
Dengan tanpa malu dan ragu dua kelompok mendekat ke arah Awan Putih, di awali oleh kelompok partai Es Abadi.
Begitu kelompok tersebut mendekat orang orang dari kelompok Awan Putih dan seluruh yang bernaung di dalamnya langsung menyongsong dengan melindungi kelompok tersebut, mengambil alih lawan yang menyerangnya sejak tadi.
Pemimpin kelompok pasukan Iblis yang sejak awal bertarung selalu merepotkan dengan menjadi lawan dari Tetua Utama partai pengguna ekement Es itu sudah di sambut Jaya.
"Istirahatlah sejenak Tetua, Pulihkan tenaga mu, biar aku hadapi lawanmu ini..," perintah Jaya yang tak mampu di tolak Sukat Jaladri, karena jujur dirinya sudah kewalahan sejak tadi.
Sesosok Iblis yang telah menjadi lebih besar hampir dua kali badan Jaya kini sudah berdiri mematung di depan Jaya.
"Grrroooohhh..!!."
Tampak sang Iblis terlihat murka begitu lawannya berganti.
Iblis yang tak bisa berbicara bahasa manusia tersebut terdengar mengeluarkan suara yang jika artikan mungkin meracau dan jengkel, karena belum mampu mengalahkan lawannya malah sudah berganti lawan.
"Aarrgg..Grriih...oerh..kraskuhkrook..!," tiba tiba Jaya mengeluarkan suara yang membuat Iblis itu membelalakkan matanya.
"Sekarang kau lawan aku..!," teriak Jaya dengan bahasa Iblis (Jangan lupa Jaya adalah bekas Dewa Perang yang tentu saja di anugerahi ilmu bahasa berbagai makhluk)
Keduanya bercakap cakap sesaat, di tengah keterkejutan sang Iblis, "Siapa kau..? kenapa bisa berbicara bahasa kami?."
"Hmm, aku hanya makhluk yang kebetulan ada di alam ini.., dan kebetulan harus menumpas kalian..!." jawab Jaya dengan enteng.
"Keparaat..!!, jangan kau kira hanya bisa berbicara bahasa iblis kau mampu mengalahkan aku..!," seru Iblis tersebut dengan wajah kian garang.
"Aku Iblis Sokacukilo..!, salah satu senopati yang memimpin pasukan iblis, akan memotong lehermu dan menjadikan badanmu sebagai santapan ku..!." bentak iblis tersebut.
"Coba saja ..!, siapa yang akan mati di sini ..kau Sokacukilo atau aku Cakra Tirta Sanjaya..!," balas Jaya menyebut nama aslinya.
"Aaarrgghh...aku akan mencabik cabik ragamu..bocah manusia...!."
Begitu selesai berteriak, Sukacukilo langsung meloncat menyambar Jaya dengan cakar juga tombak pisaunya.
Sriiiing...!
CRAAAAKKK..!!
Sambaran Cakar tersebut di tangkis dengan apik menggunakan perisai Wojo Digdoyo, dan sabetan senjata sang Iblis di tangkis dengan tombak Kyai Seto Ludiro.
TAAANG...!!
Benturan keras terdengar saat dua senjata kuat tersebut beradu.
"Keparat..! kuat juga kau..!." sedikit terhenyak Sukocukilo, dengan hasil benturan tersebut.
Meskipun badannya dua kali lebih besar saat ini, namun akibat benturan itu lengannya seperti tersengat ribuan lebah menjadi mati rasa.
Jaya hanya mendesis, makin menambah tenaga yang mengalir di dua lenganya.
Zirah Tameng Jiwo langsung berpendar, seakan menyadari jika tuan sang pemiliknya membutuhkan kekuatannya.
__ADS_1
Kekuatan yang meluap luap lalu melingkupi seluruh badan Jaya seketika itu.
"HIAAA..!!."
Jaya meloncat terlebih dahulu, melesat melakukan serangan.
Tombaknya meluncur membelah udara langsung menghujam ke arah dada Sukocukilo.
Wuuuss...!!
Sang Iblis tercekat, menyadari kuatnya serangan lawan, dengan berteriak Sukocukilo meningkatkan kekuatanya mencoba menyibak tusukan tombak Jaya.
DUAAANG...!!
Dengan kuat Sukocukilo menghantam menangkis tusukan tersebut, namun kuatnya tusukan itu membuat sang iblis terhuyung mental ke samping, tapi itu malah menyelamatkan nyawanya.
Sementara itu pasukan Iblis, Layon dan sisa manusia anggota Jiwa Abadi lainnya tengah bertarung dengan anggota Awan Putih yang bergabung dengan sisa anggota partai Es Abadi.
Pertarungan yang semula sangat berat bagi anggota pengguna ekement air tersebut kini terasa ringan dengan adanya campur tangan kelompok Awan Putih.
**
Iblis Wora dan Wari tengah berada di bagian tengah padang Selayang Pandang.
Masih mencoba mencari keberadaan dari pencuri pusaka Paku Jagat.
Setelah pusaka itu di cabut dari dasar bumi, portal dimensi yang di buat oleh kedua iblis tersebut akhirnya buyar dan menghilang.
Itu berarti para iblis akan terjebak di alam manusia tak akan bisa lagi balik ke alam Iblis karena membuat portal dimensi yang tak stabil akan berbahaya tubuhnya bisa hancur atau bahkan tersesat di alam Antara atau alam Ngare Suwung, alam yang berada di luar alam Dewa, alam Manusia dan Alam Iblis.
Dua iblis itu masih menelisik memindai kira kira ada di mana pencuri tersebut.
Dua iblis berpencar, satu menuju ke arah Api Suci dan satunya menuju ke arah Naga Hijau.
Mereka bergabung dengan pasukan Jiwa Abadi yang sudah menggempur dua kelompok tersebut.
"Hancurkaan..!!." teriak Iblis Wora kepada anak buahnya yang masih menggempur Api Suci.
Ketua kelompok Jiwa Abadi itu terjun langsung menggempur kelompok yang kini tengah mendekati porak poranda itu.
Nambi Tosa dan juga dua sesepuh terlihat betul betul keteteran menghadapi para Iblis dan Layon.
Moncong Putih dan Raja Api dari Utara kini tengah berjuang mati matian mempertahankan nyawanya dari serangan para Layon yang di bantu para Iblis.
Dua sesepuh itu di gempur habis habisan, hingga tak mampu lagi "menoleh" ke arah yang lain karena untuk menyelamatkan nyawanya sendiri saja harus berjuang sekuat tenaga.
Kini datang lagi sang Tetua Jiwa Abadi, tentu saja makin hancur lebur kelompok pengguna element Api tersebut.
Crasssh...!
Craasshhh..!!
__ADS_1
Sreeett...!
Terdengar sabetan sabetan senjata yang menyasar tubuh anggota Api Suci di susul teriakan kematian anggota kelompok tersebut.
Nambi Tosa, Moncong Putih dan Raja Api makin pias wajahnya, nampaknya kelompok tersebut sebentar lagi akan tinggal nama saja di berantas oleh Jiwa Abadi.
"Kita harus berlindung, jika masih ingin bernafas..!," teriak Moncong Putih.
"Ya...meski terkesan pengecut, tapi tak ada pilihan lain." balas Raja Api sambil meloncat, menepi.
Nambi Tosa juga berlaku sama, ketiga petinggi itu meloncat lari meninggalkan arena pertarungan tersebut selagi para Iblis dan Layon membantai sisa anak buah Api Suci.
**
Tak berbeda dengan kelompok Api Suci, Naga Hijau makin parah lagi.
Bahkan para tetua kini sudah terpontang panting menyelamatkan nyawanya sendiri.
Joko Lodro sang Tetua Agung kini bahkan tengah di bantai oleh dua Layon yang terlihat sangat tangguh.
Dua Layon tersebut adalah Sepasang Golok Setan, dua tokoh yang pernah merajai dunia persilatan sebelum di taklukkan dua iblis dan di rubah menjadi tentara mayat hidup.
Serangan dua Layon itu begitu dinamis dan terarah, seakan tak ada celah hanya untuk sekedar mengimbanginya saja.
Sekuat tenaga Joko Lodro menahan serangan dua Layon tersebut meski akhirnya harus menyerah juga.
Craaashhh...!
Sabetan golok dari salah satu Layon itu menebas hingga membus zirah Naga yang di pakainya.
Kekuatan zirah Naga yang selama ini di andalkannya ternyata tak mampu meredam ganasnya golok Layon tersebut.
Sabetan itu membuat luka menganga di perut sang tetua Agung tersebut.
Craaaakkk....!!
Satu lagi sabetan golok Layon membelah punggung Joko Lodro.
"Aaarcch...!."
Tokoh sakti dari kelompok Naga Hijau itu menjerit, ketika punggungnya terbelah memancarkan darah segar dari luka tersebut.
Joko Lodro luruh ke tanah, ambruk namun masih tersengal nafasnya sebelum akhirnya sesosok iblis menerkam selayaknya harimau memangsa buruannya lalu di susul yang lainnya, menubruk dan mencabik saling berebutan mangsa.
Si Cakar Naga dan Pendekar Pedang Naga begidik ngeri melihat pemandangan tersebut.
Rasa jerih langsung menghampiri hati keduanya, apalagi tak jauh dari sana para tetua juga sudah di bantai lawannya.
Kamarunto, Kebo Maheso sudah tinggal nama, Jero Pamungkas dan Argo Jenar juga menyusul saat keduanya di jadikan rebutan oleh para iblis, badannya di tarik kesana kemari hingga terputus tangan dan kakinya sebelum di santap oleh para iblis.
Bogananta salah satu tetua dari Naga Hijau akhirnya meloncat berlari meninggalkan tempat tersebut bersama dua sesepuh yaitu si Cakar Naga dan Pendekar Pedang Naga, mencari perlindungan ke sisi Timur.
__ADS_1
____________
Jangan lupa dukungannya...