
Jaya masih menatap sosok pria botak bersenjata kapak tersebut dengan dahi berkerut.
Perkataannya yang memuja kelompoknya begitu tinggi hingga meremehkan kelompok lainnya membuat Jaya mual mendengar nya.
"Tak semua kelompok kecil harus tunduk kepada Jiwa Abadi, karena setiap kelompok pasti punya tujuan masing masing."
"Dan tak pantas jika memaksa kan kehendak kepada semua kelompok untuk menjadi pengikut kelompok mu." kata Jaya kepada pria botak tersebut.
"Cuiih..!, keparaat..! memangnya siapa kau? berani menceramahi masalah kelompok Jiwa Abadi?"
Dengan galak pria botak itu membentak Jaya yang mengeluarkan pendapat nya.
"Terus kamu siapa? berani mencoba mengatur dunia persilatan," balas Jaya, membalas sambil menatap tajam lawan bicara nya.
"Aku Burgundi si Kapak Setan perwakilan dari Jiwa Abadi yang akan memberi pelajaran kepada orang orang seperti kalian yang meragukan kemuliaan dan keagungan kelompok kami..!"
Laki laki botak bernama asli Burgundi itu memperkenalkan diri dengan sombong nya.
"Hmm... mungkin aku harus membuka matamu, jika tak semua kelompok yang kau anggap kecil bisa dengan mudah kau kalahkan." balas Jaya.
Perkataan Jaya membuat Burgundi makin meradang, kesombongan nya merasa tercabik oleh lawan yang tak merasa takut terhadap nya.
"Keparaat..bosan hidup kau...!," teriak Burgundi, sudah kembali memutar mutar Kapaknya, tanda bersiap untuk menyerang.
"Maju lah...!!," teriaknya.
Sebelum Jaya bergerak Pitu Geni sudah menahannya, "Biarkan aku mencoba nya Nakmas," sahutnya, bekas pimpinan Darah Api dari kelompok Api Suci itu sudah melangkah maju di depan Jaya Sanjaya.
"Kenapa kalian tidak maju saja semua nya, lihatlah mereka yang tadi juga mengeroyok ku..kini sudah mati berserakan..,"seru Burgundi dengan sombongnya. menunjuk beberapa mayat yang bergelimpangan karena tadi mengeroyok nya.
"He.he..he..cukup aku dulu, jika aku tak sanggup nanti kawan dan tetua ku baru maju..!," balas Pitu Geni.
"Baiklah jika itu pilihanmu..!!," teriak Burgundi yang sudah meloncat menyambarkan Kapaknya.
Wuuuuusss....
Sambaran cukup kuat dari ayunan kapak lawan menderu menyasar ke arah badan Pitu Geni.
Dengan cepat Pitu Geni menghindar dari tebasan tersebut, sedikit menggeser badannya, dan menyilangkan pedangnya menahan gelombang angin yang di hasilkan oleh serangan lawan.
Kuatnya sambaran serangan lawan hingga membuat gelombang serangan itu cukup membahayakan.
Sementara itu Jaya sudah mendekat ke arah lawan dari Burgundi yang kini tergeletak tak berdaya dengan nafas masih tersengal.
Jaya mendudukannya, kemudian bersila di belakang nya, mencoba mengalirkan hawa murni melalui telapak tangan nya yang di tempelkan di punggung pria paruh baya tersebut.
Beberapa saat saja wajah pria bekas lawan Burgundi itu sudah sedikit cerah tak lagi pucat pasi.
__ADS_1
"Katakanlah siapa kisanak? dan kenapa bisa berurusan dengan Jiwa Abadi?." kata Jaya setelah mengakhiri pertolongannya mengalirkan hawa murni ke tubuh orang tersebut.
Pria paruh baya itu menjura, bersujud dan menghormat sebagai ucapan terima kasih atas segala bantuan yang Jaya berikan.
"Terimakasih pendekar, perkenalkan nama saya Sugara, salah satu tetua dari perguruan Cemoro Sewu dari bukit Cemoro sewu, namun kini perguruan itu sudah hancur di karenakan oleh kelompok Jiwa Abadi."
"Kami di serang oleh beberapa orang utusan kelompok tersebut, hingga aku di kejar sampai tempat ini," kata Sugara menjelaskan duduk perkaranya.
Jaya menoleh kearah Baroto, maupun empu Cipta guna mungkin mereka mendengar tentang perguruan tersebut, namun keduanya menggeleng tanda tak tau tentang perguruan itu.
"Kami hanya perguruan kecil, dan berada di kelompok pemula dalam tingkatan kelompok persilatan, jadi tak banyak yang tau akan keberadaan kami," kata Sugara kembali, menyadari lawan bicara nya tak mengenali kelompok nya.
"Mereka (Jiwa Abadi) ingin menguasai kelompok kami dan menjadikan kami kaki tangan nya, di bawah semua perintah nya, makanya kami menolak tegas."
"Mereka kelompok iblis yang harusnya di musnahkan tak di dukung siapapun."
Kata Sugara kembali berapi api menceritakan kelompok Jiwa Abadi.
Jaya hanya mengangguk angguk saja mendengar keterangan dari Sugara sambil menatap kearah pertarungan Pitu Geni yang masih melawan Burgundi.
Pertarungan kian seru, keduanya sudah meningkatkan kekuatannya di tandai oleh golok Wiso Geni yang kini menyala.
"Eeh..kau kelompok Api Suci rupanya..!," teriak Burgundi mulai sedikit terhenyak, melihat lawannya mampu mengeluarkan api dari kekuatan Jurus nya.
"Tidak semua orang yang bisa mengeluarkan api kelompok Api Suci..!," sahut Pitu Geni, yang tak ingin ada kesalahpahaman.
"Cck, memang aku perduli kau dari kelompok mana?," balas Burgundi sambil kembali menebaskan kapak di tangan kanannya.
Traaang...!!
Pitu Geni menepis sambaran kapak tersebut dengan golok Wiso Geni yang sewaktu waktu melontarkan api menjilat ke arah lawannya.
Meskipun berkata tak perduli sebenarnya Burgundi juga mulai jerih juga hatinya, apalagi melihat rombongan tersebut masih ada beberapa orang yang terlihat berilmu seperti Baroto, dua gadis muda dan tentu saja anak muda (Jaya) yang tadi bersitegang omongan dengan nya.
"Hiaaa....!!."
Teriakan Pitu Geni terdengar keras, bersama dengan hal tersebut pancaran api di goloknya juga makin besar.
Wuusss...
Sriiing.....!!
Golok Pitu Geni melesat menyambar seiring dirinya yang meloncat menebaskan senjatanya kearah kepala lawannya.
BLAAAAAR...!
Hantaman tersebut beradu dengan dua Kapak yang di silangkan Burgundi.
__ADS_1
Pitu Geni terpental balik kebelakang sedangkan Burgundi terlempar juga beberapa tombak akibat benturan dua kekuatan tersebut.
"Dasar siaalaann...!," umpat Burgundi sambil mencoba menstabilkan diri yang terpelanting ke belakang tersebut.
Pandangan mata nya sudah nanar, sedikit limbung badannya, karena bertarung lama sebelum nya juga mempengaruhi kekuatan fisiknya.
"Aarch, aku harus meninggalkan tempat ini jika masih ingin bernafas," keluh Burgundi.
Sesaat setelah badannya tak limbung lagi, dengan cepat Burgundi meloncat melesat pergi melarikan diri, dengan sekuat tenaga dan tak menoleh lagi.
Rombongan Jaya yang menyadari hal tersebut berniat mengejarnya, namun di tahan oleh Jaya.
"Cukup paman..tak perlu di kejar," cegah Jaya kepada Baroto dan Pitu Geni yang akan meloncat mengejar.
"Biarkan saja, sebagai pelajaran baginya bahwa masih banyak orang kuat di alam ini." kata Jaya kembali.
**
Hampir menjelang dini hari rombongan Jaya baru sampai di kediaman Randu Sembrani.
Sehabis pertarungan Pitu Geni melawan Burgundi, mereka semua membantu Sugara memakamkan teman teman sekelompok nya agar tak di makan binatang buas, itulah salah satu penyebab terlambatnya rombongan Jaya sampai di kediaman Randu Sembrani.
Kedatangan rombongan itu di sambut suka cita oleh Randu Sembrani dan Nyai Nilam Sari, kecemasan nya selama ini sirna dengan kedatangan Pelangi apalagi kini bersama dengan Jaya Sanjaya.
Kumala yang pertama kali melihat sepasang suami istri tersebut sedikit kikuk, dirinya ingat betul kekuatan apa yang di miliki oleh keduanya (mereka bertemu di chapter, menguak Kebenaran dan Legenda Mata Dewa) meskipun Kumala juga belum berani mengatakan tentang Mata Iblis kekuatannya.
Kebahagiaan jelas tak bisa di hilangkan dari wajah sepasang suami istri tersebut, selama ini baik Pelangi maupun Jaya sudah di anggap sebagai anak baginya, tak hanya sekedar murid sebagai mana yang lainnya.
"Istirahat lah tuan tuan pendekar, nanti Arjo anak murid ku yang akan mengantar kalian ke kamar tamu yang ada di belakang," kata Randu Sembrani kepada anggota kelompok Jaya.
Sementara Jaya dan Pelangi langsung di persilahkan ke kamar yang biasa mereka tempati di dalam rumah utama.
Kumala yang kebingungan langsung di gandeng oleh Pelangi, "Kakak ikut istirahat sekamar dengan ku," kata Pelangi pelan sambil merangkul lengan Kumala.
Sesaat ragu, namun Nyai Nilam Sari langsung mengangguk saat Kumala menatap nya.
"Ikutlah dengan murid ku, kau juga kuanggap sebagai keluarga ku," kata Nyai Nilam Sari.
Kumala mengangguk tersenyum sopan, "Terimakasih nyonya.''
**
Burgundi bergerak cepat, berlari dengan sekuat tenaga takut di kejar oleh kelompok lawannya tadi.
"Aku harus menemukan kelompok ku, dan melaporkan kejadian ini." gumamnya pelan sambil menggenjot langkah nya lebih cepat lagi.
Berlari menuju ke arah dimana perguruan Cemoro Sewu yang sudah di hancurkan oleh kelompok nya berada.
__ADS_1
_____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya.....