Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Dunia makin panas


__ADS_3

Respati masih berdiam diri di atas pohon, niatnya mencuri dengar apa yang direncanakan kelompok Api Suci untuk mencari sosok legenda malahan membuatnya ketiduran.


"Dasar sial..!!, aku malah tertidur di atas pohon..," gerutu nya, jengkel terhadap dirinya sendiri sambil mengucek ucek matanya yang masih terasa lengket.


Sedikit menoleh, tengak tengok mencari keberadaan para pengguna element Api, tapi kini sudah tak ada seorang pun.


"Hmm, kemana perginya orang orang Api Suci itu...ya..?."


Sosok tua itu berdiri, kembali meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku setelah tertidur di dahan yang lumayan tinggi.


Sedikit di kejauhan terlihat serombongan orang berkuda mengarah ketempat nya berada.


Senyumnya tersungging, matanya memicing mengawasi rombongan tersebut.


"Hmm, ini baru kelompok yang aku tunggu." seru nya sambil menggaruk kepalanya, sambil tersenyum.


**


Narimo dan Baroto yang berkuda paling depan kaget, karena tiba-tiba sesosok bayangan melesat turun dari atas pohon, langsung berdiri di depan mereka sambil tertawa tawa.


"Setaan...alaas...!, dasar orang gila..!, bikin kaget saja..!!," teriak keras Baroto sambil terkaget kaget, sampai kudanya berjingkat mengangkat dua kaki depannya.


"Hua....ha......ha.., ada api.. ada bara.... yang ku nanti...akhirnya tiba..!," seru kakek itu berpantun sambil tertawa tawa girang, mengacak rambutnya yang makin awut awutan.


"Ccuiih..! ," Baroto meludah kesamping, "pergi pagi ...pulang petang.., tak di nanti malah datang..!." kata Baroto yang jengkel, menyahut pantun itu.


Respati tak menangapi pantun Baroto, matanya clingak clinguk mencari keberadaan Jaya yang ada di belakang, terhalang beberapa orang.


Narimo menatap sosok di depannya, melihat pakaian nya dan tongkat hijau yang di pegang nya lalu tersenyum.


"Raja Pengemis..!!." ucapnya pelan tersenyum.


"Dimana Nakmas Jaya...!," teriaknya, membuat Jaya yang ada di belakang langsung maju kedepan.


Sesaat Jaya menatap nya, ingatannya langsung kembali sewaktu mereka pernah bersama saat mencari pusaka kitab di wilayah selatan.


"Kakek Respati..!."


"Hua..ha...ha...!, aku senang kau tak melupakan tua Bangka ini..!," balas Raja Pengemis itu sambil tersenyum, menjura.


Kakek dengan baju compang camping itu kemudian menjura kepada yang lain, sebagai salam sesama pendekar.


**


Saat ini semua telah tiba di depan markas Awan Putih.


Kedatangan Jaya dan rombongan di sambut oleh Sumanjaya serta Sepasang Raja pedang, Singo Dimejo dan Karpo Dipolo juga para anak buah yang lainnya.


Jaya sedikit terkesiap, rupanya selama di tinggalkan nya bangunan markas utama sudah mengalami peningkatan pembangunan yang pesat.


Di gerbang depan terdapat gapura besar dan megah, yang juga bisa di fungsikan sebagai benteng pertahanan kelompok tersebut.


Di sekeliling markas yang kini sudah banyak berdiri bangunan tersebut juga di kelilingi oleh tembok tebal yang tinggi.


Gaya bangunannya yang terlihat megah tak kalah dengan istana sekelas Ngarsopuro dan Jogonolo.


Bahkan membuat Kumala dan Pelangi takjub, karena markas ini terlihat sangat mewah.

__ADS_1


"Aku sangat kaget dengan apa yang aku lihat ini, kalian benar benar membangun markas dengan begitu baik," Puji Jaya kepada Sumanjaya dan Sepasang Raja Pedang.


"Kami hanya melakukan apa yang Nakmas Bendoro perintah kan." sahut Sumanjaya si Mata Malaikat mewakili Singo Dimejo dan Karpo Dipolo.


Jaya dan rombongan masih terpaku, melihat pemandangan keindahan markas Awan Putih.


"Mari Nakmas kita masuk ke dalam dulu, tak elok berbincang di depan gerbang ," kata Karpo Dipolo, mengingatkan semua nya.


Semua tertawa kecil, menyadari hal tersebut.


**


Di pusat Kerajaan Agung Pati Sruni yang juga disebut negri Timur atau wilayah Timur, nampak sosok pria tua yang masih terlihat gagah dengan baju dominan merah tengah berjalan di keramaian.


Sebuah pedang bertengger di punggungnya, pedang yang juga bergagang merah itu menambah kegagahan sosok tersebut.


Nampaknya di pusat pemerintahan wilayah timur tersebut tengah ada sebuah perekrutan anggota pasukan khusus yang akan menjadi pelindung negeri tersebut.


Sebuah jabatan yang sangat tinggi dan sebuah kekuasaan yang di janjikan oleh sang Raja Agung, bagi siapa saja yang berhasil menjadi pemimpin pasukan tersebut nantinya.


Pasukan yang akan menjadi salah satu pasukan penting di wilayah negeri timur itu.


"Hmm, nampaknya banyak juga orang yang berminat menjadi petinggi dan penguasa disini," gumam sosok tersebut kepada dirinya sendiri.


Pria tua itu mengedarkan pandangannya, menyapu tempat dimana ratusan atau bahkan ribuan orang tengah berkumpul.


Perekrutan kali ini hanya untuk para petinggi pasukan khusus itu, karena untuk pasukannya sendiri sudah ada beberapa ribu orang yang sudah di bentuk sebelumnya.


Jadi ribuan orang yang hadir disana bisa dipastikan jika mereka adalah calon pemimpin pasukan khusus, yang tentu saja pasti hebat ilmu Kanuragan nya.


Dalam aturannya nanti akan di sediakan lima kursi kepemimpinan pasukan khusus itu, dimana satu jatah kursinya bisa terdiri dari satu orang atau kelompok hanya saja tetap di hitung satu suara dalam setiap pengambilan keputusan.


Serombongan panitia yang bertugas mendata mengarahkan para calon peserta.


"Apakah tuan pendekar juga ingin mendaftar?.'' tanya seorang petugas menghentikan sosok pria tua yang masih gagah itu.


"Hmm, Ya..kau pikir aku hanya mau menonton disini," pria tua itu mendengus lalu menjawab dengan galak.


"B..b.baik tuan, namanya siapa?."


"Agni Mahesa Suro..''


**


"Aku sudah lama mencari dan menunggu Nakmas Jaya setelah peristiwa itu," kata Respati, begitu semua orang sudah duduk di dalam ruangan yang di fungsikan sebagai ruang penerima tamu itu.


Jaya mengangkat wajahnya, menatap Pria tua yang memiliki jabatan sebagai Rajanya pengemis itu.


"Ada apa kakek Respati mencari cari ku?.''


Kakek tua itu tersenyum, memamerkan gigi yang sudah tak lengkap di mulut nya.


"He.he..he..., aku ingin kelompok ku berkongsi dengan Awan Putih," sahut Respati dengan terus terang.


"Berkongsi?.''


"Iya...kita bergabung dan bekerjasama," sahut Respati menegaskan kembali.

__ADS_1


Jaya terdiam, sejenak berfikir, "Apa untungnya untuk Awan Putih?.''


Respati menatap tajam Jaya, "Apa Nakmas sudah mendengar berita terbaru?, berita yang hanya terdengar di kalangan para pemimpin kelompok persilatan golongan Utama."


"Berita apa maksud kakek Respati?.''


Respati menghela nafas nya, "Meski berita ini belum bisa di pastikan kebenaran nya, namun melihat tanda tanda nya pasti akan terjadi."


"Pada pertemuan Serikat Pendekar yang akan datang akan terjadi peristiwa peperangan yang dahsyat."


"Semua kelompok akan saling menyerang untuk menjadi yang terhebat dan terkuat."


"Selain itu, dari pihak pemerintahan juga akan melakukan serangan terhadap kelompok pendekar, karena mereka merasa terancam dengan eksistensi para pendekar."


Jaya menatap sosok tua di depannya, memastikan kebenaran omongan nya.


"Apa benar, Kakek Suman?." tanya Jaya kepada Sumanjaya si Mata Malaikat.


Meski pelan Sumanjaya mengangguk, "Yang jelas, di pertemuan nanti tidak akan sama seperti pertemuan pertemuan sebelumnya, aku bahkan mendapat kan penerawangan yang lebih mengerikan lagi, tentang kehancuran alam ini."


"Aku melihat semua ini dilakukan oleh sosok yang aneh, tapi aku tak bisa menggambarkan penampakan nya, semua terlihat gelap, hanya berupa bayangan."


Jaya kembali terdiam, memejamkan mata nya, merasai hawa alam ini dengan "insting Dewa" nya, mencoba menajamkan mata batin nya untuk membaca apa yang akan terjadi.


Sesaat wajahnya memucat, seakan merasai apa yang menjadi ketakutan Respati dan Sumanjaya sang Mata Malaikat.


"Dengan bersatu kita bisa saling jaga, memberikan perlindungan bagi seluruh kelompok yang bergabung dengan kita, menekan lawan dengan banyaknya jumlah anggota yang kita miliki." kata Respati lagi.


Jaya mengangguk, membenarkan apa yang di katakan Raja Pengemis tersebut, karena dengan cara tersebut bisa menyelamatkan nyawanya lebih banyak lagi.


**


Di Pati Sruni, tepatnya di alun alun utama Kerajaan Agung tersebut tengah terjadi kesibukan pemilihan Pemimpin untuk pasukan khusus.


Di tengah arena terlihat dua orang tengah bertarung dengan seru di sebuah tempat yang sudah disiapkan.


Sesosok pria tinggi besar tanpa baju dengan bersenjata gada yang juga besar, tengah bertarung dengan seorang laki laki dengan dua senjata pedang.


Pria tinggi besar bernama Kolobroto itu tengah memutar mutar gada nya, menangkis sambaran pedang dari seorang laki laki yang berasal dari kelompok Walet Hitam.


Traaang....!!


Traaaang...!!


Sambaran dua pedang itu terpotong oleh hadangan senjata gada Kolobroto.


Meski gada itu besar dan berat, namun pria besar tanpa baju tersebut terlihat biasa saja, tak kesulitan dalam memainkannya.


"Hiiaaaa ..!!."


Kolobroto berteriak keras, meloncat menghantamkan senjata gada.


BLAAAANG...!!


Laki laki dari Walet Hitam terlempar, meski sudah menangkis hantaman gada tersebut dengan dua pedang yang di silangkan nya


___________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak nya....


__ADS_2