
Sebuah sinar dengan diikuti oleh beberapa pijar sinar lainnya tampak melesat menuju ke Utara.
Suara seperti Guntur yang membelah angkasa terdengar begitu menakutkan saat beberapa sinar itu lewat, seperti sebuah suara pesawat tempur yang menggelegar di udara berturut-turut dengan durasi cukup lama.
Jaya tengah dikejar oleh para Dewa yang memburunya, mereka mengejar dengan meningkatkan kekuatan aura dewa yang menakutkan sehingga memecah kehampaan angkasa.
GROAAAAARR....!
GROAAAAARR.....!
Suara gelegar terdengar begitu keras, seakan alam terbelah akibat suara dahsyat tersebut, untung saja wilayah tersebut tak banyak manusia penghuni nya, hanya beberapa binatang alami serta monster dan binatang iblis yang tentu saja sudah menjauh dari pusat suara.
"Mau lari kemana kau pengecut...!, dasar Berandalan tengik..!." Aryo Baruno mengumpat melesat memburunya, menggenjot kecepatan terbang nya mengejar sosok yang di buru nya.
"Ke ujung alam ini pun kami akan terus mengejar mu..!," Anisong juga mulai mengirim kan ancaman lewat transmisi suara kepada Jaya.
Tubuh tubuh para Dewa pengejar tersebut makin berpendar menandakan mereka meningkat kan kekuatan tubuh nya.
Jaya tetap terbang dengan menjaga jarak, dirinya tak ingin melesat cepat meninggalkan para pengejar nya karena niatnya memang memancing para dewa tersebut ke tempat yang diinginkannya.
"Tangkap aku jika kalian mampu...!."
Jaya membalas dengan cibiran kepada para pengejarnya.
"Cuiih...dasar Bedebah..!, nyawa sudah di ujung tanduk masih saja bertingkah...!."
WWUUUUUZZZ....LAAAAPPPP......
Mereka makin melesat menuju ujung dunia Utara.
Tanah Utara sudah mulai terlihat seperti sebuah titik hitam, menandakan sebentar lagi mereka akan sampai ke sana.
SWIIING....BOOOOMMM....
Jaya sudah mulai mendarat dengan keras di alam yang di selimuti banyak lapisan salju tersebut.
Setelah nya menengok kanan kiri, "Tempat yang cocok untuk bertarung dengan para Dewa."
SWIIING....! SWIIIIING.....!!
BOOOMM....BOOOMM...
Bagai sebuah ledakan Bom yang berturut-turut, terdengar dahsyat saat para Dewa mulai berjatuhan turun mendarat ke bumi.
__ADS_1
Semua tersibak tersapu, bagai terkena hempasan gelombang tsunami saat para Dewa itu tiba mendarat di tanah tersebut.
Lima puluh Dewa yang di pimpin oleh Dewa Aryo Baruno tersebut langsung mengurung, mengepungnya, mengelilingi sosok Jaya Sanjaya dalam jarak beberapa ratus meter, seakan mangsa yang empuk.
"Hua..ha...ha... akhirnya berhasil juga ingsun melihat wujud mu..!." dengan arogan Aryo Baruno berkata, sambil menatap masam Jaya Sanjaya. Menelisik mengukur kekuatan dari sang buruan.
Jaya hanya membalas tatapan tersebut dengan acuh tak acuh, menatap para Dewa yang memburunya. Mencoba mengingat ingat jati diri para pemburu tersebut, namun tak di ketahui nya, mungkin mereka saat itu tak terlalu terkenal sehingga Jaya tak mengenal nya, begitu pun dengan dewa dewa tersebut yang tak mengenal Jaya.
"Terus apa yang akan kau lakukan..?!?!." tantang Jaya
"Keparaat...!, ingsun akan mengenyahkan semua lapisan raga abadi mu, lalu memenggal kepala mu dan membawanya ke hadapan Kaisar Dewa..!."
"Mimpi...!." Dengan masih acuh tak acuh Jaya berkata, tak ada sedikitpun ketakutan tampak di wajahnya, padahal rata rata dewa tersebut memancarkan aura membunuh yang menakutkan.
"Mohon ijin hamba mengatasi nya ketua..!." Salah satu dewa anak buah Aryo Baruno, menangkupkan tangannya sambil menatap Dewa Aryo Baruno, memohon ijin untuk mulai memberi hajaran kepada Jaya.
"Ya ...Ingsun tak sabar melihat rontok nya Raga Abadi Bedebah ini."
Raga Abadi adalah lapisan raga yang khusus di anugerah kan kepada para Dewa dari Sang Pencipta, membuat para Dewa seakan tak bisa mati karena biasanya mereka memiliki lapisan raga abadi yang berlapis lapis, membuat mereka bisa meregenerasi tubuh nya setiap ada kerusakan, sehingga seakan tak bisa mati, padahal lapisan raga abadi tersebut bisa berkurang bahkan habis dan mereka menjadi sosok seperti manusia biasa.
Salah satu dewa itu maju mendekat ke arah Jaya, sedangkan yang lainnya masih melingkari mengepung Jaya dalam jarak beberapa ratus meter.
"Lihatlah indahnya alam ini untuk yang terakhir kali, sebelum kepalamu aku penggal..!." Dengan sangat arogan dewa yang melangkah maju tersebut berkata.
"Ciis, banyak omong." Jaya mendengus acuh tak acuh, bahkan tak memandang sosok yang tengah melangkah mendekati nya.
Sosok Dewa cebol yang aslinya bernama Rupatikawa menggeram marah, merasa di remehkan lawannya.
Badannya langsung berpendar, memancarkan warna sedikit kehitaman, menandakan dia sudah mulai bersiap untuk bertarung.
Serpihan salju langsung menyingkir seakan tersapu oleh angin yang kencang hanya dengan tercipta nya aura dewa dari Dewa Rupatikawa.
"Rasakan ini...!." teriak Rupatikawa, menghantam kan pukulannya.
Sebuah ilusi gelombang pukulan yang membentuk sebuah gambaran tangan dengan kekuatan menakutkan menghantam ke arah badan Jaya.
Jaya masih terdiam ditempatnya, tangannya melambai, memainkan jurus Manggar Pecah yang sudah di lambari kekuatan dari gelombang Badai Matahari.
Tangan itu memancarkan cahaya hingga sebatas lengan, menghadang badai pukulan Rupatikawa.
BLUAAAAAR....!
Dua pukulan beradu menimbulkan suara ledakan, kekuatan yang beradu itu terpecah memancar menyebar ke segala arah, menyibakkan semua benda yang ada di sekitar keduanya.
__ADS_1
Rupatikawa terdorong beberapa langkah kebelakang, sedangkan Jaya masih kokoh berdiri di tempatnya.
"Keparaat...!, kuat juga kau..!," umpat Rupatikawa sambil mengusap sudut bibir nya yang mengeluarkan darah.
Benturan tersebut membuat sosok dewa cebol itu sedikit terluka.
Meski terdorong beberapa langkah, dewa dengan wujud pendek tersebut tak mengambil langkah mundur, menyerah.
Rupatikawa langsung mengeluarkan senjata dari ruang dimensi nya, sebuah pedang dengan panjang bahkan melebihi badannya.
"Aku sudah mencabut kyai Rojomongso, senjata andalan ku, kau pasti akan tercincang."
Kyai Rojomongso adalah senjata tingkat Dewa ( tingkatan senjata ada di chapter Awal Mula), sebuah senjata yang sangat dahsyat dengan segala akibat nya, bahkan seorang dewa tak semua memiliki senjata setingkat ini.
Namun senjata itu masih kalah dengan senjata Jaya Sanjaya, Kyai Seto Ludiro dan kyai Wojo Digdoyo yang ada di tingkat Illahi, memiliki roh jiwa di dalam nya, meski efek serangan dua senjata ini hampir seimbang.
Melihat lawannya mengeluarkan senjata tingkat Dewa, Jaya juga mengeluarkan tombak kyai Seto Ludiro serta perisai kyai Wojo Digdoyo.
"Tunggu apa lagi...!." teriak Jaya, begitu melihat lawannya tak langsung menyerang.
Rupatikawa langsung melesat menebaskan pedangnya, begitu mendengar perkataan lawan.
Gerakan yang begitu cepat dengan aura tebasan mematikan tercipta.
Udara terbelah dengan kekuatan sabetan pedang pusaka tersebut. jika tebasan tersebut mengenai gunung anakan pasti akan terbelah.
BLAAAANG....!!!
Jaya menangkis sambaran senjata yang menakutkan tersebut dengan perisai kyai Wojo Digdoyo, membuat hawa serangan yang begitu dahsyat itu luruh seketika.
WUUUNG.....
CRAAAKKKK....!!!
Jaya mengayunkan tombak kyai Seto Ludiro, saat lawannya memberikan celah sedikit ketika melakukan serangan pedang tadi. ayunan tombak tersebut mengenai dada lawan yang langsung menyemburkan darah ke udara.
"Aaaarch...!." Rupatikawa menjerit saat dadanya tercabik ujung tombak kyai Seto Ludiro, badannya terlempar mundur seratus meter dari pusat pertarungan.
Semua dewa sedikit terkesiap melihat pemandangan itu, tak disangka hanya dalam sekali gerakan Dewa Rupatikawa bisa terluka.
Aryo Baruno tersenyum masam menanggapi hal tersebut.
"Selanjutnya...!."
__ADS_1
Jaya berteriak sambil berdiri tegak dengan gagahnya menantang lawan lawannya.