Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Gagak Hitam resmi Bergabung


__ADS_3

"HENTIKAN....!!.''


Sebuah teriakan terdengar keras, menghentikan dua orang yang masih bersitegang tersebut.


Semua menoleh, Jaya sudah berdiri disana, menatap ke arah Prono condro yang masih merentangkan kedua tangannya, seakan menantang semua orang.


"Siapa kakek ini?." tanya Jaya sambil menatap sang kakek.


"Siapa kau tanya tanya..?!!," teriak Prono condro, dengan galak, merasa hanya anak muda, tapi malah ikut campur disana.


"Dia bernama Prono condro..tetua," bisik salah satu penjaga, yang tadi mendengar perkataan sang kakek saat mengenalkan dirinya.


"Prono condro..?." Jaya mengulang nama tersebut, mencoba mengingat ingat nama itu, namun tak mengingat apapun.


"Siapa kakek? apa benar bernama Prono condro?." tanya Jaya menegaskan, menghadap kearah sang kakek.


"Huh, kalau benar kenapa?, siapa kau memangnya tanya tanya?.'' kembali sesepuh Gagak Hitam itu mendengus marah kepada Jaya.


"Aku Jaya Sanjaya, tetua dari Kelompok Awan Putih."


Prono condro mengerjap ngerjapkan matanya, mengucek nya sesaat tak percaya.


"Jangan bergurau kau bocah..!, ini bukan waktunya untuk itu, jangan jangan kau mendem kecubung..!."


Jaya hanya melangkah maju tak menggubris perkataan sang kakek, makin mendekati Prono condro.


"Apakah tampang ku tampak seperti badut? yang suka bergurau?."


Prono condro menatap anak muda didepannya. "Aku akan menguji mu...!," teriak Prono condro langsung melesat menghantam dada Jaya Sanjaya.


Wwwuuuss...!


Sebuah pukulan melayang menyasar badan Jaya.


Dengan sigap Jaya menangkis hantaman tersebut dengan menyilangkan tangan nya.


DAAAARR....!!


Hantaman tersebut lenyap, bahkan gelombang pukulan yang sempat terpercik tadi langsung padam, tertangkis lengan Jaya.


"Hmm, lumayan juga kau..!!.'' puji pria tua tersebut.


Kembali Prono condro memainkan jurus nya, menyerang dengan dua tangannya, gerakannya makin cepat dengan kekuatan yang di tingkatkan.


Wuusss...


Wuuuuusss..


Sambaran sambaran serangan Prono condro bertubi tubi menghampiri Jaya, namun semua dapat di mentahkan nya.


"Sekarang giliran ku..!!," teriak Jaya keras, bergerak melesat menyerang balik dengan hantaman langsung mengarah ke badan sang kakek.


Sebuah hantaman jurus Manggar Pecah, dengan gelombang kekuatan Selaksa Ombak Menerjang menghantam dada pria tua itu.


"Haaah..!."


Sedikit kaget dengan kecepatan dan gelombang kekuatan yang lawan hasilkan, Prono condro menagkis serangan tersebut.


BLAAAAAARR...!!


"Uuughh..!," sedikit mengeluh kakek itu terpental, kebelakang.


Jaya masih berdiri tegar di tempat nya.


Mata Prono condro sedikit terbelalak, mendapati kenyataan tersebut, dirinya terpental dan lawannya masih kokoh di tempat nya.


"Hmm, hebat juga kau bocah..!." lalu kakek itu menarik nafas, meningkatkan kekuatannya, hingga nampak asap mengepul sedikit dari badannya.


"Dasar orang tua ngeyel..!!," seru Jaya, kini tangannya sudah berpendar sebatas lengan, menandakan Badai Matahari sudah di kerahkan nya.

__ADS_1


"Ayo kita mulai lagi.., HIAAAAA...!." teriak Sesepuh Gagak Hitam, meloncat menghantamkan pukulannya yang mengandung kekuatan hebat.


BLEGAAAART..!!


"Aaaarrrghghhh...!."


Jeritan keras terdengar saat badan kakek itu, terlempar dengan lengan dan dada terbakar Badai Matahari.


Sesaat sosok tua itu terdiam, namun lambat tapi pasti semua badannya pulih kembali seperti sedia kala.


"He.he..he..., kau memang hebat anak muda.."


Jaya yang menyaksikan itu langsung tersadar siapa sosok tua di depan nya.


"Hmm, Gagak Hitam rupanya.''


"Ya...aku sesepuh nya." sahut Prono condro sambil berusaha bangun dengan meringis, bagiamana pun sisa sisa rasa sakit masih ada di tubuhnya.


Jaya menatap lelaki tua itu, "Apakah kau ingin melanjutkan pertarungan kita?, atau perlu ku hentikan kerja Cacing Darah Sarma Pala yang ada di jantungmu?."


Mendengar perkataan Jaya, sang kakek langsung pias wajahnya, berdiri kemudian menjura penuh hormat, "Maafkan kekurang ajaran ku Tetua.'' sahutnya dengan takzim.


**


Ki Dupa berdiri menatap dua Golok Kembar yang terlempar dengan tatapan sinis.


"Untung ajian Gelap Ngampar ku tak ku kerahkan semua..!," seru nya dengan gaya arogan.


Mandar Selo dan Mandar Benowo masih terkapar dengan lengan terbakar oleh hawa petir ciptaan Ki Dupa.


Ki Dupa melihat sekeliling, merasa ilmu Kanuragan nya paling hebat.


"Siapa mau mencoba ajian Gelap Ngampar ku?." sahutnya merentangkan kedua tangannya.


Sekelebat bayangan langsung meloncat ketengah arena, kini berdiri di depan sosok yang menumbangkan Golok Kembar.


Sosok baju merah yang tak lain adalah Agni Mahesa Suro, sudah berdiri di depan Ki Dupa.


Ki Dupa menatap tajam sosok di depannya.


"Siapa kau?, tak inginkan kau mengenalkan diri mu?."


"Aku Agni..., Agni Mahesa Suro..!."


Ki Dupa mencoba mengingat nama tersebut, namun tak di kenalnya.


"Benarkan kau ingin mencoba kekuatan ku..!."


Ketegangan langsung terjadi, sebenarnya pihak panitia sudah ingin menghentikan perseteruan tersebut, karena tidak seperti itu alur pemilihan nya, namun di urungkan saat dua orang di arena mengangkat tangan tanda "jangan di ganggu".


"Ya..aku ingin mencoba Gelap Ngampar dari penggunanya..!, apa sehebat itu, atau lebih hebat Kilat Api jurus andalan ku." sahut Agni Mahesa Suro dengan dingin.


Ki Dupa merasa ditatang dan mulai meradang.


"Cuiih..!, akan aku tunjukkan kepada mu kisanak..!!."


Ki Dupa langsung terbakar amarahnya, mulai mengeluarkan kekuatannya, memainkan gerakan gerakan yang membuat loncatan kecil api di sekitar lengan nya.


Pun demikian dengan Agni Mahesa Suro, dia juga sudah menarik nafasnya, menyimpan oksigen di paru paru nya, dengan kekuatan tubuh nya mengubah udara kaya oksigen tersebut menjadi elemen Api yang mulai berloncatan di tangannya.


"Ayo mulai...!," seru Agni Mahesa Suro.


"HIAAAAA....!!."


Ki Dupa melesat, meloncat cepat menghantamkan pukulannya mengarah ke badan Agni Mahesa Suro.


Lengan pria itu menghitam menyambar tangan Agni Mahesa Suro yang membara.


KREEEETTEEK...!

__ADS_1


Dua kekuatan yang berinti petir itu bertemu, dengan sebelumnya terdengar suara kilat menyambar dan terjadi lah ledakan keras.


BLAAAAAARR.....!!


Dua kekuatan panas yang hebat bertemu dengan dahsyat, terdengar ledakan keras disertai pecahnya hawa pukulan yang menyebar mengahantam orang orang di sekitarnya.


"Aarch..!."


"Uugh..!."


Keduanya terdorong mundur, namun Ki Dupa lebih jauh kebelakang, sedang Agni Mahesa Suro hanya mundur dua langkah saja.


Dengan cepat legenda Api Suci itu, menghisap udara kembali dan mengisi kekuatan nya.


Ki Dupa langsung pucat wajahnya, melihat lawannya masih kokoh di tempat nya berdiri tegak.


Seorang panitia langsung melesat meloncat ke arena menyelamatkan para unggulan di perekrutan pemimpin pasukan khusus tersebut.


"Hentikan...!, kalian berdua lolos ke babak berikutnya, dengan tuan Agni berkesempatan menjabat kursi yang lebih tinggi tentu saja.." seru panitia tersebut.


Ki Dupa hanya mengangguk, memang seperti itu kenyataanya.


**


"Aku mewakili kelompok Gagak Hitam, bergabung dengan kelompok Awan Putih Nakmas Bendoro." sahut Prono condro.


Jaya tersenyum, mengangguk menatap pria tua di depannya.


"Terima kasih kakek Prono condro, mau bergabung dengan kelompok ini, karena ke depannya tantangan akan semakin berat."


Keduanya berbincang berdua dengan serius dan cukup lama, kebanyakan Prono condro menceritakan tentang perjalanan hidupnya hingga bisa seperti ini.


Jaya sedikit terkejut dengan cerita sang kakek, "Sosok Iblis?."


"Benar, Nakmas.. Iblis, iya...benar benar iblis sungguhan," sahut sang kakek dengan wajah serius.


Meski Jaya hafal bagaimana rupa iblis, namun pura pura tak tahu.


"Bagaimana memang rupa dua Iblis tersebut?." pancing Jaya.


Prono condro menghela napasnya, menceritakan wujud dua tokoh Jiwa Abadi tersebut.


"Di kepalanya ada dua tanduk, disini dan disini, matanya besar merah dengan sudut agak turun kebawah, dan bertaring."


"Lidahnya bisa sedikit memanjang, terkadang ada yang bercabang seperti ular, karena dari dua iblis itu satu lidahnya bercabang dan satunya tidak."


"Yang satu kulitnya sedikit kehijauan dan yang satu kehitaman meski secara fisik wujud nya sama persis karena kembar."


"Di kulitnya ada bulu bulu kasar seperti bulu kerbau jika Nakmas ingin tahu."


"Badannya tinggi menjulang hampir satu setengah kali tinggi Nakmas Jaya, dengan sedikit bungkuk seperti punuk sapi," sahutnya panjang lebar menceritakan tentang dua sosok yang pernah memberikan cacing darah Sarma Pala kepadanya.


Jaya mengangguk angguk, pikirannya menerawang jauh ke zaman dahulu.


"Apa ini perasaanku saja atau memang aku mengenal iblis ini? apakah mereka dua iblis yang lolos dari peperangan waktu itu?"


"Jika memang mereka iblis baru, pasti akan datang lagi iblis lainnya kemari."


"Gawaat...!."


"Nakmas..?, Nakmas Bendoro..?." seru Prono condro, melihat Jaya termenung sesaat memangil manggilnya.


"Eeh,.. I-iya Kek, ada apa?."


"Nakmas kenapa?, takut?." tanya kakek itu.


Jaya terkekeh, " Buat apa takut sama iblis?."


____________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan dukungan nya... makasih Kaka...


__ADS_2