
Di Alam Dewa.
Puluhan para Dewa yang ada di bawah pimpinan Dewa Aryo Baruno nampak mulai bersiap.
Mereka akan menuju ke Alam manusia, dengan tujuan mengenyahkan Pembuat onar, si Dewa Penyusup sesuai dari perintah sang Kaisar Dewa.
Aura mengancam dari para pasukan khusus Dewa itu terlihat menakutkan, seakan mampu untuk menghancurkan suatu tatanan kehidupan dengan kemampuan tempur yang mereka miliki.
Dewa Aryo Baruno yang berbadan tinggi besar, terlihat garang dengan pakaian jubah perangnya, berwarna merah menyala sambil memanggul senjata Gada yang besarnya setinggi manusia dewasa.
Di sebelah kanan-nya ada si Tangan Kanan Dewa Anisong, Dewa kepercayaan yang menjadi bawahan langsung dari Dewa Aryo Baruno, terlihat siap dengan zirah perang warna emas yang terlihat gagah dan perkasa. Membawa sebuah tombak yang selalu di tutupi kain hitam dengan aura meledak ledak terlihat dari asap yang mengepul dari ujung senjata tersebut.
Sedangkan di samping kiri nya ada sosok Dewa dengan perwujudan sangat mengerikan, kepala nya berwujud seperti singa dengan taring taring tajamnya dan aura yang mengancam, di pinggangnya ada dua pedang lengkung yang terlihat panjang menjutai hingga ke bawah menyentuh lantai.
Di belakang mereka bertiga sekitar lima puluh Dewa dengan pakaian perang dan aneka senjata yang siap hunus, berbaris rapi menunggu aba aba bergerak meninggalkan alam tersebut.
"Apakah kalian sudah siap..?!?!."
"Kami sudah SIAP...!." teriak para Dewa menjawab pertanyaan dari sang pimpinan.
Aryo Baruno mengangguk, mengamati para bawahan yang terlihat sudah siap untuk bertempur memusnahkan sang pembuat onar.
Semua terlihat bersemangat untuk menghancurkan sang Dewa Penyusup, yang telah mengacaukan tatanan kehidupan di alam manusia.
Mereka tinggal menunggu sang Kaisar Dewa menjatuhkan perintah dan membuka portal dimensi pemindah untuk mengantar mereka menuju alam manusia.
**
Di sudut terpencil dan terdalam Alam Dewa yang tak terjamah, terlihat beberapa portal tampak bersinar berkali kali, ini menandakan adanya sebuah perpindahan yang di lakukan secara terus menerus.
Nampaknya pasukan Iblis sudah mulai berdatangan ke Alam para Dewa tersebut tanpa ada yang mengetahuinya.
__ADS_1
"Segera pulihkan diri kalian...jangan sampai hanya menjadi beban di sini...!." sebuah teriakan dari para pemimpin pasukan Iblis, mengingat kan para anak buahnya agar segera memulihkan diri sehabis melewati lorong portal dimensi.
Sebuah keberkahan bagi alam Dewa yang sangat luar biasa, karena siapa saja yang datang ke alam tersebut melalui portal dimensi pasti akan berkurang kekuatan nya untuk beberapa saat, dan saat ini pasukan Iblis mengalami hal tersebut.
Para Iblis terutama yang memiliki kekuatan rendah mulai tampak lemas badannya, mereka menuju ke arah yang sudah di sediakan untuk memulihkan diri baik dengan ramuan tanaman herbal pendukung tingkat tinggi, maupun dengan meditasi dan bertapa sesaat.
"Sudah berapa banyak pasukan kita yang berhasil menyeberang kemari?." seorang pemimpin pasukan Iblis bertanya kepada bawahannya.
"Sudah ada dua ribu lima ratus Iblis dari sepuluh ribu yang kita bawa kemari pemimpin."
Sang pemimpin mengangguk sesaat, terlihat sedang memperhitungkan semua prosesnya hingga semua pasukan bisa melewati portal dan sampai ke alam tersebut.
"Berhati hati lah semuanya, Jangan sampai apa yang kita lakukan di ketahui oleh para Dewa, dan menggagalkan rencana penyerangan ini.''
"Baik Pemimpin."
**
Para tamu undangan sudah terlihat berdatangan dan bahkan sebagian ada yang sudah duduk di tempat yang di sediakan.
Para tamu berbondong bondong dengan membawa berbagai macam hadiah yang di tujukan kepada mempelai yang juga pimpinan kelompok Awan Putih tersebut.
"Sudah lama aku tak melihat yang seperti ini," ucap Koloireng sambil menatap kemeriahan suasana karena adanya ratusan para tamu dan penonton yang terdiri dari masyarakat sekitar markas Awan Putih.
Para tamu undangan di tempat kan di tempat khusus sedang kan para tamu sekitar alias para penduduk sekitar markas di tempat kan di tempat yang berbeda, berada di sebelah kirinya.
"Benar Sesepuh, aku juga merasakan kemeriahan ini begitu luar biasa." Pitu Geni, Baroto dan yang lainnya juga membenarkan hal tersebut.
Narimo sebagai kapala urusan Rumah tangga pastinya paling sibuk, selain mengatur semua kebutuhan dan acara ritual Sumpah Janji juga ikut serta menyambut tamu undangan yang di rasa penting, meski dia juga dibantu oleh anak buahnya di bagian tersebut.
Di altar depan yang di jadikan semacam panggung dengan hiasan aneka bunga bunga serta hiasan yang terlihat mewah, nampak sebuah kursi besar panjang serta mewah. Disana terlihat Jaya Sanjaya dengan di apit dua gadis yang terlihat secantik Dewi Dewi kayangan duduk dengan kidmat.
__ADS_1
Ketiganya terlihat ceria dengan senyum selalu tersungging di wajahnya.
Seorang pria tua dengan di dampingi oleh para Sesepuh Awan Putih, serta kedua orang tua para gadis yaitu Yang Mulia prabu Danar Kencono ayah Pelangi serta Jambumangli ayah Kumala nampak memimpin melakukan sebuah ritual yang mengukuhkan pasangan Jaya Sanjaya dan Pelangi juga Kumala sebagai pasangan suami istri yang sah.
Suara tepuk tangan dan aneka tetabuhan dari alat alat musik yang ada menandakan bahwa ritual Sumpah Janji kepada langit yang dilakukan oleh suami istri disaksikan oleh para Sesepuh dan orang tua tersebut telah sah dilakukan.
"Selamat kalian telah menjadi suami istri yang diberkahi langit..!." ucapan pemimpin ritual Sumpah Janji makin mengukuhkan dan mengesahkan acara tersebut.
Jaya memeluk kedua istri nya, mencium kening dan pipinya secara bergantian dari keduanya diiringi tepuk tangan dan sorak Sorai para tamu yang menghadiri acara tersebut.
Pelangi dan Kumala terlihat bahagia, meski sedikit kelelahan karena sudah di mulai dini hari mereka berdua di rias sedemikian rupa.
Bibir keduanya terlihat selalu tersenyum dengan tangan selalu memeluk lengan kanan dan kiri Jaya Sanjaya sang suami.
Ucapan selamat dari para tamu undangan tak henti hentinya di haturkan kepada Sang Pemimpin Agung Awan Putih tersebut, begitu juga dengan kedua istrinya.
"Selamat Tuan Jaya .."
"Selamat Nyonya Tetua."
"Selamat Tetua Agung..."
"Selamat Nyonya.. Nyonya.."
"Selamat Nakmas Junjungan.."
"Selamat Den Ayu berdua.."
Secara tertib semua mengucapkan selamat atas terlaksananya Sumpah Janji kepada Langit kepada pasangan suami istri baru tersebut.
Semua terlihat menikmati kemeriahan acara pesta tersebut, seakan melupakan sesaat segala ancaman dan permasalahan yang mereka hadapi.
__ADS_1