
"Bagaimana sesepuh? apakah sudah di beri pelajaran kelompok itu?," tanya Dewa Api atau Nambi Tosa, begitu melihat kemunculan dua Sesepuh Api Suci kembali ke markas penggunaan element Api tersebut.
Moncong Putih dan Raja Api dari Utara hanya terdiam, keduanya terus berjalan lalu masuk ke dalam ruangan khusus yang hanya boleh di masuki para sesepuh dan Tetua Agung.
Ketiganya kini sudah duduk berhadapan, "Ada sesuatu yang akan kami bicara kan kepada mu Pemimpin Agung," kata Moncong Putih, menatap tajam tetua dari Api Suci tersebut.
Nambi Tosa penasaran, balas menatap sang Sesepuh, "Apa itu Sesepuh?." tanya nya dengan tak sabar
"Terus terang kami kalah, tak mampu melawan Tetua Agung kelompok Awan Putih."
"Apa? tak salah dengarkah aku?."
"Tidak, anda tidak salah dengar, benar apa yang di katakan sesepuh Moncong Putih, kami di kalahkan oleh tetua Agung kelompok itu." Raja Api menimpali, ketika melihat Nambi Tosa tak percaya dengan perkataan Moncong Putih.
Nambi Tosa terkejut mendengar berita tersebut, namun ego nya mengatakan lain.
"Bagaimana bisa? Sesepuh berdua dikalahkan oleh tetua kelompok baru?." gumam nya masih terheran heran.
"Begitu lah kebenaran nya, kami hanya ingin mengingatkan anda sebagai pemimpin Agung di kelompok ini, setelah masa kami berlalu." kembali Moncong Putih berkata.
Nambi Tosa masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Sekuat apa kah sosok itu?."
"Sangat kuat, dan aku sarankan kita jangan mengusik kelompok itu, jika tak ingin kita binasa."
Nambi Tosa kemudian terdiam, namun baginya masih ada secercah harapan Karena belum mendatang kan Sesepuh Agni Mahesa Suro, yang di yakini lebih hebat dari dua sosok sesepuh di depan nya selain dirinya sendiri yang di juluki Dewa Api.
Bahkan kekalahan dua legenda ini makin membuatnya penasaran, melecut dirinya ingin mencoba melawan Kelompok Awan Putih.
**
Jaya berdiri di tengah lapangan yang ada di halaman belakang, dari pendopo belakang, kembali memperagakan jurus jurus Gelombang Awan Menerjang setelah melakukan ritual dan rapalan jurus tersebut sebelum nya.
Mereka yang ada di sana sekali lagi memandang dengan seksama semua yang di ajarkan Jaya, terlihat begitu mengagumi kehebatan sang tetua yang begitu terlihat hebat saat memperagakan jurus tersebut, meskipun semua merasa kesulitan untuk mengikutinya setiap arahan sang tetua.
"Bagaimana?, ada yang sudah bisa mengikuti gerakan yang aku contohkan?."
Semua masih menggeleng, menandakan bahwa semua belum merasa bisa melakukan seperti yang di ajarkan sang Tetua, paling hebat baru Pelangi dan Kumala yang sudah bisa menciptakan embun di dua telapak tangan nya.
"Tak perlu terburu buru, terus berlatih nanti lama lama pasti kalian akan bisa menciptakan Kabut tunggal di telapak tangan, baru setelah nya akan mampu lebih dari itu," kata Jaya menyemangati semua yang ada di sana.
"Baik Tetua...!." sahut semuanya.
Kembali semua mulai berlatih lagi, sesuai dengan apa yang di arahkan Jaya.
**
"Apakah semua sudah siap?."
"Sudah Yang Mulia," kata para prajurit yang akan mengawal Sang Prabu Wiramerta.
Siang itu Raja Karang Doplang itu berniat menuju ke arah hutan Lirboyo dimana terdapat markas Awan Putih.
"Jika sudah..!, kita berangkat sekarang keburu sore..!," perintah Prabu Wiramerta, memerintahkan rombongan tersebut untuk mulai perjalanan itu.
__ADS_1
"Baik Yang Mulia," sahut penjaga yang ada di luar kereta, lalu memerintahkan kusir yang mengendalikan kereta kuda yang di naiki prabu Wiramerta untuk mulai menjalankan kereta tersebut.
"Berangkat...!." seru kepala pengawalan, memberikan perintah.
Sang kusir mengangguk, melecut cemetinya di udara.
Ctaarr...!!
Begitu mendengar ledakan cemeti, kuda pengawal yang ada di depan segera menjalankan kudanya meninggalkan istana Karang Doplang.
Prabu Wiramerta membawa sekitar seratusan prajurit menuju ke markas Awan Putih, berencana menemui sang cucu yang ada disana.
Kabar berita yang didengarnya tentang kelompok sang cucu yang mampu meredam kejahatan membuat nya makin bersemangat menemui nya.
Iring iringan tersebut mulai meninggalkan istana yang kini sudah banyak kehilangan pamornya tersebut.
**
Sesosok bayangan melesat meninggalkan tempatnya yang terletak di hutan larangan.
Sosok dengan baju warna hitam itu melesat cepat meninggalkan tempat tersebut.
Rasa rindu yang membuncah kepada sosok murid yang di sayangnya membuatnya meninggalkan lokasi yang selama ini menjadi tempat persemayaman nya.
"Hiaaaaa....!," teriaknya, dengan sekali jejak meloncat melewati sebuah gundukan tanah yang sangat tinggi, melesat menuju ke arah lain.
Berdiri sebentar menengok ke kanan dan kiri, seakan sedang berpikir arah mana yang akan dituju nya.
"Aku akan melanglang buana mencari dimana Kumala berada."
Dirinya kini mulai melesat membelah hutan bergerak menuju ke arah Utara.
**
"Kita sudah memasuki hutan Lirboyo Yang Mulia," sebuah suara terdengar mengagetkan prabu Wiramerta yang berada di dalam kereta nya sambil terkantuk kantuk.
"Hah..!," Sedikit tergagap Raja tua itu membuka sedikit tirai di jendela kereta Kuda nya, mengintip dari sana keadaan sekitar.
Benar saat ini rombongan telah sampai di hutan yang lumayan lebat.
Prabu Wiramerta lalu menyibak seluruh tirai tersebut, sehingga kini jendela itu terbuka seluruhnya.
Dilihatnya kanan kiri jalanan itu di penuhi pepohonan yang tinggi dan rindang.
"Masih lama kah, Suro?," tanya Sang Prabu, kepada orang kepercayaan yang bernama Surogati.
"Sedikit lagi Yang Mulia, tinggal melewati turunan itu, lalu tanjakan sesaat, dan kita sampai di tempat itu."
"Hmm."
Rombongan itu terus maju, pelan namun pasti melewati jalanan yang menurun, mereka kini makin mendekati lokasi markas Awan Putih.
Begitu melewati jalanan tanjakan, kini mereka bisa melihat dari jauh sebuah bangunan yang ada di tengah hamparan hutan itu.
Semua ternganga termasuk sang Baginda Wiramerta, tak menyangka ada sebuah bangunan begitu megah berada di tengah hutan tersebut.
__ADS_1
"Bangunan inti yang di kelilingi tembok tinggi tersebut sudah pasti markas Awan Putih!," seru prabu Wiramerta menatap bangunan yang sudah terlihat dari kejauhan itu.
"Anda benar Yang Mulia, yang itu markas kelompok tersebut, dan di sekitar nya kini sudah mulai di bangun pemukiman warga," sahut Surogati menjawab pertanyaan raja nya.
"Megah sekali...markas itu, bahkan aura nya dari sini saja terlihat hebat, menyaingi istanaku," gumam prabu Wiramerta, mengangumi markas Awan Putih.
Rombongan prabu Wiramerta makin mendekat ke arah markas Awan Putih.
**
"Lapor tetua di luar ada rombongan yang ingin bertamu ke markas kita," kata pengawal kepada Baroto yang ada di pendopo depan.
Baroto melihat dari celah celah gerbang, terlihat serombongan orang dengan pakaian semacam prajurit masih berdiri di depan gerbang.
Rupanya atas perintah prabu Wiramerta, rombongannya itu dengan sabar menunggu di bukakan pintu gerbang markas Awan Putih.
Jika tak di redam sang prabu takut terjadi ketegangan antara rombongan nya dengan kelompok Awan Putih.
"Sabar dulu, meski secara hukum kelompok ini ada di wilayah kita, tapi kita tetap harus sopan sebagai tamu," kata sang prabu.
Baroto melangkah ke gerbang ingin mengawasi siapa yang bertamu di markas Awan Putih, sesaat terkejut karena dirinya tahu dari pakaian nya jika rombongan di depan adalah dari kerajaan Karang Doplang, penguasa wilayah dimana markas Awan Putih berdiri, lalu bergegas masuk ke dalam menemui untuk Jaya Sanjaya.
Mendapatkan laporan tersebut, segera Jaya memerintahkan rombongan itu dipersilahkan masuk di pendopo depan, sedangkan dirinya bersiap, menyusul untuk menyambut nya bersama Pelangi dan petinggi lainnya.
Jaya tahu siapa sesungguhnya raja Karang Doplang tersebut, kerena dirinya dan Pelangi pernah mendapat kan pemberitahuan tentang itu.
Flashback on.
Pelangi masih duduk di depan prabu Danar Kencono dan ibu permaisuri yaitu Arumi Wiramerta.
Sedangkan mereka saat itu ada di ruang khusus istana Ngarsopuro, ruang yang di tempati oleh keluarga inti sang prabu Danar Kencono.
Hanya Jaya Sanjaya yang mendampingi Pelangi karena sang prabu ingin berbincang secara khusus kepada Jaya yang tadi di Pasewakan Agung sudah mengutarakan lamarannya mempersunting Pelangi sebagai istrinya.
"Ada yang ingin aku bicarakan dan aku ceritakan kepada kalian berdua."
Jaya dan Pelangi hanya mengangguk.
Raja dan permaisuri lalu mulai bercerita tentang silsilah Pelangi, siapa saja sanak saudara nya baik dari pihak ayah maupun ibu.
"Begitulah cerita nya, jadi kumohon kalian jangan sampai berseteru apalagi berperang dengan Karang Doplang karena prabu Wiramerta adalah kakek mu," pesan Ibu permaisuri Arumi Wiramerta.
Jaya mengangguk karena sebagai pimpinan kelompok Awan Putih, dirinya lah yang mengambil keputusan.
"Romo prabu mohon, kalian harus berkunjung ke kerajaan itu, meminta ijin dan menjalin hubungan dengan kakekmu." kata prabu Wiramerta.
Kembali kedua anak muda itu mengangguk.
"Kami pasti akan berkunjung ke istana Karang Doplang, selain meminta ijin atas keberadaan markas kami juga ingin menyambung hubungan kekerabatan yang baik Yang Mulia." kata Jaya.
"Bagus Nakmas, Romo prabu harapkan begitu."
Flashback off.
_____________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....