Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Menghadapi Pengeroyokan ll


__ADS_3

Pertarungan kian dahsyat, bahkan akibat dari pukulan dan hantaman dalam pertarungan yang berlangsung di tengah padang itu bisa di rasakan hingga ke pinggiran.


Gelombang serangan yang begitu dahsyat hingga bisa mencipatakan angin dan getaran kuat sewaktu terjadi baku hantam meluber hingga menghantam para manusia yang berada di pinggiran, yang tengah memulihkan diri tersebut.


"Hati hati..sebaiknya kita lebih mundur lagi..!, gelombang serangan ini sangat kuat."


"Ya.., benar kita tak akan mampu menahan kekuatan dari pukulan liar yang meluber," balas Randu Sembrani menjawab perkataan Prono Condro.


Meski sangat cemas orang orang itu merasa tak mampu untuk membantu Jaya bertarung di medan laga tersebut, bahkan sosok Prono Condro yang bisa di katakan setengah abadi.


Pelangi dan Kumala hanya menatap ke tengah padang dengan hati yang sangat gelisah.


Ingin ikut terjun ke medan tempur, itu sangat tidak mungkin, sama saja dengan menyerahkan nyawa, levelnya terlalu jauh bahkan kekuatannya bagai bumi dan Langit, tingkat kependekarannya sangat jauh rentang perbedaan nya, bisa bisa malah merepotkan Jaya karena harus menjaganya.


"Semoga kakang Jaya mampu mengatasi semuanya," gumam pelan Pelangi, pandangannya tak lepas dari pertarungan di tengah padang, meski tak jelas karena tertutup debu dan kabut.


Kumala yang ada disisi gadis itu memeluknya, menenangkan meski dirinya juga sejujurnya gelisah, "Semoga saja adik."


**


Gempuran gempuran lawan kian membabi buta dengan kekuatan yang bahkan tak terbayang di pikiran para manusia.


Sambaran senjata yang mampu membelah bukit dan hantaman maupun tendangan yang mampu memecah cadas besar datang silih berganti menyerang ke arah Jaya.


Zirah Tameng Jiwo yang melingkupi badan Jaya sudah berpendar, menandakan pusaka itu telah aktif karena membantu menjaga raga dan kekuatan Jaya, agar tak kehabisan tenaga.


"HIAAAA....!!


Iblis Wari melesat untuk yang berulang kali, menghantamkan kembali pedang lengkungnya, menyambar ke arah badan Jaya.


Dengan sedikit meliuk Jaya melepaskan diri dari serangan yang lainnya, menyongsong sambaran dari iblis Wari tersebut.


BLEGAAARRT....!


Dua kekuatan kembali bertemu saling beradu, menjadikan sebuah ledakan kuat saat dua momentum kekuatan itu bertabrakan.


Angin gelombang kekuatan akibat benturan tersebut menyebar menyapu apapun yang ada di sana.


"Manusia keparat ini sungguh kuat, aku tak mengira jika ada manusia sekuat ini, kekuatannya seperti Dewa tapi anehnya tak ada aura itu di sosok ini."


Semua lawan Jaya terperangah dengan kekuatan yang di milikinya, tenaga yang tak pernah ada habisnya, bahkan jika satu lawan satu mungkin sudah dari tadi mereka di kandaskan.


"HIAAAAA.....!!."


Kali ini Dwarakolo melesat maju menebas dengan senjatanya menerjang ke arah Jaya.


Kembali sebuah serangan yang sangat kuat menghantam ke arah Jaya, sabetan senjata yang berhawa sangat mengerikan menyambar sisi kanan dari sang pemimpin Awan Putih.

__ADS_1


TAAANG...!


Jaya menyilangkan badan tombaknya, sedikit membungkuk menangkis hantaman panglima iblis tersebut.


Serangan itu kandas dengan Dwarakolo sedikit terpental akibat benturan itu.


Pertarungan masih berlangsung dengan seru, meski di keroyok namun Jaya terlihat masih mampu untuk mengimbanginya.


**


Hari sudah kembali menjadi gelap, namun pertarungan di tengah padang Selayang Pandang itu masih terus berlangsung dengan seru.


Tiga sosok pengintai yang masih terbang melayang juga masih setia menonton pertarungan tersebut.


Mereka kini duduk santai di sebuah gumpalan awan yang mereka ciptakan sendiri untuk menutupi pengintaian tersebut.


"Siapakah lawan dari para iblis itu?, kekuatan yang cukup lumayan."


"Bukan lumayan, tapi luar biasa untuk seorang manusia," sahut yang lainnya.


"Aku yakin dia sekuat Dewa Pratama atau bahkan Dewa Madya."


"Jangan meremehkan dulu, dia belum mengeluarkan seluruh kekuatanya, siapa tahu masih ada yang di sembunyikan."


"Eh, kalau begitu dia bisa sekuat Dewa Utama?, atau mungkin bahkan Dewa Istimewa?."


Para pengintai itu saling berbantah bantahan, sahut menyahut, memberikan tanggapan atas kejadian di pertempuran tersebut.


Tapi apa yang di katakan ketiga pengintai tersebut ada benarnya juga, kekuatan Jaya memang sangat menakjubkan, namun memang benar juga jika selama ini tak ada manusia yang sekuat Dewa.


"Sungguh kuat manusia itu, namun anehnya aku tak menangkap aura apapun, siapa tahu dia sosok seorang Dewa yang tengah melakukan penyamaran."


"Benar apa katamu." sahut yang lain sambil menelisik mencoba mencari tahu sesuatu.


**


Pertarungan kini mulai bergeser semakin ke selatan dari sisi padang tersebut, tanah lapang dari padang Selayang Pandang kini sudah carut marut tak karuan.


Parit parit kecil akibat hantaman senjata para tokoh itu sudah terbentuk tak beraturan, sebagian tanah bahkan seperti di keruk atau di balik dengan alat khusus.


"HIAAAAA...!


"HIAAAAA...!!


Dua Iblis meloncat dari arah yang berbeda, menyambarkan senjatanya mencari celah yang bisa di tembus senjata itu.


Jaya meliuk, mengangkat perisainya melindungi anggota badannya, sambil memutar tobaknya membentuk sebuah benteng menutup sambaran lawan.

__ADS_1


"Ayo jangan hanya menghindar dan menangkis..!," seru Iblis Wari, berharap membuka celah jika lawan menyerang.


BLAAAARRRT...!


Dua hantaman itu hanya menimbulkan ledakan kuat hingga dua iblis tersebut terlempar akibat pecahnya gelombang kekuatan yang bertubrukan.


Sedangkan Jaya terseret beberapa langkah, dari titik awal berdirinya.


Rakumba dan dua pengawalnya kembali melesat melempar senjatanya, mencoba mencari celah saat Jaya tengah sedikit oleng setelah beradu pukulan dengan dua iblis, jangkar tiga kail itu meluncur mencoba menjerat badan Jaya.


SREEETT....


Ujung jangkar tiga kail mendekat ke arah Jaya, senjata yang bisa merobek, mencabik dan mengikat lawannya itu melesat ke arah nya.


TAAANG...!


TAAAANG....!!


Dengan melompat dan memutar tombak kyai Seto Ludiro, Jaya menepis serangan dua pengawal Rakumba, Kiwo dan Tengen.


Bukan hanya menepis serangan tersebut, namun Jaya membalikkan arah serangan mengarah kepada pemilik serangan.


"Makan tuh senjatamu...!," teriak Jaya.


Kiwo dan Tengen hingga berloncatan, untuk menghindari senjata masing masing yang berbalik menyerang.


"Sekarang giliranku..!!," teriak Jaya melesat maju menusukkan tombaknya ke arah Rakumba yang terlihat paling lemah.


Zzziing...!


Tombak Jaya melesat menyasar ke arah Rakumba yang kini sedikit menjauh dari Kiwo dan Tengen.


TAAANG...!


Tiba tiba sebuah serangan menepis ujung tombak Jaya yang meluncur deras ke arah si Mayat, serangan yang di lakukan oleh Dwarakolo secara tiba tiba itu menggagalkan rencana Jaya mencabik Rakumba.


"Tak akan mudah menyerang kami..!.'' seru Panglima iblis tersebut, sambil kembali menangkap pedang berbentuk S yang sudah kembali berbalik.


Enam sosok itu kembali mengepung Jaya setelah dua Iblis kembali lagi dalam formasi.


Jaya memutar tombaknya, berdiri gagah dan kembali berkonsentrasi menghadapi keroyokan lawannya tersebut.


"Hmm, sayangnya mahkota Dewa Perang belum kembali kepadaku, sehingga kekuatanku masih tertahan."'


Jaya kembali teringat akan kyai Rojomolo, mahkota Dewa Perang yang akan memulihkan seluruh kekuatannya, membuat seluruh element kekuatan yang ada di tubuhnya padu padan.


___________

__ADS_1


Jejaknya.....


__ADS_2