
Bonus Chapter...buat Kaka semua...
Pelangi yang sudah merasa tersulut emosi nya, karena jurus Mata Dewa yang di ciptakan diremehkan, sudah akan maju menghadapi sosok bertopeng.
"Tahan Dinda ..., kali ini bagian Kakang.." kata Jaya pelan, menyentuh lengan gadis nya, menenangkan.
Pelangi mengangguk pelan, menahan langkah nya.
Jaya menatap anggota Awan Putih lainnya agar maju mendekat ke arah Pelangi, berjaga jaga membantu nya jika ada serangan yang bertubi tubi dari ratusan orang lainnya, Meskipun kenyataan nya semua mundur ketakutan.
"Benarkah kau mampu menciptakan jurus seperti tadi dengan lebih kuat??." kata Jaya sambil menatap tajam sosok di depannya.
"Hua.ha..ha..., tentu saja anak muda..!, aku mampu, kau belum tahu siapa aku..!."
Jaya tersenyum, menarik bibirnya miring meledek lawan dengan gaya senyumannya.
"Benarkah? memang siapa kau??" sahut nya lagi
Pencuri bertopeng makin terbahak tertawa.
"Buka matamu...!, dengarkan baik baik..!, aku Mata Elang...!, murid dari seseorang pengguna Mata Dewa, yang paling berbakat." kata pencuri bertopeng yang bernama Mata Elang sambil menepuk dadanya, sombong.
"Hua..ha..ha..paling berbakat?, benarkah?." balas Jaya dengan terbahak pula.
"Bocah sinting ...!, AKU TUNJUKKAN..!! jurusku..." teriak Mata Elang dengan murka.
CLAAAAPP....!!
Mata Elang melepaskan jurus Mata Dewa dengan kekuatan tekanan yang sangat hebat.
Mengurung Jaya seorang, yang sudah melangkah maju sebelum nya.
Jika orang biasa, terjebak di jurus ciptaan Mata Elang seperti itu pasti sudah kaku, lemah dan tak bisa bernafas dengan baik, terjebak dalam "slow motion".
Dadanya akan tertekan, terhimpit oleh kekuatan tak kasat mata.
Namun kali ini lawannya adalah Jaya Sanjaya jagoan kita, bahkan dirinya tak mempan saat Randu Sembrani menjerat dengan jurus ini dahulu kala bertemu pertama kali, apalagi kini Jaya juga menguasai jurus tersebut.
Jaya pura pura terjebak tak bergerak, menanti apa yang akan dilakukan Mata Elang.
"Hua.ha..ha...rasakan bocah gemblung, kau pikir dirimu hebat karena belum bertemu dengan ku..!,"
"RASAKAN SEKARANG..!!." teriak Mata Elang begitu lawannya nampak terdiam terjebak dalam jurus Mata Dewa, sambil melesat cepat kearah Jaya.
Semua anggota Awan Putih hanya ternganga, begitu khawatir, miris dengan apa yang akan terjadi, namun mau membantu jaraknya tak memungkinkan, karena tadi tak ada yang menyangka jika sosok bertopeng akan mengeluarkan jurus kekuatan Mata tersebut.
Dengan sangat cepat, Mata Elang menebas badan Jaya.
__ADS_1
Craaaash...!!
"AAAAaaaa......!." bukan Jaya yang berteriak, tapi semua orang, karena kaget dan berteriak ngeri, terutama Kumala dan Pelangi.
Perut Jaya tertebas pedang Mata Elang, namun karena tubuhnya yang alot pedang pencuri bertopeng hanya merobek perut bagian luar tanpa menembus hingga rongga dalam nya.
"Modaar...ora koe..!!, mau macem macem sama Mata Elang, rasakan tuh..!! he..he..he..!!," seru Mata Elang sambil berkacak pinggang, senang dengan hasil serangan nya.
Jaya merunduk, memegangi perutnya, seperti orang yang kesakitan tertebas pedang lawan, darah yang menetes dari lukanya kini sudah berhenti, karena "Raga Abadi" membuat luka itu menutup dalam sekejap.
"TARAAAA....!!." Teriak Jaya, tangannya melebar direntangkan, sambil tersenyum memamerkan perutnya yang sudah pulih seperti sedia kala, seperti pemain sulap.
Semua orang melotot, tanpa kecuali termasuk anggota Awan Putih.
"D...D-Dewa...k.kekutan dewa..!!." teriak orang orang itu, kini semua mundur makin jauh, makin ketakutan dengan kekuatan orang orang di depan mata nya.
Mata Elang menatap lawannya tak berkedip, "Hei..sihir apa yang kau lakukan bocah..!!."
Jaya tak menjawab, tersenyum menyeringai, menakutkan dan melangkah maju.
CLAAAAPP....!!
Jaya bahkan melepaskan jurus Mata Dewa yang lebih kuat dari milik Mata Elang.
"Aaarchh...!.''
Mata Elang tercekat berteriak keras, tak menyangka lawannya bisa melakukan hal serupa terhadap nya, bahkan lebih hebat lagi.
BLEGAAAAAART....!!
"Aaaaarrcchh....!." Jerit Mata Elang ketika hantaman super keras itu menghujam dada nya.
Jika bukan karena zirah Tameng Jiwo ada padanya, pasti dada itu akan jebol.
Mata Elang terlempar jauh bergulingan hingga berhenti karena daya dorongnya melemah.
Belum sempat bangkit sempurna Jaya kembali menghujamkan sebuah tendangan keras.
JDUAAAAAAARRT....!!
"Aaaaaaaaiiii...!!."
Mata Elang kembali terlempar, badannya menyeluruk hingga pertengahan alun alun.
Orang orang tak ada yang berani mendekat, begitu Jaya terbang menyusulnya.
"Bagaimana Mata Elang?, apakah kau masih ingin menjadi murid bajingan..!, yang melupakan ajaran mulia dari guru mu...!!."
__ADS_1
"Merasa hebat dengan kekuatan mu..!, hingga kau menistakan guru mu dengan tingkah laku dan polah biadab mu..!!.''
Racau Jaya sembari menghajar berkali kali ke arah wajah pencuri bertopeng, hingga topeng besi yang di pakai sosok itu retak dan pecah.
Ceprrooot...!!
Praaaakkk...!!!
Proookkk..!!
Hantaman hantaman Jaya masih bertubi tubi mendera tubuh Mata Elang.
Jaya mundur sesaat, manarik nafas seperti merapalkan sesuatu.
"Roh Tameng Jiwo...!! bangunlah...!, kembali kepada ku..!!." teriak Jaya Sanjaya.
Mata Elang kaget, merasa lawannya membentak dirinya tapi tak selaras dengan ucapan nya, seakan perkataan itu bukan di tujukan kepada dirinya.
Belum hilang rasa terkejutnya, badan Mata Elang langsung berguncang hebat, zirah perang yang ada di badannya bergetar, badannya langsung di seperti di jungkir balikan oleh kekuatan yang ada di lapisan baju perang tersebut.
"AAAAaaaa...!!."
Mata Elang berteriak kesakitan saat baju perang itu tercerabut dari badannya dengan kasar.
Zirah tersebut seperti tersedot terlontar kearah Jaya Sanjaya, melingkupi nya dengan cara yang aneh, seperi seekor lintah merayap menjalar di badan Jaya lalu seperti menyatu dengan kulitnya.
"Aaaarrrghghhh...!!."
Jaya berteriak, begitu zirah tersebut melingkupi dirinya, seakan ribuan volt aliran listrik yang mengaliri badannya menyuplai kekuatannya menjadi berlipat ganda.
Mata Elang masih terbelalak matanya, melihat pemandangan aneh dan ganjil di depannya, tak menghiraukan badannya yang kini terasa lemah lunglai karena penyuplai tenaga sudah tak ada.
Rasa sakit akibat di hajar Jaya kini makin terasa, perih dan sakit bukan hanya badannya tapi juga hatinya, pikiran waras nya langsung bekerja dengan sempurna, kini Mata Elang sudah merunduk di depan Jaya, rasa sesal melingkupi nya.
"A..a.ampun, ampuni aku t..t.tuan pendekar, ampuni nyawaku, aku mengaku salah, aku tobat ampuni aku.." ratapnya.
Jaya menatap Mata Elang dengan tajam. "Benarkah kau mau bertobat..!.'' balas Jaya.
Sambil mengangguk Mata Elang berkata, "Benar ..tuan pendekar, aku mengaku salah selama ini, menjadi murid yang tak berguna, melalaikan tugas dan kewajiban sebagai pendekar yang seharusnya menegakkan keadilan dan kebenaran."
Air mata Mata Elang mengalir deras, tampak kesungguhan dalam ucapannya.
Semua orang melihat dari kejauhan, kelompok Awan Putih merasa lega, lawan dari Jaya nampak bersimpuh di kaki pendekar muda tersebut.
Sementara orang orang yang tadi berniat memburu pusaka, kini pelan dan perlahan mundur, makin jauh dan menghilang dari tempat tersebut.
Para pemburu pusaka itu ketakutan melihat betapa hebatnya "pelindung" dan juga gadis Ndaru Kolocokro tersebut.
__ADS_1
____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....