
"Nakmas jangan nekat..!!," teriak Respati yang sudah meloncat di atas pepohonan, mengindari asap tipis yang biasa di sebut racun Uap Naga.
Jaya Sanjaya tak menggubris nya, dengan mantap berjalan saja ngeloyor berjalan tak ada takut takutnya terhadap racun tersebut.
Respati ternganga melihat pemandangan di depan matanya.
"Setaaan...Demiiiit...!," teriaknya tertahan sambil menutup mulutnya melihat dengan cekatan Jaya berlari menerabas racun Uap Naga tanpa teracuni.
"Ini orang apa Dewa...??, kenapa tak mempan terhadap racun Uap Naga..?," batin Respati dengan mengikuti langkah Jaya yang menerabas racun itu, berayun ayun dari satu pohon ke pohon yang lain.
Keduanya terus melaju menerabas lebatnya pepohonan yang berbalur racun Uap Naga.
Terdengar di kanan kiri gerakan orang orang yang juga berloncatan menuju ke pusat jurang, melompat dari pohon ke pohon menghindari keganasan racun Uap Naga itu, seperti Respati.
Semua orang sudah sampai di ujung kaki gundukan tanah yang lebih tinggi dari yang lainnya, sehingga racun Uap Naga tak bisa menjangkau di sana.
Ternyata wilayah tersebut masih cukup luas dan lebat pepohonan nya.
Berdiri di sana dua pendekar yang bergelar Sepasang Raja Pedang, sedikit di kiri ada Tongkat Iblis dari Alas Wetan, Lalu ada kelompok Iblis Pemusnah, terus orang orang desa Pucung, di sebelah kanan nampak pasukan partai Es Abadi dengan Ratu Dewi Mata Iblis yang nampak berbinar melihat kedatangan Jaya Sanjaya.
Jaya menolehkan pandangannya menatap ke arah perempuan dewasa yang terlihat cantik dengan senyuman yang nampak menggoda nya.
Jaya hanya membalas senyuman lebar sang wanita dengan senyuman kecil nya, tapi itu sudah cukup membuat Cempaka makin berbinar wajahnya.
Di sebelah yang lain nampak para pendekar dari berbagai kerajaan yang tak terlalu di kenal namanya meski sebenarnya memiliki kemampuan yang tak bisa di remehkan, salah satunya yang bergelar si Pemakan Arwah dan Pendekar Gila.
Semua menatap ke arah puncak gundukan tanah yang lebih tinggi di mana di mungkinkan pusaka itu ada di sana, kecuali Ratu Dewi Mata Iblis yang lebih tertarik menatap ke arah Jaya Sanjaya.
Tak ada yang lebih menarik perhatian nya selain ketampanan pemuda tersebut bagi dirinya.
"Tidak ada yang boleh naik ke atas puncak altar selain kelompok kami..!!," sebuah teriakan mengema rupanya mereka dari kelompok partai Es Abadi, karena Ki Brengos yang sudah berkata dengan berkacak pinggang.
Orang orang desa Pucung langsung maju menatap ke arah para pengguna element Air itu dengan sinis.
"Kau pikir kelompok mu yang terhebat di sini..?, kami tidak takut dengan permainan kekuatan Es mu," kata salah satu orang dari desa Pucung.
Kedua kelompok sudah saling berhadapan, ketegangan sudah nampak dari tatapan keduanya.
"Kalian dari mana..?, berani menantang kami partai Es Abadi..!.," kata Ki Brengos dengan jumawa.
__ADS_1
"Kami dari desa Pucung..ku kira kau tau artinya apa..?," sahut satu orang dari desa Pucung sambil mengangkat sumpit nya.
"Baik..!, karena kalian sudah menghadang Ayo kita buktikan siapa yang terbaik di sini..!." kata Ki Brengos mulai mengeluarkan pedang dengan aura dingin menusuk.
Orang orang desa Pucung langsung mengatur formasi, sebagian memposisikan diri setengah duduk mengeluarkan beberapa buntalan di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang senjata andalan masing masing.
Pun demikian dengan anggota partai Es Abadi, mereka sudah memainkan senjatanya membuat hawa dingin langsung tercipta di sana.
"Seraaaaang...!!."
Seraaang....!!._
Perintah penyerangan di teriakan oleh pemimpin masing-masing kelompok, sehingga pertarungan langsung pecah di antara kedua belah pihak.
"Bubuk Bunga Surga...!!."
Orang orang dari desa Pucung langsung menabur bubuk racun yang berubah menjadi asap tipis begitu terkena udara.
Benteng Badai Es
Sedangkan partai Es Abadi yang mengetahui hal itu langsung mengeluarkan jurus yang merubah udara menjadi partikel Es, lalu menyapunya sehingga bubuk racun yang terperangkap oleh butiran butiran kecil air tersebut langsung musnah.
Trraang...! traaang...!!
Suara dentangan senjata terdengar bersahut sahutan, menjadikan jurang yang semula sunyi senyap kini riuh oleh teriakan teriakan orang yang bertarung.
"Hiiaaaa...!!.''
"Heaaaa...!!.''
Dua kelompok itu makin seru beradu kekuatan.
Semetara itu kelompok Iblis Pemusnah yang berniat menaiki gundukan altar nampak di hentikan oleh si Pemakan Arwah dan Pendekar Gila yang telah berkongsi untuk golongan hitam.
"Tak akan ku biarkan kau menaiki tempat ini menuju altar !!," kata si Pemakan Arwah yang sudah melesat di susul Pendekar Gila.
Lima orang Iblis Pemusnah terlihat mendengus gusar saat dua sosok sudah menghadang mereka.
Dua sosok yang nyata nyata dari golongan hitam ini terlihat sudah menatap tajam lima lawannya.
__ADS_1
Mereka yang sama sama dari golongan hitam sudah cukup tau kemampuan masing masing, hanya saja Kelompok Iblis Pemusnah masih suka menutupi kedoknya dengan bergaul bersama kelompok golongan putih, maupun para pejabat kerajaan di Pati Sruni karena mereka lah pendukung di balik layar di Kerajaan Agung tersebut.
"Aku tau kau Pemakan Arwah dan Pendekar Gila, meskipun kau memakai pakaian yang tak biasanya disini..!," seru salah satu dari Iblis Pemusnah yang dahinya ada coretan garis putih satu.
Pemakan Arwah dan Pendekar Gila hanya mendengus kedoknya terkuak di sana.
"Aku juga tahu siapa kalian, dan untuk siapa kau bekerja mendapatkan semua ini .?."
"Sekarang kita tak perlu berbasa basi, ayo kita mulai pertarungan ini..!," kata Pendekar Gila menimpali perkataan si Pemakan Arwah.
Dua orang itu sudah mengeluarkan jurus yang membuat asap hitam keluar dari kepalanya.
"Ayo kita mulai..!!."
Teriak keduanya dengan melesat maju menghantamkan pukulan masing masing.
Pemusnah Arwah menghantam kan pukulan jurus Lima jari Arwah yang di mainkan dengan pedangnya.
Sedangkan Pendekar Gila menghantamkan pukulan jurus Awan Gelap Petir Menyambar yang dimainkan dengan Tingkat hitamnya.
Dua kelompok pertarungan itu kini membuat jurang tersebut makin terdengar hiruk pikuk.
Kini tinggal empat kelompok yang masih termangu menatap ke arah altar yang masih jauh di depan, Sepasang Raja Pedang, Tongkat Iblis, Partai Es Abadi dan tentu saja Jaya Sanjaya yang bersama Respati Benowo.
Sepasang Raja Pedang dan Tongkat Iblis kini sudah saling berebutan untuk bergerak naik ke gundukan tanah yang lebih tinggi lagi.
"Kita bisa berkongsi mendapatkan nya..? bagaimana menurut mu..?." usul Singo Dimejo salah satu Sepasang Raja Pedang, yang diangguki oleh rekannya menatap Tongkat Iblis.
"Ya ..lebih begitu..karena rasanya akan sulit menghadapi mereka," kata Tongkat Iblis sambil menatap lawan lawannya yang masih bertarung dengan seru.
Kini hanya tinggal Jaya Sanjaya dan Respati yang masih berhadapan dengan kelompok Mata Iblis anak buah sang Ratu Dewi Mata Iblis.
"Apa kau mau mengalah Tampan..!.," bisik Ratu Dewi Mata Iblis dengan suara jarak jauh yang dikirimkan, sambil menatap Jaya penuh minat.
Jaya Sanjaya hanya tersenyum miring, sedikit menggeleng pelan menatap sang Ratu, menandakan dia tak mau mengalah untuk urusan ini.
__________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....
__ADS_1