Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Menyambangi Gagak Hitam..


__ADS_3

"Keparaat...!."


Dewa Api mengumpat keras, tangannya terkepal dan otot ototnya terlihat menegang, ketika mendapat kan laporan kegagalan Tapak Setan.


Wajahnya langsung merah dari badannya keluar asap mengepul tipis, bahkan lingkungan sekitarnya kini menjadi panas akibat aura yang keluar dari tubuh sosok tersebut.


"Ingin rasanya aku buru orang itu, namun masih banyak lagi urusan yang lebih penting darinya." kata Dewa Api.


Tapak Setan hanya bisa mengangguk tak berani buka suara, bahkan rasanya melaporkan kegagalan misi nya saja sudah seperti aib bagi nya, namun mau bagaimana lagi memang seperti itu keadaanya, jika di paksakan malah dirinya akan mati melawan pemuda tersebut.


"Akan aku balas jika kelompok Awan Putih mengikuti pertarungan di Serikat Pendekar... nanti nya." Kata Dewa Api lagi dengan geram.


Semua hanya mampu mengangguk tak berani berkata kata, semua menundukkan wajahnya merasakan ketakutan akan kemarahan sang pemimpin Agung Api Suci tersebut.


**


"Bagaimana jika malam ini kita kembali memburu pusaka itu..?.' kata Tino kepada dua saudaranya sambil menatap nya bergantian.


"Boleh saja, namun kini kita harus hati hati dalam menjalankan misi, karena aku dengar tokoh tokoh sakti sudah banyak yang berdatangan dan berkumpul di sana," sahut Lono balas menatap saudara mudanya.


Kelompok Tiga Bayangan Setan terdiri dari tiga orang dengan Jino yang tertua, lalu Lono yang kedua dan Tino yang termuda.


Ketiganya adalah jagoan sakti dari wilayah kerajaan di Utara tersebut, namanya sangat terkenal seantero Kerajaan Agung Jongka Lengkong.


Kemampuan yang tinggi dari ketiga anggota kelompok tersebut mampu membuat nama Tiga Bayangan Setan sangat di takuti dan di segani.


"Ya benar, kita mesti hati hati sekarang..," kata Jino anggota tertua kelompok tersebut


"Beberapa waktu ini sudah banyak tokoh tokoh berdatangan ke wilayah ini," sahutnya lagi.


Mereka masih berbincang dan mengatur strategi untuk melancarkan usaha pengambilan pusaka tersebut nantinya, namun tak mereka sadari jika pembicaraan tersebut rupanya di intai dan di curi dengar oleh seseorang.


Pencuri bertopeng nampak mengawasi dan mendengar semua rencana tersebut dari tempat yang cukup tersembunyi.


**


Rombongan Jaya Sanjaya sudah memasuki hutan, sebuah wilayah perbatasan yang lumayan lebat pepohonan nya.


Ingatannya kembali seperti saat akan menuju ke Sirih Putih bersama Pelangi, Randu Sembrani dan Nyai Nilam Sari, dimana mereka ketemu dengan kelompok Gagak Hitam.


"Yakin kita harus melewati jalur hutan ini Nakmas..?."


Tanya Baroto Sarkawi dan juga Pitu Geni dengan wajah penuh kecemasan, keduanya sudah sering mendengar jika hutan angker tersebut di huni oleh segala makhluk yang tak pernah bisa mati.


"Memangnya ada apa di sini paman...?." tanya Jaya kepada kedua pengikut nya yang kini wajahnya sudah pucat pasi.


"Ini hutan angker Nakmas, lihatlah sekeliling pepohonan di sini berbeda dengan hutan lainnya, lebih rapat dan gelap, bahkan di waktu siang hari seperti inipun sama sekali tak ada cahaya yang bisa sampai ke dasarnya." jawab Baroto dengan pandangan mengitari sekeliling nya.


Narimo yang waktu lalu ketakutan dengan kelompok Gagak Hitam, kini tak lagi setakut dahulu, setelah melihat Jaya mampu mematikan anggota kelompok abadi tersebut.


"Tak apa paman, jalur ini lah yang terdekat, dan tak perlu memutar." sahut Jaya pelan.


"Tapi di sini ada mayat hidup nya Nakmas," kata Baroto dengan sedikit berbisik, seakan takut mengusik penghuni hutan kelam tersebut.

__ADS_1


Hawa gelap dan suasana hutan yang lembab membuat tempat tersebut makin mengerikan memang.


"Benarkah paman..?," sahut Jaya malah tersenyum mendengar pembicaraan tersebut.


"Benar Nakmas, bahkan Kelompok Api Suci pun enggan jika harus melewati tempat ini," Pitu Geni menimpali perkataan Baroto.


"Tak usah khawatir Paman Paman, aku memang berniat bertemu dengan mayat mayat itu makanya memilih jalur ini," kata Jaya menenangkan pengikut nya tersebut.


"Uugh... Nakmas Bendoro aneh," keluh Baroto dan Pitu Geni dengan begidik ngeri.


Rombongan itu makin masuk ke tengah hutan tersebut, dan makin gelap suasana.


Kuda kuda sudah meringkik dan gelisah ketakutan, hingga para penunggang kuda di sana harus menenangkan kuda kuda tersebut.


"Memangnya makhluk apa penghuni tempat ini paman..?," tanya Kumala kepada Narimo yang berkuda persis di belakang Jaya.


"Den ayu bisa melihatnya nanti jika beruntung," sahut Narimo pelan, meskipun sudah tak setakut waktu dahulu namun dirinya juga tetap tegang dengan suasana yang ada.


Kraaaaakk...!!


Boouumm..!!


Tiba tiba sebatang pohon seakan di tebang dan di lemparkan di tengah jalur untuk menghalangi para pelintas itu.


Jaya yang berada paling depan mengangkat tangan nya, memberikan isyarat agar orang orang di belakangnya berhenti.


Laaap...!!


Laaapp..!!


Gambar gambar dengan berbagai pola di seluruh tubuhnya tersebut membuat nya makin mengerikan jika di pandang mata.


"Hua.ha..ha...ha..."


"Akhirnya ada juga mangsa yang nekat melewati tempat ini..!," teriak salah satu orang dari kelompok Gagak Hitam tersebut.


Jaya langsung meloncat turun dari kudanya, berjalan lebih maju kedepan mendekati orang orang Gagak Hitam.


"Aku sengaja melewati tempat ini, aku ingin menemui pemimpin dari kelompok kalian..!!."


Kata Jaya sambil menatap ke arah orang Gagak Hitam yang tadi berbicara.


Mendengar perkataan Jaya, orang orang Gagak Hitam sedikit terkejut, selama ini tak ada yang berniat berbincang dengan kelompok itu, Bahkan semua orang seakan jijik jika mendengar nama Gagak Hitam apalagi sengaja ingin memiliki kemitraan dengan mereka.


"Heh..??!, tak salah dengar telingaku..?, kau berkata seperti itu anak muda..?."


Jaya mengangguk saja mendengar jawaban anggota Gagak Hitam tersebut.


"Apa ini karena ketakutan mu kepada kelompok kami..?, dan kau mau melakukan tipu muslihat agar bisa melewati tempat ini..?." kata orang Gagak Hitam tersebut.


Anggota Jaya yang lain makin waspada melihat orang orang Gagak Hitam beringsut perlahan kini mulai mengepung.


"Buat apa aku melakukan tipu muslihat..?, jika aku mau aku bisa memusnahkan kalian saat ini juga." sahut Jaya sambil tersenyum tak sedikitpun ada ketakutan di wajah nya.

__ADS_1


Orang orang Gagak Hitam kembali tertawa terbahak bahak, mendengar omongan Jaya Sanjaya.


"Hua..ha...ha...Mimpi kau bisa memusnahkan kami..!," sahut salah satu orang tersebut, lalu orang tersebut langsung memerintahkan anak buahnya untuk menyerang.


"Hancurkaaan...!!."


Teriak pemimpin kelompok tersebut, membuat orang orang Gagak Hitam langsung serentak menyerang.


"Hiaaaa...!!."


"Hiaaaa...!!."


Teriak orang orang itu berhamburan melakukan serangan menebaskan senjatanya ke arah kelompok Jaya.


Traaang...!!


Traaang....!!


Semua anggota Jaya menangkis serangan senjata pasukan Gagak Hitam, dan bahkan melakukan balasan.


Craaaasss...!


Craaass...!!


Sambaran senjata balasan dari Kumala, Baroto dan Pitu Geni bahkan Narimo langsung membuat pasukan Gagak Hitam itu tertebas, terpotong dan terbacok.


"Aaarh..!."


"Aaarrrrhh...!!."


Jeritan anggota Gagak Hitam terdengar menyayat hati, lalu tubuh tubuh tersebut bertumbangan ke tanah, membuat para pengikut Jaya tersenyum puas, merasa sudah menumpas pasukan tersebut.


Namun tak lama Baroto, Pitu Geni dan Kumala langsung membelalak kan matanya begitu melihat mayat mayat yang tercerai berai itu perlahan menyambung kembali dan dengan pelan anggota Gagak Hitam itu bangkit kembali.


"Hua..ha..ha....!!, lihatlah kami tak bisa kau musnahkan seperti ucapan mu tadi..!," kata anggota Gagak Hitam yang tadi berbicara dengan Jaya Sanjaya.


Jaya Sanjaya hanya tersenyum dan mengangguk anggukan kepala.


"Siapa yang ingin melihat malaikat kematian..?." kata Jaya sudah memutar tombak kyai Seto Ludiro yang kini ada di genggaman tangan kanan nya.


"Majulaaah...!!." teriak Jaya Sanjaya mengarahkan tombaknya ke depan.


Hampir semua orang Gagak Hitam maju, mereka tak akan mengira jika tombak tersebut benar benar bisa membuat mereka mati.


"TAHAAANN..!!."


Sebuah teriakan menahan orang orang Gagak Hitam yang berniat nekat menyongsong tombak tersebut.


Suwono salah satu pemimpin pasukan Gagak Hitam, yang pernah melihat Jaya berhasil mematikan pasukan Gagak Hitam sudah menahan orang orang nya.


"Tahan saudara saudara ku...!, tuan inilah yang aku ceritakan waktu itu kepada tetua kita Tuan Lodaya, yang mampu membuat kita mati...benar benar mati...," katanya dengan suara bergetar.


_____________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak nya...


__ADS_2