Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Tertangkap nya Zirah sayap Garuda


__ADS_3

Sora Tinampi mencoba berdiri dengan susah payah, di bantu dengan kedua tongkat cakar nya akhirnya dia berhasil berdiri tegak, bersiap melakukan serangan kembali.


Dirinya masih tak percaya, lawannya yang masih sangat muda begitu mudah mengalahkannya.


Bahkan serangan yang sudah di lancarkan nya selama ini, selalu berhasil di redam oleh sang lawan.


"Sebenarnya siapa dirimu dan dari mana asalmu anak muda?" tanya Sora Tinampi dengan nafas tersengal sengal melihat ke arah Jaya Sanjaya.


Jaya balas menatap lawannya atas pertanyaan tersebut, "Untuk apa kau tau tentang diriku?"


"Aku hanya berasal dari kelompok kecil, yang bahkan belum banyak orang ketahui"


Sora Tinampi hanya mengangguk, memang lawan di depannya tak menunjukan atribut maupun ciri ciri kelompok tertentu yang di kenalinya, tetua Kelelawar Hitam itu kembali bersiap dengan memainkan jurus jurus nya.


Udara makin terasa pekat dengan aura kegelapan yang di keluarkan oleh tetua Kelelawar Hitam tersebut.


Guna memenuhi kekuatannya seakan dia tak cukup menghisap hanya sedikit oksigen di sekitarnya, hingga jika ada orang biasa di sekitar nya mungkin sudah merasakan sesak yang teramat sangat, akibat pasokan oksigen yang banyak di hisap oleh Sora Tinampi.


"Ayo kita mulai kembali..!," teriak Sora Tinampi, matanya kini sudah sedikit memerah, senjata tongkat dengan ujung cakar sedikit berpendar menandakan aliran tenaga sudah berpusat pada senjata tersebut, senjata itu sudah siap di kedua lengannya, bajunya yang sudah compang camping akibat terkena pukulan berhawa Badai Matahari dari Jaya Sanjaya membuatnya makin tampak mengerikan bagai sosok dari dunia lain.


"Hmm, dasar payah ...!, manusia tak tau batasan..!," balas Jaya sudah dalam posisi bersiap, kaki kiri agak ke depan dengan sedikit di tekuk, dan kaki kanan berada di belakang lurus merendah ke tanah. Perisai Wojo Digdoyo yang ada di tangan kiri kini sudah diangkat di depan dada, dengan tangan kanan menghunus tombak kyai Seto Ludiro siap mencabik lawan.


**


Pitu Geni sudah membabi buta menerjang ke arah lawan yang kini sudah banyak bertumbangan.


"Hiaaa...!, mati kalian oleh golok ku..!," teriak Pitu Geni, meloncat maju menyambarkan golok dengan api yang berkobar.


Golok dengan aura panas itu menyambar nyambar ke arah lawan.


Terlihat anak buah Kelelawar Hitam dengan susah payah mencoba menangkis golok yang berkobar tersebut.


Craaass..!


Craaaash..!!


"Aaaaarrcchh....!"


Dari sekitar tiga puluh orang anak buah Kelelawar Hitam kini hanya tersisa dua puluh satu orang saja, bahkan kini harus bersusah payah meredam kehebatan anggota Jaya Sanjaya.


Lengkingan jerit kematian terdengar memenuhi hutan yang semula sepi dan lengang tersebut.


Semetara itu tak mau kalah, Baroto Sarkawi si Tinju Baja juga sudah mengayunkan lengan Baja nya menghajar, membantai lawan yang ada di depannya.


"Hiaaaa...!"


Sriiing...!!


Sebuah sambaran pedang pengarah ke leher Baroto Sarkawi, namun dengan cekatan lengan Baja nya menangkis pedang tersebut.


CTAAANG...!!


Senjata yang hanya berada di tingkat Raja itu terpental ketika bertemu dengan lengan Baroto yang sekuat baja tersebut.


Pukulan pukulan Baroto bahkan langsung menghujam menghajar orang orang yang tadi mencoba menyerang nya.


"Rasaknoo...!! bogem ku..bangsaaat..!!," teriak Baroto menghantamkan kepalan tangan nya ke mulut sang lawan.


Cproooott...!!


"Aaduuh...biyoong..!!," teriak anak buah Kelelawar Hitam begitu kepalan tangan yang sekuat baja itu mendarat di mulut nya hingga moncrot, dan rompol giginya.


"Rasakan kau ..!, mukamu jadi kayak ondel ondel tanpa gigi he.he..he..!," seru Baroto yang geli melihat wujud lawannya, kini terlihat peot pipinya.

__ADS_1


Kumala juga dengan beringas menyerang lawan lawan yang berdiri di depannya.


Dengan pedang di tangan kanannya dia menebas, membabat dan memotong anggota badan lawan, bahkan terkadang di selingi dengan jurus Mata Iblis yang membuat lawan kian tak berkutik.


Anggota ke sepuluh, pasukan khusus dari Kelelawar Hitam kini hanya terlihat seakan bukan pasukan berbahaya.


Kekuatan yang mereka agung agungkan kini hanya di anggap mainan bagi kelompok Jaya Sanjaya.


Narimo dengan jeli melihat peluang, anggota lawan yang sudah limbung terkena serangan ketiga rekan perjalanan nya langsung di tebasnya.


Anggota Kelelawar Hitam yang sudah setengah teler langsung di babatnya.


Craaass...! craaass...!!


**


"Hiaaaaa...!!"


Sora Tinampi nekat melesat maju menghantamkan kedua senjata nya, menghajar ke arah Jaya yang sudah bersiap.


"Hmm...dasar nekat..," gumam Jaya Sanjaya memutar tombak nya, menyambut serangan lawan.


Traang...! traaang....!!


Dua tebasan tongkat cakar tersebut di tangkis dengan tombak kyai Seto Ludiro yang di gerakkan memutar membentuk lingkaran.


Jaya memutar tubuhnya dengan cepat dan menusukkan tombak nya.


Siiing...!


Gerakan jurus Jaya yang terlihat membingungkan lawan itu sukses menembus pertahanan Sora Tinampi.


Breett..!!


"Aarch..!."


Sora Tinampi tercekat, hampir saja perutnya tertembus tombak senjata lawan.


"Kenapa mundur? kau takut..?," ledek Jaya Sanjaya ketika Sora Tinampi berniat mundur dan kabur.


Mendengar perkataan lawannya, emosi Sora Tinampi kembali bergolak , dirinya langsung memaksa melesat maju kembali menyerang ke arah Jaya.


"Hiaaa...!!, tak ada kata takut bagi Sora Tinampi...!," teriak tetua Kelelawar Hitam itu dengan bodoh nya, meloncat maju menyerang Jaya Sanjaya yang sudah sangat siap tersebut.


Wuuusss...


Sambaran cakar yang berniat menyerang kepala Jaya berhasil di hindari dengan menundukkan sedikit kelapa nya, dan mengarahkan perisai Wojo Digdoyo melindungi nya.


Di saat Sora Tinampi melayang menyerang Jaya dengan dua cakarnya, terlihat sedikit celah dimana saat dia melepas serangan sisi kanan sedikit terbuka.


siiiiiing...!!


Jaya menusukkan tombak kyai Seto Ludiro langsung menembus ke dada Sora Tinampi.


Jraaasssh...!!


Tombak tersebut langsung menghujam jantung Sora Tinampi, membuat nya terpekik tertahan karena nyawanya langsung melayang.


Jaya langsung mencabut tombak dari dada Sora Tinampi sambil mengayunkan nya, hingga tubuh tetua Kelelawar Hitam itu terlempar jauh sampai di dekat anak buahnya.


Bruuukkk..!!


Tubuh sang tetua yang sudah tak bernyawa itu terlempar dan teronggok di dekat kaki anak buah Kelelawar Hitam, hingga para anak buah terjengit kaget, melihat tetuanya sudah tak bernyawa.

__ADS_1


Dalam sekejap saja tanpa di komando, anak buah yang berjumlah tinggal beberapa orang itu berhamburan melarikan diri ketakutan.


**


Pencuri bertopeng masih mengawasi tingkah polah ketiga anggota Bayangan Setan.


Ketiganya dengan pelan mengendap endap di bawah pohon yang paling tinggi kemudian dengan pelan menaikinya.


Begitu sampai di atas mereka nampak memeriksa sesuatu sambil menunjuk nunjuk arah yang lain dimana terletak bukit bukit lainnya.


"Loh..loh...edan tenan..., mau kemana orang orang geblek itu, kok malah turun plorotan kayak gitu," gumam pencuri bertopeng sambil geleng geleng kepala, melihat Tiga Bayangan Setan merosot turun dari atas puncak pohon dan langsung melesat berlari menuju arah bukit lainnya.


"Eeh...dasar gemblung.., malah langsung lari, apa sih siang siang gini yang di cari?"


"Eladalah bisa tertinggal aku kalau gini," gumam pencuri bertopeng langsung ikut melesat mengiringi Tiga Bayangan Setan dengan jarak yang terjaga.


Jino mengendap endap di bawah pohon yang paling tinggi dengan lingkaran cakupan batangnya mungkin seukuran lima orang pria dewasa yang saling merentangkan kedua tangannya.


"Lihat nampaknya pusaka itu ada di pucuk pohon ini saudara ku," bisik Jino pelan menajamkan penglihatannya melihat ke arah pucuk pohon yang menjulang tinggi tersebut.


Lono dan Tino saling mengangguk menatap ke arah pucuk pohon tertinggi tersebut dan terlihat mengatur strategi.


"Aku akan mengendap keatas pelan pelan, kalian berdua di belakang ku, jika nanti pusaka itu akan terbang maka kalian harus meloncat menangkap nya." bisik Jino pelan.


Kedua adik seperguruan Jino mengangguk dengan rencana tersebut, bagi orang biasa adakah mustahil menangkap sebuah benda di atas ketinggian pohon yang tertinggi, bisa bisa malah jatuh dan terhempas ke tanah.


Namun bagi tokoh sakti semacam mereka hanya jatuh dari ketinggian seperti itu bukan masalah, bahkan hanya dengan selembar daun mereka bisa menjadikannya sebagai pijakan.


'Ayo kita coba sekarang, semoga kita yang berjodoh dengan pusaka itu," kata Jino lagi.


Padahal jika benar benar pusaka itu bisa di memiliki nya pasti akan terjadi kebingungan siapa yang berhak memakai nya bukan?, mereka berjumlah tiga orang sedangkan Zirah sayap Garuda hanya sepotong saja.


Jino melesat pelan menaiki pohon yang sangat tinggi tersebut, sesaat zirah sayap Garuda yang memiliki roh seperti seekor burung mulai terusik sebelum kembali tenang saat Jino kembali berhenti bergerak.


"Ayo.." bisik Jino sambil melambaikan tangan memberikan isyarat agar kedua adik seperguruan kembali maju lagi.


Ketiganya kembali mengendap endap merangkak menaiki pohon tersebut.


"Hehehe....ada orang mendekat....aku juga sudah bosan tinggal di atas pohon terus, mungkin jika aku dimiliki seseorang aku bisa bertemu dengan Sang Pemilik ku" kata roh zirah sayap Garuda.


Tiga Bayangan Setan makin mendekat, Jino yang berada paling depan, lalu melesat meloncat mencoba menangkap zirah tersebut.


"Hiaaatt..!"


Jino menangkap zirah tersebut, namun zirah sayap Garuda tetap menghindar sedikit bergeser berpindah dahan.


Lono dan Tino juga meloncat mencoba menangkap pusaka tersebut.


Wuuuss...


Kembali zirah sayap Garuda melesat berpindah dahan lagi, seakan sengaja mengejek dan menggoda para pemburu pusaka tersebut.


Tiga Bayangan Setan itu makin gemas dan mempercepat gerakannya, hingga akhirnya.


"Haaappp...!"


Secara bersamaan ketiganya meloncat dan menagkap zirah sayap Garuda yang kini tak lagi melakukan gerakan menghindar.


"Kita berhasil...!!," teriak ketiganya dengan penuh kegembiraan.


____________


Setelah membaca jangan lupa tinggalkan jejak nya....

__ADS_1


__ADS_2