
Kembalinya Jaya dan Prono Condro dengan cepat dari istana Karang Doplang ke markas Awan Putih di sambut dengan berbagai tanda tanya semua orang.
Berbagai pertanyaan itu hadir di benak semua yang ada di markas itu, pasalnya saat ini masih tengah hari dan Tetua Awan Putih tersebut sudah ada di sana, padahal kepergiannya untuk berperang, terus bagaimana? apakah benar ada pemberontakan di istana? Bagaimana dengan para pemberontak?
Pelangi yang begitu sangat mengkhawatirkan keadaan kakeknya langsung menyongsong, saat melihat Jaya langsung bertanya.
"Bagaimana Kakang?, apakah benar ada pemberontakan? bagaimana dengan kakek prabu? tak mengalami sesuatu..?." tanya Pelangi.
"Apakah para pemberontak berhasil di tumpas?." sahut Kumala yang juga tak kalah khawatir.
Jaya mengangguk, "Memang benar ada pemberontakan di sana, dan di lakukan oleh adipati Sentono dan kroni nya namun semua bisa teratasi dengan baik Dinda, tak ada yang perlu di khawatirkan dan para pemberontak sudah di eksekusi di alun alun."
"Begitu cepatnya? bisa di taklukkan?."
"Hmm."
"Hanya pasukan rempeyek saja..mau macam macam..," kali ini Prono Condro yang berkata.
"Kok rempeyek sesepuh..?." sahut Narimo.
"Ya..kan remahan kayak rempeyek.."
Semua tertawa mendengar guyonan dari sesepuh Gagak Hitam tersebut, namun semua kini semakin menyadari betapa hebatnya dua tokoh yang saat ini ada di depan matanya.
Hanya setengah hari sudah mampu menghentikan sebuah pemberontakan yang di lakukan oleh seorang adipati.
**
Sedikit sore kemeriahan di Awan Putih makin menjadi saat kedatangan Randu Sembrani dan nyai Nilam Sari di markas tersebut.
Dua tokoh Mata Dewa itu tak menyangka jika markas Awan Putih begitu besar dan juga sudah banyak yang berkumpul di sana.
"Markas yang sangat besar Kakang.''
"Hmm, Benar apa katamu Dinda..'' sahut Randu Sembrani
Bahkan beberapa tokoh lama juga terlihat di sana seperti Koloireng dan Prono Condro yang sudah lama mengasingkan diri, ada juga Respati si Raja Pengemis, makin membuat tokoh Mata Dewa itu terkesiap.
__ADS_1
"Tak kusangka akan bertemu dengan saudara saudara semua di sini," begitu Randu Sembrani berkata, mengedarkan pandangannya.
Lebih terkejut lagi saat tiba tiba datang si Mata Elang, salah satu muridnya yang sempat tersesaat itu dan bersujud di depan Randu Sembrani dan nyai Nilam Sari, mohon pengampuan karena selama ini bersikap tak benar, makin membuat dua tokoh itu menganga.
Singkat kata kehadiran sosok pengguna Mata Dewa tersebut memberi warna tersendiri di Awan Putih, dengan berbagai kejadian yang juga tak di sangka sangka nya.
**
Hari berganti hari, dan tanpa terasa hampir satu pekan sudah seluruh kelompok dan tokoh yang beraliansi dengan Awan Putih sudah menyatu dengan kelompok tersebut.
Kini semua dengan sungguh sungguh menyiapkan semua kebutuhan yang di perlukan selama perjalanan dan berada di padang Selayang Pandang.
"Besok pagi kita bisa langsung bergerak menuju ke padang Selayang Pandang.'' Perintah Jaya begitu mendapat laporan tentang kesiapan dari semua lini.
Tak banyak, hanya sekitar kurang dari dua ribu orang yang di bawa kelompok Awan Putih, itupun sudah termasuk kelompok Golok Naga yang akan menunggu di sebuah pertigaan sebelum sampai di Selayang Pandang.
"Baik Tetua Agung..." Jawab beberapa anggota Awan Putih yang bertugas menyiapkan segala perlengkapan.
**
Pagi menjelang, mulai dini hari tadi sudah terlihat kesibukan yang luar biasa dari markas Awan Putih, dan itu tak seperti biasanya.
"Perlengkapan semua sudah siap..," lapor Pitu Geni yang bertanggung jawab terhadap perlengkapan.
"Bagian perbekalan juga sudah siap..!," Baroto dan Narimo yang bertanggung jawab masalah itu juga sudah melapor.
Koloireng menatap pada bagian keanggotaan, menatap semua kepala kelompok dan terlihat memberikan isyarat jika sudah siap juga.
"Semua nampaknya sudah siap Nakmas," kata Koloireng.
"BERANGKAAAT....!." teriak Jaya memberikan perintah agar barisan terdepan mulai bergerak.
Anuso Birowo yang berada di depan di dampingi Randu Sembrani mulai memberikan aba aba pergerakan.
Dari rombongan Awan Putih itu, hanya ada beberapa kereta kuda tak lebih dari sepuluh kereta itupun separuhnya kereta perbekalan.
Sisanya beberapa ratus kuda dan lainnya berjalan kaki.
__ADS_1
Perjalanan menuju padang Selayang Pandang di perkirakan bisa di tempuh antara dua hingga tiga pekan, masih ada satu pekan untuk beristirahat sebelum hari itu tiba.
Jika di nalar sepenting apakah pertemuan Serikat Pendekar itu? kenapa semua kelompok harus bersusah payah untuk hadir di sana? padahal semua tahu jika datang ke sanapun juga penuh resiko dan taruhannya nyawa.
Dalam dunia persilatan keberadaan dan pengakuan dari kelompok dan golongan lain sangatlah perlu.
Seseorang tidak akan bangga jika hanya menjadi kelompok lemah, rendahan dan tak di akui.
Bahkan seorang pengemis biasa akan tetap bangga jika menjadi anggota suatu kelompok yang di akui dunia persilatan macam tongkat Hijau maupun tongkat kuning.
Dan akan di hina di jagat persilatan seperti kelompok pengemis mangkuk emas, yang tak di akui anggota dunia persilatan, mereka di anggap pengemis sungguhan, dan negara boleh menangkap serta memenjarakannya.
Berpartisipasi dalam Serikat Pendekar seakan memberikan pengakuan dunia persilatan akan keberadaan sebuah kelompok atau golongan, dan di dunia persilatan harga diri sangatlah penting, bahkan sangat penting di atas segala galanya.
Seorang Tetua Agung kelompok besar bahkan bisa setara dengan Raja Agung atau biasa di sebut Kaisar, ini tentu saja terjadi karena di era tersebut kekuatan adalah pokok utama.
Dengan Kekuatan apapun bisa di gapai, kekuasaan, kekayaan dan kemuliaan bahkan dunia seisinya bisa di miliki jika memang dia mampu mengendalikan semuanya.
**
Panas kian terik, matahari sudah berada di tengah tengah angkasa, sejak dini hari rombongan Jaya sudah bergerak menuju ke padang Selayang Pandang.
"Cari tempat yang memadai Kakang, kita istirahat di sana..!," kata Jaya kepada Mata Elang, yang kemudian lantas bergegas memaju mundurkan kudanya untuk memberitahukan perintah itu kepada setiap kepala rombongan.
"Kita istirahat jika ada tempat yang memadai..!, itu perintah Tetua Agung," kata Mata Elang kepada Anuso Birowo yang ada di barisan terdepan.
Anuso Birowo mengangguk, mendengar perintah tersebut, lalu berkoordinasi dengan Narimo dan Lodaya tetua dari Gagak Hitam, menentukan tempat yang di mungkinkan.
Mereka membahas bersama yang lainnya, sambil mengendalikan kuda tunggangan masing masing tentang rute tersebut.
"Setahu ku sehabis perbukitan ini ada hutan lagi, dan kita bisa istirahat di sana, karena banyak pohon rindangnya.." kata Narimo, semua menoleh ke arah Narimo, kagum dengan pengetahuan yang di miliki bekas mata mata dan biro pengantar barang tersebut.
"Waah..pengetahuan saudara Narimo luas juga, tentang tata letak (Peta)," seru Lodaya memuji dengan tulus Narimo.
"Aah..Tetua Agung Lodaya bisa saja, saya kan biasa mengantar barang ke Panca Buana jadi sudah terbiasa." katanya merendah, padahal memang jika di perhatikan Narimo ini sangat pintar dalam mengingat suatu tempat dan wilayah.
____________
__ADS_1
Jejakanya kaka....