Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Asal Mula Pusaka Tombak dan Perisai


__ADS_3

"Nakmas...mereka Orang orang Gagak Hitam..," pelan Narimo berkata dengan dengan gemetaran.


"Maksud paman..?."


"Mereka di berkati para Dewa.."


"Maksudnya..?," Jaya makin bengong dengan perkataan Narimo yang masih menggigil ketakutan.


"Mereka di tolak kematian..!," seru Narimo lebih jelas.


"Ooh.." kata Jaya dengan santai.


"Kok cuma 'Ooh' Nakmas, mereka tak akan bisa mati dengan senjata apapun."


Jaya hanya terdiam mendengar perkataan dari Narimo.


Suwono makin mendekat, tampilannya yang aneh dengan tatto dan cat warna hitam yang coreng moreng membuat orang yang menatapnya makin ketakutan karena terlihat makin sangar.


"Cepat serahkan pusaka itu..!!, jika tidak jangan salahkan kami menghabisi mu di sini..!!." teriak Suwono dengan seringaian yang makin menakutkan.


Jaya turun dari kudanya, menyerahkan kekang itu kepada Narimo agar sedikit minggir ke samping.


"Siapa yang akan mengambil pusaka itu..?!," tantang Jaya sambil merentangkan kedua tangannya.


Gerakan Jaya yang provokatif membuat orang orang Gagak Hitam yang mudah tersulut itu makin meradang.


Selama ini tak ada yang terang terangan menantang kelompok mereka sebagaimana pemuda di depannya.


"Kepuuung...keparat itu...!!." teriak Suwono kepada belasan anak buah yang berjumlah belasan orang itu.


Segera orang orang itu berlarian menyerbu ke arah Jaya Sanjaya.


Karena jaya sudah tau jika lawannya tak mudah mati, maka kesempatan itu di gunakan nya untuk berlatih.


SELAKSA OMBAK MENERJANG..!!


Teriak Jaya menghantamkan pukulannya.


JDUUAAAARRT...!!


Hantaman itu menggelegar menghantam orang orang Gagak Hitam yang terlempar berguling gulingan dengan badan hancur.


"Aaarh..'' Aaarrrrhh...!!."


Jeritan anggota Gagak Hitam terdengar bersahut sahutan terkena hantaman Jurus yang dahsyat tersebut.


Namun berlahan serpihan tubuh tubuh itu bergerak, saling mengait sebelum akhirnya bersatu kembali.


Narimo yang melihat itu menjadi makin begidik ngeri.

__ADS_1


Berkali kali badan orang orang Gagak Hitam di hantam di pukul hingga kepalanya pecah, hingga dadanya jebol, namun semua kembali seperti semula, meski orang orang tersebut berteriak kesakitan saat badan mereka di siksa.


BADAI.. MATAHARI....!!


Teriak Jaya Sanjaya mengeluarkan jurus andalannya yang mampu membakar apapun akibat hawa panas yang di hasilkan nya.


Kembali orang orang tersebut berjumpalitan terlempar dengan badan sebagian gosong.


Namun ajaib semua itu kembali pulih setelah beberapa saat.


Jaya termenung sesaat menghadapi lawan yang seperti ini, ingatannya kembali ke zaman dimana dirinya menjadi Dewa Perang.


**


Flashback on


Di sebuah Padang luas di Alam Dewa tengah terjadi pertempuran hebat antara pasukan kerajaan Dewa melawan perusuh dari kelompok iblis.


Dewa Cakra Tirta Sanjaya atau Dewa Perang yang mendapat tugas membasmi pemberontak, tengah memimpin sepuluh ribu pasukan Dewa untuk menghadapi kelompok pasukan Iblis yang di pimpin panglima Iblis bernama Jalumongso.


Pertempuran seru terjadi antara kedua kelompok, korban tewas sudah berjatuhan dari kedua belah pihak.


Namun kedua pasukan tersebut pantang menyerah, dan tak ada satu pun yang mau mengalah untuk mengakhiri pertempuran yang sudah berlangsung berbulan bulan itu.


Makin lama pertempuran makin memakan banyak korban, baik dari pihak Dewa maupun dari pihak Iblis.


Jumlah sepuluh ribu prajurit Dewa kini hanya tersisa seperempat nya saja, itupun yang termasuk pasukan inti.


Jalumongso sang panglima perang akhirnya bersama pasukan inti bahkan sudah melarikan diri dari luasnya Padang yang di jadikan arena pertempuran.


"Ayo..kita tinggalkan tempat ini, jika kita tak mau mati di sini..!," teriak Jalumongso memerintahkan anak buah nya yang merupakan pasukan inti dan kini hanya tinggal seratus iblis.


Disaat sisa sisa prajurit iblis yang lain bertempur maka Jalumongso dan seratus pasukan intinya melarikan diri, menyelamatkan diri untuk membangun kekuatan kembali, begitu pikirnya.


Melihat panglima perang lawan melarikan diri, Dewa Perang langsung mengejar bersama beberapa orang anak buah kepercayaan nya.


Kejar kejaran antara dua kelompok itu terjadi, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah tempat dimana tak mungkin lagi melarikan diri.


Kembali...., di tempat itu terjadi pertarungan dahsyat yang memakan banyak korban di kedua belah pihak.


Namun paling banyak di pihak Jalumongso, dari seratusan iblis kini hanya tinggal Lima iblis termasuk Jalumongso.


Jalumongso lalu teringat, sebuah pusaka yang tersimpan dalam wadah semacam bumbung emas kecil pemberian dari sang Raja Iblis.


"Minumlah ini jika kau mulai terdesak, maka kau akan memiliki kekuatan yang luar biasa." begitu pesan sang Raja Iblis kepada Jalumongso saat menyerahnya.


Maka dengan segera Jalumongso meminum cairan aneh dengan butiran serabut yang ada di dalamnya, bukan hanya dirinya tapi keempat anak buahnya juga meminumnya.


Singkat Cerita setelah meminum benda tersebut Jalumongso merasakan kekuatan yang lebih hebat di tubuhnya, semua luka lukanya langsung sembuh seketika, bahkan yang lebih mengagetkan lagi dia tak bisa mati dan badannya akan menyatu kembali meskipun di tebas dan di potong.

__ADS_1


Dengan kekuatan barunya itulah Jalumongso berani menghadang dan menghadapi pasukan inti Dewa Perang.


Kembali pertempuran terjadi namun kali ini keadaan berbalik, pasukan Dewa kocar kacir di bantai oleh pasukan yang tak akan pernah mati itu.


Pasukan Dewa yang memiliki Raga Abadi akhirnya bisa di bunuh dengan cara mengurangi lapisan Raga Abadi, hingga menipis dan benar benar hilang lapisan Raga Abadi tersebut.


Sedangkan lima pasukan iblis itu tak akan pernah mati dengan di serang oleh senjata apapun.


Dewa perang akhirnya balik melarikan diri, dan terus di kejar oleh para iblis tersebut.


Dewa perang yang kini menjadi buronan itu, akhirnya bisa menyembunyikan diri di sebuah gua yang tak berujung.


Dalam salah satu ruang nya, sang Dewa mengadukan permasalahannya kepada Sang Pencipta, memohon di berikan pencerahan dah jalan keluar untuk mengalahkan iblis.


"Ya... Sang Pencipta seluruh alam dan isinya, jika memang pasukan Iblis engkau biarkan berkuasa atas seluruh kehidupan maka biarkan aku mengurung diri disini di sisa hidupku, namun jika memang Engkau ingin menumpasnya berilah aku pertolongan mu..!."


Akhirnya Sang Pencipta memberikan pusaka Illahi kepada Sang Dewa Perang, yang berujut Tombak dan perisai yang di beri nama Tombak kyai Seto Ludiro dan perisai Wojo Digdoyo.


Selain kedua senjata ini adalah senjata Illahi yang memiliki ruh, senjata ini ternyata juga mampu mendeteksi kelemahan lawan dan bagaimana cara menghadapinya.


Akhirnya di temukan bahwa apa yang membuat para iblis tak bisa mati adalah akibat adanya semacam cacing yang mampu meregenerasi sel sel tubuh dari inangnya secara luar biasa dan di sana disebut Cacing Darah Sarma Pala sesuai nama Raja Iblis yang memberikan benda tersebut, kepada Jalumongso..


Dan satu satunya senjata yang mampu mematikan cacing tersebut adalah Tombak Seto Ludiro yang memiliki racun DasaLaksa di ujung mata tombak nya.


Dan satu rahasia lagi jika setelah cacing cacing tersebut masuk ke dalan tubuh inangnya dia akan membentuk sebuah koloni yang dimana sang pemimpin koloni berada di pusat jantung inangnya.


Maka jika ingin mematikan inangnya lawan harus menusuk tepat di jantungnya dengan senjata yang mengandung racun DasaLaksa tersebut.


Singkat cerita Jalumongso berhasil di musnahkan, namun dua dari empat anak buahnya berhasil meloloskan diri dari sang Dewa Perang saat menghadapi Jendral Iblis tersebut.


Flashback off.


**


Jaya tersentak, ingatannya kembali ke masa itu.


"Hmm...aku ingat peristiwa ribuan tahun yang lalu itu..," gumam Jaya sambil tersenyum dan mulai memangil tombak Kyai Seto Ludiro dan perisai Wojo Digdoyo dari ruang dimensi nya.


Untuk tak membuat kaget orang orang, Jaya memiliki cara yang unik mengeluarkan dua senjata Illahi tersebut dari ruang dimensi.


Yaitu dengan cara memunculkan dua senjata dari jarak beberapa tombak darinya, dan senjata itu melesat meluncur kearahnya seakan ada yang melempar nya, memberikan senjata kepada nya.


Sriiing...!. sriiing....!!


Lesatan dua senjata yang meluncur deras menghampiri Jaya Sanjaya.


Taaap ... taaap....!!


Dengan sigap Jaya menangkap dua senjata itu, lalu memainkannya.

__ADS_1


__________


Jangan lupa tinggalkan jejak nya....


__ADS_2