
"Kita makan dulu sebelum ke kamar masing masing," kata Jaya kepada seluruh anggotanya.
Dari keseluruhan anggota Jaya menyewa enam kamar, dua di lantai atas dan sisa nya di lantai dasar atau lantai satu karena kamar yang di lantai dua sudah penuh.
"Baik Nakmas, kita makan dulu," sahut beberapa orang, lalu berjalan menuju tempat makan sesuai yang di arahkan para pelayan.
"Den Ayu, mari kita ke bagian pemesanan makanan," ajak Narimo kepada dua calon istri Tetua Agung tersebut.
Mengajak dua gadis itu agar bisa memilih makanan apa yang kira kira di inginkan.
Ketiganya di sambut oleh juru masak dan pembantunya, yang sudah siap dengan aneka hidangannya.
"Mari silahkan, mau pesan apa saja." sapa Juru masak tersebut dengan sopan.
Pelangi, Kumala dan Narimo mengelilingi meja yang tersedia dengan banyak aneka hidangan.
"ini ayam ungkep terus di bakar, yang ini oseng oseng kulit kijang serta domba."
"Itu apa paman?." tanya Kumala, kepada paman Juru masak lagi.
"Yang ini botok kelapa campur mlandingan terus ada ikan terinya, den ayu."
"Terus yang itu pepes ikan air sungai dengan bumbu kemangi dan cabai setan campur kemiri."
"Ini macam macam sate," sahut Juru masak itu berturut turut, sambil menunjukkan bermacam sate dari beberapa macam daging.
Ketiga nya terpana melihat aneka hidangan tersebut.
Setelah memesan makanan mereka kembali berkumpul di meja yang sudah di pilih Jaya.
**
"Kenapa..?."
Jaya bertanya kepada dua gadis yang tampak cemberut sehabis makan malam.
"Kita mau jalan jalan, malah keramaiannya sudah mulai surut." kata Kumala melihat situasi kota yang malam itu mulai sepi, banyak pertokoan mulai tutup.
Ketiganya masih duduk di sebuah beranda yang ada di lantai dua tersebut, dua kamar di lantai atas memang di tempati Jaya, dan kamar satunya di tempati Kumala dan Pelangi.
"Iya, padahal kita niatnya malam ini mau melihat lihat keindahan kota ini, tapi kalau toko banyak yang tutup apa bagusnya?," Pelangi juga mengeluh, dengan wajah di tekuk sedikit cemberut.
"Memang kalian mau kemana? belanja?."
"Ya...pinginnya melihat lihat keindahan suasana kota," sahut Kumala pelan.
Jaya mengangguk, tersenyum tipis menatap keduanya yang merajuk, entah pada siapa.
"Aku ada ide..?,'' kata Jaya tiba tiba, membuat dua gadis itu menoleh sedikit berbinar.
"Apa itu Kakang?," seru keduanya hampir bersamaan.
"Bagaimana jika aku mengajak kalian berdua keliling terbang di udara?."
Dua gadis itu ternganga mendengar ide yang di cetuskan pemuda tampan di depannya.
"Keliling Kakang?." kata Kumala.
"Terbang??," sahut Pelangi dengan suara tak yakin.
Bukan keduanya meragukan kemampuan istimewa tersebut, tapi tak pernah terpikir jika Jaya bisa terbang membawa keduanya.
__ADS_1
"Ya, aku akan menggendong kalian berdua, terbang keliling angkasa melihat keindahan malam dari ketinggian."
"Aku mau kakang..!," keduanya bersorak kegirangan, akhirnya.
**
"Aaaaaaaa...!!," suara tertahan dua gadis itu terdengar kembali untuk kesekian kalinya, saat Jaya tiba tiba melesat tinggi dan menukik tajam ke bumi.
"Sssstt...diam.., kalian kenapa..?," seru Jaya sambil memeluk dua gadis di dua lengannya.
"Aku takut kakang, jangan cepat cepat melesatnya..," seru Kumala, sedikit pucat tapi ada juga rasa senang di wajahnya.
"Aku juga kakang," sahut pelangi yang mengeratkan pelukannya di sebelah kiri Jaya.
Jaya tertawa pelan, lalu melesat kembali naik tinggi menembus awan kemudian berhenti di suatu ketinggian.
Menatap keindahan alam dari tempat tersebut.
"Jagat dewa batara...!, indah sekali kakang," Kumala menatap keindahan semesta dari sana.
"Benar...indah sekali, lebih indah di banding jika kita melihat dari atas ketinggian pohon," balas Pelangi.
"Pandangan kita jadi lebih luas dari atas sini," sahut Jaya, makin mengeratkan pelukan pada kedua lengannya.
Kedua gadis itu mengangguk setuju dengan perkataan Jaya.
"Eeh..kakang, itu apa..?," tanya Kumala menunjuk kesuatu arah, dari atas ketinggian terlihat beberapa titik api di tengah wilayah hutan.
"Hmm, nampaknya ada serombongan orang sedang berkemah di hutan."
"Mungkin istirahat, di tengah perjalanan mereka." kata Jaya.
"Baik, kita lihat tapi jangan menggangu mereka."
Jaya melesat menuju kearah titik titik api tersebut, meluncur turun dengan cepat, menyelinap di rerimbunan pepohonan, sedikit jauh memang, untuk menjaga agar tak ketahuan.
**
"Besok pagi kita akan tiba di kota Batu Intan, sebuah kota yang cukup besar di wilayah Karang Doplang," kata salah satu dari Lima Kipas Dewa.
Agni Mahesa Suro hanya mengangguk, mencerna arah perkataan salah satu rekan yang menjadi bawahannya tersebut.
"Kita bisa meminta uang operasional bagi Jrabang Geni," kata orang itu lagi.
"Tapi bukankah itu tindakan kurang ajar?," sahut anggota Lima Kipas Dewa yang lain.
"Kita tak meminta banyak, tapi yang pantas saja, ingat saudara ku kelompok kita membutuhkan biaya operasional yang banyak," orang itu tetap bersikeras dengan pendapatnya.
"Jika kita mendapatkan sedikit biaya dari tiap wilayah yang kita jaga, maka tak membebani pusat, kerja kita bisa maksimal dalam setiap geraknya,'' orang itu kembali berkata, mengeluarkan alasan alasannya.
"Benar juga apa katamu." Agni Mahesa Suro menyahut akhirnya.
"Jrabang Geni? Siapa mereka? apa tujuannya adanya mereka?."
"Siapa mereka Kakang?," bisik Kumala pelan.
Jaya menggeleng, " Sebaiknya kita meninggalkan tempat ini, kita lihat saja nanti."
Kumala dan Pelangi mengangguk, sebelum Jaya melesat meninggalkan tempat tersembut.
**
__ADS_1
"Adik..!, bangun, kita mau belanja sambil melihat lihat kota."
Pelangi membuka matanya malas, memutar bola matanya menatap cahaya yang menelusup masuk ke kamar yang mereka tempati.
"Sudah pagi..?."
"Masih fajar, tapi kita perlu bersiap bukan, memang kamu mau wajahnya masih awut awutan keluar dari kamar?." Kumala yang sudah rapi berkata sambil tersenyum.
"Hmm," Pelangi mengangguk sambil tersenyum kecut, beranjak bangun dari tidurnya.
Beberapa saat pintu mereka di ketuk dari luar.
"Dinda ...!."
Terdengar suara Jaya dari luar kamar.
"Kami masih bersiap..!," balas Kumala dari dalam kamar.
**
Rombongan Jaya sudah meninggalkan penginapan.
Mereka berniat berbelanja sekalian melanjutkan perjalanan.
"Waah..ramai juga kalau siang begini, lebih ramai dari kotaraja malah." seru Pelangi kegirangan.
"Ya...kota ini bisa di bilang kota uang bagi wilayah Karang Doplang." Kumala menjawab sambil menikmati jajanan yang di beli di jalanan.
"Enak ya jajanannya?."
"Iya kak, manis banget getuk nya."
Mereka masih berada di jalanan yang lumayan ramai, keluar dari kereta menikmati makanan yang di jual di sana, sambil menunggu anggota yang lain berbelanja kebutuhan Awan Putih.
"Minggir..!! , beri jalan..!!."
"Pasukan khusus mau lewat..!." sebuah teriakan terdengar keras, menyibak orang orang yang tengah beraktifitas di jalanan itu.
Terlihat pasukan Jrabang Geni melewati tempat tersebut dengan sikap yang sangat arogan.
"Heii..kalian tak mendengar..!, jangan berada di jalanan..kami mau lewat..!," teriak salah satu anggota Jrabang Geni membentak Kumala dan Pelangi yang masih menunggu anggota yang lainnya, berdiri di dekat kereta di pinggir jalan tersebut.
"Lewat tinggal lewat saja bertingkah..!, ini jalanan umum..!, bukan milik moyang mu..!," balas Kumala sedikit sengal.
Anggota Jrabang Geni itu melotot, menatap ke arah Kumala dan Pelangi, " Kalian tak tau berkata dengan siapa..!, hah..!!."
"Memang siapa kalian..??." balas Pelangi, juga dengan nada kesal melihat kesombongan mereka.
"Kami pasukan khusus Jrabang Geni, pelindung dan pengayom Pati Sruni..!."
"Pelindung dan Pengayom??, sikap kalian tak mencerminkan itu..!."
"Jaga mulut mu, jika tak ingin di penjara..!," bentak anggota yang lainnya, mengancam.
"Beginikah sikap pasukan khusus?, melindungi dan mengayomi?."
"Keparaat..!, banyak bacot...!!." anggota itu sudah mencabut senjatanya, menakut nakuti dua gadis itu.
__________
Jejaknya....
__ADS_1