Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Menuju MulyaBhumi


__ADS_3

"Kapan perayaan itu berlangsung tepatnya?, karena kita juga akan ada acara sendiri." kali ini Narimo yang bertanya kepada Baroto yang ada di sebelah Jaya.


Narimo adalah kepala urusan rumah tangga kelompok Awan Putih yang tentu mengurusi perayaan perkawinan Jaya, tentu saja harus memperhatikan semua nya.


"Pesta Panen Bumi, biasanya di laksanakan pekan pertama bulan sebelas, tepatnya hari kelima di bulan baru," Baroto menjawab, semua terlihat mengangguk membenarkan.


"Berarti itu sepekan dari sekarang?," kata Narimo lagi.


"Benar," sahut Sumanjaya.


"Jika masih awal bulan baru saya rasa tak masalah jika Nakmas Junjungan ingin menghadiri undangan kerajaan MulyaBhumi, karena masih ada waktu untuk berangkat dan pulang yang kurang lebih sepekan," Koloireng mengungkapkan pendapatnya.


"Benar, apa kata Sesepuh, masih ada jeda waktu untuk nanti mempersiapkan Janji Sumpah kepada langit, jika masih awal bulan ke sebelas," Pitu Geni setuju dengan usulan Koloireng.


"Ya..aku rasa kita masih bisa ke sana," kata Jaya, menatap kesemua, "Akan sangat tidak sopan jika kita mengabaikan undangan istana itu, jika memang kita bisa datang, bukan begitu Dinda?," Jaya menatap Pelangi dan Kumala.


Sampai sejauh ini hanya dua gadis itu yang masih tahu siapa sesungguhnya jati diri Jaya yang sesungguhnya, seorang Dewa yang bernama asli Cakra Tirta Sanjaya ataupun Tirta Cakra Sanjaya.


Jaya juga belum berencana mengungkap jati dirinya ke semua anggota, di karenakan masih ragu akan reaksi semua orang yang di kelompoknya, dua gadis yang selama ini sangat dekat saja seperti itu, apalagi orang orang nantinya.


"Benar Kakang, tapi kami ikut kan?." sahut Pelangi, dan Kumala hanya mengangguk tanda setuju untuk ikut menghadiri undangan.


"Heum, pasti kalian aku ajak, tak mungkin meninggalkan kalian berdua jika memang ini undangan pesta."


Pelangi dan Kumala mengangguk senang karena di ajak menghadiri undangan perayaan, yang berarti mereka akan berkeliling negeri seperti tamasya.


Mereka kembali berbincang untuk lebih mematangkan rencana keberangkatan memenuhi undangan ke MulyaBhumi.


**


Pagi pagi sekali Narimo sudah terlihat mengawasi para anak buah yang tengah menyiapkan kuda kuda dan kereta untuk perjalanan ke MulyaBhumi.


Ada dua kereta dan sekitar dua puluh kuda yang nanti akan berangkat ke istana negeri tetangga tersebut.


Satu kereta tentu saja untuk di naiki Jaya dan dua calon istrinya, sementara satu kereta lagi akan di naiki tetua yang mendampingi, sedangkan kuda kuda untuk para anggota Awan Putih yang terpilih.


"Periksa lagi semuanya, jangan sampai terjadi kerusakan atau ada yang tidak beres," seru Narimo mengingatkan para anak buah yang sedang bekerja.


"Siap tuan, pasti akan kami teliti dengan benar."

__ADS_1


"Jangan lupa cek juga roda roda dan tapal kuda kudanya." perintah Narimo kembali.


"Siap tuan."


Para anak buah tersebut terlihat bersungguh sungguh dalam mengecek semua yang di perlukan, bahkan tak lupa melumasi roda roda kereta.


Selesai dari alat transportasi Narimo berjalan menuju ke tempat logistik, "Apakah bekalnya juga sudah di kemas?."


"Sudah tuan, satu karung beras yang akan cukup untuk perjalanan selama sepekan, daging asap kering juga beberapa bumbu bumbu."


"Semua sudah kami perhitungkan untuk perjalanan sepekan, dengan jumlah tiga puluhan orang."


"Hmm, bagus sekali, terima kasih banyak, mungkin rencana siang nanti kita berangkat."


Para anak buah mengangguk saja, sambil menatap kepergian sang pemimpin urusan Rumah Tangga.


**


"Bagaimana? apakah sudah tersampaikan semua surat undangan yang kita kirimkan?."


Prajurit yang bertanggung jawab dan di tanya, melakukan sembah penghormatan sebelum menjawab pertanyaan itu.


"Sudah Yang Mulia, termasuk juga surat kepada kelompok Awan Putih, tiga hari yang lalu surat undangan itu sudah di terima oleh kelompok tersebut."


"Aku ingin menawarkan kerja sama kepada kelompok tersebut, jika perlu anak gadis ku aku serahkan untuk mengikatnya."


Para prajurit dan petinggi kelompok tersenyum, mengangguk saja, meski tak paham rencana sang Raja secara jelasnya.


**


Dua buah kereta dan dua puluh ekor kuda beserta penunggang nya terlihat sudah meninggalkan markas Awan Putih.


Satu kereta berisi Narimo sebagai kusir, Jaya dan juga dua gadis calon istrinya.


Sementara satu kereta lagi berisi Pitu Geni serta Baroto bersama dua kusir yang duduk di depan serta beberapa barang hadiah untuk lawatan tersebut.


Dua kuda yang berjalan paling depan bertugas membawa bendera panji kelompok Awan Putih, selanjutnya di ikuti oleh kereta yang di naiki Jaya, Pelangi serta Kumala. Di belakangnya, baru kereta barang yang di naiki Pitu Geni bersama Baroto di susul kuda kuda anak buah lainnya.


Rombongan tersebut berangkat tepat tengah hari, dari markas Awan Putih yang kini sudah menjadi kota kecil karena di sekitarnya sudah banyak di huni banyak rumah penduduk.

__ADS_1


Semakin terkenalnya sebuah kelompok maka menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat umum untuk tinggal di sekitarnya, karena pasti di jamin akan aman. Apalagi Awan Putih terkenal sebagai kelompok pembela kebenaran.


"Berapa lama perjalanan kita Kakang?." Pelangi memecah keheningan bertanya kepada Jaya yang masih menatap sekeliling markas Awan Putih.


"Hmm, katanya sih tiga hari."


"Berarti kita butuh waktu sekitar tujuh hari untuk berangkat dan pulang, dengan satu hari kita habiskan di kerajaan itu." sahut Kumala.


"Ya, kurang lebih seperti itu, jika tak ada aral melintang."


Rombongan makin meninggalkan tempat tersebut, bergerak sedikit ke arah timurlaut sebelum nantinya lurus ke utara.


"Aku dengar ibukota kerajaan MulyaBhumi cukup ramai."


"Iya kah Kakak?."


"Hu'um, mereka termasuk kerajaan yang gemah ripah loh jinawi."


"Eeh..apa itu artinya kak?.'' Pelangi bertanya mendengar Kumala berkata yang menurutnya aneh.


Kumala terkekeh, "Ya..pokonya kerajaan yang makmur, subur dan sejahtera, aman tentrem bagi penduduknya." katanya sambil terus tertawa kecil.


"Eumm," Pelangi mengangguk angguk saja, "Lah berarti banyak barang barang bagus di sana kak?.''


"Tentu saja, makanya Kakang ajak kalian ke sana agar bisa melihat keindahan negeri lain sekalian kalian belanja apa pun yang kalian inginkan," potong Jaya, menyela pembicaraan dua gadis itu.


Hal tersebut sontak membuat dua gadis itu berteriak kegirangan, tanpa malu langsung memeluk Jaya karena di ijinkan berbelanja di negeri yang terkenal gemah ripah loh jinawi.


**


"Hmm, sudah hampir dua hari kita memutari alam ini, namun tak juga kita dapatkan aura keberadaan si pengecut itu."


"Benar, atau jangan jangan dia bersembunyi di dalam gua?.''


"Ya, mungkin juga itu terjadi, karena dia tahu kita mencarinya."


"Tapi apa mungkin dia tahu keberadaan kita di Alam ini?, ingsun rasa tidak lah."


"Hmm, benar," sahut dua sosok lainnya, mengangguk sambil masih terus terbang sekehendak hati mereka.

__ADS_1


_________


Jejaknya.....


__ADS_2