
Puluhan orang yang muncul dari lubang dinding bukit itu menarik kereta yang sarat muatan dengan begitu cepat.
Tindakan yang sangat rapi, cepat dan terkoordinasi itu menandakan jika kelompok ini sudah sangat ahli melakukan pekerjaan ini.
SRAAAAKKK...!!
Setelah kereta itu berhasil di tarik masuk ke dalam lorong dinding bukit itu, pintu lorong menutup kembali dengan cepat pula.
Semua tak menyangka dengan kejadian ini, anggota Jaya hanya menduga akan terus terjadi pertempuran fisik, baru terjadi perampasan barang jika kelompok itu menang, tapi ini tidak begitu.
Kelompok Orong Orong mencuri kereta sambil melakukan serangan.
"Kalian selesai kan yang ada disini, aku akan mengejar kereta itu..!!," teriak Jaya, melesat kearah pintu dinding bukit yang mulai menutup dengan cepat, dan kini tinggal beberapa jengkal saja lebarnya.
Laaaapp...!!
Jaya melesat dengan sangat cepat, mengejar kereta pengangkut barang memasuki pintu dinding bukit yang tinggal seukuran badannya saja.
Diluar masih terjadi hujan anak panah dan lontaran senjata tombak, namun semua itu bisa di mentahkan, bahkan anggota Awan Putih yang berilmu tinggi sudah melesat menuju ke arah para penyerang, untuk membalasnya.
Wuuuuss...!
Koloireng, Pitu Geni serta Anuso Birowo meloncat keatas bukit.
Ketiganya bahkan berlari di dinding bukit yang tegak tersebut tanpa kesulitan.
"Bajingan keparaat...!," teriak Pitu Geni menerjang kearah ratusan orang yang masih membidikkan anak panah, begitu sampai di atas bukit tersebut.
Sriiing....!!
Traaang....!
Traaang...!!
Golok Wiso Geni langsung menebas orang orang tersebut.
Serangan Pitu Geni yang membabi buta membuat orang orang tersebut panik, mereka tak menyangka mangsa nya mampu menaiki dinding terjal dari bawah bukit tersebut.
Belum hilang rasa terkejut orang orang itu, sosok lain juga muncul di bukit yang lain menyerang para anggota Orong Orong yang ada disana.
Sosok lain itu adalah Koloireng, yang kini juga sudah mengamuk menghajar para pemanah di bukit sebelah.
Kelompok Orong Orong itu memang menghujani panah dari atas dua bukit, mereka bersembunyi diatas bukit dan membidik sasarannya dari sana.
"Seraaaang....!!." teriak para pemimpin pasukan Orong Orong yang ada di atas bukit, mencoba menyerang Pitu Geni di bukit satu.
Ratusan orang itu mengerubuti Pitu Geni, namun mereka kembali buyar saat Anuso Birowo muncul tiba tiba, menyusul Pitu Geni dan langsung mengayunkan Golok Naga menghantam para perampok yang mengeroyok rekannya.
Wuuusss...!!
BLAARR....!!
Hantaman itu menghasilkan ledakan, dan mementalkan beberapa orang.
Pitu Geni dan Anuso Birowo mulai bertarung melawan orang orang kelompok penyamun di puncak bukit tersebut.
Di sisi bukit yang lain Koloireng sudah menyerang pasukan lawan yang ada disana.
Ratusan orang itu melawan sang kakek dengan segala cara.
**
__ADS_1
SRAAAKK....!!
BLAANG....!!
Pintu besar dari besi kuat itu tertutup rapat, suara getarannya menandakan betapa tebal besi yang menjadi daun pintu tersebut.
Ternyata di dalam bukit tersebut terdapat lorong yang memanjang, sangat jauh entah sampai di mana.
Jaya masih terdiam, sedikit merapat ke arah dinding nya, mengawasi orang orang itu yang tengah memeriksa isi kereta barang tersebut.
"Hua..ha...ha..., kita sangat beruntung, barang barang rampasan hari ini sangat banyak." teriak salah satu dari puluhan orang itu, menatap puas hasil jarahan nya.
"Ayo kita bawa ke gudang harta di markas kita."
Jaya mendengar kan dan mengikuti kemana orang orang itu pergi dengan sedikit melayang, hingga tak terdengar sedikit pun langkah nya.
Ratusan orang yang ada di dalam lorong itu mengarak kereta kuda pembawa barang seserahan itu makin memasuki jauh ke dalam gua tersebut.
**
"HIAAAAA...!!.''
Koloireng mengeluarkan jurus Badai Mamba Hitam menghantam orang orang yang juga melesat kearahnya.
"Hiaaa..!."
"Hiaaa....!!."
Pasukan Orong Orong saling berloncatan menyerang ke arah Koloireng.
BLEGAAART...!!
Puluhan orang itu terpental, dari ratusan orang yang siap menghantam balik Koloireng.
Dari sekian banyak orang kini hanya tinggal beberapa puluh orang setelah terjadi ledakan, yang mementalkan mereka
Di bawah hujan anak panah sudah berhenti, karena para pemanah sudah diserang Koloireng di Bukit satu dan di serang Pitu Geni serta Anuso Birowo di bukit yang lain.
Kumala dan Pelangi melesat menaiki bukit menyusul Koloireng, sedang kan yang lainnya di perintahkan membantu Pitu Geni dan Anuso Birowo.
"Lewat sini...!," teriak Baroto Sarkawi melesat menaiki bukit, dari sisi yang tak terlalu terjal.
Pendekar Tinju Baja itu menaiki bukit bersama Narimo, memimpin puluhan orang lainnya, berniat membantu Pitu Geni dan Anuso Birowo yang tengah bertempur dengan kelompok Orong Orong.
Makin lama pertempuran di atas bukit makin ramai setelah semua anggota Awan Putih tiba di atas bukit itu.
**
Lorong yang ada di dalam bukit makin lama makin besar.
Udara juga makin terasa segar, menandakan jika lorong tersebut mulai tiba di ruang terbuka dari ujung yang lain.
Ternyata memang lorong itu menghubungkan dua wilayah terbuka, kini mulai tampak cahaya di ujung lorong menandakan jika sebentar lagi mereka tiba di mulut lorong.
"Cepat...kita bawa harta rampasan ini langsung ke gudang, sebagian yang lain lapor Tetua Utama jika kita berhasil menguasai rampasannya."
"Baik Tetua Nowangsa..!." sahut salah satu orang, langsung bergerak memisahkan diri, berniat lapor ke Tetua Utama kelompok Orong Orong tentang keberhasilan mereka.
Jaya masih mengikuti rombongan itu dengan jarak yang terjaga.
**
__ADS_1
Kereta barang itu kini sudah keluar dari lorong.
Bisa dilihat sebuah markas yang cukup besar yang ada di kedalaman sebuah jurang yang terlihat tertata rapi.
Ada beberapa bangunan utama yang megah, sisi belakang bangunan itu menempel di bukit lainnya, sedangkan di kanan kiri ada beberapa gua yang menjadi tempat hunian bagi anak buah kelompok Orong Orong, sedangkan para Tetua tinggal di hunian yang megah tersebut.
Kereta kuda yang berisi barang seserahan itu sudah di tarik kearah sebuah bangunan yang ada di sisi kiri dari tiga bangunan yang ada di sana.
"Ayo langsung di bawa ke gudang harta benda..!.'' teriak tetua Nowangsa memberikan perintah.
Mereka tak menyadari jika Jaya masih menguntit di belakang nya, bahkan mereka tak menyadari jika Jaya sudah melayang melesat masuk ke kolong kereta barang tersebut.
Kereta itu makin di dorong dan di tarik ke arah bangunan tersebut, memasukinya hingga tiba di belakang bangunan yang menempel ke dinding bukit.
Nampaknya bangunan yang menempel dinding bukit itu menghubungkan ke dalam sebuah gua yang cukup longgar dan luas, di sana lah tersimpan gunungan harta benda yang sangat banyak hasil kelompok Orong Orong selama ini beroperasi.
Kini di sekitar kereta hanya ada beberapa puluh orang saja setelah kereta itu memasuki gudang harta benda.
"Ayo turunkan barang barang ini dan kita bawa lagi kereta ini keluar..!," perintah salah satu orang tersebut.
"Baik.. pemimpin..!."
Beberapa orang mendekat kearah pintu belakang kereta, berniat membuka pintu kereta untuk mengeluarkan barang barang nya.
Sreeeett...!!
BRAAAK...!!
Tiba tiba Jaya keluar dari lorong kereta, menangkap kaki salah satu orang itu dan membantingnya hingga pingsan tanpa menjerit.
"Aaa..." terdengar teriakan tertahan anggota Orong Orong lainnya, mereka kaget tiba tiba ada orang asing di antara mereka.
"Setaan Alaaas...!, Siapa kau...!." teriak pemimpin kelompok anggota Orong Orong yang ada di gudang harta.
Jaya hanya berkacak pinggang, menatap anggota kelompok tersebut, "Jangan kau sentuh kereta ini..!." bentak Jaya.
Anggota Orong Orong itu saling tatap sebelum akhirnya tertawa, "Hua..ha..ha.., satu penguntit yang sungguh berani kau, kisanak."
"Hanya seorang diri berani menggertak..!."
Jaya hanya diam, menarik nafasnya dalam dalam.
CLAAAAPP....!!
Pemuda itu mengerahkan jurus Mata Dewa, menyadari tak ada sosok kuat di sana.
Memerangkap puluhan orang itu dalam Jurus Mata Dewa, lalu dengan gerakan super cepat menghajar dan menghantam orang orang itu hingga berjatuhan dan pingsan, tanpa berisik.
Bruuk...!
Bruuukkk...!!
Puluhan orang itu bertumbangan tak sadarkan diri ketika pukulan tangan dan sepakan keras kaki Jaya mendarat di bagian tubuhnya.
Tak menyia nyiakan kesempatan tersebut, Jaya mengambil seluruh harta benda yang ada di sana, menyimpan nya di dalam gelang dimensi miliknya.
Kini hanya tinggal kereta kuda miliknya yang di biarkan ada disana, untuk di keluarkan nanti jika semua sudah di bumi hanguskan nya.
____________
Jejakanya ya ...jangan lupa... makasih Kaka readers...
__ADS_1