Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Roh Kitab Pusaka


__ADS_3

Semua yang ada di sana seakan terhenti....terdiam tak bergerak di tempatnya, termasuk Jaya Sanjaya.


Alam seakan berhenti berputar, dan waktu seakan diam di tempat tak bergeser.


Hanya pikiran nya yang masih bisa berpikir secara normal namun semua tak bisa di gerakkan sesuai kehendak hati nya.


Jaya masih setengah melayang dan kitab pusaka yang tadi di pegang nya kini terlepas, juga melayang di depannya.


Kitab Pusaka itu kini bahkan sudah terbuka di hadapannya.


Cahaya yang berupa huruf huruf keemasan mulai keluar berhamburan dari tiap lembar kitab tersebut, membentuk sebuah barisan yang bergerak dan menembus menerabas masuk ke dalam kepala lebih tepat nya otak Jaya Sanjaya.


Jaya yang terhenti diam hanya pasrah menerima setiap hantaman dari tabrakan huruf yang berupa cahaya keemasan, dan setiap cahaya tersebut menabraknya sepenggal kisah dari riwayat masa lalunya seakan di pampang kan di hadapan nya.


Hantaman huruf kitab itu seakan mengingatkan nya tentang siapa diri nya, bagaimana sepak terjang nya, dan apa saja yang sudah di lakukan nya selama ratusan atau mungkin ribuan tahun sepanjang hidupnya di alam lain itu.


Semua itu di kembali diingatkan oleh Roh kitab pusaka.


"Aaaaarrcchh.....!!!."


Bagaikan terkena sengatan ribuan makhluk berbisa, dengan segala kesakitan nya Jaya Sanjaya berteriak keras setiap kali huruf huruf itu menabraknya dan menghadirkan kilasan bayangan, bahkan gelegar teriakannya mengalahkan raungan dari sang Ular Raksasa saat matanya di tusuk tombak kyai Seto Ludiro.


Semua yang mendengar jeritan itu makin begidik ngeri, membayangkan manusia yang begitu kesakitan di mangsa sang monster.


Bahkan sang Ratu merasa yakin jika itu pasti jeritan pemuda tampan yang telah mencuri hatinya.


**


Semua sudah berakhir kini, di tabrakan terakhir dari huruf di kitab tersebut berhasil mengembalikan semua pengetahuan dan ingatan yang di miliki Jaya Sanjaya atau lebih tepatnya Cakra Tirta Sanjaya nama aslinya.


Bersama dengan tabrakan huruf terakhir itu badan Jaya Sanjaya, atau Dewa Cakra Tirta Sanjaya sang Dewa Perang terpental cukup jauh dari tempat berdirinya saat itu.


Semua kini sudah kembali, sudah bisa bergerak seperti biasa.


Meskipun tadi saat waktu serasa berhenti mereka tak menyadari itu, bahkan mereka hanya mendengar jeritan terakhir dari Sang Dewa Perang sebelum terlempar jauh ke sisi yang lain.


Bekas pertarungan Ular Raksasa dengan Jaya Sanjaya hanya meninggalkan sisa sisa nya saja.


Ular ular raksasa tersebut sudah pergi entah kemana, tak tentu rimba nya.


Di tempat itu, hanya tertinggal Sebuah kitab yang kini sudah tak bersinar lagi, teronggok di depan cekungan yang ada di sana.

__ADS_1


**


Orang orang sudah kembali ke tempat yang di sebut Altar.


Mereka berani kembali kesana setelah semua kembali senyap, dan melihat racun Uap Naga makin menipis bahkan sebagian malah menghilang, entah karena apa.


Keberadaan Jaya Sanjaya dan ketiga Ular Raksasa tadi tak ada yang melihat nya, hanya tertinggal sisa sisa pertempuran yang membuat tempat itu kini terlihat porak poranda.


Mereka yang ada di sana kembali bersitegang, setelah mereka tiba di gundukan tanah yang di sebut altar tadi dan menemukan sebuah kitab di sana.


Saling mengklaim jika mereka yang paling berhak atas barang tersebut, dan mungkin pertumpahan darah akan kembali terjadi.


Hanya Respati sang Raja Pengemis yang meninggalkan tempat tersebut setelah tak menemukan keberadaan Jaya Sanjaya yang sudah di anggap sebagai rekan nya.


"Kemana anak itu..?, apa sudah di telan ular raksasa..?, tragis sekali nasibmu bocah..," gumam Respati sambil meloncat pergi dengan sedikit menghindar dari sisa sisa racun Uap Naga.


Baginya tak penting isi kitab tersebut karena ilmu Kanuragan apapun tak ada yang sebaik ilmu partai Pengemis, itulah slogan slogan yang selalu di agungkan oleh orang orang partai itu, apalagi dirinya adalah Raja Pengemis hingga saat ini...pantang mempelajari ilmu kelompok lain.


**


"Aaarcchhh..!!."


Lokasi terlempar tubuh nya hingga membentuk sebuah parit yang panjang dan dalam.


Namun anehnya setelah kejadian tadi kini badannya terasa kian ringan, dan tak ada luka maupun rasa sakit sama sekali.


Padahal terlempar nya cukup jauh dengan membentuk sisa sisa hasil lemparan yang menciptakan sebuah parit.


Bahkan rasanya kini tenaga dalam nya seakan meluap luap dari inti pusat perut di tubuhnya.


Wajahnya kini makin di penuhi dengan sinar aura penuh wibawa dan ketampanan, serta kekuatan sekarang yang meningkat membuatnya kian terlihat makin gagah, meskipun jika di bandingkan dengan kekuatannya saat menjadi Dewa Perang baruq sekitar enam puluh persen kekuatan nya yang kembali.


"Aku sudah mengingat semuanya, bahkan dengan semua sepak terjang ku..," gumamnya pelan sambil tangannya terulur kearah Kyai Seto Ludiro dan perisai Wojo Digdoyo yang masih teronggok di sebelah nya.


Dengan ukuran tangan tersebut dua senjata tingkat illahi itu langsung melesat menempatkan diri di genggaman dan lengan Jaya Sanjaya.


"Kita harus meninggalkan tempat ini, Aku harus mencari pecahan kekuatanku yang lain," kata Jaya Sanjaya berbicara kepada dua senjatanya yang di sambut oleh goyangan dua senjata itu, tanda setuju.


Setelah menyimpan dua senjata itu di dimensi penyimpanan, Jaya langsung melesat pergi, namun sebelum nya melihat arah matahari untuk menentukan lokasi yang menjadi tempat tujuannya dengan Narimo.


**

__ADS_1


Di sebuah tempat, tepatnya di sebuah jurang hutan larangan seorang gadis dengan paras sangat cantik tampak berlatih dengan ilmu Kanuragan nya.


"Bagus Kumala murid ku..kau mengalami kemajuan yang pesat dengan olah Kanuragan mu..!," teriak Betorokolo sang guru yang kini menjadi lawan tandingnya.


Nampak guru dan murid itu saling bertanding dengan serius.


Keduanya saling serang dengan pukulan dan di selingi dengan kilatan Jurus Mata Iblis.


CLAAAPP...!!


CLAAAAPP..!!


Saling melepaskan jurus Mata Iblis yang diiringi dengan sentakan tenaga dalam yang tinggi dari jurus tersebut.


"CUKUUUP...!."


Teriakan Betorokolo Mata Iblis menghentikan latihan kali ini.


"Hari ini cukup Kumala, kau sudah makin sempurna menguasai jurus Mata Iblis," puji sang guru sambil tersenyum.


Kumala mengangguk menjura kepada gurunya sebelum duduk di hadapan sang guru untuk mendengar kan wejangan berikutnya.


**


"Kuraang ajaar...kita semua tertipu..!," teriak salah satu dari Iblis Pemusnah begitu melihat dan membaca kitab pusaka itu.


Bukan hanya Iblis Pemusnah, semua yang ada di sana juga meneliti dan membaca kita itu, dan tak ada yang istimewa.


Ternyata kitab tersebut hanya berisi catatan dan cerita seorang dewa perang, dimana di sebutkan di sana sosok kuat yang sudah banyak berkiprah memberantas kejahatan, namun akhirnya terjatuh juga karena menuruti hawa nafsu.


Kitab yang lebih tepat di ajarkan untuk kebaikan budi pekerti dan tata Krama itu membuat para pemburu pusaka sangat kecewa.


Namun di balik kekecewaan itu, masih ada juga yang mencurigai jika seseorang telah mengambil dan menganti benda pusaka itu sehingga yang ada di sana hanya benda palsu pengalih perhatian saja.


Meski tak ada yang menyangkal, namun pendapat seperti itu tak ada yang bisa membuktikan itu pernah terjadi.


Kini semua orang mulai meninggalkan Jurang kedungpuru di bukit Meniran dengan perasaan kecewa sudah termakan kabar burung yang bagi orang orang itu menyesatkan, karena menganggap ada benda pusaka yang ternyata hanya buku tentang panduan hidup tata Krama, Budi pekerti.


____________


Jangan lupa tinggalkan jejak nya...

__ADS_1


__ADS_2