
Si Codet terkesiap, melihat kemampuan penyusup tersebut.
"Setan....bocah setaan...! kemampuannya mengerikan." batin lelaki dengan luka di wajahnya itu, melihat hantaman Selaksa Ombak Menerjang mementalkan anak buahnya.
Bersama Pemimpin Agung lainnya, petinggi kelompok Orong Orong itu melesat.
Maju memainkan jurus andalan yang biasa mereka mainkan saat menghadapi lawan berat.
"Hujaan ..Pasir...!!."
Teriak ketiganya, memainkan jurus yang bernama Hujan pasir, sebuah jurus yang mengandalkan serangan lemparan senjata rahasia berupa jarum jarum beracun yang sangat halus.
Sreeet..!
Sreeett...!!
Ratusan jarum melesat kearahnya, dengan kekuatan daya tembus yang hebat.
Jaya meliuk, meskipun dirinya kebal senjata berkat zirah tameng jiwa serta Raga Abadi namun pemuda itu tak ingin bermain main dengan kekuatan lawan.
Tak ingin mengurangi lapisan Raga Abadi karena racun dari jarum tersebut, selagi masih bisa menghindar dan menangkis akan di lakukannya.
"Hiaaa...!."
Sambil meloncat menghindar, Jaya menarik pedang Angin Puyuh nya.
Wuuung....!
Traak...taak...taak...!
Memutarnya membentuk perisai buatan dan merontokkan ratusan jarum yang ada ke tanah.
"Seraaang...!." Nowangsa berteriak memimpin anak buahnya, memberikan perintah memyerang lawan, saat ketiga pemimpin agung menjeda serangannya.
Sriing...!
Sriiiing...!!
Sambaran puluhan senjata menghantam menghampiri Jaya.
TRAAANG...!!
Jaya menepisnya dengan pedang Angin Puyuh, gelombang tangkisan itu kembali melempar beberapa orang yang terbentur dengan senjata pedang Jaya.
"Aaaaaa.....!.''
Bruukk..!
Bruuukkk...!!
Badan badan anak buah kelompok Orong Orong berjatuhan, setelah terbentur dan terlempar beberapa tombak jauhnya.
Kembali tiga Pemimpin Agung kelompok penjahat itu melesat maju, ketika Jagoan kita menghadapi anak buah Orong Orong pimpinan Nowangsa.
"Hiaaa....!.''
"Hiaaa.....!."
"Hiaaaaa....!!."
Ketiganya kini melepas Pukulan beraura kuat mencoba menghantam badan Jaya.
__ADS_1
Jaya yang merasa bahwa lawannya tak bisa di ampuni memgerahkan dua pukulan berbeda di dua tangannya, seperti saat melawan Koloireng.
Tangan kiri terselimuti kabut karena jurus Gelombang Awan Menerjang, sedangkan tangan kanan sudah berpendar akibat jurus Badai Matahari yang mulai aktif.
"HIAAAA...!!."
Jaya menyongsong ketiga lawannya yang melompat dengan memukulkan pukulannya.
BLaaaasssh...!
BLAAAAARRR....!
Pukulan keras ketiga Pemimpin Orong Orong itu terhenti dan terserap oleh kabut di tangan kiri Jaya, di tandai dengan makin menipisnya kabut itu, mengurai ke udara.
Di susul suara ledakan keras dari hantaman Badai Matahari, yang memancar mengenai ketiganya.
Kisnadar Pati yang berada di tengah antara dua rekannya, paling banyak terkena imbas pukulan Badai Matahari itu, badannya langsung terbakar, terutama bagian dada, muka dan dua lengannya.
"Aaaaaaaa....!!" lengkingan suara Kisnadar Pati terdengar memilukan.
Sementara itu Marunda Wiji dan si Codet alias Mandar Suji hanya sebagian saja badannya yang terkena imbas Badai Matahari, meski begitu mereka juga menjerit kesakitan, tanaga dalamnya tak mampu meredam ganasnya panas Badai Matahari.
"Aaarch..!"
"Aaarch..!." rintih keduanya, dengan muka pucat.
Nowangsa kembali memerintahkan anak buahnya menyerang, namun sebelum orang orang itu bergerak, Jaya sudah meloncat mendekat menghantamkan Badai Matahari.
BLEGAAART....!
"Aaaaaaa...!."
"Aaaaaaaa.....!!."
Si Codet alias Mandar Suji terbelalak matanya, wajahnya makin pias melihat keganasan lawan.
Melirik Kisnadar pati, tak lagi bergerak badannya terlihat paling gosong mungkin sudah mati, beralih ke anak buahnya yang sudah bergelimpangan termasuk Nowangsa, juga dalam keadaan mati.
Di dekatnya Marunda Wiji, meringis kesakitan, sebagian badannya juga terbakar seperti dirinya.
Keduanya saling lirik, seakan mengerti apa artinya, kemudian sedikit mengangguk sebelum dengan kesusahan mengambil langkah seribu...Kabur, meninggalkan semuanya denagn terseok seok.
Jaya membiarkan semua yang bisa lari meninggalkan tempat tersebut, tanpa kecuali.
**
"Biarkan mereka kabur..!, kita sudah memberikan pelajaran kepada para rampok ini," kata Koloireng kepada Kumala dan Pelangi.
"Iya kek."
"Iya guru.."
"Mari kita bergabung di bukit sebelah, nampaknya mereka masih terlihat bertempur," ajak Koloireng, sambil menatap di bukit yang ada di seberang.
Sarwono makin resah, melihat kedatangan serombongan orang yang di yakini adalah kelompok lawan.
Dan memang benar, begitu mendekat Baroto langsung menyerang lawannya dengan sarung tangan cakar Rajawali di tangan kirinya dan tangan kanannya sudah menghitam menandakan jurus Tinju Baja sudah diaktifkannya.
"Hajaar...jangan kasih ampun..!," teriak Baroto.
Craaak...!
__ADS_1
craaakk...!!
Cakar Rajawali mulai menebas, menggores dan merobek lawan, membuat sarwono sang pemimpin pasukan makin gemataran.
Anak buah perampok Orong Orong yang berjumlah ratusan itu kini hanya tinggal puluhan orang saja, dan itu membuat Sarwono blingsatan saja.
Kedatangan Koloireng bersama Kumala dan Pelangi langsung membuat anggota perampok itu tercerai berai melarikan diri, di awali oleh Sarwono yang meloncat menjauh dan terbirit birit.
**
Jaya berdiri di dekat kereta barang yang kini sudah di keluarkan dari tempat gudang harta.
"Aku akan menghancurkan tempat ini, tapi masih ragu jangan jangan di salah satu tempat ada anak anak dan perempuan," gumamnya dengan sedikit kebingungan.
"Gudang harta sudah aku hancurkan, tinggal dua rumah dan beberapa lorong gua yang belum aku periksa."
Jaya meloncat menuju ke rumah utama, bangunan yang tampak paling megah dari ketiga bangunan tadi.
Di bukanya hunian tersebut, tampak lengang hingga Jaya masuk lebih dalam lagi, dan tak di dapati nya kehidupan.
"Hmm, apa ini hanya markas sementara? kenapa tak ada kehidupan selain para laki laki?," kata Jaya pelan, matanya memutari area tersebut.
Setelah dirasa benar benar tak ada kehidupan lain Jaya mundur lalu menghantamkan Badai Matahari.
BLEGAAAARTTT...!!
Gelombang panas yang di hasilkan dari pukulan itu langsung membakar rumah megah yang ada di jurang itu.
Asap hitam membumbung tinggi, mengepul ke angkasa membuat langit menjadi gelap sesaat.
**
"Pasti itu markas para perampok ini..!," kata Koloireng, mematap asap yang membumbung tinggi di kejauhan.
"Benar sesepuh, aku kira nakmas junjungan sudah berhasil membumi hanguskan markas mereka." sahut Pitu Geni menimpali.
"Sebaiknya kita susul ke sana untuk memastikannya," potong Pelangi, ikut menatap di kejauhan dimana asap hitam membumbung tinggi berasal.
"Benar." kata Kumala, " Aku juga penasaran, dan mengkhawatirkan Kakang."
Segera rombongan itu bergerak menuju asal asap itu berada.
"Semoga kita tak selisipan dengan kakang Jaya," kata Pelangi pelan kepada Kumala yang di sampingnya.
"Iya..adik, semoga saja." sahutnya.
Kali ini Koloireng menjadi kusir kereta kuda dengan dua gadis duduk di belakangnya.
Setelah menuruni beberapa lembah akhirnya rombongan itu sampai di markas kelompok Orong Orong, yang kali ini jalurya tentu berbeda dengan masuknya Jaya ke markas itu.
"Naah..itu Nakmas bendoro..!." teriak Narimo, mengagetkan semuanya, sambil menujuk ke arah gua yang ada di sisi kanan dimana orang orang tak melihat ke arah sana.
Pelangi dan Kumala langsung tersenyum lebar, rasa lega jelas terlihat di wajah kedua gadis itu.
Jaya menoleh ke arah rombongan yang baru datang, bibirnya mengulas senyuman saat menyadari jika yang datang kelompok Awan Putih anggotanya.
"Waah..kita sudah terlambat, Nakmas telah membereskan semuanya di sini." Koloireng meloncat dari kereta, mendekat ke arah Jaya.
"Namun ada beberapa yang berhasil meloloskan diri," balas Jaya lalu tersenyum ke arah pria tua tersebut.
Koloireng balas tersenyum, "Tak apa, setidaknya kita sudah memberi pelajaran mereka hari ini, dan mengurangi orang jahat."
__ADS_1
____________
Jangan lupa jejaknya....