
Dengan di pandu dua Dewa Perang sebelum nya Cakra Tirta Sanjaya alias Dewa Perang ke Sembilan belas mulai membangkitkan Pasukan Prajurit Batu.
Setelah ketiganya membaca rajah mantra, sebuah sinar muncul dari tiap tiap bulatan batu tersebut.
Di tiap tiap bulatan batu tersebut kini terlihat setitik cahaya, cahaya itu makin lama makin luas menyapu ke seluruh permukaan batu.
Begitu cahaya tersebut sudah menyebar secara menyeluruh, tiba tiba timbul retakan retakan kecil dari batu batu tersebut.
Retakan itu makin melebar dengan seiring batu itu bergetar.
Getaran itu makin lama makin hebat, membuat retakan makin lebar dan mulailah terbentuk sosok tubuh prajurit batu yang tengah duduk meringkuk.
Dari sosok sosok yang meringkuk kini pasukan prajurit Batu mulai bergerak dan berdiri dengan perlahan lahan.
Sosok sosok prajurit batu kini sudah berdiri tegak, dengan mata berpendar merah, menatap ke arah Cakra Tirta Sanjaya.
Seiring pasukan prajurit batu berdiri dengan tegak, sosok dua Dewa Perang terdahulu yang ada di dekat Cakra Tirta mulai memudar.
Cakra Tirta terkesiap sesaat, menatap kedua sosok yang kini mulai memudar dan menghilang.
"Gunakan pasukan mu sebaik baiknya, ingat angka angka masa aktif dari pasukanmu."
"Ada awal ada akhir."
"Satu...sembilan.."
"Angka istimewa."
Cakra Tirta Sanjaya masih terpana, banyak yang ingin di tanyakan namun dua sosok Dewa Perang terdahulu sudah benar benar pudar dan mulai menghilang dengan senyuman di bibirnya.
"Masa aktif? angka istimewa?."
Sungguh Cakra tak bisa mencerna semua perkataan dari dua Dewa terdahulu.
"Aah.. sudahlah, yang penting saat ini semua harus ku atasi."
**
Di istana kekaisaran Dewa terlihat pertarungan sudah mulai terlihat berat sebelah.
Dewa Kebijaksanaan masih bertarung dengan sengit melawan Panglima Iblis Merah Moyaka, sedangkan Pemimpin Pasukan Dewa Pemusnah juga masih bertempur dengan imbang melawan Panglima Iblis Hitam Roku.
__ADS_1
Pun dengan Kaisar Dewa yang masih bertarung dengan dahsyat melawan Raja Agung Iblis.
Namun secara keseluruhan jumlah Dewa yang kalah mulai meningkat.
Jumlah Dewa yang gugur lebih banyak dari pada Iblis yang mati, ini sudah memberikan gambaran kekuatan siapa yang akan memenangkan pertempuran ini.
"Ha..ha...ha.. lihatlah Kaisar Dewa, pasukanmu sudah banyak yang menjadi bangkai..!." Raja Agung Iblis tertawa sambil berkata.
"Hmm, ingsun tak peduli dengan semua itu, prioritas saat ini adalah membunuh mu..!," Kaisar Dewa berseru dengan menebaskan senjatanya.
Sebuah pedang yang terlihat menyala kini menebas ke arah Raja Agung Iblis.
Begitu Kaisar Dewa menebaskan pedangnya, di belakang sosok sang Kaisar terlihat cahaya cahaya pedang membentuk sebuah pola serangan sebelum akhirnya ratusan cahaya pedang itu melesat.
Weeeeng...!!
Lintasan serangan sabetan pedang menerjang membentuk gelombang badai kearah Raja Agung Iblis, yang berdiri dengan jarak satu kilometer dari Kaisar Dewa.
Raja Agung Iblis sedikit tersenyum miring, bukan takut melihat serangan tersebut malah menatap penuh dengan ejekan, lalu raja itu mengayunkan trisula hitam senjatanya.
Gelombang awan berwarna hitam menerjang maju membentuk sebuah cakar raksasa, menyapu ke arah ratusan cahaya pedang yang menerjang bagai badai.
BOOM...! BAAAM...! BAAAMM..!!
"Giliran ku..!!."
Raja Agung Iblis melesat maju, menusukan senjata trisula yang kini sudah memancarkan sinar hitam di sertai bau busuk.
WWOOOOZZZZ....
Serangan yang menakutkan, setiap jalur lintasan dari serangan itu langsung terbelah seakan membagi alam dewa menjadi dua bagian.
Kaisar Dewa memutar pedangnya membentuk bayangan perisai tipis yang makin lama makin memadat dan mencipta kan benteng yang sangat kuat.
BOOUUUMMM....!
Ledakan super keras terdengar, menciptakan muntahan badai kekuatan yang menyebar kesegala arah.
Menyapu apapun sejauh sepuluh kilometer dari pusat mereka bertarung.
Kaisar Dewa sudah tak memikirkan yang lain selain memenangkan pertarungan tersebut, baginya Alam Dewa sudah bukan prioritas lagi untuk di pertahankan. Baginya masih banyak alam lain yang bisa di huni setelah memusnahkan lawannya.
__ADS_1
Kaisar Dewa sudah tak menahan lagi kekuatan nya, baginya mengalahkan Raja Agung Iblis saat ini paling utama.
**
Di sisi lain Dewa Kebijaksanaan masih menahan serangan Panglima Iblis Merah Moyaka yang telah bergabung dengan Raksasa sebesar gunung.
Meski dalam posisi bertarung namun Dewa yang terkenal karena kepintaran dan kebijaksanaan nya itu masih memikirkan nasib para penghuni alam dewa lainnya.
Jika dia mengerahkan seluruh kemampuan tempur nya di sertai kekuatan senjata Cakra Manggilingan mungkin dia bisa memenangkan pertarungan melawan dua lawannya tersebut sedikit lebih cepat, namun akibatnya Alam Dewa pasti akan hancur karena jika Cakra Manggilingan di lepas bebaskan pasti akan merusak semua jalur serangannya.
Menyadari itu Dewa Kebijaksanaan sedikit tertekan jiwanya jika memikirkan nya.
Sementara Pemimpin pasukan Dewa Pemusnah kini malah sudah menjadi bulan bulanan jendral Iblis Hitam Roku.
Awan Hitam bergumpal yang bisa membentuk gambaran wujud apapun dan memiliki mulut seperti mahluk buas penghisap itu seperti monster ganas yang selalu mengejarnya.
Pemimpin Dewa Pemusnah mulai seperti kehabisan tenaga setelah macam macam jurus tombak andalannya di mentahkan sang lawan.
Keringat mulai mengucur di badan sosok Pemimpin Dewa Pemusnah, selama bertarung tadi Raga Abadi nya sudah banyak yang berguguran, jika di periksa dengan Indra spiritual nya mungkin jumlah Raga Abadi nya tinggal beberapa ratus lembar lagi, dari semula ratusan ribu lapisan.
"Apa mungkin ini akhir waktu ku? bertemu dengan sang Pencipta Kehidupan?."
Pasukan Dewa sudah banyak yang mundur ke dalam istana Kekaisaran yang terlindung oleh segel formasi pengaturan, karena sudah terdesak dan takut jika benar benar mati.
Dari ratusan ribu arena pertarungan kini hanya tersisa tiga arena saja, yaitu pertarungan antara Kaisar Dewa melawan Raja Agung Iblis, pertarungan antara Dewa Kebijaksanaan melawan Panglima Iblis Merah Moyaka, serta pertarungan antara Pemimpin Dewa Pemusnah melawan Panglima Iblis Hitam Roku.
Tiga kelompok itu masih bertarung dengan seru, meski kini pasukan Iblis sudah mengepung istana Kekaisaran.
Para Iblis dengan di pimpin oleh para wakil panglima mulai menggempur segel formasi pengaturan yang melindungi istana Kekaisaran tersebut.
Mereka ingin menjebol selaput perisai pelindung tersebut.
Jika para Iblis berhasil menghancurkan segel formasi pengaturan, bisa di pastikan istana Kekaisaran akan musnah, hancur dan rata dengan tanah.
Semua Dewa yang berada di dalam wilayah istana Kekaisaran hanya menatap ngeri para Iblis yang masih berusaha merusak, menjebol selaput perisai segel formasi pengaturan.
Segel formasi pengaturan yang semula memancarkan cahaya terang kini memang sudah mulai meredup setelah di serang dari segala arah dan sudut, itu menandakan jika kekuatan segel formasi pengaturan mulai goyah.
"Mungkin inilah akhir dari ras Dewa, akhir dari alam ini."
___________________
__ADS_1
Jangan lupa setelah kisah ini akan terbit cerita ku selanjutnya, mengisahkan seorang manusia yang mewarisi kekuatan dari penguasa alam