
Kedua iblis itu menatap Karsh dengan penuh penasaran, melihat luka luka yang di dapatkan sangat aneh, karena keduanya tau Karsh adakah manusia srigala yang tak akan mudah terluka dan memiliki daya pulih yang cepat dan hebat, tapi kali ini itu tidak berlaku.
"Apakah kau teringat sesuatu saudara ku?dengan luka ini?" kata Iblis Wora sambil menatap tajam Iblis Wari.
"Hmm," sahut Iblis Wari sembari menganggukkan kepala nya.
"Tapi aneh jika ada manusia yang bisa menimbulkan luka seperti ini."
"Benar, siapa sebenarnya lawan kita kali ini." gumam pelan Iblis Wari.
Kedua Iblis itu masih memandang Karsh.
"Dimana senjatanya?." tiba tiba Iblis Wora teringat senjata yang di pinjamkan nya, bertanya sambil menoleh kearah Sumantri.
"Senjata?," gumam Sumantri," Maaf tetua saya bahkan tak memikirkan itu, karena tergesa gesa menyelamatkan nyawanya saat itu."
"Siaaal, keparaat...!," teriak Iblis Wari mengumpat dan mengahantam sebuah meja yang langsung hancur berkeping keping, menyadari senjata Tongkat Wesi Kuning yang di pinjamkan pasti hilang karena Karsh berhasil dikalahkan lawannya.
"Pusaka itu tertinggal atau bahkan sudah di rampas musuh Karsh," seru iblis Wora.
Sumantri makin menunduk merasa bersalah, menyadari kecerobohan nya, namun jika dirinya tak cepat bergerak malah lebih celaka saat itu.
"Jika begitu kita harus mengejar kelompok itu." kata Wora kepada Wari.
"Tapi kita akan kesulitan, karena pelacak yang baik yaitu Karsh masih terluka, sedangkan anak buahnya tak ada satupun yang selamat."
"Kecuali kita bisa menemukan pengguna ajian Asu Panglimunan yang lainnya."
Keduanya nampak saling mengangguk memikirkan rencana tersebut.
**
Rombongan Jaya sudah mulai meninggalkan kota raja Karang Pandan yang bernama Candi Baru tersebut.
Keluar menuju sisi Utara dari kota tersebut karena akan menuju ke arah kerajaan Ngarsopuro.
Namun sebelumnya mereka nanti akan melewati kerajaan kecil yang ada di bawah naungan Karang Pandan yaitu kerajaan Jogonolo.
Kerajaan Jogonolo adakah kerajaan kecil di bawah naungan Kerajaan Agung Karang Pandan, berada di sisi Utara dan berbatasan dengan Ngarsopuro, sebuah kerajaan yang paling kacau balau pemerintahnya dan paling rendah keamanan wilayah nya.
"Kita sebentar lagi memasuki wilayah Jogonolo, wilayah yang paling rusuh dan rawan."
"Iya...aku tahu paman, aku pernah melewati wilayah Jogonolo tapi sebelah timur saat dulu bersama kakek Randu Sembrani saat bertemu dengan Gagak Hitam pertama kali," sahut Jaya sambil mengawasi sekitar nya.
Rombongan Jaya akhirnya memasuki wilayah kerajaan kecil Jogonolo, semua itu hanya di tandai oleh tugu yang melambangkan patok batas wilayah kerajaan kecil dengan Kerajaan Agung yang menaunginya.
Namun berbeda jika sudah memasuki batas wilayah dua Kerajaan Agung maka akan ada gapura yang besar dengan banyak penjaga yang menjaganya.
__ADS_1
Memasuki wilayah kerajaan Jogonolo itu, mulai terlihat beberapa tanda atau simbol yang banyak menghiasi tempat tempat tertentu.
"Mengapa banyak sekali simbol coretan seperti itu paman?."
Narimo dan Sugara sedikit maju untuk melihat dan memandang benda yang dimaksud Jaya.
Keduanya lalu mengangguk setelah menelitinya," Ooh...Ini adalah simbol Akar Jiwa."
"Akar Jiwa?." sahut Jaya, Kumala dan Pelangi hampir bersamaan.
"Benar... Akar Jiwa Nakmas, mereka adalah kelompok yang terdiri dari sepuluh aliansi dan menjadi penguasa di Jogonolo, terutama di kabupaten Jagalan yang di pimpin oleh Suro Jelantik."
"Eeh ..sepertinya aku pernah mendengar nama nama itu paman."
"Ya benar Kakang," sahut Pelangi memotong percakapan tersebut.
"Kita pernah melewati tempat itu, maksudku kabupaten Jagalan saat kita menuju ke Sirih Putih bersama kedua guruku," kata Pelangi lagi.
"Hmm, aku ingat nama Akar Jiwa, sebuah kelompok pencoleng yang terdiri dari sepuluh anggota dan menguasai kerajaan Jogonolo," sahut Jaya (sedikit tentang Akar Jiwa pernah di tampilkan di chapter 33 Perebutan Zirah Pusaka).
"Benar Nakmas, wilayah kerajaan Jogonolo di kuasai oleh kelompok ini dan pusatnya di Kabupaten Jagalan yang di pimpin Suro Jelantik," kata Narimo kembali.
Semua mengangguk meneliti simbol yang banyak tersebar di sana, sebuah coretan gambar potongan batang pohon dengan banyak akar menjulur dan jika di lihat lebih seksama akar tersebut berjumlah sepuluh.
"Kita harus hati hati, wilayah ini sangat rawan kejahatan," kata Jaya Sanjaya mengingatkan yang lainnya.
"Jangan terlalu mencolok, namun juga jangan terlihat lemah karena akan di injak injak oleh kelompok lain kalau begitu," kembali sang empu berpendapat.
"Benar apa kata kakek Cipta guna," balas Jaya, sambil memacu kuda tunggangan nya memasuki lebih jauh Jogonolo lebih dalam lagi.
**
Akar Jiwa adalah sebuah kelompok yang didirikan oleh tokoh sesat bernama Ki Ronggeng.
Dia adakah tokoh hitam yang cukup di segani dan di takuti karena sepak terjangnya, memiliki hubungan persaudaraan dengan pemimpin kota Jagalan yaitu Adipati Suro Jelantik.
Berkat Akar Jiwa pula Suro Jelantik bisa menguasai wilayah itu secara nyata, dan Ki Ronggeng bergerak di belakang layar mendukungnya.
Kelompok yang di motori oleh sepuluh kelompok lain nya itu kini menguasai wilayah tersebut.
Beberapa kelompok yang menjadi penyusun Akar Jiwa antara lain kelompok Pisau Terbang yang saat ini menguasai wilayah selatan dari Jogonolo tersebut.
**
"Aku perintahkan kalian mengejar kelompok itu, bawa kembali senjata Tongkat Wesi kuning milik kami," perintah Iblis Wari kepada Pyong Karund dan juga Sumantri.
Kedua tokoh petinggi kelompok Jiwa Abadi tersebut mendapat tugas merebut pusaka tongkat Wesi Kuning yang merupakan pusaka tingkat Dewa.
__ADS_1
"Melihat betapa bahaya nya lawan kalian, aku harap kalian jangan bertindak ceroboh dan selalu hati hati." sela Iblis Wora menimpali Iblis Wari saudara nya.
"Baik Tetua yang Agung, kami pasti akan mendapatkan nya." sahut Pyong Karund dengan rasa percaya diri yang tinggi, sedangkan Sumantri hanya mengangguk saja.
"Berangkat lah kalian besok pagi," kata Iblis Wora sambil melemparkan sekantung uang emas kepada Pyong Karund untuk kebutuhan perjalanan.
"Terimakasih Tetua yang Agung."
**
Rombongan Jaya kini memasuki lebih dalam di wilayah Jogonolo.
Kali ini dengan sengaja mereka sedikit memamerkan semua senjata yang di miliki nya, menampakan jika mereka kelompok pendekar, bukan pelintas biasa.
Sengaja mereka berlaku seperti itu untuk menunjukan kepada kelompok lain jika mereka bukan orang orang lemah yang bisa di tekan dengan mudah.
"Kita istirahat di depan paman, kasihan kuda kuda ini jika kita harus menunggu kita mencari warung makan."
"Kita makan seadanya dulu, nanti jika menemukan tempat makan kita bisa makan lagi," kata Jaya kepada Narimo agar menyiapkan perbekalan.
"Baik Nakmas."
Dengan di bantu Baroto dan Empu Cipta guna, Sugara mengurus kuda kuda untuk di tambatkan di dekat semak semak rerumputan.
Narimo dan Pitu Geni membuat perapian dengan golok Wiso Geni nya.
Sedangkan Kumala dan Pelangi menyiapkan umbi umbian yang di bawa selama di perjalanan untuk bekal.
Jaya melesat pergi sesaat mengawasi situasi dari pepohonan tertinggi yang bisa di naikinya, meskipun tanpa zirah sayap Garuda namun jaya masih mampu untuk meloncat setinggi beberapa tombak jauhnya, untuk menentukan lokasi keberadaan nya.
Duduk di pucuk tertinggi dari pohon tertinggi, melihat sekitarnya, memetakan lokasi di kepalanya.
Tatapan nya yang tajam mampu melihat dalam jarak ratusan tombak dengan sangat jelas.
**
Di seberang yang lain, tepatnya di perkemahan Tumenggung Yudoyono para Senopati sedang melaporkan tugasnya.
"Mohon ampun ndoro Tumenggung, kelompok itu sudah meninggalkan tempat penginapan nya."
"Sudah kami sisir semua wilayah, nampaknya mereka sudah meninggal kan kota Candi Baru dan memasuki wilayah Jogonolo," lapor senopati Ra Lewang kepada sang Tumenggung.
"Ya... mau bagaimana lagi, nampak nya semesta belum mengijinkan kita berkongsi dengan mereka, tapi mulai hari ini kita tandai Awan Putih sebagai kelompok pendekar yang hebat." sahut Tumenggung Yudoyono pasrah dengan menghela nafas nya.
____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....
__ADS_1