Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Di sambangi dua Legenda Api Suci


__ADS_3

Dua sosok legenda dari Api Suci itu tengah melesat menerabas lebatnya hutan.


Terlihat sekali jika ilmu meringankan tubuh dua orang tersebut sangat luar biasa.


Hanya dalam sekali menjejakkan kaki saja lesatannya bisa beberapa tombak jauhnya.


"Waah..pintar sekali bocah itu, memilih markas di wilayah ini," seru Moncong Putih, sambil berlari menatap sekitarnya.


Dilihatnya hutan berada di sisi kanan memanjang hingga ke arah bukit yang ada di kanan jauh, sedangkan di sisi kiri jauh ada sungai luas yang juga bisa di lewati beberapa perahu yang cukup besar.


Kedua nya di pisahkan oleh jalanan yang cukup lebar dan menjadi jalur utama antara empat Kerajaan Agung.


"Ya...aku menangkap bocah ini pasti memiliki sesuatu, hingga mampu melawan para tetua Ring lingkaran Api Suci," balas Raja Api dari Utara, melesat di sebelah Moncong Putih bergerak menuju ke markas Awan Putih.


**


Jaya masih berada di ruang utama pendopo bangunan bertingkat tiga tersebut.


Sebuah ruang yang cukup luas hingga cocok untuk di jadikan tempat pertemuan di sana.


Di samping kanan kiri nya sudah duduk beberapa senior anggota Awan Putih, sedangkan Pelangi dan Kumala duduk sedikit di belakang Jaya.


Sumanjaya si Mata Malaikat duduk di sebelah kiri bersama Sepasang Raja pedang, Singo Dimejo dan Karpo Dipolo.


Kemudian ada Baroto Sarkawi si Tinju Baja yang duduk dekat dengan Pitu Geni.


Sedikit bergeser di kanan ada Empu Cipta guna, Sugara, Mata Elang dan kakek Jayeng Rono.


Di sebelahnya lagi ada Anuso Birowo serta Suroloyo.


Narimo mengatur semua anak buah dari Awan Putih menghidangkan makanan dan minuman.


Anggota Awan Putih lainnya yang terdiri dari beberapa anak murid, juga para sukarelawan yang setingkat pemimpin kelompok juga sudah duduk bersila sedikit kebelakang.


"Selamat datang semuanya, bagi yang belum mengenal sosok Tetua Agung kita hari ini berkesempatan untuk itu," sambutan kata dari Sumanjaya memecah keheningan setelah sebelumnya meminta ijin Jaya untuk memulai acara.


Sebelum Jaya kembali dari menjemput Pelangi memang banyak anggota baru yang bergabung dan berdatangan, menyatakan diri menjadi bawahan dan anggota Awan Putih.


Dari anggota yang baru tersebut banyak juga yang belum mengenal sosok Jaya sebagai Pemimpin Agung di Awan Putih, mereka hanya tau Sumanjaya dan Sepasang Raja pedang, Singo Dimejo dan Karpo Dipolo sebagi salah satu Tetua disana.


"Silahkan Nakmas Bendoro berdiri, agar semua bisa melihat jelas," goda Sumanjaya kepada Jaya.


Semua tersenyum mendengar candaan Sumanjaya, sedangkan Jaya hanya menurut, berdiri dari duduknya.


Mereka semua memang duduk lesehan di ruang tersebut.


"Perkenalkan namaku Jaya Sanjaya," sahut Jaya pelan, namun penuh wibawa, meski tak juga terlihat kaku seperti para pemimpin lain yang jaga image terhadap anggota nya.


Semua menatap Jaya, bagi yang sudah bertemu hanya tersenyum saja, namun bagi yang belum pernah melihatnya seakan tak percaya jika Tetua Agung atau Pemimpin Agung nya masih sangat muda, dan tampan.


"Di Pertemuan ini selain perkenalan juga ingin aku sampaikan sesuatu," kata Jaya selanjutnya.

__ADS_1


Jaya memberikan sedikit keterangan apa yang akan terjadi dengan dunia persilatan, bahaya apa yang mungkin terjadi setelah pertemuan Serikat Pendekar.


"Untuk meningkatkan kekuatan kita akan aku ajarkan ilmu baru untuk seluruh anggota ini, agar kedepannya kelompok kita ini makin kuat."


Jaya teringat beberapa kitab pusaka yang ada di ruang dimensi yang baru baru ini sempat di pelajari nya.


Setelah kemarin dia merenung akhirnya diputuskan mempelajari sebuah ilmu dari salah satu kitab pusaka yang kemudian di kembangkan oleh Jaya.


Sebenarnya bagi Jaya semua kitab yang disertakan kepadanya saat di asing kan di alam manusia pernah dia pelajari, selama hidup ribuan tahun di Alam Dewa tak mungkin kan hanya mempelajari beberapa ilmu Kanuragan saja.


"Jurus tersebut aku namakan ajian jurus "Gelombang Awan Menerjang'', dalam jurus ini nantinya ada sepuluh tingkatan," kata Jaya menerangkan.


Semua bersorak gembira menyambut jurus baru yang akan diajarkan tersebut.


Gelombang Awan Menerjang seperti jurus jurus lainnya yang bisa di gabungkan dengan senjata pedang dan tombak atau tongkat, Jaya masih menjabarkan tentang ilmu yang bakal di ajarkan di kelompok Awan Putih.


Bahkan wajib bagi anggota Awan Putih untuk mempelajari jurus ini, karena jurus ini akan di jadikan identitas dasar dari anggota asli Awan Putih.


"Yeeeii..!!"


Kembali anggota Awan Putih bersorak gembira dengan berita tersebut.


Di alam Dewa dan di kitab aslinya jurus ini bernama Kabut Badai, namun oleh Jaya ilmu tersebut di kombinasikan dengan sedikit Selaksa Ombak Menerjang dan Manggar Pecah jadilah jurus dan ilmu baru bernama Gelombang Awan Menerjang .


Semua masih berbincang dengan serius, kali ini Jaya hanya menyertakan para sesepuh dan Tetua Awan Putih.


Tujuannya agar para sesepuh dan Tetua mempelajari lebih dulu ilmu Kanuragan tersebut sebelum nanti di transfer kan kepada seluruh anggota.


**


Pandangan matanya yang tajam mengitari lokasi markas Awan Putih.


Menelisik dan mengawasi lingkungan tersebut, karena selain gedung bangunan markas yang sudah di kelilingi tembok pembatas yang cukup tinggi dan tebal, di luar itu rumah rumah baru milik penduduk sudah mulai bermunculan.


Bukan suatu hal yang aneh jika ada sebuah perguruan di kelilingi rumah penduduk, karena mereka pasti akan aman dan di bela oleh perguruan tersebut apabila ada sesuatu masalah, apalagi Awan Putih mulai dikenal dengan kepedulian nya terhadap lingkungan sekitarnya.


"Suatu kemajuan yang luar biasa, setahun yang lalu aku melewati jalan ini, namun belum ada apapun disini."


"Tapi lihatlah kini, markas ini bagai magnet bagi yang lainnya, bahkan megahnya melebihi Api Suci."


"Sungguh amat kaya pemilik tempat ini." kata Moncong Putih dengan terheran heran, lelaki yang wajahnya ada warna putih seperti albino di bagian mulut dan sekitarnya itu, menggeleng tak percaya.


"Benar apa katamu Sesepuh." sahut Raja Api dari Utara.


"Pasti anak muda ini luar biasa, kita mesti hati hati."


Keduanya langsung siaga, lalu menghadap gerbang dan berteriak.


"TETUA AWAN PUTIH...KELUAR KAUUU......!!!!."


Teriakan keras Moncong Putih dengan di lambari kekuatan tenaga dalam, suara itu menggetarkan seluruh jendela dan hati para anggota yang berhati kecil.

__ADS_1


Legenda yang berasal dari Api Suci, yang mampu mengeluarkan kekuatan Api dari semburan mulutnya itu sudah berteriak dengan sangat keras.


Para penjaga tersentak kaget, mereka yang berada di balik pintu gerbang sampai terlonjak.


**


Jaya yang masih berbincang dengan para sesepuh dan Tetua, sedikit kaget mendengar sentakan kuat dari teriakan Moncong Putih.


Semua menyadari jika orang kuat tengah meneriakkan suaranya, hingga membuat para sesepuh dan Tetua Awan Putih berloncatan keluar.


Semua mengejar Jaya yang sudah jauh meninggalkan orang orang Awan Putih tersebut.


Jaya tiba di gerbang langsung melompatinya hingga berhadapan dengan dua sosok pria tua.


Mereka saling bertatapan dengan pikiran masing masing.


"Hmm, benarkah bocah ini pemimpin Agung disini??." batin Moncong Putih menatap Jaya dari atas hingga bawah.


"Siapa pemuda ini, mungkinkah dia Tetua Agung nya?." Raja Api dari Utara juga mengamati Jaya dengan tak kalah teliti.


"Siapa dua sosok didepan ini?, aku merasa belum pernah bertemu dengannya," Jaya balas menatap dua pria tua di depannya.


"Siapa Kau...!!," teriakan ketiganya bersamaan, jika bukan saat yang menegangkan pasti ketiganya akan tertawa melihat kekompakan mereka berkata dengan kalimat dan intonasi yang sama secara serempak.


"Aku Moncong Putih..!," balas pria tua itu memecah keheningan sesaat, setelah tadi berkata secara bersamaan.


"Aku Raja Api dari Utara."


Jaya menjura, bagaimana pun keduanya sudah sepuh, wajib baginya menghormati nya.


"Aku Jaya Sanjaya, Tetua disini." balas Jaya juga memperkenalkan diri.


Meski sudah menduga kedua kakek itu tetap terkejut dengan itu, karena. Jaya masih sangat muda bahkan usianya setara anak usia dua puluh an awal, bukan dua puluh an akhir mendekati tiga puluh tahun.


"Ada apa kakek berdua kemari dengan berteriak begitu keras??," kata Jaya kembali.


"Aku ingin membawamu ke Api Suci untuk meminta maaf kepada Dewa Api, karena kau sudah bertindak kurang ajar di periode pemerintahan nya..!," teriak Moncong Putih.


"Jika tak menurut, akan aku seret, jika perlu aku penggal kepala mu dengan pedangku..!," sahut Raja Api dari Utara menimpali.


Mendengar kata Api Suci, Jaya kini mengerti siapa dua orang tua di depannya, pasti anggota kelompok tersebut.


"Hmm, begitu kah?," balas Jaya tersenyum miring, menatap dua legenda tersebut.


Moncong Putih dan Raja Api dari Utara makin jengkel merasa Jaya tak takut, dan malah terlihat meremehkannya.


"Bocah..kurang ajaar..!."


_____________


Jangan lupa jejaknya....

__ADS_1


__ADS_2