
Keduanya kembali tersluruk ke belakang, ledakan yang mempertemukan dua gelombang kekuatan itu membuat keduanya mundur beberapa langkah.
Hanya bedanya Sugioprano lebih jauh mundurnya, itu bisa memperlihatkan tingkatan yang berbeda dari keduanya.
Bagaimana pun sang Ratu Dewi Mata Iblis adalah kelompok Lingkaran Ring Satu di Mata Iblis, itu membuktikan bahwa kekuatannya bukan kaleng kaleng.
Bahkan kekuatannya mendekati sang Pemimpin Agung sendiri.
"Uugh... sialan kekuatan wanita ini sangat lah hebat..!."
Sugioprano mulai sedikit pucat wajahnya menyadari kekuatan lawannya.
"Ayo kita lanjutkan pertarungan kita..!," teriak Ratu Dewi Mata Iblis, dengan cepat kembali bergerak menyerang menebaskan pedangnya yang sudah di lambari kekuatan jurus andalan nya.
"Hiaaaa....!!.''
Melihat lawannya melesat dengan gelombang yang terasa sangat kuat, Sugioprano lalu memutar tongkatnya membentuk udara yang kian dingin di sekitar nya.
"Yeeaaaa....!!."
Sugioprano berteriak dan meloncat menyongsong serangan sang Ratu.
JDUAAAARRT.....!!
Kembali ledakan keras terdengar saat dua kekuatan itu beradu.
CLAAAAPP...!!
Sebuah sinar memancar dari mata sang Ratu begitu Sugioprano terlempar akibat benturan pertama tadi, sinar itu melesat menyasar tubuh Sugioprano.
"Mati kaaauuuu..!," teriak sang Ratu.
Namun sebuah bayangan melesat menghantam selarik sinar yang melesat dari mata Ratu Dewi Mata Iblis.
JDUAAAARRT.....!!
Kembali terdengar ledakan saat sosok tersebut menahan lesatan sinar yang di pancarkan dari mata sang Ratu.
Dua orang itu juga terdorong mundur akibat daya pantul dari ledakan gelombang kekuatan tersebut.
Ratu berjumpalitan di udara sebelum mendarat mulus di tanah, pun demikian dengan lawan barunya tersebut.
"Keparaat...!, siapa kau..ikut campur urusan kami..!!." bentak Ratu Dewi Mata Iblis dengan muka keruh.
Sesosok pria usia limapuluhan berdiri di hadapan sang Ratu, sedikit terkejut dengan kemampuan lawannya.
"Perkenalan namaku Kertasoma, aku tetua lingkaran Ring Satu di partai Es Abadi," kata sosok tersebut terlihat lebih sopan karena menyadari lawannya bukan orang biasa, padahal dia sudah menghantamkan pukulan inti Es dengan hampir seluruh kekuatan nya dan lawannya tak terpengaruh akan hal itu.
Sang Ratu pun sebenarnya juga kaget dengan lawannya kini, karena sudah hampir mengerahkan seluruh kekuatannya dan dirinya masih terpental.
Kumala menatap pertarungan di depannya dengan tenang, dirinya yang kini setingkat dengan sang Ratu tak terlalu mengagumi pertarungan mereka disana.
Dia hanya makan dengan lahap namun tatapan tajam tetap mengarah ke depan.
"Anda siapa dan dari mana berasal..?, maaf saya harus mengganggu ..," sapa Kertasoma dengan sopan kepada sang Ratu, dengan sedikit menjura namun tatapan culas terlihat dari sikap sok ramah tersebut.
__ADS_1
"Untung saja tuan bersikap sopan, tak seperti cecurut disana..!," balas sang Ratu dengan sikap dibuat buat sesopan mungkin.
"Aku Sang Ratu..dari sebuah kelompok yang masih belum bisa aku sebutkan," sambung nya dengan berkacak pinggang tak mengenal takut.
Sang Ratu sudah mengukur jika kekuatan keduanya berimbang, atau bahkan mungkin kekuatan nya masih sedikit di atas pria di depannya, jadi tak ada alasan untuk takut atau dengan bersikap seperti itu membuat lawannya sedikit jerih.
"Maafkan kami jika saudara ku menyinggung sang Ratu, kami rasa urusan ini tak perlu di perpanjang lagi," kata Kertasoma mencoba meredam ketegangan di sana, bagaimana pun lawan di depan sangat kuat.
"Huh, baik..hari ini hatiku sedang gembira jadi aku setuju kita tak memperpanjang masalah ini..," Ratu Dewi Mata Iblis mendengus meskipun dia juga setuju permasalahan itu tak berlanjut.
Sang Ratu mundur menghampiri anak buah nya sebelum memberikan isyarat, "Kita pergi.., aku sudah tak selera makan disini..!," seru sang Ratu, lalu melesat memasuki keretanya dan memerintahkan anggota nya meninggalkan tempat tersebut.
Semua orang-orang Mata Iblis bergegas mengikuti kereka kuda sang Ratu yang akan menuju Utara.
Di dalam kereta sang Ratu menarik nafasnya dalam dalam, mengatur pernafasan nya.
"Kenapa Ratu melepasnya ..?," kata Sentono Bari tangan kanannya, dengan hati hati.
"Goblok kau...!, mereka ada dua kelompok, lingkaran Ring satu dan lingkaran Ring tujuh, jika semua bertarung kita kalah jumlah..!, makanya aku mengajak kalian pergi." sahut sang Ratu dengan marah.
Sentono Bari hanya mengangguk angguk saja.
**
Kumala kembali menatap dua kelompok manusia di depannya.
Kini pertarungan mereka sudah selesai dengan mulai pergi nya kelompok sang Ratu, ingin rasanya Kumala mengejar dan membalas sakit hatinya namun semua itu diurungkannya.
Kumala kembali memakan makanannya dengan lahap tanpa menghiraukan apapun.
Kembali di lihatnya Kertasoma tengah memarahi Sugioprano, meskipun sama sama tetua di kelompok lingkaran Ring, namun kedudukan Kertasoma lebih tinggi dari Sugioprano, maka sudah sewajarnya tetua lingkaran Ring Satu itu berang dan marah marah, selain itu di perguruan asalnya Kertasoma adalah Kaka seperguruannya Sugioprano.
"Punya otak itu di pakai jangan hanya di tempel di dengkul..!."
"Pilih lawan jangan asal comot..!, lihat kira kira seberapa kuat mereka, dan apakah kita mampu atau tidak untuk mengalah kan nya, jika tidak jangan bertingkah." maki Kertasoma.
Sugioprano hanya mengangguk saja saat dimarahi kakak seperguruan nya yang juga atasan di partai Es Abadi tersebut.
"Iya kakang ..," sahut Sugioprano dengan lemah, menyadari kesalahannya.
**
Jaya masih berkuda dengan Narimo dan Baroto, ketiganya memacu kudanya sedikit cepat karena sudah sejak kemarin belum terisi.
Mau berburu hewan liar, malah membuang buang waktu, karena menurut perkiraan Narimo dan Baroto mungkin tengah hari sudah sampai di kota perbatasan.
"Kita hampir sampai di pemukiman Nakmas," seru Baroto setelah melihat dari kejauhan bangunan bangunan perumahan yang terlihat.
"Benar kata tuan Baroto, kita tinggal melewati bukit itu setelah itu sampai..," sahut Narimo menegaskan perkataan Baroto.
Jaya mengangguk tersenyum, keinginan mengisi perut pasti terlaksana.
Ketiganya terus berkuda hingga bertemu dengan beberapa orang yang nampak beristirahat sambil menikmati makanan di sebuah belokan yang sedikit lapang.
Nampaknya rombongan sang Ratu Dewi Mata Iblis sedang beristirahat, melepas kegundahan dan menikmati makanan perbekalan serombongan orang tersebut.
__ADS_1
Sentono Bari nampak menatap tajam kearah ketiga orang yang terlihat melintasi mereka.
"Ada apa paman..?," tanya Ratu Dewi Mata Iblis begitu melihat sang tangan kanan Sentono Bari menatap ke arah jalanan.
"Seperti nya hamba pernah melihat mereka terutama anak muda itu.."
Ratu Dewi Mata Iblis menajamkan penglihatannya, seketika wajahnya berbinar pemuda yang beberapa waktu lalu menarik perhatiannya kini melintas di hadapannya.
Begitu dekat pandangan keduanya bertemu, Jaya yang juga merasa pernah mengenal rombongan tersebut makin waspada, namun tidak demikian dengan sang Ratu yang menatap pemuda tampan tersebut dengan penuh kekaguman.
Ingin rasanya menghentikan sang pemuda dan menahan nya agar bisa duduk berdua dan berbincang dengannya, namun bagaimana pun dirinya Perempuan dan tak mengenalnya secara langsung sang pemuda.
Tak ada alasan untuk mereka bisa berbincang duduk satu meja berdua.
Hingga akhirnya ketiga orang itu melintas begitu saja, membuat hati sang Ratu sedikit mencelos, entah kenapa jika bertemu dengan Jaya Sanjaya rasa jiwanya seakan kembali muda seperi gadis belasan tahun.
Perempuan dengan usia hampir tiga puluh tahun itu hanya mendesah pelan dengan hati gelisah, menatap kepergian lelaki yang selalu membuatnya berdebar.
**
Setelah kepergian rombongan sang Ratu kelompok Sugioprano dan kini di tambah dengan Kertasoma memasuki rumah makan tersebut.
Semua pengunjung menyingkir karena takut dengan kelompok tersebut.
Meskipun partai Es Abadi bukan kelompok golongan hitam namun terkadang arogansi dari para anggota nya membuat kelompok lain sedikit jerih.
"Heii..! kau..!, kenapa tidak minggir..!."
Bentak salah satu anak buah dari Partai Es Abadi kepada Kumala yang tengah menikmati makanan nya.
Kumala mengangkat wajahnya, tatapan nya tajam dari balik topeng yang menutup sebagain wajahnya, seakan bertanya tanya apakah orang tersebut berkata kepada nya.
"Heiii..malah bengong..goblok..!, minggir tetua mau makan di sini..!."," bentak anak buah partai Es Abadi lagi makin galak.
Para pelayan menggigil ketakutan, tak bisa mencegah tindakan sewenang wenang anggota kelompok tersebut, apalagi tindakan tersebut seakan di dukung oleh Sugioprano dan Kertasoma yang ingin menunjukan kepada para pengunjung disana kekuatan dan kekuasaan nya partai Es Abadi.
"Ini warung makan umum..!, dan aku sudah lebih dulu duduk disini..apa hak kalian mengusirku..!!." sahut Kumala tak menggubris tindakan anak buah partai Es Abadi tersebut.
"Keparaat..kau berani kurang ajar dengan kami anggota partai Es Abadi..!!," gertak anak buah tersebut sudah mencabut pedang nya.
"Meski kau wanita ..aku tak akan bersikap lembek kepada mu..!!." bentak anak buah Sugioprano dengan cepat melesat mencoba menarik Kumala dan melempar nya.
Deeeesss..!!
Kumala menepis cengkeraman anak buah partai Es Abadi.
Plaaak...!!
Bahkan Kumala langsung menghadiahkan sebuah tamparan di pipi anak buah Sugioprano tersebut.
"Punya mulut tak digunakan dengan baik..!, hanya sampah yang keluar ..!." bentak Kumala sambil menampar nya.
"Arrch..!."
Lengkingan jeritan anak buah partai Es Abadi terdengar dengan terlempar nya badan pria itu menabrak beberapa meja dan kursi.
__ADS_1
___________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...