Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Pembuat Onar.


__ADS_3

Belum tengah malam rombongan Jaya sudah memasuki gerbang kotaraja, artinya mereka lebih cepat tiba di kerajaan MulyaBhumi daripada prediksi Narimo tadi.


Suasana ramai masih bisa mereka jumpai, terutama para penjual makanan atau jajanan, juga beberapa penjual pernak pernik perhiasan.


"Kita langsung cari penginapan Paman."


"Apa tak sebaiknya kita langsung melapor Nakmas, bukankah kita tamu kenegaraan?, kurasa sudah ada jatah penginapan untuk kita."


"Begitu ya.?"


"Benar, Nakmas."


"Baiklah kita langsung melapor kalau begitu."


Kereta kuda Narimo langsung mengarah ke pusat pemerintahan kerajaan tersebut, yaitu istana MulyaBhumi.


Di sebuah gerbang istana yang masih terlihat ketat penjagaannya, terlihat kumpulan para penjaga yang masih hilir mudik meski hari sudah malam.


Adanya kegiatan Pesta Panen Bumi yang akan di selengarakan dalam waktu dekat ini oleh kerajaan tersebut, mau tidak mau membuat penjagaan harus di perketat.


Rombongan Jaya berhenti di sana untuk melapor kepada para penjaga yang bertugas.


"Kami dari kelompok Awan Putih, datang atas undangan dari raja MulyaBhumi untuk menghadiri acara Pesta Panen Bumi." seorang prajurit yang membawa umbul umbul bendera kelompok Awan Putih melapor kepada penjaga di sana.


Sekilas penjaga itu meneliti undangan yang di sodorkan, lalu menatap ke seluruh rombongan untuk memastikan kembali.


"Silahkan masuk tuan tuan pendekar," akhirnya kepala penjaga mempersilahkan rombongan Jaya untuk masuk setelah memastikan kebenarannya.


Salah satu penjaga membimbing rombongan tersebut menuju ke arah tempat peristirahatan yang telah di siapkan.


**


Rombongan Jaya ternyata datang satu hari lebih awal dari acara pesta Panen Bumi yang telah di jadwalkan.


Hal itu di manfaatkan oleh Pelangi dan Kumala untuk menikmati keindahan kerajaan tersebut.


Sejak semalam mereka telah beristirahat dengan nyenyak semenjak kedatangannya.


"Apakah kita jadi jadi berkeliling siang ini kaka?."


"Pastilah, bukankah kita sudah di beri banyak koin emas sama Kakang Jaya." sahut Kumala sambil tersenyum, "Kalau bukan untuk berbelanja buat apa coba?.''


Pelangi mengangguk, lalu bersorak kegirangan.


"Makanya kita cepat cepat sarapan, setelah itu langsung melihat keramaian."


"Setuju kakak, daripada kita hanya di kamar sedangkan Kakang Jaya pergi ke istana, " sahut Pelangi segera bergegas bersiap siap.


Jaya memang mendapat undangan datang ke Istana bersama salah satu anggotanya, untuk acara pelaporan kedatangannya serta penyambutan kelompoknya secara resmi dari istana.


"Apakah kita hanya pergi berdua saja kakak?."


"Tentu saja, karena kita akan bersenang senang, biar para anggota lainnya tinggal di sini."


Pelangi kembali mengangguk, setuju dengan apa yang di katakan Kumala.


**

__ADS_1


Tiga pria terlihat berjalan membelah keramaian.


Pasar dadakan yang ada di jalanan itu rupanya cukup menarik minat banyak orang untuk melihatnya, suasana jalanan utama tersebut sudah terlihat ramai sejak ujung jalan, padahal festival pesta Panen Bumi baru akan berlangsung esok hari.


Aneka macam jenis jualan ada di sana, mulai dari bermacam makanan baik dari yang ringan hingga yang berat, aneka jenis kerajinan serta perhiasan, bahkan ada juga yang meggelar kebutuhan perlengkapan alat rumah tangga.


Suasana makin ramai dengan banyaknya atraksi dan pertunjukan yang tujuannya meminta sumbangan selayaknya pengamen modern.


"Waah, tak ku sangka manusia bisa seatraktif ini."


"Maksudnya?."


"Mereka bisa menciptakan semua ini," tunjuk Selo, sambil mengarahkan pandangannya ke segala arah.


"Mereka tak sebodoh yang kamu kira..!," jawab Wonosego sedikit ketus, karena selama ini sudah silang pendapat dengan dua temannya tersebut.


"Ha.ha.ha...tak usah sensitif, jangan terlalu membela manusia, mereka lebih rendah dari kita." dengan geram Selo membalas perkataan itu.


Sambi bingung mau berpendapat apa?, tapi sikapnya menunjukan jika dia setuju dengan apa yang di katakan Selo.


"MINGGIIIR....!!." bentak Selo kepada orang orang yang tak sengaja menghalangi jalan ketiga orang tersebut.


Ketiganya langsung mengeluarkan aura mengancam, membuat orang orang yang semula menikmati semua kegiatan di sana jadi terganggu.


"Enak saja membentak bentak orang, emang jalan punya moyangmu..!."


"Sombong kali tuh orang."


"Mentang mentang punya kekuatan, hawa nya ingin menghajar orang saja..!."


"Cuiih .!, dasar tak bermoral."


Banyaknya orang yang tak suka akan sikap ketiganya kepada orang lain, entah mengapa akhirnya sampai juga ke telinga para penjaga keamanan.


Puluhan prajurit penjaga keamanan kini terlihat menghampiri tiga penyamar itu.


Kepala keamanan yang membuktikan sendiri kearoganan tiga orang yang di anggap pengunjung tersebut merasa sangat geram.


"Heiii...jaga sopan santun, jaga ketertiban...!." teriak kepala penjaga keamanan tersebut dengan galak.


Kini tiga sosok itu telah di kepung oleh para penjaga keamanan istana MuylaBhumi.


"Dari mana kalian? mengapa membikin kericuhan di sini?." kepala keamanan masih mencoba bertanya dengan menurunkan nada bicaranya.


"Memangnya apa urusanmu?, suka suka ingsun mau berlaku apapun." Sambi balas membentak para prajurit penjaga keamanan tersebut.


"Heii..!, jaga bicaramu..!, kami petugas yang menjaga ketertiban di sini..!," wakil kepala penjaga keamanan menghardik Sambi.


"Keparaat...!, lancang mulutmu..!, berani membentak kami..!." Selo sudah mulai makin meradang, merasa di perlakukan sembarangan oleh manusia bumi.


"Kalianlah yang telah lancang membuat keonaran di sini..!."


Plaakk...!


Plaaakk...!!


Dengan sangat cepat Selo melesat menggampar wajah wakil kepala keamanan tersebut.

__ADS_1


"Aaarrgh." jerit wakil kepala penjaga keamanan, begitu merasa pipinya serasa meledak di gampar lawan.


Kecepatan gerakan yang tak mampu diikuti oleh para prajurit membuat begidik, namun tak membuat prajurit tersebut mundur.


"Kepuung...ada pembuat onar..!!," teriak Kepala keamanan memberikan perintahnya.


Puluhan orang itu langsung menghambur menyerang ketiga orang asing tersebut.


Sriiing...!


Sriiiing...!!


Plaakk...!


Buuuukk..!!


Terlihat sekali jika pertarungan itu benar benar tak imbang.


Hanya dalam hitungan air menetes, pasukan penjaga keamanan yang berjumlah puluhan itu tumbang di tangan seorang Dewa Selo.


"Hua..ha..ha..dasar manusia lemah..!, cacing mau melawan Naga..!." teriak Selo.


"Cicak melawan buaya..!," sahut Sambi sambil tertawa senang melihat para penjaga itu berguguran.


**


"Eeh..ada apa itu Kakak?."


"Mana?." sahut Kumala yang tengah memilih milih gelang yang terbuat dari gading yang telah di lenturkan.


"Itu..!." Pelangi menunjuk ke arah kanan mereka.


"Ada pengacau nampaknya adik..!, kita kesana..!," teriak Kumala, langsung melesat setelah meletakkan dagangan penjual perhiasan tersebut.


Selo masih menghajar para prajurit tanpa memberi ampun.


"Rasakan..bogem ku..!."


Cproooott...!!


"Aaaauuuww.."


Selo kembali mengejar kepala keamanan, berniat menghadiahi pukulan lagi.


Wuuuss...


DEES..!!


Sebuah tangkisan menghentikan serangan Selo, yang memang tak menyerang sekuat tenaganya.


Selo sedikit terdiam oleh tangkisan itu sedangkan si penangkis yang ternyata Kumala sedikit terpental kebelakang.


"Hmm, ada yang berani ikut campur ternyata." sambil menatap perempuan cantik yang berani menangkis serangannya.


"Lumayan," sahut Sambi dengan pandangan jelalatan tak sopan.


____________

__ADS_1


Jejaknya......


__ADS_2