Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Rencana Raja....


__ADS_3

"AAAAAARCH...!!," Jaya berteriak kembali melepaskan segenap perasaan yang entah apapun itu, merasakan sesuatu yang berbeda di tubuhnya dengan penyatuan zirah sayap Garuda ditubuhnya.


Zirah yang melekat begitu pas di dibadannya, karena zirah itu menyelusup dari balik bajunya hingga menempel di kulitnya, terlihat sedikit transparan dengan semburat warna hijau kemerahan pada bagian tengah tepat di tulang belakang Jaya, seandainya Jaya membuka baju nya terlihatlah seperti itu.


Berbeda saat di pakai oleh Sumantri, zirah tersebut masih berujut semacam pakaian dari bahan kulit, yang jika di pakai masih belum berubah, masih berupa pakaian namun terlihat mewah dengan hiasan semacam gambar sayap yang terlihat begitu nyata.


Teriakan Jaya yang menggelegar, menarik perhatian semua orang termasuk Kumala dan Pelangi yang masih mengejar menyerang Pyong Karund.


"Apakah Kakang terluka ??berteriak sekeras itu..??."


Dua gadis itu saling pandang, seakan saling bertanya dan mencemaskan keadaan Jaya yang bertarung sedikit menjauh, hingga keduanya mengabaikan Pyong Karund yang kini sudah melesat menghindar mengejar ke arah Sumantri terlempar.


Menyadari itu Kumala dan Pelangi langsung meloncat mendekati Jaya yang tengah berdiri tegak merasakan aura enteng yang kini melingkupi dirinya.


"Kakang..!.''


"Kakaang...!!."


Dua gadis itu mendekat dengan raut wajah khawatir, mengitari Jaya sambil menatap keseluruhan badannya, adakah luka disana?


''Kakang terluka??." keduanya bertanya berbarengan.


Jaya membuka mata, menatap dua gadis nya yang terlihat khawatir di wajahnya.


"Tidak.., aku bahkan merasa jauh lebih baik," sahut Jaya tersenyum simpul menenangkan Kumala dan Pelangi.


Pyong Karund yang menemukan Sumantri tergeletak dengan nafas satu satu, langsung menyambarnya, membopong nya lalu secepat kilat mengambil langkah seribu, meninggalkan tempat tersebut secepat nya.


Nampaknya lawan hari ini di luar perkiraan Keduanya, lebih baik menyingkir terlebih dahulu, menyelamatkan jiwanya dan melaporkan kejadian tersebut kepada sang atasan, Tetua Agung Jiwa Abadi.


**


Suasana sudah kembali tenang, saudagar Suryadi makin bersyukur bergabung seperjalanan dengan kelompok Jaya, dan itu sungguh sangat menguntungkan bagi nya.


Apalagi kini mengetahui rombongan Jaya terdiri dari kumpulan orang orang hebat, makin ingin rasanya menjadikan mereka pelindungnya jika boleh berharap.


Para Pencoleng yang sempat mengawasi rombongan itu saat datang, kini menyingkir jauh jauh, tak memiliki keberanian lagi untuk mengusiknya, bahkan ada beberapa yang nekat menjadi penjilat dengan pura pura menjadi petunjuk jalan di kota tersebut, karena tadi sudah terlanjur mendekat.


"Kita harus membeli perbekalan mumpung melewati pemukiman Nakmas," Narimo berkata mengingatkan saat mereka tengah beristirahat, sambil menikmati makanan yang di sajikan Saudagar Suryadi.


"Kenapa memikirkan perbekalan?, bukankah kita masih akan bersama hingga tiba di kerajaan Ngarsopuro?." Saudagar Suryadi menyela pembicaraan Jaya dan bawahannya tersebut.


"Karena kita tak ingin menjadi beban, saudagar," jawab Narimo sambil tersenyum menatap Suryadi.


"Tuan pendekar tak usah berkata begitu, suatu kehormatan bagi saya pribadi bisa berada satu rombongan dengan tuan tuan pendekar, sudah selayaknya aku yang menjamu dan memastikan ketersediaan makanan bagi kalian." Suryadi berkata dengan tulus dari dalam hati.

__ADS_1


Bagaimana pun Suryadi merasa berhutang budi dan yang paling utama bila bersama kelompok pendekar ini keselamatan pasti akan terjamin.


**


"Aku dengar di kota terjadi kericuhan baru Patih?."


"Benar Yang Mulia Danurwindo," jawab sang Patih dengan sedikit membungkuk dan sebelum menjawab menghaturkan sembah.


Danurwindo adalah raja di Jogonolo, selama ini kekuasaannya selalu di rongrong oleh para perusuh, termasuk oleh kelompok Akar Jiwa.


Sudah banyak usaha di lakukan namun belum berhasil juga karena kelompok pengganggu bukan hanya AkarJiwa.


"Apakah kelompok pencoleng yang melakukan kericuhan itu?."


"Nampak nya bukan, Yang Mulia, mereka adalah kelompok asing yang kebetulan singgah dan bertarung di tempat kita."


"Apakah mereka kelihatan dari kelompok golongan hitam..?."


Sang Patih terdiam sesaat, memandang raja nya, mengerti ke arah mana pembicaraan ini akan berujung.


"Menurut kabar yang hamba dapatkan, mereka sekelompok pedagang, jadi mungkin yang bertarung adalah para penjaga keamanan rombongan pedagang itu."


"Hamba tak yakin kelompok ini mampu menandingi Akar Jiwa Yang Mulia." kata sang Patih dengan hati hati.


"Tapi laporan yang aku dapatkan dari pasukan khusus kita, mereka bertarung cukup dahsyat, bagaikan bisa hanya pengawal pedagang mampu melakukan itu?."


"Lalu apa rencana Yang Mulia?."


"Aku ingin mengundang mereka, dua hari dari sekarang akan ada perayaan berdirinya Kerajaan Jogonolo, dan biasanya para Pencoleng akan membuat kekacauan."


"Mereka akan menekan kita, untuk memberikan pesta untuk anggota nya dengan dalih bersyukur atas kedamaian di Jogonolo."


"Aku akan meminta bantuan mereka untuk meredam para perusuh, jika mungkin memusnahkan nya sekalian."


Sang Patih mengangguk, meski kaget dengan pemikiran raja nya tersebut.


"Baik Yang Mulia, hamba akan mengutus seorang kurir untuk menghubungi kelompok tersebut jika memang demikian kehendak Yang Mulia."


**


Malam itu rombongan Jaya dan Suryadi tersebut, berniat bermalam di kota Banditan, karena bagaimana pun lebih nyaman beristirahat di pemukiman daripada di tengah hutan.


Meskipun kini berada di kota tapi mereka tak akan menyewa penginapan, cukup mendirikan tenda dan sebagain tidur dengan alas tikar di bawah langit.


Hari belum terlalu larut ketika terdengar derap langkah serombongan kuda dan para pejalan kaki.

__ADS_1


Nampak nya mereka adalah serombongan pasukan dari kerajaan Jogonolo yang di utus oleh sang Patih menyampaikan undangan dari istana Jogonolo.


"Permisi kisanak, perkenalkan saya Senopati kerajaan Jogonolo, ingin menyampaikan undangan dari Yang Mulia Danurwindo kepada tetua dari kelompok penjaga rombongan ini," kata Senopati tersebut dengan sikap penuh rasa sopan.


"Apa maksud tuan Senopati?, kami tak paham," jawab Suryadi, sebagai pemilik rombongan tersebut.


"Kisanak siapa?."


"Aku Saudagar Suryadi, pemilik semua dagangan ini."


"Hmm, Jadi kisanak pemimpin rombongan ini?, terus siapa penjaga keamanan mu?."


"Maksud Senopati?."


"Pengawal mu kisanak, yang menjaga barang dagangan mu dan bertarung dengan musuh kalian, siang tadi."


"Oh maaf..itu bukan pengawal ku yang melakukan tapi, para pendekar dari Awan Putih itu," sahut Suryadi meluruskan kesalahpahaman tersebut, sambil menunjuk ke arah Jaya dan rombongan yang sudah bersiap akan istirahat.


"Awan Putih?."


"Ya tuan .. kelompok dari negeri timur."


"Ooh..., baiklah aku akan menemuinya," sahut sang Senopati terkejut, tapi tersebut menghampiri rombongan Jaya.


Jaya dan rombongan nya yang masih berbincang ringan di sisi yang lain tak menghiraukan kedatangan pasukan tersebut, menurutnya mereka datang pasti ada urusan dengan para pedagang, karena berhubungan dengan perijinan atau mungkin upeti resmi.


"Nuwun Kisanak, aku ada perlu dengan pemimpin kelompok ini," sapa Senopati dengan sopan, tahu siapa yang kini di hadapan nya.


Pandangan sang Senopati menatap ke arah Pitu Geni maupun Baroto, karena menurut pandangan nya kedua tokoh ini umur keduanya yang ideal menjadi tokoh pemimpin sebuah kelompok.


"Ada perlu apa tuan prajurit bertanya?." Empu Cipta guna langsung menghampiri rombongan prajurit.


"Aku ingin menyampaikan undangan dari Raja Danurwindo, kepada pemimpin kelompok kalian."


Mendengar itu, Jaya langsung berdiri, "Ada keperluan apa raja kalian degan ku?."


Sang Senopati terkejut, ketika anak muda yang bahkan tak di anggapnya ada, berdiri dan menyebut dirinya pimpinan kelompok tersebut.


"Raja ingin menjamu kalian," sahut Senopati tersenyum menghalau rasa kagetnya tadi.


"Hmm, sampaikan kepada raja kalian, kami besok akan ke istana," balas Jaya kepada Senopati tersebut.


Mendengar jawaban tersebut, senopati itu tersenyum, menjura sebelum pergi.


Kumala dan Pelangi bersorak gembira mendapatkan undangan jamuan makan makan dari seorang raja.

__ADS_1


___________


Jangan lupa tinggalkan jejak nya.....


__ADS_2