
Pasukan dari Jongka Lengkong yang di pimpin oleh guru Tohjaya dan Broto dento tetua Singa Emas sudah berhasil mengusir kelompok Mawar Hitam untuk mengurungkan misi memburu pusaka.
Kelompok yang misterius tersebut memutuskan mundur teratur setelah para tetuanya tak mampu menandingi Pemimpin pasukan Jongka Lengkong tersebut.
"Kita pulihkan diri dahulu, setelah segar kita buru lagi pusaka itu," kata guru Tohjaya yang juga di angguki oleh Broto dento.
"Persiapkan tenda kita, malam ini kita bermalam disini saja."
"Baik guru Tohjaya," sahut para prajurit dengan patuh dan hormat melakukan apa yang di perintahkan.
Para prajurit tersebut kemudian mulai mendirikan tenda dan membuat perapian di sekitar mereka bertarung tadi.
Menyajikan makanan kepada para pemimpin pasukan, dan tetap sesekali melihat sekeliling memastikan lokasi dimana keberadaan pusaka itu berada.
**
Pertarungan Tiga Bayangan Setan melawan pasukan Mata Iblis masih terus berlangsung.
Kedua belah pihak tak ada yang mau mengalah meskipun kadang tejadi benturan yang membuat dua kubu tersebut sedikit goyah.
"Hiaaa..!"
Tiga Bayangan Setan kini kembali bergerak menyerang secara langsung ke arah anggota Mata Iblis yang masih dalam posisi formasi Sarang laba laba.
Jino, Lono dan Tino bergantian menyerang sambil berlari memutari formasi heksagonal tersebut, mencoba mencari celah dari kuatnya formasi itu.
"Hiaaa...!"
"Hiaaaaa..!!"
Berkali kali tiga orang tersebut menghantamkan pukulannya secara bergantian, dari arah yang tak di sangka sangka.
Traaang...!
Traaang...!!
Namun setiap serangan yang di lakukan oleh Tiga Bayangan Setan tersebut selalu dapat di redam oleh anggota Mata Iblis yang berlapis lapis tersebut.
CLAAAAPP...!!
Bahkan sebuah sorot Mata Iblis yang di lakukan oleh para anak buah secara bersamaan, mampu mengenai Tino yang mencoba datang bertepatan dengan sinar itu melesat.
BLAAAAAR...!!
Tino menghantam selarik sinar yang melesat secara bersamaan, yang di pancarkan oleh beberapa anak buah Mata Iblis tersebut.
"Uugghh.."
Tino terpental beberapa langkah akibat benturan tersebut, sedikit berjumpalitan lalu berdiri tegak kembali.
Semetara itu Jino sebagi yang tertua dari kelompok Tiga Bayangan Setan mulai mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat tersebut.
Dia yang merasa belum berhasil membongkar dan mengalahkan lawannya Kini memberi isyarat untuk meninggalkan tempat tersebut kepada dua saudara nya.
"Tinggal tempat ini, kita susun lagi rencana baru nantinya," kata Jino dengan mengirimkan suara jarak jauh kepada kedua saudara nya.
Ketiga nya kemudian melesat meninggalkan tempat tersebut untuk kembali menyusun rencana baru.
**
"Di depan ada sebuah penginapan sebelum keluar dari kota Lembah Emas Nakmas," kata Narimo kepada Jaya yang berkuda bersisian di depan.
Tampak terlihat sebuah bangunan yang besar dan kokoh namun terlihat sedikit sepi jika di bandingkan dengan bangunan bangunan penginapannya di pusat kota tadi.
"Jika Nakmas berkenan kita bisa menginap di sini, ini penginapan terakhir sebelum keluar dari kota Lembah Emas."
__ADS_1
"Ya kita menginap saja di sini, dari pada kita menginap di alam bebas," sahut Jaya sambil memutar pandangan melihat sekitarnya.
Jaya dan rombongan memasuki halaman penginapan berbarengan dengan sekelompok orang yang ingin keluar dari penginapan tersebut.
Pandangan Jaya sempat bertemu dengan beberapa orang yang juga menatap ke arah nya.
Sekelompok orang dengan senjata lengkap tersebut menatap tajam Jaya dan rombongan, namun di hiraukan nya.
"Aku melihat ada yang aneh dengan mereka," kata Jaya pelan kepada Baroto dan Pitu Geni juga Kumala.
Kelimanya kemudian berbalik menatap kepergian serombongan orang yang arahnya menuju pusat kota.
"Benar Nakmas Bendoro, aku juga merasakan sesuatu yang mencurigakan di kelompok itu," balas Pitu Geni menatap orang orang itu, yang mulai menghilang di kejauhan.
"Apa mungkin mereka ingin mengacau Kakang..?"
"Tak tau aku Dinda, mungkin bisa juga"
"Apa perlu kita berbalik mengikuti mereka..?"
Jaya memutar pandangan seakan meminta pendapat yang lainnya.
Baroto Sarkawi dan Pitu Geni menganggukkan kepalanya, sebagai tanda semua menyetujui apapun keputusan yang diambil Jaya.
"Baik kita ikuti mereka," kata Jaya memutar kekang kuda nya.
**
Di kediaman pemimpin kota yang megah terlihat sang penguasa itu masih geram hatinya.
Selama ini tak ada yang berani melawan dirinya apalagi terang terangan menantang dan melawannya.
"Keparaat..!, orang tak punya sopan santun..!, sama pemimpin kota bertindak kurang ajar..!," umpat nya sambil menggebrak meja hingga tangannya kesakitan dan memerah.
Pemimpin kota masih bersungut sungut sambil duduk di kursi kebesaran nya, pikiran nya masih kacau dengan kelakukan orang orang yang menurutnya bertindak tak sopan terhadap nya.
Saat masih termenung, tiba tiba salah satu pelayan di rumah itu datang dengan tergopoh gopoh menghampiri nya.
"T..t.tuan...g.ggawat.... t.tuan..!."
Kata pelayan yang punggungnya telah terluka itu datang dengan sempoyongan.
"Ada apa ini...!" Teriak pemimpin kota panik melihat keadaan pelayannya.
Sebagian penjaga yang selalu mengawalnya juga terlihat cemas.
"D..d.di depan ..ada sekelompok rampok ..t.tuan."
"Haah..rampok..??, keparaat pasti orang orang yang berulah tadi.." kata pemimpin kota makin geram.
"Ayo kita atasi mereka..!," sahut pemimpin kota beranjak dari duduknya diikuti para penjaga dan pengawal rumah tersebut.
Di halaman rumah pemimpin kota sudah terkapar beberapa penjaga yang menjaga hunian sang penguasa tersebut.
Beberapa orang berdiri dengan tatapan garang menatap ke arah pemimpin kota yang baru saja keluar.
"Siapa kalian..!!." bentak pemimpin kota terhadap oran orang di depannya.
"Cuiih..!, tak perlu kau tau kami darimana, aku kemari ingin mengambil harta benda milikmu..!," hardik salah satu orang dengan dua pedang besar sudah di tariknya dari sarungnya.
Pemimpin kota sedikit gemetaran, "Kalian akan di buru jika berbuat kejahatan di kota ini..!," ancam nya terhadap orang orang yang ada di halaman rumah nya tersebut.
"Hua..ha .ha...kau pikir kami takut..?, kami tak perduli akan hal itu..!," kata orang tersebut lalu mengisyaratkan kepada kelompok nya untuk memaksa masuk ke dalam rumah pemimpin kota.
Para penjaga dan prajurit yang masih tersisa langsung menghadang orang orang tersebut.
__ADS_1
Pertarungan kembali terjadi dengan seru, puluhan para perampok tersebut langsung bergerak cepat menghajar sisa pasukan keamanan pemimpin kota.
"Hancurkan ..jangan kasih ampun..!!," teriak pemimpin rampok memberikan perintah kepada seluruh anggota nya.
Pemimpin kota makin ketakutan dan berlari masuk ke dalam rumah yang besar tersebut, begitu sampai di taman yang ada di dalam rumah sang pemimpin kota menyalahkan suar kembang api sebagai isyarat meminta bantuan kepada Gardakota.
Siing.... Byaaaarr....!!
Kembang api suar tanda bahaya sudah di nyalakan.
Cahaya yang mampu dilihat dalam jarak ratusan tombak itu terlihat kontras dengan malam yang pekat tersebut.
**
"Apa itu..?, apakah itu tanda bahaya..? yang dikirimkan seseorang..? untuk meminta bantuan..?," seru Jaya sambil menunjuk ke arah datangnya sumber kembang api yang sebenarnya nampak indah tersebut.
"Benar Nakmas, nampak nya telah terjadi kekacauan di suatu tempat," sahut Pitu Geni yang di angguki oleh Baroto Sarkawi.
"Ayo kita ke arah sana..!," seru Jaya memacu kuda tunggangan nya agar lebih cepat lagi.
Lima orang memacu kuda dengan harapan lebih cepat sampai di tempat tujuan.
Terlihat di sebuah rumah mewah dengan halaman seluas lapangan tengah terjadi pertempuran.
Beberapa orang dengan seragam Gardakota tengah melawan puluhan orang yang tadi sempat di lihat Jaya dan rombongan.
Sementara itu terlihat para penjaga kediaman rumah tersebut sudah terkapar berserakan dengan bersimbah darah, ada yang sudah mati ada juga yang terluka berat.
"Benar kita Nakmas.., rupanya kelompok itu kelompok pengacau..!," teriak Pitu Geni menunjuk ke arah orang orang itu.
"Kalian telah berani mengacau di kota Lembah Emas, berarti siap jadi buronan istana Agung..!," bentak Senopati pemimpin Gardakota sambil bertarung melawan lawannya yang bersenjata sepasang pedang besar.
"Cuiih ..kau pikir aku takut...?"
"Perkenalan aku Bonaga duta salah satu pemimpin dari Kelelawar Hitam, hari ini meminta jatah di kota ini ..!." kata pria tinggi besar itu kepada sang Senopati.
Mendengar pengakuan tersebut Senopati itu sedikit terkejut, kelompok yang telah lama menghilang kini mulai muncul kembali.
Sebuah kelompok aliran hitam yang terkenal akan kehebatan nya.
Kelelawar Hitam di pimpin oleh seorang tokoh yang bisa terbang layaknya kelelawar, juga memiliki kesaktian yang tidak mudah Bandingannya, bergelar Lowo Ijo.
Di bawah pimpinan Lowo Ijo kelompok Kelelawar Hitam beberapa waktu yang lalu cukup menjadi kelompok yang di takuti karena keganasan dan kekejaman nya.
"Kami akan menghentikan mu..!," teriak Senopati mencoba menakut nakuti lawannya.
"Coba saja ..!," teriak Bonaga duta langsung melesat dan menebaskan pedangnya menyasar Senopati Gardakota.
Wuuusss...
Sriiing...!!
Sebuah sambaran pedang yang beraura kuat melesat ke arah Senopati tersebut.
Dengan perisai dan pedang di tangan kanan sang Senopati mencoba menghadang serangan lawannya.
BLAAAANG...!
Hantaman pedang besar itu mengenai tameng sang senopati, membuat sang Senopati tersurut ke belakang beberapa langkah saking kuatnya hantaman itu.
"Aaarch..kuat sekali tenaga orang ini," gumam sang Senopati sedikit mengeluh.
____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya... terimakasih kakak Kakak readers
__ADS_1