
Rombongan Awan Putih masih menyusuri jalur yang di laluinya menuju ke padang Selayang Pandang.
Saat ini masih dini hari, bahkan matahari belum muncul saat kelompok itu mulai bergerak, semalam rombongan tersebut terpaksa menginap di hutan untuk istirahat memulihkan stamina selain karena suasana yang gelap.
Kali ini Anuso Birowo dan Suroloyo dua orang yang berasal dari perkumpulan Golok Naga mulai berpindah ke bagian rombongan yang ada di depan.
Sebentar lagi rombongan tersebut akan sampai di persimpangan yang menjadi titik temu dengan kelompok Golok Naga, maka sebagai yang paling berhak dua tokoh itu maju ke barisan depan agar tak terlewat.
"Sebentar Lagi kita sampai di persimpangan itu Tetua," kata Suroloyo kepada Anuso Birowo, menunjuk sebuah dataran yang masih terlihat sangat jauh.
"Benar kakang, semoga saja mereka sudah tiba di sana," balas Anuso Birowo kepada Suroloyo yang memang lebih tua beberapa tahun darinya.
"Aku rasa mereka pasti sudah tiba Tetua, karena kita yang malah terlambat dari rencana, karena masalah penyebrangan kemarin."
Ya, saat melewati sebuah sungai yang cukup lebar, kelompok Awan Putih sedikit kesulitan karena ternyata jembatan yang biasanya melintang di sana sudah rusak dan lapuk termakan rayap.
Mereka harus membuat jembatan terlebih dahulu, menebang pepohonan dan juga bambu, menjadikannya sebagai jembatan sementara.
"Hmm, benar katamu Kakang."
Hari makin beranjak, rombongan Awan Putih tersebut kian bergerak mendekat ke arah wilayah yang menjadi jalurnya.
**
"Minggir...!!, kalian menyingkir sana...!!," teriak seseorang dari kelompok Banteng Merah, Sebuah kelompok yang berasal dari wilayah barat dari Kerajaan Agung Karang Kadempel.
Mereka nampak akan beristirahat di tempat yang sudah di diami oleh dua ratusan kelompok Golok Naga yang di pimpin Pati Kerto.
"Maaf kisanak, kami sudah lebih dulu menempati tempat ini, bahkan kami sudah bergeser dari pinggir jalanan agar tak mengganggu pengguna jalan," sahut Pati Kerto masih dengan sabar.
Seorang pria dengan ikat kepala merah, menatap Pati Kerto.
Pria yang sedikit banyak mengenal kelompok Golok Naga, karena mereka satu wilayah.
"Anggota ku sangat banyak, tak akan muat jika hanya seluas ini, kalian menyingkir masuk ke hutan sana..!," perintah Pria itu kembali.
Pati Kerto sedikit terpancing emosi nya, "Aku tahu kalian dari Banteng Merah, dan kalian membawa tiga kali lebih banyak dari anggota ku, tapi tak sopan juga jika kalian memaksa kami meninggalkan tempat yang sudah kami pilih."
Benar apa kata Pati Kerto, Banteng Merah bahkan membawa hampir seribu anggota, dan itu malah empat kali jumlah anak buah Golok Naga yang di bawa nya.
Pria dengan ikat kepala merah yang merupakan salah satu petinggi kelompok Banteng Merah itu mendengus mendapat jawaban Pati Kerto.
"Sudah tahu kalah jumlah masih saja ngeyel...!," sindirnya dengan tersenyum sinis.
Entah selama ini kedua kelompok itu memang sudah berseteru atau bagaimana, hanya karena masalah ini terlihat dua kelompok itu bersitegang.
Masing masing tak ada yang mau mengalah dan menyingkir.
__ADS_1
**
Traaang...!
Traaang...!!
"Hiaaaaa...!!."
"Hiaaaaa....!!."
Suara suara senjata berdentangan saat bertubrukan dan teriakan teriakan orang yang bertarung sudah bisa terdengar dari arah Jaya dan rombongannya bergerak menuju persimpangan.
"Apakah ini sudah dekat dengan persimpangan itu paman?." tanya Jaya yang sudah melesat maju di barisan depan, bertanya kepada Suroloyo.
"Benar Pemimpin Agung, di depan itu sudah persimpangan." kata wakil Anuso Birowo di Golok Naga.
Mereka semua menatap ke depan, masih cukup jauh hingga kesulitan untuk melihat dengan jelas.
Jaya yang memiliki mata setajam naga langsung meloncat melesat terbang hingga mengagetkan yang lainnya.
Wuuuuss........
Kelompok Golok Naga tengah terkepung, dua ratusan orang itu tengah menjadi bulan bulanan dari kelompok Banteng Merah.
"Hiaaa...!!."
Wuuuusss....!!
BLAANNG....!
Serangan yang mengarah ke kerumunan anggota Golok Naga itu di tangkis oleh Pati Kerto, goloknya yang sedikit besar meski tak sebesar Anuso Birowo.
Gelombang hantaman tombak pedang dari pria dengan ikat kepala yang bernama Joyo Jenggirat itu buyar di tangkis oleh Pati Kerto.
"Cuiih...!, hanya segini kekuatan hantaman Banteng Merah...??." ledek dari Pati Kerto, meski sebenarnya hantaman tersebut membuat lengannya gemetar.
Memang rasa percaya diri di dunia adu kekuatan fisik merupakan faktor pendukung yang utama, dengan rasa percaya diri yang sekuat baja maka akan membuat daya juang nya makin kuat dan ngotot.
Seseorang yang mentalnya sekuat baja akan mampu menaklukan lawan yang setingkat dengannya dengan mudah jika lawan sudah minder.
"Keparaaat...!, kau meremehkan ku..!," seru Joyo Jenggirat, murka serangannya di angap remeh lawan.
"Baik..jika kau menginginkan serangan hebat, aku beri...!!," teriak Joyo Jenggirat lagi.
Sosok tersebut sedikit mundur lalu memutar tombaknya, desingan saat tombak itu di putar menandakan bahwa serangan itu makin kuat saja.
Jujur Pati Kerto sedikit panik melihat itu, mana anak buahnya juga di gempur habis habisan oleh anggota Banteng Hitam, dan terlihat keteteran.
__ADS_1
Wwwuung...wuuungg....
Putaran dari pedang tombak itu makin terasa kuat hingga membuat daun daun berterbangan bersama debu di jalanan tersebut.
"HIAAAA....!!."
Joyo Jenggirat meloncat menebaskan senjata tombak pedangnya mengarah ke badan tetua dari Golok Naga itu.
Wuuuusss...
Gelombang kekuatan yang membuat begidik membelah angin menebas ke arah Pati Kerto.
JDUAAARRT...!!
Suara ledakan keras terdengar, Pati Kerto yang memejamkan mata untuk menangkis serang itu terpental, bukan terpental lebih tepatnya di dorong ke samping oleh seseorang, sedangkan Joyo Jenggirat terlempar terpental.
"Aaarrcch...!!," teriak salah satu tetua Banteng Merah itu, saat terlempar hingga badannya berguling gulingan.
"BANGSAAAT...KEPARAAT..!, Siapa kau..!," teriak tetua Banteng Hitam lainnya yang semula hanya menyaksikan pertarungan anak buahnya di pimpin Joyo Jenggirat.
Kali ini Tetua itu meloncat maju begitu ada yang ikut campur di bertarungan itu.
Sosok seorang pemuda tampan yang tak lain adalah Jaya Sanjaya sudah berdiri gagah, menghadang serangan Joyo Jenggirat dan menepis serangan lainnya.
"Aku Jaya Sanjaya Pemimpin mereka..!." kata sang Jagoan kita sambil menunjuk ke arah anak buah Golok Naga.
Pati Kerto dan lainnya langsung menyungingkan senyum menyadari itu.
Mata Tetua Banteng Merah itu sedikit terbelalak, namun juga tak mundur.
"Hmm, kalian Golok Naga memang menyebalkan..!," seru nya.
"Memangnya kalian siapa..? dari kelompok apa...?.'' balas Jaya menatap tajam pria paruh baya di depannya.
"Aku Wardi Pasir...!, salah satu tetua Banteng Merah..!.'' dengus tokoh itu.
"Hmm, Banteng Merah...ya," Jaya berkata pelan, menatap tajam sekali lagi pria di depannya, kemudian berkata lagi, "Aku peringatkan kalian, Aku Jaya Sanjaya..Pemimpin Agung Awan Putih dimana Golok Naga bernaung..!."
Mendengar nama Awan Putih yang sedang melambung di dunia persilatan membuat Wardi Pasir langsung pias wajahnya.
"Jika kau masih ingin memperpanjang masalah ini aku tak akan segan membantai kalian tanpa ampun..!, hingga membuat kelompok Banteng Merah tak bisa lagi hadir di pertemuan Serikat Pendekar untuk tahun tahun sekanjutanya..!."
Perkataan tegas Jaya tersebut terbukti membuat hampir semua orang orang Banteng Merah lemas, apalagi sayup sayup terdengar ribuan orang Awan Putih dalam rombongan mendekat, makin gemetaran orang orang yang di pimpin Joyo Jenggirat dan Wardi Pasir tersebut.
"Pergilah...sebelum kalian menjadi mayat disini..!," bentak Jaya kepada orang orang Banteng Merah yang langsung ngacir tanpa di minta dua kali.
___________
__ADS_1
Jejakanya....