
Jaya berjalan di tengah hutan, setelah berpamitan kepada Kumala dan Pelangi dua gadisnya tersebut, pemuda itu meloncat melesat ke arah hutan yang ada di belakang dari markas Awan Putih.
"KELUAR LAH..!."
Teriak Jaya kepada sosok yang masih bersembunyi mengawasi dirinya.
Wicaksono keluar dari persembunyiannya, keduanya saling menatap dengan tajam.
"Ada perlu apa kau mengendap endap di markas Awan Putih?."
"Apakah kau sang Tetua tersebut?."
Wicaksono malah balik bertanya dengan pertanyaan.
"Hmm, tak sopan kau di tanya malah balas bertanya." Jaya tersenyum mengejek.
Gelapnya malam tak mengurangi ketajaman pandangan kedua sosok tersebut.
"Jawab dulu pertanyaanku baru aku akan menjawab pertanyaanmu," sahut Wicaksono sambil menatap tajam.
Akibat portal pemindah yang mampu merubah fisik seseorang, apalagi adanya kemampuan orang merubah fisiknya sendiri membuat dua sosok tersebut saling menelisik.
"Benar.., aku Tetua Awan Putih, sekarang ada keperluan apa kau memata matai kelompok kami?."
Wicaksono melangkah maju beberapa langkah menatap tajam ke arah Jaya.
"Untuk ukuran seorang Tetua kelompok, kau terlihat hebat..aku penasaran, siapa sesungguhnya dirimu."
Jaya juga maju, "Aku juga yakin jika kau bukan makhluk alam ini."
Wicaksono tertawa kecil, "Ha.ha..ha, aku semakin yakin kau lah yang aku cari."
"Benarkah? mengapa?."
Wicaksono langsung mengeluarkan aura Dewa nya, badannya mulai berpendar, "Bagaimana jika kita bermain main sebentar?."
"Jika itu keinginan mu, aku akan layani, tapi jangan di sini."
"Terserah kau."
Jaya langsung melesat menuju ke arah Selayang Pandang, sebuah tempat yang lapang dan jauh dari pemukiman warga.
Wicaksono bergerak mengikutinya. "Siapa pemuda ini? melihat kecepatannya dia begitu hebat."
Jaya melesat makin cepat, di belakangnya tampak Wicaksono mampu mengikutinya tanpa kesulitan.
**
"Nakmas Junjungan kemana Den Ayu?." Pitu Geni dan Baroto serta Narimo terlihat menuju lantai tiga tersebut, mencari keberadaan Jaya guna melaporkan tentang keberangkatan rombongan sang Prabu Ngarsopuro beserta Jambu Mangli, namun tak di temuinya.
"Kami juga tak tahu Paman, sehabis menikamati makanan tadi langsung pamit, karena ada suatu urusan, katanya."
Ketiga nya saling berpandangan, selama ini mereka selalu tahu urusan sang Tetua Agung, namun kali ini mereka seperti di kesampingkan, bahkan dua gadis calon istrinya pun tak tahu.
"Aneh sekali."
"Benar..! paman, kami berdua juga merasa begitu, bahkan sebelum itu kami melihat Kakang Jaya sempat menghentikan makannya, seakan sedang berpikir atau merasakan sesuatu."
"Benar kah Den Ayu?.''
"Hu'um."
Ketiganya menarik nafasnya, "Semoga tak ada apa apa."
"Ya semoga begitu."
**
__ADS_1
Jaya sudah berdiri di tengah padang Selayang Pandang, saling tatap dan berhadap hadapan dengan laki laki yang mengaku bernama Wicaksono.
"Keluarkan kekuatanmu..!." seru Wicaksono menantang Jaya, "Akan aku uji seberapa kuat diri mu sebenarnya."
Jaya tertawa, lalu mencabut senjata pedang Angin puyuh, senjata yang bagi Jaya paling rendah tingkatan dan kekuatannya.
Sengaja Jaya juga ingin mengetahui sekuat apa "Dewa" yang datang kali ini.
"Aku tahu kau pasti memiliki senjata yang lebih kuat lagi bukan?." Wicaksono berkata sambil mengeluarkan sebuah pedang dari ruang dimensinya.
Keduanya kini sudah memegang senjata di tangan masing masing, dan mulai memainkan jurus jurusnya.
"Maju lah..!," seru Wicaksono.
"Hiaaaa..!!," Jaya melesat meloncat menebaskan pedang Angin Puyuh.
Gelombang pukulan menerpa seiring tebasan yang di arahkan ke arah Wicaksono.
Wuuuss...
Wicaksono merunduk saat pedang Angin Puyuh menebas kepalanya. Seiring dengan dia menghindar, pedangnya juga menyasar ke arah perut Jaya.
Jaya membelokkan pedangnya, menangkis serangan balik lawan yang mengarah ke perut nya.
TAAANG...!!
Benturan keras terjadi, keduanya sama sama terjengit dengan kekuatan yang berimbang.
Jaya menaikkan tenaga nya, Jurus Selaksa Ombak Menerjang yang di padu dengan Manggar Pecah kini sudah di kerahkannya.
Demikian juga dengan Wicaksono sudah menaikkan kekuatannya. Gerakan keduanya makin cepat saling sambar dan saling serang.
"HIAAA...!."
"HIAAAA...!!."
Ledakan keras terjadi saat dua sosok tersebut saling berbenturan.
Pukulan dahsyat tersebut membuat Padang Selayang Pandang menjadi bergetar.
Tanah yang di pijak mulai melesak ke dalam saat keduanya beradu serangan.
Makin lama keduanya makin meningkatkan serangan, hantaman hantaman yang dahsyat makin sering terjadi.
BLEEGAAAARRTTT...!!
BLEEEGAAAAARRRTTT...!!
Ledakan ledakan kian keras terdengar, alam makin berguncang dengan kuat, awan di langit sampai tersibak saking kuatnya benturan yang mengakibatkan perpecahan tenaga yang mendorong apapun dari pusat pertarungan, Padang Selayang Pandang sudah tercabik cabik, permukaannya tak lagi terbentuk rata dengan lekukan parit parit akibat pukulan dan hantaman
Kali ini Jaya sudah mengeluarkan tongkat Wesi Kuning, yang dia genggam di tangan kanan, sedangkan pedang Angin Puyuh sudah di pegang tangan kiri, aura yang dahsyat kini terpancar dari badan Jaya.
Wicaksono juga sudah mengganti pedangnya dengan tombak trisula yang dari ujungnya terkadang melontarkan petir.
"Nampaknya kita membutuhkan tempat yang lebih luas untuk bertarung dan aman untuk makhluk lain." kata Wicaksono.
Jaya menatap lawannya, sedikit kaget dengan pemikiran nya, karena selama ini Dewa yang di utus untuk memburunya tak pernah memikirkan keselamatan makhluk lainnya, bagi para utusan tersebut yang terpenting kemenangan bagi pribadi nya.
"Hmm, nampaknya kau masih punya hati nurani tak seperti beberapa utusan yang datang kemari," kata Jaya menatap tajam, "Aku terima tantangan mu ..! bertarung di manapun tak masalah."
Keduanya masih saling menahan serangan, berfikir mencari tempat yang cocok.
"Bagaimana dengan Ruang Hampa?."
Ruang Hampa adalah alam yang tak ada pangkal tak ada ujung, tak ada atas tak ada bawah, semua serba kosong di mana mana.
"Aku setuju," balas Jaya cepat, langsung melakukan gerakan membuka portal untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Pun dengan Wicaksono, mulai melakukan gerakan tertentu untuk membuat portal juga bagi dirinya.
CLIIING....
CLIIING.....
Dua portal sudah tercipta di depan masing masing orang tersebut, sinar yang menyilaukan membuat malam itu menjadi benderang di padang luas tersebut, lalu keduanya meloncat masuk sebelum portal itu tertutup dan menghilang.
**
"Kini kita aman bertarung disini." seru Wicaksono.
"Baik, aku tak akan menahan serangan lagi, dan kuharap kaupun begitu..!." balas Jaya.
Lengan Jaya yang kanan sudah bersinar terang, bukan merah atau kuning tapi putih bening terang, itu menandakan jika kali ini Jaya sudah mengeluarkan jurus Badai Matahari tingkat tinggi.
Senjata nya pun sudah berganti dengan tombak kyai Seto Ludiro dan perisai Wojo Digdoyo.
Jurus Gelombang Awan Menerjang sudah di kerahkan di lengan kiri, dengan kabut putih sudah menyelimuti perisainya.
Wicaksono juga sudah mengeluarkan perisai di lengan kirinya dengan tombak Trisula tetap di tangan kanannya.
"Kita mulai...!." Wicaksono berseru sambil meloncat menyerang.
Jaya pun menyambut serangan tersebut, tak ragu lagi menyabetkan senjata tombaknya.
Pertarungan yang sangat dahsyat terjadi di ruang yang mampu meredam dua kekuatan hebat tersebut.
Panas dari jurus Badai Matahari yang mampu membakar alam jika di kerahkan di alam manusia kini hanya terarah kepada lawannya.
BLEEEGAAAAAAAAAAARRRTTTT....!
Suara ledakan yang sangat keras terdengar di alam yang semula sunyi tanpa suara apapun itu, kala hantaman Jaya mengenai dada Wicaksono.
Laki laki itu terlempar jauh lalu di buru oleh Jaya yang terus mengejar untuk terus menyerang nya.
Entah sudah berapa kali Wicaksono terkena serangan Jaya, Raga Abadi yang berjumlah ribuan dari sosok tersebut sudah berguguran.
Wicaksono meloncat mundur, memejamkan matanya, lalu melesat maju menyerang dengan mata tertutup.
BLUAAAAAAARRTT...
Jaya terlempar saat pukulan Wicaksono mengenai dada nya.
Pertarungan kian seru, saling balas membalas serangan, meski mata Wicaksono terpejam tapi justru makin menambah kehebatan sosok tersebut, semua serangan Jaya mampu di tebak dan di hindarinya bahkan pria Dewa itu mampu menyerang balik Jaya hingga beberapa kali Jaya terpekik keras.
"Hmm, Sasmitha Tanding memang luar biasa, semua seranganku bisa di tebaknya dengan benar, siapa sosok ini sesungguhnya? jurus Sasmitha Tandingnya begitu sempurna. apa mungkin Dia?."
Jaya bermonolog dengan dirinya, sebelum sebuah suara menyadarkannya.
"Aku punya usulan tuan?."
"Eh..Seto Ludiro? apa itu?."
"Tuan percaya kepadaku?."
Jaya tersenyum kecut," Cepat Katakan...!." bentaknya masih dalam hati berkomunikasi dengan ruh pusaka tersebut.
"Biarkan aku yang menyerang nya, dengan gerakanku sendiri, tuan menyerang dengan pikiran tuan sendiri."
Jaya paham apa maksud ruh pusaka Illahi tersebut, Seto Ludiro ingin bergerak menyerang tanpa di kendalikan Jaya, sedang Jaya bergerak sesuai pikirannya.
"Baik, ayo kita hajar Dia..!."
______________
Jejaknya.....
__ADS_1