
Dengan cepat Pitu Geni melempar tubuhnya ke belakang menghindari tusukan tombak kyai Seto Ludiro.
''Aarch...!,"
Terdengar teriakan tertahan dari Pitu Geni, saat dirinya melempar diri sambil berguling gulingan, menghindari serangan lawannya.
Jaya berdiri menatap lawan dan menahan serangannya.
"Bagaimana..?, apakah kau sudah menyerah..?," seru Jaya Sanjaya sambil berdiri tegak mengacungkan tombak, dan menahan serangannya.
Pitu Geni terdiam, kini duduk bersila memfokuskan pikiran dan menarik nafasnya dalam dalam, lalu bangkit perlahan.
"Aku akan menyerah jika kau bisa menahan serangan ku kali ini..!," seru Pitu Geni mulai memainkan jurus pamungkas andalan nya.
Sebuah jurus yang unik dari perpaduan antara jurus peribadi nya dengan jurus kelompok pengguna element Api.
Kini golok Wiso Geni sudah makin berkobar, tangan kirinya bergerak semacam membuat tanda gerakan dari segel jurus tertentu.
BLAAAP.....!!
Tiba tiba kini kedua lengannya sedikit berpendar, sedangkan golok Wiso Geni makin besar kobaran api nya.
AKAR...GENI..KOBONG...!!
Teriak Pitu Geni mengeluarkan jurus Akar Geni Kobong, sebuah jurus yang membuat tangannya bisa menghasilkan api dengan pancaran bercabang cabang dan mampu menyebar membakar lawannya.
"Hiaaaaaa...!!."
Teriak Pitu Geni, sembari meloncat mengayunkan pedang dan tangan kiri nya terulur ke depan menghantamkan jurus Akar Geni Kobong.
Dari lengan Pitu Geni keluar api yang berkobar dengan beberapa cabang menyerang ke arah Jaya Sanjaya.
Jaya yang tak ingin mencelakai lawan hanya menyiapkan jurus Selaksa Ombak Menerjang untuk menghadang terjangan gelombang api lawannya.
"Hiaaaaa....!!."
BLAAAAAR...!
BLAAAAAR...!
BLEGAAAART...!!
Pancaran api yang keluar dari lengan Pitu Geni langsung terhempas oleh jurus Selaksa Ombak Menerjang.
Jurus yang istimewa karena hanya dengan sekali di pukul kan namun mampu menghasilkan gelombang pukulan yang datang bertubi tubi laksana Ombak menghantam, mematikan pancaran api api tersebut.
"Aaaaarrcchh...!!."
Pitu Geni terlempar kembali berguling gulingan, hingga sangat jauh sambil berteriak dengan miris, goloknya terlempar ke sembarang arah dan langsung pingsan.
Semua kembali membelalakkan matanya melihat kehebatan jurus pukulan Jaya padahal itu tak menggunakan seluruh tenaga nya, tak hanya kelompok Darah Api, termasuk Baroto serta Narimo yang juga masih terkejut dengan kehebatan pukulan itu.
Bahkan Kumala masih menganga melihat pemandangan tersebut, pipinya makin merona, membayangkan sosok bibit unggul yang kini makin di kagumi nya.
__ADS_1
"Waaaaah, Kakang Jaya benar benar hebat." gumamnya pelan dengan pandangan tak lepas dan penuh pemujaan.
**
"Dengan ini aku keluar dari kelompok Api Suci, sesuai janjiku aku akan mengabdi kepada tuanku yang baru,....yaitu Nakmas Bendoro." Kata Pitu Geni kepada orang orang Darah Api untuk nantinya akan di teruskan kepada kelompok Api Suci.
Semua anak buahnya menunduk terlihat bersedih, selama ini Pitu Geni adalah tetua kelompok yang cukup di segani, tapi memang seperti itu lah karena pantang bagi seorang pendekar mengingkari janjinya.
"Selamat jalan Tetua...kami akan merindukanmu..," balas bekas anak buah Pitu Geni dengan raut wajah penuh kesedihan.
"Jangan panggil aku Tetua lagi, karena kini aku akan menjadi pengikut Nakmas Bendoro yang berarti aku menjadi bagian dari kelompok Awan Putih."
"Kembalilah kalian ke markas Darah Api, nanti sampai kan berita apa yang terjadi ini.." kata Pitu Geni, mengusir bekas anak buah nya secara halus.
Entah kenapa perpisahan itu menjadi sedikit mengharukan, dilihat oleh orang orang yang ada disana.
"Mari Nakmas aku siap menjadi pengikut mu dan menurut apa pun perintah mu," kata Pitu Geni dengan menjura menghormat kepada Jaya Sanjaya.
"Terimakasih paman, aku senang paman berjiwa satria dan tak mengingkari janjinya." kata Jaya sambil tersenyum menepuk pundak Pitu Geni.
Jaya tersenyum kembali menatap kepergian orang orang Darah Api, balik pulang ke wilayah nya.
"Baik... sekarang kita lanjutkan perjalanan kita kembali.." kata Jaya menoleh ke arah rombongan nya.
Rombongan yang berjumlah lima orang tersebut melanjutkan perjalanan menuju ke arah selatan dengan tujuan kerajaan Sirih Putih meninggalkan tempat itu.
**
Berita penaklukan Pitu Geni akhirnya sampai juga ke telinga Dewa Api, tokoh tertinggi dari pengguna element Api.
"Keparat..!, aku balas suatu saat nanti, akan aku rebut sesuatu yang berharga dari kelompok mu." gumam pelan Pemimpin tertinggi kelompok pengguna Api tersebut dengan geram dan wajah memerah.
"Sekarang kemana arah perginya mereka..?."
"Menurut berita mereka katanya ke arah selatan Tetua Agung, menuju ke arah Sirih Putih."
"Hmm."
Dewa Api nampak mengangguk angguk kan kepalanya, entah apa yang ada di dalam pikiran nya.
**
Di wilayah Utara di Kerajaan Agung Jongka Lengkong tepatnya kerajaan kecil Watu Alas yang berada di paling utara, terlihat puluhan orang maupun kelompok yang sudah nampak berseliweran di sana.
Kelompok orang orang tersebut nampak mencari keberadaan sebuah pusaka yang di sinyalir ada di sana.
Sebuah pusaka yang terlihat berpindah pindah dengan pendar yang terlihat jelas namun kadang meredup, membuat orang orang pengejar pusaka makin berminat untuk memilikinya.
Mereka meyakini jika pusaka tersebut pastilah pusaka yang hebat.
Entah pusaka jenis apa yang ada di tempat ini, namun yang jelas tingkatan pusaka ini termasuk Pusaka Illahi dan itu jelas adalah salah satu pecahan dari Ndaru Kolocokro kala itu.
"Lihat cahaya tersebut ada di bukit itu..!," teriak salah satu pemburu pusaka menunjuk ke satu arah.
__ADS_1
"Heii..kamu salah, lihatlah cahaya nya ada di sana..!," seru yang lain sambil menunjuk arah yang berbeda.
Namun hanya dalam sesaat sinar dari pusaka tersebut sudah muncul di tempat yang lain, itulah yang makin menyulitkan para pemburu pusaka itu.
"Aneh sekali sebenarnya itu pusaka apa sih..?."
"Entahlah...kenapa berpindah pindah seperti itu..?."
"Apa mungkin orang nyari kodok dan belut yang terlihat sinarnya dari sini," kata salah satu orang disana dengan wajah cengoh nya.
"Ish..dasar bodoh, kamu..ada ada saja..!," gertak yang lainnya, menyalahkan pendapat konyol temannya.
Sementara yang di gertak hanya plonga plongo 'kayak Ketek di tulup'.
Hari yang makin gelap itu membuat orang orang terlihat mengawasi dari kejauhan, dimana tepat nya posisi pusaka tersebut berada.
**
"Malam ini kita istirahat di sini saja paman," seru Jaya kepada Narimo yang berjalan paling depan.
Saat ini mereka tengah berada di pinggiran hutan yang ada di antara dua bukit yang mengapitnya.
Lebatnya hutan tersebut membuat Jaya memilih beristirahat di pinggiran nya saja, bisa melihat indahnya malam dan cahaya rembulan yang terlihat separuh.
"Aku akan membuat perapian," kata Pitu Geni kepada Baroto yang tengah mengumpulkan kayu kayu yang ada di sana.
"Aku kumpulkan kayu bakar terlebih dahulu." sahut Baroto kepada Pitu Geni.
Jaya mengawasi sekitar, pandangan nya memutar, berjalan ke sebuah pohon kecil yang kokoh untuk mengikat kan kuda nya.
"Kalian disini saja, aku akan mencari hewan buruan sejenak..," kata Jaya setelah menatap sekeliling dan menambatkan kuda nya.
"Aku ikut kakang..," seru Kumala langsung meloncat kearah Jaya berdiri.
"Hmm," gumam Jaya mengangguk.
"Jangan jauh jauh Nakmas..jika dalam radius beberapa tombak tak ada hewan buruan, kita makan ketela yang aku bakar saja..," pesan Narimo kepada Jaya.
"Iya paman." jawab Jaya sebelum meloncat diikuti Kumala yang berlari di belakang nya.
Keduanya melesat di sisi kiri mendekati hutan yang ada di lereng perbukitan tersebut.
Malam belum terlalu larut, dengan bantuan sinar bulan yang terlihat separuh sudah cukup membuat mata kedua pendekar tersebut bisa mengawasi seluruh penjuru dengan jelas.
Jaya mengangkat tangan nya, agar Kumala berhenti dan ikut mengendap endap saat di lihatnya serombongan kerbau liar tengah makan di sela sela pepohonan.
"Sstt..Dinda di sini saja, aku akan mendekati kerbau yang di sana," kata Jaya menunjuk ke arah kerbau yang menjadi sasaran nya.
Kumala mengangguk, "Aku akan mencegat sisi sana siapa tau hewan itu akan meloloskan diri ke sana," tunjuk Kumala ke arah sisi yang sebaliknya.
"Hati hati..," kata Jaya pelan, membaut dada Kumala makin berdebar dengan perhatian tersebut.
___________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....