Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Menyambangi Karang Doplang


__ADS_3

Rombongan itu meninggalkan markas kelompok perampok tersebut, setelah menghancurkan tempat itu agar tak di gunakan oleh kelompok penjahat lagi.


"Aku senang, Awan Putih bisa menegakkan keadilan di tanah ini." kata Pelangi pelan.


"Kita memang harus membawa perubahan menjadi lebih baik di mana kita berada, apalagi markas kita ada di sini, Karang Doplang." sahut Jaya menimpali Pelangi, sambil menarik dan mengarahkan tali kekang kuda di kereta itu.


"Benar Kakang, kejadian tadi menjadi awal kita menegakkan keadilan di Karang Doplang, " Kumala menyahut obrolan tersebut.


"Kedepannya Kakang pingin lebih banyak lagi memberantas kejahatan dan membantu pemerintahan prabu Wiramerta, agar kerajaan ini kembali berjaya seperti yang kakek Koloireng ceritakan." Jaya berkata sambil menatap jalanan yang mereka lalui.


"Aku setuju dengan pemikiran Nakmas," Koloireng menyahut sambil mengangguk anggukkan kepalanya.


**


Di Kerajaan Pusat Pati Sruni.


Terbentuknya pasukan kusus Jrabang Geni, membuat pemerintahan pusat Kerajaan Agung tersebut sangat berbangga hati.


Mereka merasa yakin dengan kekuatan baru yang telah di bentuknya itu.


Kekuatan baru itu bahkan kini sudah mulai menancapkan pengaruhnya.


Mulai membuat seluruh kekuatan yang ada di Kerajaan Agung tersebut "meliriknya", baik dari golongan putih maupun golongan hitam, baik pihak pemerintahan atau dari pihak non pemerintahan seperti perguruan atau kelompok.


Semua kelompok dan golongan itu berlomba lomba mencari relasi yang baik dengan pasukan kusus Jrabang Geni tersebut, termasuk dua kelompok dari wilayah barat daya kerajaan Karang Doplang, kelompok dari ki Branjangan dan juga kelompok Adipati sentono.


Dua kelompok ini mendekati pasukan Jrabang Geni dengan tujuan tertentu.


Pasukan Jrabang Geni memang memiliki gedung markas tersendiri untuk seluruh kegiatannya, di sanalah semua kegiatan pasukan bermula.


"Dari mana tuan tuan ini berasal?." sapa Agni Mahesa Suro, menatap tamunya yang hadir di ruangannya.


Terlihat serombongan orang nampak duduk di hadapannya.


"Kami dari wilayah Karang Doplang, tepatnya di barat daya kerajaan kecil tersebut tuan."


"Kami di utus tuan kami, saudagar Branjangan mempersembahkan buah tangan untuk pasukan hebat ini." kata utusan ki Branjangan, sambil menyerahkan seserahan yang di bawa.


Agni Maheso Suro terkesiap sejenak, ini bukan hal yang pertama sejak dirinya memimpin pasukan tersebut ada yang memberikan seserahan.


Semula dirinya sedikit tak enak hati, namun kini hal tersebut menjadi biasa.


"Ha.ha..ha...kalian ini kenapa merepotkan diri segala.."


"Sudah selayaknya pasukan ini di hormati dengan persembahan kami tuan," sahut utusan itu sambil tersenyum.


"Harapan saudagar Branjangan, kita bisa bekerjasama membangun relasi yang baik kedepannya dengan saling menguntungkan," kata utusan itu lagi berdiplomasi dengan pintar.


"Ha..ha..ha..," Agni Maheso suro kembali tertawa.

__ADS_1


"Kami akan bekerjasama dengan orang orang yang menghargai kami, bukan begitu?."


"Tuan sungguh bijaksana." utusan itu kembali tersenyum penuh arti, saat anak buah Agni Maheso Suro menerima kotak kotak seserahan ki Branjangan.


"Sampaikan salamku kepada tuanmu..kami akan melakukan penertiban beberapa saat lagi, namun kalian tak perlu khawatir, kalian mitra kami kini."


"Terimakasih tuan, pasukan Jrabang Geni memang bisa di andalkan."


Agni Mahesa Suro dan tetua lainnya tertawa bersama mendengar pujian itu.


**


"Ampun Yang Mulia, di gerbang depan sekelompok rombongan berniat menghadap."


Nampak salah satu prajurit penjaga memberikan laporan kepada Yang Mulia prabu Wiramerta.


"Kelompok dari mana..?!." tanya Broto Suwito, patih dari kerajaan Karang Doplang, memotong laporan prajurit itu.


"Menurut pengakuan mereka, berasal dari sebuah kelompok yang ada di wilayah barat, Awan Putih namanya..tuan Patih."


Broto suwito lalu tersenyum, menatap sang Prabu yang juga tersenyum mendengar nama Awan Putih di sebut.


Masih di ingat oleh patih Broto Suwito, saat sang Prabu berniat berkunjung di sebuah kelompok baru yang di sinyalir ada di barat dan tempat cucunya berada..Awan Putih.


Saat itu dirinya di beri mandat untuk menjaga istana, selama Yang Mulia meninggalkan kerajaan melakukan kunjungan di beberapa wilayah salah satunya di markas Awan Putih.


"Lapor senopati Parijoko, untuk memastikan mereka benar benar kelompok Awan Putih, karena saat itu dia yang mendampingi kunjunganku."


"Sendiko dawuh Yang Mulia." sahut prajurit itu, menyembah lalu beringsut kembali ke gerbang depan.


Sebelum kembali ke gerbang depan, tak lupa prajurit itu berbelok ke tempat senopati Parijoko, menyampaikan perintah Yang Mulia, memeriksa tamunya.


**


"Mari masuk pendekar semuanya, perintah Yang Mulia langsung ke pendopo dalam." sapa senopati Patijoko, setelah memeriksa tamunya.


Jaya tersenyum mengangguk, berjalan mengikuti serombongan prajurit yang sudah menyambut kuda kuda dan kereta.


Para prajurit itu mengambil alih menuntun kuda kuda dan kereta tersebut, berjalan melewati pendopo luar makin masuk menuju bangunan kedua yang di sebut pendopo dalam.


Pendopo dalam adalah bangunan kedua setelah pendopo luar, biasanya untuk tamu tamu yang di anggap lebih akrab selayaknya saudara langsung di arahkan ke sana.


"Silahkan duduk tuan tuan, dan nona pendekar, Yang Mulia masih bersiap menuju kemari."


Jaya kembali mengangguk, bersama rombongannya duduk di tempat yang sudah di sediakan.


Tak lama prabu Wiramerta tiba di sana dengan senyuman yang terpancar di wajahnya.


Jelas sekali jika kebahagiaan terlihat dari raut sang Prabu yang nampak sumringah.

__ADS_1


"Akhirnya kalian tiba juga di kediaman ku." sambut sang Prabu.


Semua menghaturkan sembah kepada Raja Karang Doplang tersebut.


**


"Bagaimana dengan pasukan mu?." tanya Iblis Wora kepada Rakumba yang saat ini tengah menghadap pemimpin Agung.


"Semua sudah kembali pulih tuan, hanya tinggal menguatkan kembali jaringan tubuhnya yang sempat di rusak oleh lawan."


Iblis Wora dan Iblis Wari mengangguk.


Selama ini keduanya sangat penasaran dengan lawan yang mampu mengatasi pasukannya.


Berbagai pikiran tentang dewa yang mampu mengalahkan dirinya saat di alam dewa ratusan tahun yang lalu sempat berkelebat, namun semua itu di mentahkannya, "Mana mungkin seorang dewa ada di alam manusia dalam waktu yang lama."


"Persiapkan kembali pasukanmu sebaik baiknya, aku ingin saat pertemuan Serikat Pendekar nanti kita tunjukkan kehebatan kita di depan seluruh pendekar yang ada."


"Pasti tuan, kami tak akan mengecewakan tuan lagi." sahut Rakumba alias sang Mayat, sambil menunduk menghormat kepada dua Iblis Wora dan Iblis Wari.


"Jangan lupa juga dengan anggota yang lain, perintahkan semua meningkatkan diri karena kita akan menghancurkan siapapun yang melawan kita di pertemuan Serikat Pendekar nantinya."


"Baik tuan."


**


Jaya kembali berdiskusi dengan prabu Wiramerta, raja sepuh itu mengungkapkan segala keluh kesahnya.


Entah kenapa, rasanya begitu mengenal Jaya hatinya langsung cocok dan merasa Jaya sudah seperti keluarganya sendiri.


"Apakah Yang Mulia yakin dua kubu itu merongrong panjenengan?."


"Sangat yakin Nakmas." sahut prabu Wiramerta sambil menarik nafasnya dengan pelan, seakan mengeluarkan beban yang berat di pundaknya.


"Bahkan kemarin saat aku berkunjung ke sana usai dari Awan Putih, mereka seakan sudah tak menganggapku sebagai raja."


"Hanya manis dimuka, dan aku tahu itu."


Jaya mengangguk mendengar keluhan dari raja sepuh itu.


"Yang Mulia jangan khawatir, kami pasti akan membantu jika memang tenaga kami di butuhkan, bukan begitu?." kata Jaya sambil menoleh kearah seluruh kelompoknya.


"Benar.." sahut rombongan Awan Putih lainnya.


"Benar Yang Mulia, Awan Putih pasti di belakang kerajaan Karang Doplang," sahut Pelangi memastikan.


Prabu Wiramerta mengangguk, "Terimakasih cucuku, Nakmas, dan semuanya," sahut sang prabu sambil tersenyum senang.


___________

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya...


__ADS_2