Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Bertarung dengan kelompok Golok Naga


__ADS_3

Getaran di bumi saat hentakan ratusan kaki menginjak tanah terasa sangat jelas, apalagi di tambah seratusan kuda yang di pacu hingga membuat debu berterbangan.


Jaya, meloncat sangat tinggi, bukan meloncat sebenarnya... tapi terbang, namun itu tak di tampakkan pada orang orang yang ada di sana, kecuali kelompok Awan Putih.


Dari ketinggian tersebut Jaya bisa melihat ratusan orang yang tengah bergerak menuju di tempatnya berada saat ini, bersama kelompok Awan Putih di alun-alun Utara.


"Hmm, mungkinkah itu kelompok Golok Naga?," gumamnya pelan sembari mendarat di tanah lagi.


Gerakan lompatan Jaya tak pelak membuat semua mata terbelalak, termasuk Pelangi dan Kumala yang untuk kedua kalinya melihat hal tersebut.


"Bagaimana Nakmas?," tanya Lurah prajurit Sungkono.


"Nampak ratusan orang menuju kemari paman.'' sahut Jaya.


"Apakah pakaian mereka penuh dengan warna gelap?"


Jaya terdiam sesaat, "Benar paman."


"Apakah nampak bendera umbul umbul dengan gambar golok dan Naga?"


"Hmm," sahut Jaya sambil mengangguk, merespon perkataan lurah prajurit tersebut.


"Tak salah mereka kelompok Golok Naga..!," sahut Sungkono sedikit teriak.


Semua mengangguk mendengar penjelasan lurah prajurit tersebut.


"Mulai bersiap..,!, kita akan perang..!, menghadapi lawan hingga nyawa lepas dari kerongkongan kita..!," seru Sungkono, mengobarkan semangat anak buahnya yang hanya berjumlah sepuluh orang tersebut.


Pelangi yang melihat pemandangan tersebut tak terasa menitikkan air mata, merasa terharu dengan pengorbanan para prajurit kepada nya.


"Aku harus menyelamatkan orang orang tak bersalah ini." gumam Pelangi berjanji dengan pelan.


**


Dari arah barat daya kelompok Api suci juga bergerak makin mendekati Kotaraja Ngarsopuro.


Kali ini kelompok tersebut di pimpin oleh tetua Tapak Setan dan tetua Juraimo, dua orang petinggi dari kelompok Api Suci yang mendapat kepercayaan dari Dewa Api menjalankan tugas tersebut.


Mereka membawa dua kelompok pasukan yang tiap kelompok nya berjumlah seratusan orang.


"Kali ini kita harus berhasil menuntaskan misi ini." Tapak Setan nampak berbicara dengan sungguh sungguh kepada Juraimo.


"Aku setuju apa kata Tetua Tapak Setan, meski itu akan berat karena kelompok lain juga bergerak menuju kesana.''


"Dengan dua kelompok besar yang kita bawa seharusnya kita mampu mengatasi mereka semua tetua Juraimo."


"Ya semoga saja tetua, semoga dua ratusan anggota kita bisa bekerja dengan baik."


Sepanjang jalan keduanya bertukar pikiran mengenai strategi apa yang akan mereka gunakan.


**


Di istana sudah bersiap ribuan prajurit yang akan menghadang para pemburu pusaka tersebut.


Sejumlah lima ribu prajurit yang dimiliki kerajaan kecil tersebut terlihat sedikit panik karena mau menghadapi pertempuran itu.


Selama beberapa dekade tak pernah ada perang besar di alam ini, jadi wajar jika semua mengalami "Demam Panggung".


"Jangan lemah, tunjukan keberanian kalian di depan lawan lawan mu jika tak ingin di libas.!." teriak Senopati Kidang Semeleh mengobarkan semangat prajurit nya.


Kidang Semeleh yang bertugas di benteng gerbang belakang, terlihat sedang memberikan motivasi kepada prajurit bawahan nya, agar berani dan bersiap menghadapi lawan lawannya nanti.


**


Anuso Birowo, Suroloyo dan Pati Kerto berjalan paling depan dari kelompok nya.


Baju perang yang mereka kenakan seakan tak menggambarkan mereka orang dunia persilatan tapi seperti pasukan sebuah kerajaan, karena biasanya orang dunia persilatan tak memakai baju perang semacam itu.


"Kita hampir sampai di istana Ngarsopuro, aku perintahkan kalian semua bersiap," teriak Pati Kerto kepada pasukan berkuda.


"Kalian juga bersiap...!!," teriak Suroloyo, kepada prajurit pejalan kaki yang menjadi bawahannya.


Kelompok Golok Naga makin mendekat ke tempat Jaya dan rombongan nya menunggu pasukan tersebut.

__ADS_1


Kedua kelompok itu kini makin berdekatan, sebelum Suroloyo menyadari ada sekelompok orang terlihat menghadang nya.


"Tunggu ...!." teriaknya sambil mengangkat tangan nya, membuat seluruh pasukan tersebut terhenti.


"Ada Apa...??!!," tanya Anuso Birowo yang juga diikuti oleh Pati Kerto.


Suroloyo mengangkat tangan nya, kembali menunjuk ke arah depan dimana terlihat samar bayangan beberapa orang.


Anuso Birowo mengibaskan tangannya, "Tak usah takut...!." teriaknya dengan penuh rasa percaya diri yang tinggi.


Ketiga tetua Golok Naga itu kembali melanjutkan langkahnya mendekati kelompok Jaya yang sudah siaga.


Jaya dan rombongan sudah berdiri mengadang jalan orang orang tersebut.


Sesaat dua kelompok yang timpang jumlahnya tersebut saling berhadapan, dengan tatapan saling mengancam.


"Siapa kalian ??, kenapa menghadang kami..!, tak sayang dengan nyawa kalian hah..??!." teriak Suroloyo, menatap dan memutar pandangan ke arah orang orang yang berdiri menghalangi jalan.


"Ada apa kalian datang "ngeluruk" ke Ngarsopuro??." balas Jaya.


"Heh, memang apa perduli mu..??!, aku mau kemana saja itu urusan kelompok kami..!!." bentak Anuso Birowo meradang.


"Jika urusan kalian tidak menggangu orang lain masih bisa aku maklumi, namun jika kedatangan kalian ke negeri ini hanya ingin membuat huru hara, aku minta kau batalkan..!."


"APA...! di batalkan..!, kau masih waras berkata seperti itu bocah ha.. ha...ha..!!." sahut Pati Kerto sambil terbahak.


"Memangnya kalian siapa?? mengatur Golok Naga seenaknya..!!."


Jaya selangkah maju, menatap tiga tetua Golok Naga yang masih berada di atas kuda nya.


"Aku sudah memperingatkan kalian..!, jangan salahkan aku jika bertindak di luar batas kemanusiaan..!," ancam Jaya dengan tatapan menyala, mengerikan seakan ada kobaran bara dalam dirinya.


Entah kenapa kali ini Jaya tak bisa lagi menyembunyikan emosi nya, begitu merasa semua orang masih saja memburu Pelangi ....salah satu gadisnya.


"Hua..ha..ha...bocah mendem...!, kau mabok ya..!, berkata seperti itu kepada kelompok Golok Naga..!."


"Lihatlah sekeliling mu..?. berapa jumlah pasukan yang ku bawa, dan berapa jumlah pasukan mu..!, berani sesumbar...dasar ora waras..!, " ledek Anuso Birowo lagi sambil turun dari kudanya.


"Terserah apa katamu...!, tapi aku pastikan hari ini adalah hari pembantaian untuk kelompok Golok Naga..!, jika tak segera menghindar."


"Keparat...!!, berani membual..!! CINCAAANG...! MEREKA..!!.'' teriak Anuso Birowo kepada anak buahnya yang langsung berhamburan melesat menyerang kelompok Jaya.


Ratusan orang itu langsung membabi buta, menyerang dengan segala bentuk golok andalan mereka.


Ada yang berukuran kecil, namun ada juga golok yang super besar seperti milik Anuso Birowo.


Sriiing...! sriiing....!!


Sambaran golok berdesingan mengarah ke anggota Awan Putih dan prajurit yang dipimpin lurah Sungkono.


Traaang....traaang.....!!


Ratusan sabetan golok tersebut berhasil di hadang oleh orang orang Awan Putih, bahkan beberapa anggota Golok Naga langsung tumbang tertebas senjata Pitu Geni, empu Cipta guna, Sugara maupun Baroto.


CLAAAAPP...!! Pelangi langsung melepas jurus Mata Dewa, memerangkap lawan yang terlanjur maju tanpa perhitungan tersebut.


CLAAAAPP....!! BLAAAARR....!!


Disusul oleh lesatan jurus Mata Iblis Kumala yang mampu memecahkan pembuluh darah, bahkan meremukkan tulang mereka yang bertenaga dalam cetek.


Craaaash...!! craaaash...!!


Narimo dan para Prajurit langsung membabat lawan yang terperangkap jurus Mata Dewa.


"Aaarchh...!".


"Aaarchh...!!."


Jeritan kematian melengking dari orang orang Golok Naga.


Anuso Birowo dan Suroloyo yang menyaksikan pasukannya porak poranda, makin berang.


Golok sebesar papan, dengan lebar dua jengkal dan panjang lebih dari dua lengan pria dewasa itu melesat menghantam ke arah Jaya.

__ADS_1


JDUAARRT...!!


Senjata andalan dari Anuso Birowo tersebut menghantam tanah kosong menimbulkan suara ledakan.


Suroloyo yang bersenjata dua golok kembar sudah memutar mutar goloknya, menebas kearah Jaya yang berkelit menghindari hantaman Anuso Birowo.


Sriing.... sriiing....


Dua sabetan golok tersebut dengan mudah dihindari Jaya.


"Ciih..! licin juga rupanya bocah ini..!." Anuso Birowo kembali memutar senjatanya, menebas kearah Jaya berusaha membelah tubuhnya.


Meskipun golok tersebut lebar, besar dan panjang namun Anuso Birowo nampak tak kesulitan untuk


memainkannya.


TRAAAANG....!!


Jaya menangkis hantaman kuat golok Rakasa tersebut dengan tongkat Wesi Kuning.


DUAAAAR...!!


Dua gelombang kekuatan yang menerjang akhirnya lebur menjadi satu saat dua pukulan tersebut bertemu dan meledak lah dengan cukup keras.


Anuso Birowo terpelanting kebelakang dengan sedikit getaran di tangannya.


Sedangkan Jaya mundur beberapa langkah kebelakang.


Begitu melihat lawanya terdorong mundur setelah beradu pukulan, Suroloyo mencoba memanfaatkan celah dengan menyerang Jaya dari sisi kiri.


Sriiing... sriiing...


Sambaran dua golok tersebut kembali terjadi.


Jaya mengibaskan pedang Angin Puyuh di tangan kirinya, untuk menangkis dan meredam serangan tersebut.


Wuuuuusss... Wuuuuung..suara angin yang keluar dari pedang saat di kibasan.


DUAAAAR....!!


Dua serangan tersebut terpental oleh gelombang hantaman pedang Angin Puyuh.


Anuso Birowo maupun Suroloyo, makin penasaran, karena serangan serangnya berhasil di tahan oleh lawannya tersebut.


"Siapa anak muda ini sebenarnya?, dari kelompok mana dia berasal?."


Sementara Jaya makin meningkatkan kekuatannya, kini tongkat Wesi Kuning sudah makin berpendar.


"Lihat lah...anak buah yang kau andalkan..!" teriak Jaya, menuding kelompok Golok Naga yang kocar kacir meskipun jumlahnya masih banyak.


Anuso Birowo menoleh, dan memang keadaan pasukannya yang berjumlah banyak sudah porak poranda, terlempar ke sana kemari oleh hantaman pukulan maupun sambaran senjata lawan.


"Cuiih, setelah aku membungkam mu, aku akan bantu mereka...!," teriak Anuso Birowo sambil kembali memutar senjata golok jumbo nya.


Angin kuat tercipta dari putaran senjata tersebut, nampaknya Anuso Birowo sudah meningkatkan kekuatannya, di tandai dengan mengencang nya urat dan otot di tubuhnya.


Pun dengan Suroloyo sudah memainkan jurus pembuka dari Golok pencabut Sukma salah satu jurus kuat di sekte tersebut.


Jaya sudah menyiapkan Selaksa Ombak Menerjang dengan hawa Badai Matahari, yang dia fokus kan tongkat Wesi Kuning yang makin menyala.


HIAAAAAA....!!


Jaya melesat lebih dulu menghantam Anuso Birowo yang masih memutar golok raksasa nya.


BLEGAAAAART...!!


Perisai angin yang di ciptakan tetua utama Golok Naga untuk menyerang sekaligus pertahanan itu buyar terkena hantaman Jaya.


Suara ledakannya sangat keras, hingga melempar Anuso Birowo dan Suroloyo yang sebenarnya bersiap mengharamkan serangan nya.


___________


Jejaknya...jejaknya......jangan lupa..

__ADS_1


__ADS_2