
Di bukit yang banyak dengan aneka jenis ular itu, nampak beberapa kelompok saling mengawasi.
Mereka saling mengukur kekuatan, dari kelompok lain yang ada di sana, mengira ngira untuk mengalahkan supaya bisa menguasai Zirah pusaka yang nantinya akan di perebutkan.
Pasukan Wereng Ireng sudah mengerahkan jurus Pedang Api yang menjadi salah satu andalan dari kelompok Api Suci.
Mereka nekat menyibak banyaknya ular yang berkerumun di sepanjang jalan menuju ke gua yang di tengarai tersimpan nya Zirah pusaka tersebut.
"Ayo...maju..jangan takut..!, kita punya kekuatan yang tak dimiliki oleh pasukan yang lain..!!," teriak Wereng Ireng memompa semangat.
Memang benar apa yang di katakan oleh Wereng Ireng, kelompok Api Suci mampu membuat ular ular tersebut menyingkir, dengan hawa panas yang mereka keluarkan oleh para anggota kelompok tersebut.
"Maju... maju...!," teriak anggota yang berjumlah seratusan orang tersebut, berteriak untuk memompa semangat antar mereka.
Pasukan yang lain nya hanya menatap ke arah pasukan Api Suci yang sudah merangsek makin mendekati gua, melewati ribuan ular yang nampak berkeliaran di sana.
Hawa panas yang di keluarkan oleh pasukan Kelompok Api Suci itu hanya membuat ular ular tersebut menyingkir sesaat sebelum kembali memenuhi bekas jalur yang di lalui pasukan Api Suci.
Kelompok lain hanya menatap semua itu dengan geram, namun terlihat dari wajah wajah culas tersebut jika mereka berniat akan merebut nya jika kelompok Api Suci berhasil mengambil Zirah pusaka tersebut.
**
Sementara itu di tempat lain tepat nya di markas utama kelompok Mata Iblis, sudah sejak beberapa hari ini terjadi ketegangan.
Penyebabnya tentu saja karena menghilang nya salah satu calon selir dari pemimpin Agung yang oleh banyak orang sudah di jagokan menjadi pemenang di pemilihan itu.
Siapa lagi sang calon itu jika bukan Kumala.
Semua nampak bersedih, Tak terkecuali Ratu Dewi Mata Iblis yang menampakkan wajah muram, padahal dalam hatinya bersorak karena calon selir yang tersisa tak ada yang semenawan Kumala, juga ilmu Kanuragan nya jauh di bawah gadis itu.
"Apa yang terjadi..?, kenapa dia menghilang..?," gumam pemimpin Agung dengan raut wajah yang sulit di gambar kan.
"Apa ada yang ingin mencelakai nya..?."
"Atau bahkan dia memang sengaja di hilangkan..?."
Gumam gumam pelan sang Pemimpin Agung tak luput dari pendengaran Ratu Dewi Mata Iblis.
"Aku turut bersedih dengan menghilangnya gadis itu Kakang," kata pelan sang Ratu mencoba bersimpati kepada Pemimpin Agung.
"Aku pasti akan menghukum siapapun yang mencoba bermain main dengan peristiwa ini..!," kata Pemimpin Agung dengan geram.
Meski dalam hati sang Ratu begidik ngeri, namun dia mencoba untuk tetap tenang.
Jambumangli yang ada di depan Pemimpin Agung hanya tertunduk sedih dengan peristiwa hilangnya anaknya.
"Saya mohon Pemimpin Agung menyelidiki masalah ini sampai tuntas, jangan sampai kejadian di markas ini menjadi peristiwa yang mencoreng nama baik kelompok Mata Iblis." Kata Jambumangli yang tak bisa menutupi rasa sedih dan kecewa nya.
Semua yang hadir di sana juga menganggukkan kepalanya, membenarkan apa yang di katakan oleh Jambumangli.
"Apa semua ini ada hubungannya dengan lawan lawan kita..?," kata Salah satu tetua lingkaran Ring.
"Bisa jadi demikian ," sahut Ratu Dewi Mata Iblis menimpali perkataan tersebut dengan cepat.
"Tapi kejadian ini di markas utama kita, aku rasa tak ada yang berani masuk ke wilayah ini," potong Pemimpin Agung dengan cepat, mematahkan asumsi tersebut.
__ADS_1
Ratu Dewi Mata Iblis tak lagi bersuara karena jika makin banyak bersuara akan semakin membuat kejahatannya terbongkar.
**
"Sebelum nya aku mohon maaf kepada Kakek Randu Sembrani dan Nyai Nilam Sari yang termasyhur, saya bersedia mendampingi Dinda Pelangi untuk berguru kepada kalian, tapi jujur banyak yang harus aku lakukan untuk menguak misteri siapa sebenarnya diriku."
"Jadi mungkin aku tak akan lama berada di tempat kalian, karena aku harus menyelesaikan urusan yang belum selesai."
"He..he..he..kami menyadari itu, setelah kau bercerita tentang dirimu yang tiba-tiba tersadar di gua, mungkin kau masih penasaran ingin menguak misteri tentang mu itu, kami tak akan menahan mu lama lama," sahut Randu Sembrani sambil tersenyum.
"Kami hanya ingin memastikan kepada Pelangi dan keluarga nya untuk bisa yakin menjadi murid kami, dengan keberadaan mu hal itu akan terjadi."
"Dan jika nanti kau sudah merasa cukup mempelajari ilmu dari kami, maka kami tak akan menahan mu pergi dari tempat kami."
Semua nampak senang dengan hasil perbincangan itu, Pelangi akan menjadi murid sepasang Mata Dewa dari selatan dengan di dampingi Jaya Sanjaya.
Dengan begitu keselamatan Pelangi ada di bawah perlindungan sepasang pendekar sakti tersebut.
Setelah berpamitan kepada Yang Mulia dan Permaisuri, serta Kakek Jayeng Rono dan lainnya, maka keempat orang tersebut segera meninggalkan tempat tersebut langsung menuju ke arah selatan dimana kediaman Sepasang Mata Dewa dari selatan berada.
**
Rombongan Api Suci yang di pimpin oleh Wereng Ireng sudah tiba di gua ular, di sebut gua ular karena banyaknya ular di sana, meski sebenarnya bukan itu nama gua tersebut.
"Gua yang luar biasa luasnya." kata salah satu anak buah Wereng Ireng bergumam, takjub akan luas dan banyaknya lorong percabangan.
"Iya sangat luas dan penuh dengan lorong percabangan," sahut yang lainnya.
"Makanya kita harus hati hati jangan sampai tersesat, termasuk juga dari ular ular ini," seru Wereng Ireng sembari mencabut golok api yang kini sudah menyala di tangannya.
Gua yang luas itu makin menakutkan begitu melihat banyaknya ular ular yang berjubel di dalamnya.
Jika bukan kelompok pengguna elemen Api yang memasuki gua tersebut sudah pasti akan di buru dan di serang oleh ular ular tersebut.
"Kita kemana tetua..?," tanya salah satu anak buah Wereng Ireng yang merupakan wakilnya, bernama Sambong Macan.
"Kita ikuti saja lorong yang paling banyak Ular nya, karena aku yakin mereka pasti melindungi sesuatu." sahut Wereng Ireng, sambil melangkah makin masuk ke dalam.
Pasukan seratusan orang itu makin masuk, mengikuti tetuanya yang melangkah memasuki salah satu lorong yang paling banyak Ular berbisa nya.
**
Randu Sembrani, Nyai Nilam Sari serta Jaya Sanjaya dan Pelangi sudah berkuda menuju ke arah selatan.
Dengan kuda pilihan yang terbaik membuat perjalanan mereka lebih mudah karena kuda kuda tunggangan tersebut sangat kuat.
"Apakah di wilayah kakek tak tersiar kabar penemuan sebuah pusaka..?." tanya Jaya Sanjaya sembari berkuda di samping pria tua yang masih gagah tersebut.
"Hmm...aku tak tertarik akan semua itu, dan jujur aku menutup telinga untuk itu."
"Meski begitu aku juga tau ada berita itu, tapi yang paling aku tau ya tentang berita zirah pusaka yang katanya ada di wilayah Kerajaan Agung Wukir Asri bagian selatan berbatasan dengan Kerajaan Agung Karang Pandan."
"Apakah kita melewati tempat tersebut..?," tanya Jaya Sanjaya dengan penuh harapan.
Randu Sembrani menggeleng cepat,
__ADS_1
"Wilayah itu terlalu ke barat, kita tak melewati nya, wilayah itu berbatasan dengan kerajaan kecil Kertomojo yang ada di bawah naungan Kerajaan Agung Karang Pandan."
Jaya Sanjaya mengangguk mendengar penjelasan dari Randu Sembrani.
"Apakah kau tertarik dengan pusaka tersebut..?."
Jaya hanya mengangguk saja.
"Jadilah kuat jika kau ingin mendapatkan nya, karena pastinya saingannya sangat berat dan kuat.
Mereka berkuda dengan kecepatan biasa karena memang tak mengejar waktu.
"Kakang kita istirahat di kota atau perkampungan terdekat, sudah sejak tadi kita belum makan." pinta Nyai Nilam Sari kepada suaminya.
"Hemm," jawab Randu Sembrani sambil mengangguk setuju.
**
Di hutan Larangan.
"Aku rasa kau sudah tau rapalan jurus ini Kumala."
Kumala mengangguk tanda mengerti.
"Sekarang konsentrasi, pusat kan pikiran ke satu titik, dan mulailah lakukan apa yang aku ajarkan tadi."
Nampak Kumala tengah belajar seperti apa yang di perintahkan oleh sang guru.
Kumala melakukan gerakan sesuai yang di ajarkan, kemudian dari matanya yang sudah berpendar keluar sinar.
CLAAAP...!!
Duaar...!!
Sinar itu melesat menghantam sebuah bongkahan batu.
Kraaaakkk...!!
Terdengar suara berderak, meskipun batu tersebut nampak masih utuh, namun jika di dekati dan di sentuh batu itu mengalami retakan di dalamnya.
"Uugh...masih sama saja kakek..!," keluh Kumala dengan sedih.
"He..he..he.., tak apa ini sudah lumayan, jika kau bisa meningkatkan tenaga dalam mu maka akan semakin kuat daya hancur yang di hasilkan nantinya."
"Masih banyak waktu untuk belajar, tak usah berkecil hati."
Koloireng menasehati dan membesarkan hati Kumala yang kadang kadang patah semangat.
"Aku ingin segera kuat, ingin ku balas wanita iblis itu..!!," gumamnya geram.
"Ha..ha..ha..," Betorokolo Mata Iblis atau Koloireng hanya tertawa mendengar ucapan muridnya tersebut.
_____________
Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejak nya....
__ADS_1