
Sepasang Raja Pedang kembali bersiap menyerang ke arah Jaya Sanjaya.
Sedangkan Jaya sudah berdiri kokoh dengan kuda kudanya, kaki kiri sedikit di depan dengan sedikit menekuk, sedang kaki kanan di belakang sedikit lurus.
Tangan kiri yang memegang perisai sedikit menekuk dan berada di depan dada, tangan kanan yang memegang tombak kyai Seto Ludiro sudah teracung siaga, sedikit ditarik ke belakang siap menghujam.
"Ayo majulah kalian ..!," teriak Jaya memberi kesempatan kepada keduanya untuk kembali menyerang.
"Hiaaaaa..!."
"Hiaaaaaa..!!."
Karpo dipolo dan Singo Dimejo langsung melesat menebaskan pedangnya.
Srriiing...!!
Sssrriring...!!
Dua senjata berkelebat mengarah ke badan Jaya Sanjaya.
Angin serangan yang sangat ganas tercipta dari gelombang dua sabetan pedang dua orang tersebut.
Wwuuuusss....!
Dengan cepat pula Jaya menyongsong, melesat maju memutar tombak nya, menyambut sabetan dua pedang lawan.
DUAAAAR...!
DUAAAAR...!!
Gelombang pukulan dua tebasan pedang tersebut mentah oleh terjangan sabetan tombak kyai Seto Ludiro, menimbulkan dua ledakan yang menghempaskan dua tokoh pengguna pedang tersebut.
"Aaarh...!."
"Aaarcchhh...!!."
Keduanya terhempas terlempar bergulingan sebelum akhirnya memutahkan darah dan tumbang pingsan.
Plok..! plook..!!
"Waah...hebat.!, benar benar hebat..!!."
Teriak sang kakek masih sambil duduk di dahan pohon nampak bertepuk tangan kegirangan.
Laaap ... taaap..!
Kakek baju putih itu meloncat turun dari atas dahan menghampiri Jaya yang sudah kembali menyimpan dua senjata andalannya.
"Siapa namamu anak muda..!," tanya sang kakek sambil menoleh ke arahnya meskipun matanya di tutup kain putih.
Jaya menatap sang kakek, terlihat meskipun matanya di tutup namun kakek di depannya bergerak tak seperti orang buta.
"Kakek sendiri siapa..?." tanya Jaya masih dengan penuh kewaspadaan meskipun senjatanya sudah di simpan.
"Ha..ha..ha....!, sungguh pemuda yang berani..," kata sang kakek dengan tertawa.
Wuuuss...!
Entah sejak kapan sang kakek sudah bergerak menghantamkan pukulannya, mengarah ke dada Jaya Sanjaya.
__ADS_1
Duaaaar...!!
"Uuggh...!," Jaya menjerit tertahan tak menyangka akan di serang dengan tiba tiba.
Tubuhnya terhuyung ke belakang, jika orang biasa mungkin sudah terlempar jauh ke belakang.
Kembali sang Kakek menghantamkan pukulan tangan kanan nya lurus mengarah ke arah dada, Jaya mencoba menangkis dengan tangan kirinya.
Namun sebelum tangan mereka beradu, tangan kiri sang Kakek sudah melesat menghajar dada Jaya, rupanya serangan tangan kanan hanya pancingan saja.
Jduuaaaarrt..!!
Jaya kembali terdorong kebelakang.
"Fyuuh..kakek aneh.." gumaman Jaya sambil mengerahkan Raga Abadi, membuat tubuhnya tak terluka sedikitpun.
Dua kali Jaya terhantam oleh jurus sang kakek yang sangat kuat dan cepat.
"Sekarang giliran ku..!," teriak Jaya mulai melesat maju menghantamkan pukulannya.
Pukulan tangan kiri yang sudah di lambari Selaksa Ombak Menerjang meskipun dengan tenaga tak penuh menghantam ke arah lawan.
Dan entah mengapa seakan sang kakek sudah menduga jurus tersebut, dengan mudah dia menghindarinya dengan tertawa terkekeh.
"He.he..he..!, hanya secepat ini serangan mu..!?!?."
Wuuss...
Hantaman itu hanya menemukan ruang kosong.
Kembali Jaya melakukan serangan dengan menghantamkan tangan kanannya, dan lagi lagi sang kakek bisa menduga arahnya dengan tepat.
"He.he..he...aku akan menjadi pengikut mu jika kau bisa menghantam ku..!," teriak sang kakek dengan Jumawa mengejek Jaya.
Laaap....
Jaya melesat maju menghantamkan pukulan tangan kirinya, sang kakek dengan tertawa bersiap menghindar kearah kiri badannya atau sebelah kanan Jaya, namun dalam sepersekian kedipan mata Jaya meliuk kan badannya menghantam kan pukulan tangan kanan nya.
JDUUAAAARRT..!!
"aaarcchhh..!!."
Sang Kakek menjerit badannya terhantam pukulan Selaksa Ombak Menerjang, membuatnya terpental terlempar.
"He..he..he...kau pikir aku tak tau rahasia jurus mu...??."
Kata Jaya Sanjaya setelah berhasil menghantam sang kakek yang masih meringis mencoba bangkit.
"Bagaimana kek..?, mau mencoba lagi serangan ku..?," seru Jaya kembali bersiap.
Sang Kakek mengangkat tangan nya, menandakan menyerah, bersama dengan itu rombongan kereta sang kakek tiba di tempat tersebut.
"Tetua...!!," teriak orang orang tersebut melesat menghampiri sang kakek.
Namun sang kakek hanya mengangkat tangan nya, seakan berkata baik baik saja.
**
Singo Dimejo dan Karpo dipolo sudah tersadar dari pingsannya, kini mereka bersujud bersimpuh menyatakan takluk dan berniat menjadi bawahan dari Jaya Sanjaya sebagai pengikut nya.
__ADS_1
"Ampun Nakmas Bendoro, kami mohon di perbolehkan menjadi pengikut dari Nakmas Bendoro."
Begitu pun dengan kakek Sumanjaya yang berjuluk si Mata Malaikat, sesuai janjinya dia akan menjadi pengikut dari Jaya Sanjaya.
"Sudah sejak lama dan berkali-kali aku mendapatkan penerawangan, tentang sosok seperti Nakmas, maka ijinkan hari ini aku Mata Malaikat Sumanjaya menjadi pengikut dari Nakmas Jaya Sanjaya."
Jurus Mata Malaikat adalah turunan dari ilmu Sasmita Tanding, sebuah jurus yang mengandalkan kekuatan rasa dan insting, mampu mengetahui sesuatu sebelum terjadi, weruh sakdurunge winarah, meskipun jika di bandingkan Sasmita Tanding jurus Mata Malaikat jauh di bawahnya karena hanya ilmu turunan nya.
Seperti halnya jurus Raga Abadi yang punya ilmu turunan pergantian kulit atau Mlungsungi (Ekdisis), dimana pengguna ilmu itu mampu meregenerasi kulit nya.
Mata Malaikat adalah sebuah jurus yang sangat sempurna di miliki oleh orang yang tak memiliki Indra penglihatan seperti kakek Sumanjaya ini.
"Terimakasih atas kesedian paman Sepasang Raja Pedang dan Kakek Mata Malaikat menjadi pengikut ku, namun untuk saat ini aku belum bisa menetapkan markas utama karena masih ingin mengembara."
"Jika sudah memungkinkan nanti aku juga ingin membangun sebuah wilayah di mana keadilan di tegakkan dan rakyat bisa berlindung di dalamnya dengan nyaman."
Kata Jaya kepada Sepasang Raja Pedang dan Mata Malaikat, mengungkapkan keinginannya.
"Bagaimana jika untuk permulaan kita bangun perkumpulan kita di wilayah alas Lirboyo, sebuah wilayah di perbatasan Kerajaan Agung Karang Kadempel dan Kerajaan Agung Pati Sruni tepatnya kerajaan kecil Karang Doplang." Usul Mata Malaikat yang juga di setujui Sepasang Raja Pedang.
"Benar Nakmas Bendoro..," sahut Singo Dimejo dan Karpo dipolo.
"Baiklah aku terserah kalian.."
**
Karang Doplang adalah kerajaan kecil yang bahkan hampir bisa dikatakan mendekati punah.
Semua itu karena tak ada lagi keturunan dari pewaris tahta kerajaan itu, selain itu tingkat keamanan yang rendah di sana membuat wilayah tersebut malah mirip wilayah tanpa penguasa, meskipun sebenarnya alamnya sangat subur dengan pemandangan pegunungan dan Sungai yang indah.
Sebuah tempat yang di apit oleh pegunungan dan sungai besar bernama kali Cangkring terdapat sebuah hutan bernama Alas Lirboyo, di sanalah lokasi yang di usulkan oleh Mata Malaikat dan Sepasang Raja Pedang untuk menjadi markas utama.
Karang Doplang di pimpin oleh Raja Wiramerta, seorang raja yang hanya memiliki satu anak bernama Putri Arumi Wiramerta yang kini menjadi istri seorang raja di Ngarsopuro bernama Danar Kencono, atau orang tua Pelangi.
Jadi Wiramerta secara garis keturunan adalah kakek dari Pelangi.
**
"Akan kita beri nama apa kelompok kita Nakmas Bendoro...?." tanya Singo Dimejo sambil menatap Jaya Sanjaya.
"Bagaimana Kakek Suman..?," Jaya malah menatap Mata Malaikat Sumanjaya, berharap kakek ini memiliki sebuah ide untuk nama kelompok yang nanti akan sesuai dengan tujuannya.
"Bagaimana jika Kelompok Bumi Makmur..?."
Jaya diam, lalu menggeleng.
"Bulan Bersinar..?."
Menggeleng.
"Awan Putih.."
"Ya..aku lebih setuju nama Awan Putih," sahut Jaya Sanjaya akhirnya.
"Baiklah kita putuskan nama nya, kelompok Awan Putih, sebuah kelompok golongan putih yang akan memperjuangkan keadilan, menegakkan kebenaran dan melindungi rakyat kecil." seru Mata Malaikat.
"Sekarang kita menuju ke sana..!." perintah Jaya setelah terjadi kesepakatan sebuah nama.
Rombongan beberapa orang tersebut kini bergerak menuju Utara dari sebelumnya kerajaan Pandaegalang.
__ADS_1
___________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...