Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Menaklukkan Sepasang Raja Pedang


__ADS_3

"Apakah paman merasa aneh dengan dua orang berkuda di belakang kita..?."


Tanya Jaya kepada Narimo yang berkuda di sebelah nya.


"Maksud Nakmas dua orang bersenjata pedang di punggung itu..?."


"Benar paman."


"Ya...mereka sudah mengikuti kita semenjak kemarin malam, entah kenapa tak juga menunjukan aksinya hingga saat ini.."


"Ya aku ingat itu."


Dua orang itu sudah kembali menggebrak kudanya meninggalkan tempat tersebut.


"Sudah abaikan saja paman, namun kita juga harus berhati hati dengannya."


"Baik Nakmas.."


Keduanya mulai memasuki hutan setelah meninggalkan daerah pemukiman.


Hutan yang terdiri dari beraneka pepohonan tersebut tak terlalu lebat karena terkadang masih di selingi oleh perkebunan warga.


Nampak di depan serombongan orang tengah melakukan perjalanan.


Ada sekitar sepuluh orang tengah berjalan menaiki sebuah kereta yang di tarik oleh empat ekor kuda.


Duduk di tengah tengah, seorang pria tua berbaju putih dengan di apit oleh yang lainnya, namun anehnya mata orang tersebut di tutup semacam kain yang menutupi kedua matanya.


Jarak yang tak terlalu jauh itu, sudah cukup bagi Jaya untuk melihat keseluruhan.


"Apakah paman tau siapa mereka..?." tanya Jaya yang merasa aneh, terutama dengan sosok sang kakek yang matanya tertutup oleh kain, namun memancarkan aura yang kuat.


Narimo menatap sekali lagi, lalu menggeleng, "Mungkin jika aku tau nama kelompok tersebut aku bisa mengenali siapa mereka."


Jaya hanya mengangguk saja mendengar perkataan Narimo, keduanya lalu melewati rombongan yang memutuskan untuk beristirahat, karena hari memang sudah siang.


Sepasang Raja Pedang juga terus menempel dan terus mengikuti Jaya dan Narimo meski dengan jarak yang terjaga.


Mereka kini sudah tiba di tempat yang lebih rapat hutan nya, pepohonan yang menjulang tinggi dengan daun yang lebat hingga menutupi dahan nya, sehingga tempat tersebut terlihat sedikit gelap karena pencahayaan tak bisa tembus hingga dasarnya.


Sepasang Raja Pedang kini lebih mendekatkan diri ke arah kuda Jaya dan Narimo.


Mereka nampak memacu kuda tunggangan lebih cepat.


Mengetahui hal itu, Jaya berhenti memutar kudanya dan menatap ke arah kedua nya.


"Apakah ada masalah sehingga kalian menguntit ku sejauh ini..?." Tanya Jaya menatap menelisik dua orang tersebut.


"Hmm... akhirnya kau peka juga anak muda.." sahut Karpo dipolo mendengus pelan.


"Cuiih..bukan masalah peka dan tidak peka, aku hanya menanti aksi kalian.., karena aku tau kalian bukan orang baik baik..!." ledek Jaya ke arah keduanya.


"He.he..he.., akhirnya kau menyadari itu, kami memang ingin merampas pusaka yang kau ambil dari Jurang Kedungpuru." kali ini Singo Dimejo yang berkata mewakili temannya.

__ADS_1


"Aku kira meski kalian sudah tua tapi tak tuli kan..?, kalian mendengar percakapan ku dengan si botak kemarin jika aku tak membawa apapun dari sana."


"Bangsat..kau..!, anak muda yang tak memiliki sopan santun, mengatai kami tuli," bentak Karpo Dipolo.


"Memang seperti itu kenyataan nya, jika kalian tak tuli pasti mendengar perkataan ku, bukan..?."


"Jika aku tak membawa apapun keluar dari sana," seru Jaya Sanjaya.


"Halah..kau pikir kami bocah kemarin sore, mudah kau bodohi ."


"Terserah kalian..aku tak akan memaksa untuk percaya dengan ucapan ku, tapi yang pasti aku akan melawan siapa saja yang berani menganggu ku..!."


Jaya kini sudah meloncat dari kudanya karena nampaknya dua lawannya tak akan membiarkan mereka lewat sebelum bertarung.


Dua Raja Pedang itu pun sudah turun dari kudanya, bahkan keduanya sudah mencabut dua senjata masing masing.


Jaya pun langsung mengeluarkan tombak andalan beserta perisai nya, nampaknya lawan kali ini bukan main main.


Kini mereka sudah berdiri saling berhadapan, memainkan jurus masing masing sebelum memulai pertarungan.


"Dasaar tak tau malu...dua tua bangka mengeroyok seorang pemuda ..!," sebuah teriakan terdengar mengagetkan semuanya.


Semua menoleh ke arah sebuah suara dimana sosok lelaki tua dengan pakaian putih dan mata di tutup kain, yang tadi menaiki kereta kuda sudah bertengger di sebuah dahan.


"Tutup mulutmu tua bangka..jika kau mau ikut campur juga aku tak keberatan..!," teriak Singo Dimejo marah.


Lelaki tua itu hanya melambaikan tangannya, seakan berkata tak mau ikut campur.


"He.he..he..!," Karpo dipolo tertawa, "Aku kira kau buta pak tua.., kenapa kau bilang mau melihat.. kampret..!."


Lelaki tua itu hanya tersenyum mendengar hardikan dari Karpo dipolo.


"Kau pikir melihat hanya dengan mata ..bodoh..!!," bentak lelaki tua itu tak mau kalah.


"Sudah..sudah..jangan mengurusi yang lain, kita rebut saja pusaka dari bocah ini, jika si buta itu macam macam kita tebas sekalian..!." kata Singo Dimejo mengingatkan tujuan utama nya kepada saudaranya itu.


Keduanya kini kembali konsentrasi memainkan pedang nya menatap ke arah Jaya Sanjaya.


Aura pekat langsung terasa saat dua raja pedang itu mengayunkan pedang nya menyerang Jaya Sanjaya.


Sriing..! sriiing....!!


Dua sambaran pedang Singo Dimejo sudah melesat menebas ke arah Jaya dengan bersilangan.


Kecepatan yang luar biasa di tunjukkan oleh salah satu raja pedang tersebut.


Traaang...!!


Satu tebasan di hadang dengan tombak dan satu tebasan di tangkis dengan perisai yang mengakibatkan ledakan.


DUAAAAR..!!


Jaya terdorong sedikit ke belakang akibat kuatnya hantaman lawan, sedangkan dirinya belum benar benar memasang kuda kuda dengan benar.

__ADS_1


Belum sempurna berdiri nya Jaya, Karpo dipolo sudah melesat ke arahnya menebaskan pedangnya dengan gelombang kekuatan yang lebih besar lagi.


JDAAAAARRT...!!


Hantaman dua pedang itu langsung di tangkis dengan perisai Wojo Digdoyo, yang langsung menyerap gelombang kekuatan dari aura hawa pedang lawan nya.


"Setaaan...! hebat juga kau bocah..!." Karpo dipolo mengumpat kesal saat kekuatan gempurannya menabrak benteng kuat yang di bangun oleh Jaya Sanjaya.


Sepasang Raja Pedang itu kembali menggempur Jaya dari dua arah yang berbeda mencoba mencari celah.


Traang ...!! traaang...!!


Namun selalu tertangkis baik oleh tombak Jaya maupun kandas di hadang perisai lawan.


"Setan alas...tanganku selalu bergetar jika serang ku di tangkisnya, padahal aku yang aktif bergerak.." Karpo Dipolo.


"Uuggh....tanganku kebas rasanya.." Singo Dimejo.


Kedua Raja Pedang itu mengeluhkan dalam hati ketika tangannya terasa bergetar dan kesemutan saat menghantam tombak maupun Perisai yang di hadang kan Jaya.


"Sekarang giliran ku...!!."


Teriak Jaya begitu kedua lawannya sedikit mengendurkan serangan nya.


Wuuuuuss...!!


Jaya memutar senjata tombaknya mengarah kepada Singo Dimejo yang sedikit tak siap.


Srriiing....!! traaang...!!


Tusukan tombak yang sangat cepat itu ditangkis oleh Singo Dimejo namun kuatnya hujaman tersebut membuat nya terpental kebelakang.


Karpo Dipolo yang melihat saudara nya terpojok mencoba menolongnya dengan melakukan serangan balasan.


BLEGAAAARRT....!!


Tanpa menoleh Jaya menghantamkan tombaknya yang sudah di lapisi jurus Selaksa Ombak Menerjang.


Meski berhasil menangis gebukan tombak dengan dua pedang yang di silangkan namun tak ayal tubuhnya terlempar berguling gulingan hingga menabrak sebatang pohon yang langsung roboh.


"Arrch.."


Seru Karpo Dipolo dengan mata melotot tak menyangka sebegitu hebatnya kekuatan lawannya.


Begitupun dengan Singo Dimejo yang menganga melihat kekuatan lawan, meski masih sangat muda sudah menunjukan tingkat kependekaran yang tinggi.


Kakek tua berbaju putih yang matanya di tutup langsung bersorak gembira menyaksikan peristiwa tersebut.


"Jagat Dewa Batara...apa yang ku impikan selama ini akhirnya terwujud." katanya penuh suka cita.


__________


Jangan lupa tinggalkan jejak nya...

__ADS_1


__ADS_2