
Terlihat semua anggota Awan Putih nampak lega, begitu Jaya menghampiri mereka setelah menghajar dua tokoh Legenda Api Suci.
Pitu Geni langsung maju ke depan, kekagumannya terhadap sang Tetua Agung makin membuncah.
"Nakmas Bendoro sungguh luar biasa.." katanya.
Jaya hanya tersenyum menanggapi nya, "Sebaiknya kita kembali ke markas."
Pitu Geni masih tak percaya, dua legenda Api Suci yang sudah tersohor di kelompok pengguna element Api itu begitu saja di kalahkan oleh sang Tetua dengan mudah.
Semua kembali ke markas setelah sang Tetua memerintahkannya, tanpa menggubris dua legenda Api Suci yang masih duduk bersila di bekas pertarungan tersebut.
Pitu Geni sebenarnya ingin bertanya bagaimana kondisi dua legenda itu, namun tak enak hati jika di kira masih ada perhatian dengan bekas kelompok nya, padahal niatnya ingin menanyakan bagaimana jika dua legenda itu kembali berulah.
Sedikit salah tingkah dia berjalan di samping sang Tetua Agung.
"Eumm, Nakmas ..."
"Mereka sudah tak akan mengganggu kita lagi, jika masih berani aku tak segan memenggal kepala nya," sahut Jaya, seakan tahu apa yang menjadi pikiran dari bawahannya tersebut.
Pitu Geni tersenyum kecut, merasa sang Tetua Agung tahu isi hatinya, lalu mengangguk dan mempercepat langkahnya mensejajari Jaya Sanjaya.
**
Dua iblis Wora dan Iblis Wari terlihat meradang, begitu mendapatkan kenyataan jika salah satu pasukan andalannya mampu di kalahkan lawannya.
Layon Pitu adalah pasukan yang sangat mumpuni di Jiwa Abadi, namun masih bisa di kalahkan oleh kelompok lawan, mereka patut mewaspadai hal itu.
"Keparat....!,kelompok ini mau merusak rencana kita menguasai dunia ini."
"Benar, aku tak sabar menghancurkannya, tapi jika kita bergerak sekarang bisa bisa orang persilatan akan memusuhi kita karena semua tindakan kita yang menghancurkan kelompok kelompok lain terungkap."
Semenjak kegagalan membumi hanguskan seluruh anggota Cemoro Sewu, memang kelompok Jiwa Abadi merasa bahwa usaha menghancurkan kelompok kecil yang di lakukan nya terkuak.
Mereka merasa jika saat ini dunia persilatan pasti menyoroti kelompok mereka, sebagai kelompok yang selama ini suka membasmi kelompok yang tak sehaluan...meski itu benar adanya.
"Benar apa katamu..kita kini harus berhati hati, jangan sampai malah orang orang dunia persilatan memusuhi kita semuanya, bagaimana pun jika semua bersatu kita juga akan kerepotan."
Dua iblis tersebut tengah berbincang, memutus kan sikap apa yang mesti di lakukan kedepannya.
"Kita hentikan dulu usaha memburu kelompok Awan Putih ini, sampai saat yang tepat nanti kita balas."
Kedua iblis itu mengangguk-angguk kan kepalanya, setelah menentukan langkah apa yang mesti di lakukan.
**
"Jujur...., sebenarnya aku malu kalah bertarung sama anak semuda itu, tapi lebih malu lagi jika menelaah kata katanya," kata Moncong Putih sambil menatap kejauhan, seakan pikirannya di penuhi oleh rasa kecewa.
__ADS_1
Raja Api dari Utara juga mengangguk.
"Benar apa katamu saudara ku, kita memang orang tua yang tak memiliki kedewasaan berpikir," sahut nya.
"Sudah beruntung kita tak di bunuh saat ini."
"Hmm, sosok yang luar biasa...!, jika dia mau kita sudah jadi mayat sejak gempuran yang pertama."
"Benar apa katamu," balas Moncong Putih sambil berdiri, mereka mulai meninggalkan tempat tersebut, tempat yang menjadi arena pertarungan mereka yang kini menyisakan medan penuh dengan sisa sisa kebakaran.
Keduanya melesat, meloncat loncat menuju satu arah.
"Kita harus peringatkan Api Suci, sebelum kelompok tersebut hilang dari peradaban jika memaksa bertarung dengan Awan Putih." kata Moncong Putih yang berkelebat diikuti Raja Api dari Utara.
**
Di sebuah kerajaan kecil bernama Karang Doplang, dimana kerajaan itu berada di bawah naungan Kerajaan Agung Pati Sruni, tempat Awan Putih berada secara pemerintahan, tampak sang Prabu Wiramerta tengah menerima laporan dari telik sandi atau mata mata yang dimiliki nya.
Meski kerajaan itu sangat kecil dan tak memiliki kuasa yang luas namun masih tetap eksis dengan kesederhanaan nya.
"Ada apa prajurit?."
"Ampun Yang Mulia, hamba ingin mengabarkan beberapa peristiwa."
"Hmm, apa ada hubungannya dengan kita?."
"Katakan," sahut sang Raja yang sudah terlihat sangat sepuh tersebut.
"Ini berita tentang putri cucu Yang Mulia."
"Cucuku?, apakah terjadi hal buruk padanya?, memangnya dia sudah di temukan?."
Rentetan pertanyaan dari prabu Wiramerta, langsung terucap begitu saja.
Semua itu disebabkan karena kekhawatiran nya.
Tak bisa di pungkiri memang jika keberlangsungan kerajaan Karang Doplang sangat tergantung akan cucu keturunan nya tersebut, karena hanya cucunya lah satu satunya garis keturunan yang sedarah dengannya.
Prabu Wiramerta hanya memiliki satu anak putri bernama Arumi Wiramerta yang di persunting oleh Prabu Danar Kencono, dari perkawinan mereka hanya lahir Pelangi yang semenjak kecil sudah jadi buruan para pendekar, dan kabar hilangnya gadis itu masih misterius.
Jika sekarang ada berita tentang cucunya maka hanya debaran jantung saja yang makin meningkat karena bisa saja berita itu berita buruk.
Prajurit yang memberi laporan hanya menggeleng.
"Bukan berita buruk Yang Mulia, justru berita baik," sahutnya, membuat wajah renta prabu Wiramerta terlihat lega seketika.
"Cepatlah katakan..kalau begitu, aku sudah tidak sabar." serunya sambil menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
"Putri cucu paduka sudah kembali ke Ngarsopuro, bahkan bersama kelompok nya berhasil mengusir para pemburu pusaka yang berniat mencelakai nya."
"Benarkah? cucuku sudah kuat sekarang?."
"Benar Yang Mulia, putri sekarang sudah kuat, dan memiliki kelompok yang kuat."
Raja tua itu tersenyum senang, harapan untuk menyerahkan kerajaan dan kekuasaan kepada anak turun nya kembali terbuka.
"Berita yang paling menggembirakan lagi adalah kelompok ndoro Putri ada di wilayah kita, Yang Mulia," kata prajurit itu lagi.
"Di Wilayah Kita?." tanya sang Prabu dengan wajah kaget, pasalnya selama ini tak ada laporan jika di wilayah kerajaan itu ada kelompok hebat.
"Benar Yang Mulia, tepatnya hutan Lirboyo yang ada di barat, hampir berbatasan dengan wilayah timur Ngarsopuro."
Prabu Wiramerta makin lebar tersenyum mendengar laporan prajurit nya tersebut.
"Aku tak sabar berkunjung ke kelompok itu, kelompok apakah nama nya?"
"Awan Putih Yang Mulia.''
Prabu Wiramerta mengangguk sambil menggumamkan nama Awan Putih.
"Kapan kita bisa kesana?, aku ingin mengunjungi markas kelompok cucu ku."
"Kita persiapkan dahulu Yang Mulia, jika memungkinkan kita segera berangkat," sahut Prajurit tersebut.
**
Jaya masih duduk di kursi yang ada di pendopo belakang, bangunan yang berada di halaman belakang itu menghadap ke lapangan tempat berlatih yang mengarah ke hutan luas.
Tempat di mana para anak buah Awan Putih mempelajari ilmu baru Gelombang Awan Menerjang.
Untuk awalan para petinggi Awan Putih yang akan di ajarkan ilmu tersebut, selanjutnya nanti akan di ajarkan ke seluruh anggota Awan Putih.
Jaya menatap para petinggi Awan Putih tersebut termasuk Kumala dan Pelangi yang masih serius mempelajari pembentukan kabut di dua telapak tangan nya.
Berkali kali mereka memusatkan pikirannya setelah melakukan rapalan dan olah tenaga dalam untuk menciptakan Kabut tersebut, namun selalu gagal.
"Aaah...susah..!," teriak Pitu Geni, dengan kecewa, karena begitu memusatkan pikirannya malah api yang terpercik di telapak tangan tersebut.
Demikian pula dengan Baroto yang saat berkonsentrasi, malahan membentuk warna hitam di tangannya.
Semua terlihat kesulitan mempelajari ilmu baru tersebut, Ilmu yang memiliki kehebatan menyerap hawa pukulan lawan tersebut.
____________
Mohon dukungan nya ....
__ADS_1