
Rombongan ratusan orang anggota Jubah Perak sudah bertolak ke Kawedanan Bojang.
Mereka sebagian meniaki kuda dan sebagian berjalan kaki atau berlari.
Tampak di depan Sonosumar di barengi oleh para Tetua, mereka memimpin perjalanan tersebut dengan berada di barisan terdepan.
Jeliteng yang ada di samping kiri dari Sonosumar terlihat garang dengan kulit hitam dan kumis melintangnya, pandangannya selalu tertuju ke depan nampak menakutkan siapa pun yang memandang.
Di sebelahnya ada Pario Jatri, Panji Gemilang dan Rasimandar juga berkuda dengan wajah yang di stel garang.
"Jika mereka tak mau mengabulkan apa yang kuminta jangan kasih ampun...!," Sonosumar berkata sedikit keras, memecah suara derap kuda yang terdengar berisik.
"Kita perlu menertibkan mereka, agar kedepannya tak ada yang berani bertingkah seperti ini." ucap Sonosumar kembali.
"Setuju apa kata Tetua Agung..!, kita hajar mereka sebelum di beri ampunan." Rasimandar menyahut.
"Kalau aku di suruh memilih, aku lebih senang mencincang mereka, membantai dan membakar tempat ini," Jeliteng menyahut, tanpa mengalihkan tatapannya, " Aku tak takut dengan pemerintahan Bhumi Cempaka."
Mereka terus berbincang hingga mendekati wilayah Kawedanan Bojang.
**
Jaya menatap ratusan orang yang bergerak mengular tersebut dari jarak yang masih cukup jauh.
Bukan hanya Jaya tapi juga para prajurit Kawedanan Bojang, semua menatap dengan wajah sudah memucat.
"Kita nikmati udara saat ini, mungkin hari ini akhir dari hidup kita," terdengar salah satu orang berkata.
"Ya benar, lawan begitu banyak, tak sebanding dengan kita, bahkan jika bala bantuan datang kita tetap akan di hancurkan Jubah Perak."
"Menyesal aku tak ikut kelompok tersebut."
"Kita semua pasti mati."
Sahut menyahut, para prajurit itu berkata, meski dengan suara pelan, namun Jaya jelas menagkap itu.
Para prajurit itu sudah pasrah dan putus asa, jujur mereka tak pernah berperang apalagi perang besar seperti ini, mereka hanya prajurit penjaga keamanan yang sekali kali terlibat dalam perkelahian tanpa menghilangkan nyawa.
Melihat banyaknya lawan yang masih terlihat jauh dalam jumlah begitu banyak membuat mereka langsung putus harapan, langsung pasrah jika hari itu pasti akan mati.
"Apa yang kalian katakan?, kenapa kalian jadi pengecut seperti ini?, apakah tak ada niat dalam hati kalian berjuang menegakkan keadilan?." Jaya yang mendengat keluhan para prajurit bermental lemah itu, sedikit murka dan tak suka.
"Tuan pendekar bisa berkata seperti itu, tapi kami benar benar orang lemah."
"Kami pasti tak sebanding dengan anggota Jubah Perak yang terkenal hebat, bukan kami pengecut, tapi itulah kenyataannya."
Jaya berdecak kesal, tapi mau bagaimana lagi kenyataan memang demikian.
"Baiklah, terserah kalian..selamatkan saja warga yang kemungkinan ada di sekitar sini, biar aku hadapi mereka." seru Jaya, terkesan arogan memang tapi Jaya sudah berniat akan menghadapi orang orang Jubah Perak tanpa melibatkan para prajurit, untuk mengurangi jumlah korban dari orang orang Kawedanan Bojang.
Rombongan sudah makin mendekat, makin lama makin terlihat jelas para pemimpin Jubah Perak yang ada di depan, memerintahkan anggotanya untuk bersiap.
Sonosumar makin memacu kudanya, diikuti oleh Jeliteng dan tiga tetua lainnya.
__ADS_1
Kini rombongan tersebut sudah memasuki alun alun Kawedanan, sebuah tempat lapang luas yang ada di depan halaman bangunan Kawedanan.
Jaya meloncat melesat sebelum orang orang itu keluar dari alun alun dan memasuki halaman Kabupaten.
"BERHENTIII..!." teriak Jaya dengan suara menggelegar, membuat orang orang tersebut terjingkat seketika.
Sengaja Jaya mengeluarkan suara teriakan seperti itu untuk merontokkan mental para lawannya.
Sonosumar dan empat Tetua lainnya langsung berhenti, menatap tajam sosok pemuda yang berteriak menghentikannya.
"Kenapa kau menghentikan kami..?!."
"Aku penjaga kemanan disini..!, ada perlu apa kalian ke Kawedanan Bojang..!," gertak Jaya.
Sonosumar langsung menyeringai, begitu mengetahui kedudukan pemuda itu hanya pendekar bayaran yang menjadi penjaga keamanan di Kawedanan tersebut.
"Cuiih..!, hanya seorang penjaga saja bertingkah..!," Jeliteng langsung menyahut sebelum sang Tetua Agung Sumarsono berkata.
"Minggirlah..! jika kau ingin selamat, dan aku akan melupakan kesalahanmu sudah menyerang utusanku," seru Sumarsono kepada Jaya sambil melirik Pario Jatri yang sudah di hajar Jaya tadi.
"Bagaimana jika aku tak minggir."
"Aku akan memusnahkanmu..!," bentak Jeliteng, menatap garang kepada Jaya.
Jaya makin mendekat, tanpa ragu mengeluarkan aura Dewa dan juga mencabut pedang Angin Puyuh. "Aku yang akan menghancurkan kalian disini."
Jelitang yang sudah geram langsung meloncat dari atas kudanya, menyerang Jaya begitu melihat sang Pemuda mencabut senjatanya.
Deru gelombang serangan langsung terasa saat Tetua bendera Merah itu melesat mengayunkan senjata pedangnya.
Wuuung...!
BLAAAARR...!!
Tanpa ragu Jaya langsung menebas balik lawannya hingga terjadi ledakan dan Jeliteng langsung terlempar.
"Aaaarrgh."
Jeliteng langsung terpental, mengagetkan semua anggota Jubah Perak, pasalnya Tetua Jeliteng adalah orang kedua yang terhebat di kelompok tersebut.
"Hajaaarr...!!," teriak Sonosumar, begitu melihat kehebatan lawan, tanpa ragu memerintahkan untuk mengeroyok sang pemuda.
Ratusan orang tersebut langsung menghambur menyerang dan mengerubuti Jaya begitu mendapat perintah dari sang Tetua Agung.
**
"Aura ini muncul lagi..!.'' tiba tiba Loraka berkata sedikit mengagetkan kedua rekannya.
Reksan dan Dawung saling tatap, mereka menajamkan rasa mencoba memindai aura yang di bicarakan.
"Benar, aku merasakannya." Dawung berseru menguatkan perkataan Loraka, sedangkan Reksan hanya mengangguk.
"Arahnya dari sana, tempat di mana kita pernah memutarinya.." seru Reksan.
__ADS_1
Ketiga Dewa Prajurit itu langsung melesat terbang menuju ke arah yang di tunjuk, arah pusat dari sumber aura berasal.
**
Lima tetua bersama seluruh anggota bergantian melakukan serangan terhadap Jaya Sanjaya.
JDUAAAAARRT...!!
Jaya menghantam puluhan orang yang mengerubutinya dengan Selaksa Ombak menerjang, hantaman itu langsung melemparkan orang orang tersebut.
Jika Jaya ingin kejam, rasanya ingin menghantam dengan Badai Matahari, namun rasa kemanusiaan masih menghalangi niatnya.
Orang orang itu langsung terlempar kebanyakan pingsan dan cidera, sedikit yang langsung tewas, karena Jaya juga tak ingin membuat banyak korban.
Para petinggi Jubah Perak membelalakkan matanya, tak percaya puluhan orang langsung bertumbangan dalam sekali pukul.
BLEEEGAAAARRT...!!
Kembali Jaya menghantam anggota Jubah Perak yang berniat mendekat.
Ratusan orang sudah bergelimpangan, tak berdaya hanya melawan satu orang Jaya.
Semua orang dari Kawedanan Bojang yang bersembunyi di pendopo Kawedanan terlihat tak percaya dengan pemandangan yang ada di depan mata, ratusan orang terkapar dengan hanya melawan satu orang, GILA di luar nalar.
Kini anak buah Jubah Perak yang tersisa tak berani lagi mendekat.
"Siapa kau sesungguhnya..!?." Sonosumar bertanya sedikit gemetar.
"Kenapa sekarang baru bertanya? apa pedulimu?." balas Jaya dengan sengit.
"Sombong kau..!, mentang mentang mampu memporak porandakan anak buah kami..!."
Kelima orang tersebut lalu membentuk formasi, dengan Sonosumar berdiri paling depan lalu keempat tetua lainnya berdiri di belakangnya, nampaknya mereka mengajak adu kekuatan.
"Kita adu jiwa..!, siapa yang mati di sini..!," Rasimandar berteriak di belakang Sonosumar, mengulurkan lengannya menempel di punggung sang Tetua Agung, mengalirkan tenaga dalamnya.
Demikian juga dengan tetua yang lain juga saling menempelkan lengan untuk menyatukan kekuatan.
"Aku terima tantanganmu..!, biar mata kalian terbuka bahwa masih banyak pendekar sakti setelah Purnama Berdarah, yang akan menghentikan kejahatan kalian Jubah Perak..!." Jaya sudah mengerahkan Badai Matahari di lengannya, hanya tingkat ll dan itu di rasa sudah cukup.
"HIAAAA....!."
"HIAAAA....!!."
Terdengar teriakan keras dari dua kubu sebelum saling melepas serangannya.
BLEEGAAAARTTTT....!!
Terdengar ledakan keras terjadi, kelima tetua Jubah Perak terlempar dengan badan terbakar, sedangkan Jaya terdorong dua langkah saja.
____________
Jejaknya kaka....
__ADS_1