
Di sebuah alam yang selalu terselimuti kabut dengan aura dingin mencekam dan minim pencahayaan nampak terlihat ribuan sosok tengah melakukan berbagai aktivitas.
Alam yang cukup mengerikan dengan suasana iklim nya itu nampak terlihat makhluk mahkluk yang mirip sosok manusia namun memiliki tanduk di kepalanya, makhluk tersebut tengah sibuk dengan segala kegiatan nya, ada yang tengah berlatih olah Kanuragan dan pertempuran, namun ada juga yang tengah menyiapkan berbagai peralatan untuk peperangan.
"Gggrgghh....bagaimana persiapan nya ?." sebuah suara yang terdengar berat dan mengerikan terdengar diantara hiruk pikuknya suasana mencekam.
"Ggrhhh...sudah hampir maksimal tuan Senopati."
"Hhmmm.. baiklah, semoga semua segera selesai sesuai target dari Yang Mulia." dengus sang Senopati Iblis tersebut.
"Ya semoga tuan Senopati."
Terlihat dua petinggi dari pasukan Iblis sedang berbincang sembari melihat seluruh kegiatan para prajurit Iblis yang tengah beraktivitas mempersiapkan peperangan di Alam Iblis tersebut.
Nampaknya rencana serangan dari pasukan Iblis ke Alam Dewa benar benar akan segera terjadi.
**
Sumanjaya yang semula resah kini terlihat mulai tenang setelah adanya sedikit pencerahan dari Jaya Sanjaya, kakek tersebut kini tampak tengah bercengkerama dengan sesama sesepuh dan tetua dari kelompok Awan Putih lainnya.
"Apakah kalian sudah mendengar rencana Nakmas Junjungan? setelah acara sumpah janji nanti?."
"Maksud Sesepuh rencana yang mana?." Baroto menyela perkataan kakek Sumanjaya, salah satu tetua tersebut tengah berbincang sambil menikmati hidangan di meja yang ada di depannya.
"Apakah ini tentang rencana membangun istana Awan Putih di hutan belakang?." kata Pitu Geni yang juga tak mengerti apa yang di maksud Sumanjaya.
Memang semula kelompok Awan Putih akan mendirikan sebuah istana dengan nama Istana Awan Putih di wilayah tersebut, tepatnya di belakang bangunan markas kelompok Awan Putih yang masih berujud hutan luas yang memanjang hingga bukit di belakang markas itu.
Sumanjaya menggeleng mendengar perkataan dua tetua tersebut.
"Bukan rencana yang itu, tapi rencana tentang kepergian Nakmas Junjungan ke alam Dewa."
__ADS_1
"Apa..!!."
Semua terlihat terkejut mendengar apa yang di ucapkan oleh sang Sesepuh, bahkan Pitu Geni yang tengah minum menyemburkan minuman nya
"Benarkah apa yang kau katakan saudara Suman?," Koloireng terlihat gusar menatap tajam sang kolega, sambil bertanya kebenaran berita tersebut.
Sumanjaya sedikit mengangguk, memang selain kedua calon istri sang Tetua Agung tersebut, hanya dirinya lah yang paling tahu tentang rencana Jaya Sanjaya sang Tetua Agung itu.
Kemarin setelah sang Sesepuh mengungkapkan kegundahan hati nya masalah penerawangan yang diterimanya, dia dan sang Tetua Agung sempat bertukar pikiran berbagai hal yang akan dilakukan, termasuk rencana dari sang Tetua Agung tersebut.
"Ya..menurut Tetua Agung, selepas acara Sumpah Janji, beliau akan ke Alam Dewa."
"Ada beberapa masalah yang harus di selesaikan di sana," kata Sumanjaya dengan raut wajah yang terlihat serius.
Semua terdiam mendengar berita tersebut, mereka kebanyakan tak mengira jika sang Tetua Agung memiliki rencana itu, kembali ke Alam Dewa.
"Apakah ada dari kita yang akan mendampingi ke alam itu?." terlihat Koloireng bertanya dengan pandangan penuh harapan.
Sumanjaya hanya menghela nafasnya, kemudian menggeleng kecil.
**
Pelangi pun sama, menatap Jaya yang masih melihat langit dari beranda lantai tiga gedung markas Awan Putih tersebut.
"Entahlah Dinda, Kakang belum memutuskan waktu nya, yang pasti Kakang harus ke sana untuk meyelesaikan semuanya."
Dua gadis itu terlihat menarik nafasnya dalam dalam lalu membuangnya perlahan.
"Kalian tak perlu khawatir yang berlebihan, aku pasti mampu menjaga diri."
"Karena jika aku tak ke alam itu, justru akan membahayakan alam ini, khususnya kalian dan orang orang terdekat kita." Jaya mencoba meyakinkan dua gadis nya tersebut.
__ADS_1
"Ya kami percaya Kakang mampu untuk itu, namun bagaimana pun juga kami tetap khawatir." Pelangi terlihat berkata lirih sambil memeluk lengan Jaya di sisi kirinya.
"Ya lebih baik begitu, agar kalian tak terlalu banyak pikiran."
Hari hari menjelang peresmian acara Sumpah Janji ( Nikah) banyak di lalui dengan perenungan oleh orang orang Awan Putih, karena bagaimana pun juga kepergian sang Tetua Agung merupakan suatu peristiwa besar yang nanti akan terjadi.
**
Di Alam Dewa.
"Bagaimana dengan Dewan Pertimbangan Agung para Dewa? sudahkah ada berita mengenai persetujuan tentang pengiriman Pasukan Pemusnah?."
"Ampun Yang Mulia Kaisar Dewa, sampai saat ini belum ada tanda tanda bahwa Dewan Agung akan mengeluarkan ijin untuk itu."
Kaisar Dewa terlihat masam wajah nya, begitu mendengar perkataan dari orang kepercayaan yang ada di samping nya.
"Dasar Bedebah...!, nampaknya ada yang berani macam macam dengan ingsun."
Terlihat Kaisar Dewa sangat marah, wajahnya memerah dengan lonjakan aura kemarahan yang menguar dari badannya, membuat para dewa bawahannya terlihat sesak dan merasa terintimidasi.
"Ampun Yang Mulia Kaisar, kami tak mampu mengatasi masalah ini." Orang Kepercayaan sang Kaisar hanya tertunduk makin ketakutan.
"Huuh, bukan salah mu, kalian tak bisa menekan mereka para Dewa, di Pasewakan Agung para Dewa."
"Memang nampaknya Dewa Kebijaksanaan, menghalang halangi niat ingsun ini."
"Tapi tak usah khawatir, ingsun masih punya banyak cara untuk mengatasi masalah ini."
"Akan ingsun pastikan Bedebah itu menerima akibatnya." Kaisar Dewa terlihat geram sambil mengepalkan tangannya, namun rencananya mengutus Dewa Aryo Baruno bersama pasukannya pasti akan segera dilakukannya meski Pasukan Pemusnah tak di setujui Dewan Dewa.
Para Dewa yang menjadi bawahan nya nampak merunduk, mengangguk kecil menanggapi keinginan sang Kaisar Dewa.
__ADS_1
______________
Jejaknya.....