
"Kalian memang bukan manusia beradab, suka memaksakan kehendak, dan tak punya sopan santun..!." Bentak sang Empu dengan wajah merah karena marah dan tersinggung atas sikap orang orang yang mengaku utusan dari kerajaan Koro Wedana, tapi tak punya tata Krama.
"Tak sudi aku mengikuti kalian, apalagi menjadi budak kalian untuk membuat senjata yang akan membuat kerusakan di alam ini." Teriak Empu Cipta guna lagi dengan kemarahan yang makin berkobar.
Meskipun hebat dalam membuat senjata bukan berarti Empu Cipta guna hebat dalam bertarung, beliau hanya bisa beberapa jurus ilmu Kanuragan dan tingkat kependekaran nya tak sampai tingkat Raja Emas hanya di tingkat Raja Perak itupun tingkat awal (tingkat kependekaran lihat di chapter ingin mengembara).
"Huh..dasar keras kepala..!," bentak pangeran Ronggo dengan kesal, kemudian menoleh menatap kearah pasukannya.
"Hancurkan yang lain tanpa sisa, dan tangkap orang tua ini..!," teriaknya sambil melambaikan tangan nya, memberikan isyarat untuk menghancur leburkan tempat tersebut.
Segera saja para pasukan bergerak menyerang kembali setelah mendapatkan perintah, dengan ganasnya menghajar anak buah Empu Cipta guna dengan berbagai senjata yang ada.
Lokasi wilayah hunian sang Empu yang menjorok ke pinggiran dari kota Bukit Emas, membuat petugas keamanan kota itu tak menyadari jika ada sebuah kekacauan di sana.
Empu Cipta guna sendiri ikut turun tangan, membantu anak buah nya dan menyerang ke arah lawannya.
Pangeran Ronggo yang melihat hal itu langsung meloncat menghadapi sang Empu, dia langsung melesat kearah empu tersebut dan berusaha melumpuhkan nya.
Sriiing..!!
Sebuah tebasan di lakukan oleh Empu Cipta guna ke arah sang pangeran, begitu pangeran itu mendekat kearahnya.
Tebasan yang menggunakan sebuah pedang dengan aura cukup kuat dilakukan mengarah ke badan pangeran.
Wuuss..!. Traaang...!!
Pangeran Ronggo menangkis hantaman pedang tersebut dengan pedangnya, sesaat tangan pangeran terasa terpental saat berbenturan dengan pedang lawan, seakan kekuatan lawan berada jauh di atasnya mampu mementalkan serangan nya, padahal jika melihat tingkatan Kependekaran Empu Cipta guna ada di bawahnya.
"Hmm, pedang yang beraura hebat mampu meredam bahkan membalikkan kekuatan, aku harus memiliki nya selain sang pria tua ini tentu saja," gumam pangeran Ronggo dengan senyuman licik di wajah nya.
"Pedang hebat..!," teriak pangeran Ronggo memuji kehebatan senjata lawan, sembari bergerak menyerang balik lawannya dengan jurus andalannya.
"Ya..ini salah satu pedang andalanku juga, ku buat sendiri dan ku beri nama Pedang Angin puyuh" seru Empu Cipta guna dengan bangga, sambil menangkis tebasan pedang lawannya.
Pedang hebat dengan warna kebiruan, yang mampu mengeluarkan dorongan aura membalikkan kekuatan hantaman lawan itu menarik sang pangeran untuk mendapatkan nya.
Dengan kalap dia bergerak merangsek menyabetkan senjata pedangnya ingin segera menaklukkan sang Empu serta merampas pedang tersebut.
Traaang...!!
Hantaman yang makin di kuat dilakukan oleh sang pangeran, jika kondisi normal pasti sang Empu akan langsung cidera hebat karena tingkatan kependekaran pangeran ada di ranah Raja Emas pertengahan, sedangkan Empu Cipta guna ada di ranah Raja Perak awal, sebuah jarak yang cukup jauh bagi tingkatan kependekaran untuk dua orang yang bertarung, membuat setiap hantaman yang di lakukan dengan sungguh sungguh akan membuat lawan langsung celaka.
BLAAAAMM....
Akibat hantaman itu Empu Cipta guna sedikit tersurut ke belakang, hantaman dahsyat lawan terredam oleh kehebatan aura pedang Angin Puyuh, sehingga gelombang serangan yang harusnya mampu melempar kan empu Cipta guna beberapa puluh tombak sedikit di redam oleh kuatnya aura pedang Angin Puyuh, dan hanya terdorong beberapa langkah ke belakang.
"Pedang mu cukup hebat juga Empu.., membuatku makin ingin memiliki nya saja.." seru pangeran Ronggo yang kini sudah melesat lagi maju menyerang.
Empu Cipta guna hanya membalas dengan tatapan jijik melihat keserakahan lawannya.
Kali ini pangeran Ronggo tak ingin gagal lagi, di kerahkan nya seluruh kekuatan nya, di tumpukan semua kekuatan di tangan kanan yang memegang pedang nya yang akan di hantamkan ke arah lawan yang sudah tersurut ke belakang itu.
__ADS_1
"HIAAAA....!!"
Pangeran Ronggo meloncat mengayunkan pedangnya membelah udara menyasar dada empu Cipta guna.
Sriiiing....!!
Gelombang lebih kuat menerjang kearah empu Cipta guna.
Dengan susah payah empu itu menangkis serangan itu dan terjadi ledakan, meski begitu hawa pedang Angin Puyuh masih mampu sedikit menangkal kuatnya hantaman lawan.
DUAAAARRTT...!!
Empu Cipta guna kembali terlempar makin jauh dan menabrak tembok pembatas hingga jebol ke luar wilayah hunian nya.
Setelah menghajar lawannya hingga terlempar, kembali pangeran Ronggo melesat keluar halaman kediaman sang empu, menyusul untuk menghajar empu Cipta guna lagi yang masih mencoba memegang pedangnya dengan erat, meski terlempar bergulingan.
"Yeeaaaa..!!. Terimalah.. tebasan ku..!."
Wuuusss.... sriiiiing...!!
Gelombang sambaran dahsyat terasa saat pedang pangeran Ronggo membelah udara.
Traaang...!
Hantaman pedang pangeran Ronggo ke arah badan Empu Cipta guna, terbentur degan sebuah pedang biasa yang menahan serangan itu.
Meski pedang biasa namun di gunakan oleh orang yang berkekuatan hebat maka akan mampu menandingi hebatnya pedang pangeran Ronggo.
Jaya yang tertarik bertemu dengan Empu Cipta guna, datang di saat yang tepat bersama rombongan nya.
Mereka langsung berbaur membantu kelompok empu Cipta guna.
"Hemm, ada apa seorang petinggi kerajaan bersama pasukan sebanyak ini menyerang seorang empu yang jelas jelas tak punya musuh." balas Jaya sambil membelakangi empu Cipta guna, mencoba melindungi dari ancaman sang lawan.
"Sontoloyo..Setan alaaas...!." teriak pangeran Ronggo geram, karena lawan di depannya malah berkata yang menurutnya tak bermutu.
"Bosan hidup rupanya, berani mengusik dan mengganggu rencana kami..!." pangeran Ronggo menggeram marah.
Jaya menatap pedangnya yang sedikit bengkong karena kwalitas buruk.
"Justru kalianlah yang sudah bosan hidup, mengganggu ketentraman yang lain." balas Jaya, sambil mencoba meluruskan pedang nya yang masih bengkong, akibat benturan keras.
Empu Cipta guna yang melihat Jaya mencoba membetulkan pedangnya, lalu berkata, " Pakailah pedang ini anak muda..!," teriaknya, melemparkan pedang tersebut.
Jaya menoleh menangkap nya dan tersenyum kearah empu Cipta guna, "Terimakasih Empu, di perbolehkan menggunakan pedang hebat ini."
Pedang Angin Puyuh yang kini di genggaman Jaya makin bersinar dengan aura biru keunguan yang makin pekat, membuat Empu Cipta guna ternganga.
"Duuh..Jagat Dewa Batara.....aura apa ini..? membuat pedang buatan ku makin beraura hebat?."
Pangeran Ronggo yang melihat senjata pedang tersebut malah di pinjam kan orang lain yang menjadi pengacau dari tujuannya, makin berang.
__ADS_1
"Dasar kalian pembangkang ...akan ku singkirkan semuanya ...!."
"Kenapa hanya berteriak jika begitu..? ayo kita lanjutkan pertarungan kita..!." sahut Jaya sambil tersenyum mengejek.
Pangeran Ronggo tak bicara lagi langsung melesat, menyabetkan pedang di tangan kanannya.
"Mati kau...!!."
Jaya pun tak mau kalah melesat maju menyambut serangan itu dengan senjata pedang Angin Puyuh di tangannya.
BLAAAAAR....!
Dua kekuatan bertemu saat dua serangan itu berbenturan, menimbulkan ledakan hebat
"Luar biasa, pedang ini..," gumam Jaya mengagumi kehebatan pedang yang digenggam nya, dengan sedikit mundur akibat benturan tadi.
Pedang yang dirasanya membuat aura dan tenaganya makin keluar saling bersinergi.
Pangeran Ronggo terlempar kebelakang akibat benturan hebat tadi berjumpalitan beberapa kali sebelum menginjak tanah. sedangkan Jaya hanya mundur beberapa langkah.
"Keparaat..!." pangeran Ronggo mengumpat lalu mengeluarkan sesuatu dari badannya, sebuah sarung tangan yang terbuat dari kulit dan baja dengan hiasan butiran manik manik, di ujung nya terdapat kuku kuku yang terlihat tajam dan kehitaman karena racun ganas nya.
"Kau harus mati di tanganku..," kata sang pangeran terlihat sangat murka.
"Hmm..kau memang bukan jenis manusia yang perlu di sadarkan rupanya," balas Jaya menatap lawannya, yang sudah bersiap menyerangnya lagi.
Bau amis dan busuk kini menguar di udara setelah sarung tangan itu dipakai di tangan kiri sang pangeran dan di aliri kekuatan tenaga dalam.
Jaya sudah melambari serangannya dengan Selaksa Ombak Menerjang, dirinya tak menahan diri lagi, pedang Angin Puyuh kian beraura gelap, bukan lagi biru tapi kini berwarna ungu.
"Hiaaa...!!."
Pangeran Ronggo melesat, bergerak cepat dengan gerakan zig zag mengurung Jaya dengan aura kehitaman dan bau anyir busuk dari sarung Cakar Setan di tangannya.
Wuuuss....
Jaya meloncat maju menghantamkan pukulan pedangnya menyasar ke arah pangeran Ronggo yang juga menebaskan pedangnya diiringi hantaman cakar di tangan kirinya.
Pangeran Ronggo yang tak menyadari kekuatan lawannya mencoba menangkis sambaran pedang Jaya kembali dan mencoba mencengkeram dengan sarung Cakar Setan yang sangat beracun tersebut.
BLEGAAAART...!
BLEGAAAART...!!
Hantaman itu kini di rasakan nya sangat dahsyat melebihi serangan yang tadi terjadi, bahkan datang berkali kali hanya dalam satu kali hantaman, membuatnya terlempar makin jauh bahkan sebelum senjata Cakar Setan nya berhasil mencengkeram lawan sudah terdorong oleh sebuah sambaran yang membuat dadanya tertekan hebat.
"Aaaaarrcchh...!." jeritan menyayat dari pangeran Ronggo terdengar memilukan.
____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...
__ADS_1