyong Karund.


Kembali Pyong Karund meloncat maju menyerang Pelangi yang kini juga sudah mencabut pedang andalannya.


CLAAAAPP....!


Kembali Pelangi melepaskan jurus Mata Dewa, mencoba menghentikan kecepatan lawan, namun lagi lagi Pyong Karund berhasil menghindar sebelum bulatan tipis ciptaan Pelangi memerangkapnya.


Melihat lawan menghindar, Kumala melesat mengejar sambil melepas jurus Mata Iblis nya.


CLAAAAPP...!!


DUAAAAR...!!


Pyong Karund menepis lesatan cahaya tersebut dengan ring besi senjata nya untuk menyelamatkan dirinya.


"Sontoloyo...bocah bocah edan, kemampuan nya sungguh di luar nalar," umpat Pyong Karund, sambil melesat menghindar sesaat dari serangan dua gadis itu.


"Jangan lari kau tua bangka..!," teriak Kumala, yang memang terkadang masih terbawa sifat kasar nya saat masih menjadi kelompok Mata Iblis.


Kembali dua gadis itu mencoba mengurung dan menyerang lawannya yang masih saja lincah menghindar dari lesatan dua gelombang pancaran kekuatan mata tersebut.


**


"Kau pikir aku tak tau jurus itu..??!."


"Mata Malaikat adalah turunan dari Ilmu Sasmita Tanding, Karena ilmu hebat tersebut lah yang menjadi dasar tercipta nya jurus Mata Malaikat," kata Jaya sambil berkacak pinggang.


"Kau pikir setelah kau tahu jurus andalan ku akan mudah melawanku??" masih dengan penuh percaya diri Sumantri bersikap jumawa di depan lawannya.


"Kita buktikan saja, apakah aku mampu menghajarmu atau tidak," balas Jaya, kemudian menyimpan senjata pedang Angin Puyuh.


Tindakan Jaya yang menyimpan senjata tersebut dianggap tindakan ceroboh oleh Sumantri.


Meski tak melihat dengan Indra penglihatannya, Sumantri bisa merasakan dan melihat dengan jurus Mata Malaikat nya.


"Dasar sembrono, kau meremeh kan ku anak muda..," teriak Sumantri merasa di rendahkan.


Sumantri kembali meloncat melesat, dengan kecepatan kilat.


Wuuusss.....


Wuuuunggg...!! Suara tongkat hijau yang membelah udara menebas kearah Jaya.


Seiring dengan itu terdengar suara berdesing menghampiri kearah arena pertarungan tersebut.


Ziiing....! ziiiing...!!


Dua kelebatan senjata tingkat Illahi tersebut langsung menghadang laju gempuran tongkat hijau Sumantri.


BLEGAAAART.....!!


Ledakan keras terjadi, menimbulkan pecahan kekuatan yang berhasil menyibakkan benda benda di sekitar pertarungan itu.


Sumantri terdorong kebelakang dengan tangan sedikit bergetar, sedangkan dua senjata yang memiliki ruh senjata itu tersentak terpental namun balik lagi menghampiri Jaya Sanjaya.

__ADS_1


Sumantri lagi lagi kaget dengan fenomena senjata terbang tersebut.


Sementara itu roh pusaka dari zirah sayap Garuda juga sudah terbangun dan mulai menyadari keberadaannya tuannya begitu merasa kehadiran roh pusaka Tombak kyai Seto Ludiro dan perisai Wojo Digdoyo.


Tak mau kembali kecolongan Sumantri langsung melesat menyambarkan tongkat hijau nya.


"Mati kau...!!," teriak Sumantri dengan gerakan makin cepat, menghantam lawannya.


Jaya yang tau kekuatan lawannya, kini lebih berkonsentrasi lagi merapat kan Perisai Wojo Digdoyo ke badannya sehingga tak membutuhkan waktu lama jika terjadi perubahan gerakan lawan.


Dan benar saja, awalnya serangan itu menyasar pinggang nya, namun dalam hitungan sepersekian detik kembali berbelok arah sedikit ke atas.


BLAAAAANGG....!


Perisai Wojo Digdoyo di geserkan sedikit untuk menutup celah sasaran lawan dan menghadangnya.


Kuat nya hantaman itu menguar seakan terredam dan tersedot oleh kyai Wojo Digdoyo, perisai Ilahi itu.


Sumantri kembali mengumpat," Edan edan...dasar sial...!." hantamannya yang seakan tak berarti itu, membuatnya makin meradang.


"Kekuatan apa yang kau miliki anak muda..!, Apapun itu kau tetap manusia dan bukan dewa yang pastinya mampu aku kalah kan..!!," teriak Sumantri dengan berang, dan terus meracau sepanjang pertarungan.


"Hiaaaaa...!!," kali ini Jaya berinisiatif menyerang terlebih dahulu, dengan tusukan tombak kearah dada lawannya.


Sumantri tersenyum mengejek karena sudah bisa menduga arah serangan lawan.


Tongkat nya siap di adu dengan tombak lawan.


TRAAAAAANG.....!!


BOUUUGH....!!


Disaat Sumantri menangkis lesakan tombak lawan, tanpa di rencana Jaya langsung menendang kearah perut lawan dengan kekuatan penuh.


"Aaaaagggh...!."


Sumantri terlempar bergulingan, namun Jaya langsung menyusul mengiringi badan lawannya itu untuk menarik roh pusaka zirah tersebut.


Begitu badan Sumantri berhenti berguling, Jaya langsung menempelkan tangannya menyentuh zirah sayap Garuda yang roh nya sudah terbangun.


Begitu Jaya menempel kan tangannya ke permukaan zirah sayap Garuda, zirah itu bergetar hebat seakan membetot dirinya lepas dari Sumantri.


Badan Sumantri di ombang ambingkan oleh zirah sayap Garuda, hingga badannya jumpalitan tak jelas, dan akhirnya senjata Illahi yang bernama zirah sayap Garuda itu lepas dari tubuh Sumantri.


"Aku datang tuan ku..."


Sebuah suara kini kembali mengisi kepala Jaya, dan Jaya tahu itu suara roh pusaka zirah sayap Garuda.


Jaya merentangkan tangannya, ke kanan dan ke kiri, kepalanya tegak dengan kaki sedikit di lebarkan.


Sluurpp....


Zirah itu kini membelit dan memaksa menyatu dengan badan Jaya, melingkupinya di bagian belakang tubuh nya.


"AAAAARRCCHH...!!."


Jaya berteriak kencang, ada rasa senang, tegang dan puas terpancar di wajahnya dengan kembalinya senjata pusaka nya tersebut.


Badannya kini berkali kali lebih ringan di banding sebelum nya.


__________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak nya...


__ADS_2