Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Bertarung dengan Pengemis Tongkat Kuning


__ADS_3

Bajul Petak meradang, mendengar ucapan lirih Pitu Geni, namun masih bisa di tangkap indra pendengarannya.


"Bangsat...! jaga ucapan mu..!, kalian belum tahu berhadapan dengan siapa..!,"seru pria di sebelah Bajul Petak, seorang lelaki paruh baya dengan badan tinggi besar biasa di panggil Manu berjuluk Pendekar Bayangan, salah satu tokoh yang menjadi pendukung dan orang kepercayaan Bajul Petak.


Lumiran pucat wajahnya, tak menyangka masalahnya akan brimbas dan membuat celaka kelompok lain.


"Ini urusan kita..!, tak perlu mengorbankan orang lain," teriak Lumiran berdiri dari duduknya, sambil memegangi dada nya yang masih terasa sesak.


Bajul Petak, Sambilangu dan orang orang partai pengemis tongkat kuning sedikit tersenyum.


"Aku akan menghadapi kalian karena ini masalahku, jangan melibatkan orang lain.." kata Lumiran lagi, masih sambil mengurut dadanya.


"Bagus jika kau bersikap jantan, kami akan menangkapmu dan membawa ke markas kami ." balas Sambilangu, sambil menoleh kepada sesama kelompoknya.


Bajul Petak mengangguk begitu juga dengan Manu si pendekar Bayangan.


"Ayo kita ringkus ramai ramai..!," teriak Sambilangu, lalu bergerak maju setelah mendapat anggukan dari Tetua sembilan atau Bajul Petak.


Wuus..


Wuuss...


Beberapa orang anggota partai pengemis tongkat kuning sudah berloncatan maju mendekat, berniat menangkap Lumiran.


Namun Pitu Geni, Baroto serta Anuso Birowo menghadang orang orang itu setelah meminta ijin Jaya.


Laaap...!!


Tiga tokoh Awan Putih itu menghadang, berdiri di depan Lumiran.


Puluhan orang itu berhenti, kaget dengan orang orang yang berani menghadang langkah mereka.


"Apa apaan kalian..!, benar benar cari masalah..!." teriak Bajul Petak, melihat hadangan anggota Awan Putih.


"Hancurkaaan...!!," teriak Manu si Pendekar Bayangan yang berdiri di sebelah sosok tetua sembilan dari partai pengemis tongkat kuning tersebut, langsung melesat maju meloncat mengawali serangan.


Wuuuss....!!


Sebuah hantaman tangan kosong di lepaskan sosok tinggi besar tersebut.


Plaaakk...!!


Hantaman keras tersebut di tangkis oleh Baroto dengan lengan nya.


Benturan itu membuat Manu sedikit terbelalak, apalagi ketika memgetahui lengan dari lawannya sudah menghitam legam.


"Cuiih ..!, pantas berani bertingkah..rupanya merasa berisi kalian..!," seru pria yang di juluki Pendekar Bayangan tersebut.


Sementara itu puluhan orang lain anggota partai pengemis tongkat kuning di pimpin Sambilangu memyerang ke arah Pitu Geni, Anuso Birowo, Narimo serta anak buah Awan Putih yang berjumlah belasan orang itu.


Jaya, Koloireng, serta Kumala dan Pelangi masih menyaksikan pertempuran tersebut, sama seperti halnya Bajul Petak.


Perlahan Baroto dan Muna kini sedikit memisahkan diri dengan yang lainnya.


Keduanya bertarung dengan seru.


Begitu menyadari lawannya berlengan Baja, Muna si Pendekar Bayangan mencabut senjatanya.


Sebuah senjata berujut tongkat dengan ujungnya berrantai dan ada semacam pisaunya.


"Hadapi senjataku...!," teriak Muna, sambil mengayunkan senjata tersebut setelah sebelumnya memutar nya.

__ADS_1


Wwuuung...!!


Tongkat dengan rantai dan berujung pisau tersebut di hantamkan dan melesat sangat cepat mengarah ke badan Baroto.


Srreett...


Suara rantai yang melesat membelah udara terdengar memekakkan telinga, apalagi kali ini senjata itu di aliri kekuatan hebat.


Traaangg..!


Baroto menepis lesatan senjata itu dengan lengannya, dentangan keras terdengar saat dua benda padat tersebut bertemu, karena lengan Baroto juga sudah berubah menjadi baja berkat jurus Tinju Baja nya.


Namun akibat benturan itu Baroto terlempar, beberapa langkah.


"Ughh..!!."


Baroto kembali menguatkan kuda kudanya, mencoba mengantisipasi serangan lawan yang sudah terlihat melesat maju.


Sreeett...


Kembali ratai itu terjulur mengejar Baroto, lalu meliuk seperti ular dan terlihat sangat mengerikan, saat Baroto mencoba menepisnya.


Wuuutt...


Baroto menepis udara kosong karena rantai dengan ujung pisau itu meliuk seperti ular, dan mencoba mencabik punggung dari tokoh Tinju Baja tersebut.


Taaang...!


Disaat kritis Baroto memutar lengannya menghantam pisau ujung dari rantai itu.


"Hmm, hebat juga kau kisanak, tapi aku belum mengeluarkan semua kemampuanku .!," geram Manu, merasa serangannya bisa di gagalkan lawannya.


"Aku juga belum mengeluarkan semua kemampuanku..!," balas Baroto yang kini sudah memakai sarung tangan Cakar Rajawali.


Muna si Pendekar Bayangan, meludah kesamping, matanya menatap tajam sang lawan.


"Hiaaaa...!!.''


Sosok tersebut bergerak cepat berputar dengan sangat cepat sambil memutar tongkat rantainya.


Wuuungg...


Sreeett....


Gerakannya sangat cepat, hingga sulit di ikuti oleh pandangan mata bagi orang biasa.


Rantai itu melesat sangat cepat, menyasar badan Baroto.


Traaang...!


Reflek Baroto mengayunkan lengan kirinya memotong serangan cepat tersebut.


"Uughh...!," Baroto kembali terlempar ke belakang menangkis serangan tersebut.


**


Sementara itu puluhan anggota partai Pengemis Tongkat Kuning yang menyerbu Pitu Geni, Anuso Birowo dan Narimo serta anak buah Awan Putih terlihat masih seru bertarung.


Banyaknya jumlah anggota partai pengemis itu terredam oleh kehebatan Pitu Geni dan Anuso Birowo yang memimpin anak buah Awan Putih.


"Jurus Tongkat Penghancur Naga...!!," teriak Sambilangu menghantamkan tongkatnya, ke arah Anuso Birowo.

__ADS_1


BLaaarr...!!


Dengan golok Naga nya, Anuso Birowo menangkis hantaman itu, dan menimbulkan ledakan.


"Hiaaa...!."


Kembali Sambilangu menghantamkan tongkat kuningnya, menebas memutar mencoba mengepruk kepala Anuso Birowo.


TAANG...!!


"Hmm..," Anuso Birowo tersenyum, memancing emosi lawan, setelah menepis sambaran tongkat tersebut.


"Sekarang giliranku ...!," teriak Anuso Birowo, memutar golok besarnya, golok Naga yang bernama kyai Sapu Jagat itu kini berputar membuat putaran angin yang kuat.


Begitu juga dengan Sambilangu, melihat lawannya mengerahkan kekuatannya membuat tokoh partai pengemis itu juga memutar tongkat senjatanya.


Wuuungg...


Anuso Birowo bergerak cepat menebaskan goloknya.


Gelombang serangan yang kuat menerjang kearah Sambilangu.


DUAARR..!!


Sebuah bayangan menangkis sabetan golok Anuso Birowo, rupanya Bajul Petak sudah melesat menangkis hantaman itu.


"Kau lawanku..!," teriak Bajul Petak sambil mengayun ayunkan tongkat kuningnya, menatap Anuso Birowo.


"Aku layani tantangan mu..!," balas Anuso Birowo.


**


Jaya masih di pinggir arena, memberikan pertolongan kepada Lumiran yang ternyata menderita luka dalam akibat benturan dengan Sambilangu.


"Tarik nafasmu..bagaimana? apakah masih terasa sesak..?," tanya Jaya setelah mengalirkan hawa murni lewat punggung Lumiran.


Lumiran menarik nafasnya dalam dalam, mencoba merasakan dadanya.


"Terimakasih kisanak.., sudah jauh lebih baik," sahut pria paruh baya itu sambil tersenyum, mengangguk.


"Terimakasih sekali lagi," kata Lumiran lalu menunduk, menjura.


"Tak apa, bukankah kau anak buah kakek Respati?, berarti paman temanku juga," kata Jaya.


"Kisanak tau tentang Raja Pengemis?."


"Ya."


"Siapakah kisanak?."


"Aku Jaya Sanjaya, tetua Awan Putih."


"Apa..??!," sedikit kaget Lumiran mendengar itu, bagi partai Pengemis Tongkat Hijau nama Awan Putih merupakan kelompok yang menaungi mereka seperti yang sudah di jelaskan oleh Raja Pengemis Respati.


Lumiran lalu merunduk penuh hormat selayaknya menghormat kepada Raja, " Ampuni hamba yang bodoh ini tuan, tak mengenali Pemimpin Agung dari Awan Putih."


Jaya tersenyum, menatap Lumiran, "Bangunlah paman, jangan sungkan."


__________


Maaf cuma sedikit...mau nonton moto GP dulu ya...!

__ADS_1


__ADS_2