
Pertempuran makin seru terjadi.
Dua sosok yang mengeroyok Jaya menggempur dengan ganas dan bertubi-tubi dari berbagai arah.
Raja Neraka dengan senjata tongkat merahnya yang membara menyerang dengan membabi buta, sosok yang tak mengenal takut dan rasa sakit itu terus menyerang, menghantamkan tongkat nya yang jika di hantamkan Karang sebesar rumah pasti akan hancur.
Begitu juga dengan Iblis Salju, menebaskan pedangnya menyasar ke badan Jaya tanpa ada Jeda sama sekali.
BLEGAAAAAART......!!
Jaya kembali menghantamkan pukulannya, begitu dua lawannya tersebut menyerang secara berbarengan.
Ledakan itu melempar dua sosok tokoh legenda di jamannya, yang kini telah menjadi mayat, ....mayat hidup lebih tepatnya.
Tubuh dua sosok itu terbakar oleh pukulan Jaya yang mengandung hawa Badai Matahari, Namun dengan cepat sosok itu memulihkan diri, dan begitu pulih langsung menyerang Jaya kembali dengan ganasnya.
"Aku akan ladeni ketahanan kalian..!," teriak Jaya dengan menangkis hantaman lawan, zirah Tameng Jiwo dan zirah sayap Garuda yang melingkupi Jaya mulai bekerja untuk memulihkan tenaga Jaya.
Dua zirah yang mengontrol dan melindungi tubuh Jaya tersebut, mulai mengeluarkan kekuatannya, kekuatan energi yang selama ini tersimpan sebagai cadangan itu mulai di keluarkan, dan mengaliri tiap tiap jalur saluran tenaga dalam yang bekerja di seluruh tubuh Jaya, dari jalur yang terbesar hingga ke saluran jalur terkecil untuk penghantar energi.
Kekuatan Jaya yang kini berlipat lipat itu bergerak makin cepat, menghantam lawannya dengan tongkat Wesi Kuning.
Praaakkkk...!!
Praaaakkk...!!
Dua hantaman Jaya tepat mengenai kepala dari dua sosok tersebut.
Terhantam oleh Jaya dengan tongkat Wesi Kuning, dua kepala yang sangat liat dan alot itu remuk dalam sesaat, meskipun perlahan namun pasti kepala tersebut terbentuk utuh kembali.
Rakumba yang mengawasi pertarungan itu, makin kagum dengan kemampuan tubuh dari lawan nya, "Hmm..., sosok yang hebat, tubuh yang bagus untuk menjadi calon prajurit Layon Pitu," gumam nya sembari tersenyum miring, memikirkan sebuah rencana.
"Meski menghadapi dua anggota Layon Pitu yang sangat hebat, tapi dia mampu mengimbanginya, bahkan dua anggota ku terlihat keteteran meskipun sudah menyerang dengan membabi buta," gumam Rakumba kembali.
Rakumba kemudian nampak berkomat kamit kembali, tangannya bergerak gerak seperti membuat sebuah simbol, membuat simbol untuk membuka segel tertentu.
Begitu selesai ritual Rakumba, dua sosok lain yang berdiri di depannya mulai bergerak dan meloncat maju, menyerang ke arah Jaya.
Sosok yang pertama merupakan mayat seorang prajurit pendekar berjuluk Jendral 9 Nyawa berasal dari Kerajaan Agung Tunggal Kuasa.
Dahulu kala seluruh daratan ada dalam kuasa sebuah kerajaan, termasuk Panca Buana yang berada dalam satu kekuasan dari sebuah kerajaan terbesar sepanjang sejarah bernama Tunggal Kuasa, dimana di kerajaan Agung Tunggal Kuasa itu ada sosok seorang jendral perang hebat yang di juluki Jendral 9 Nyawa.
Namun semenjak sang jendral mati kerajaan itu runtuh, berakhir lah era kerajaan Tunggal Kuasa dan mulai terpecah belah menjadi lima bagian yaitu: Karang Pandan, Karang Kadempel, Pati Sruni, Jongka Lengkong dan Wukir Asri.
Lima kerajaan itulah yang dinamakan Panca Buana, dan satu Kerajaan Agung itupun terdiri dari beberapa puluh kerajaan kecil lagi sebagai penyusunnya, seperti Ngarsopuro yang berada di bawah naungan Karang Kadempel, atau Ngarsopuro sebagai penyusun dari kerjaan Agung Karang Kadempel.
Jasad Jendral perang yang menjadi legenda para prajurit itu kini berada dalam kuasa Jiwa Abadi (Iblis kembar Wora dan Wari), di awetkan sebagaimana sosok Raja Neraka juga Iblis Salju, lalu di bangkitkan kembali dalam sosok yang saat ini tengah menyerang Jaya Sanjaya.
"GGGrrggh."
__ADS_1
Sosok Jendral 9 Nyawa menggeram, lalu melesat menyerang Jaya menggunakan senjata pedang tombak andalan nya.
Satu lagi sosok baru yang melesat menyerang Jaya yaitu sosok tinggi besar, semasa hidupnya berjuluk Singa Surai Emas seorang pendekar yang terkenal karena kekuatan pukulan dan jurus andalannya yaitu "Auman Singa" , sosok ini bersenjata Golok lebar dengan ujung tumpul.
Dua sosok baru itu mulai merangsek menyerang ganas ke arah Jaya Sanjaya.
Begitu melihat hal tersebut, para anggota Awan Putih langsung turun dari kudanya, melesat maju mencoba menghadang lawan, membantu sang Tetua yang tengah di keroyok.
Rakumba tak membiarkan itu terjadi, kini dia punya tujuan tersendiri, agar bisa menaklukan lawannya (Jaya) dan membawa mayat lawan itu untuk di hadapkan kepada dua pemimpin Agung nya, kemudian memproses jasad lawan agar menjadi anak buahnya.
Rakumba melesat bersama dua sosok yang selalu berada di sampingnya, untuk menghadapi orang orang Awan Putih yang kini sudah berhamburan mencoba membantu sang Tetua.
Dua sosok di samping Rakumba yang terlihat makin aneh tersebut biasa di panggil dengan nama Kiwo dan Tengen .
Keanehan dari sosok tersebut adalah badannya yang separuh berujud manusia namun separuhnya tak jelas bentuknya.
Dahulu kala awal mula Iblis kembar ke alam manusia, dua iblis bertemu dengan sosok pertapa yang sakti mandraguna, bernama Resi Makaryo Jagat.
Mereka bertempur dengan seru hanya karena berebut sebuah tempat dan wilayah yang saat ini menjadi markas Jiwa Abadi.
Tempat yang istimewa dan sangat tertutup itu menjadi rebutan mereka hingga bertarung berhari hari.
Akhir cerita resi tersebut kalah dan badannya terbelah menjadi dua bagian yaitu sebelah Kanan dan sebelah kiri.
Oleh dua iblis tersebut, badan resi Makaryo Jagat itulah yang di jadikan uji coba pengembangan cacing darah Sarma Pala untuk pertama kalinya.
Rakumba bersama Kiwo dan Tengen menghadang anggota Awan Putih.
Tiga sosok itu menghadapi sisa anggota Awan Putih yang mencoba membantu Jaya Sanjaya.
"Biarkan mereka bertarung, kalian mengahadapi kami..!," teriak Rakumba menahan anggota Awan Putih tersebut.
"Aku cincang kau...!!," teriak Anuso Birowo sang Golok Naga geram, mengayunkan golok raksasa nya menebas ketiga sosok sekaligus di depannya.
Sriiiing....!! WUUUUSSSS.....!!
Golok besar itu menebas kearah tiga sosok yang menghadang di depan.
Tengen yang berada di tempat paling terdekat dari Anuso Birowo langsung mengibaskan lengan kirinya.
Lengan hasil rekayasa Iblis Wora dan Iblis Wari yang tertutup oleh baju panjang tersebut bergerak sangat cepat, menepis sambaran golok yang terlihat sangat kuat itu.
BLEEEEGG...!!
Golok yang menyambar begitu kuat itu seakan menebas sebuah karet kenyal yang sangat kuat dan liat.
Bahkan kekuatan ayunan Anuso Birowo saat menebaskan golok tersebut terredam oleh tangkisan lengan kiri Tengen.
"Haaah..!!." Anuso Birowo tercekat.
__ADS_1
Pitu Geni juga melesat maju menebas kearah lawannya, namun Kiwo langsung menghadang sambaran golok yang sudah berkobar tersebut.
Dengan santai nya sosok Kiwo menepis golok yang membara itu dengan lengan kanannya.
BLAAAANG...!!
Sambaran golok Wiso Geni yang menghantam lengan itu hanya sesaat membakarnya lalu padam dan itu tak berefek apapun bagi Kiwo.
Rakumba yang muncul dari belakang dua sosok Kiwo dan Tengen langsung menghantam kan gelombang pukulan jarak jauhnya kearah Anuso Birowo dan Pitu Geni.
BLEGAAART...!!
Pukulan itu menghantam Pitu Geni dan Anuso Birowo hingga keduanya terpental jumpalitan kebelakang.
Kumala, Pelangi dan Mata Elang langsung melesat melepaskan serangan kekuatan Mata nya, begitu dua anggota Awan Putih itu terpental.
CLAAAAPP...!
CLAAAAPP....!!
CLAAAAPP....!!
Di susul Baroto yang menghantamkan pukulannya.
Wuuuung...!
BLOOUUUUGGH...!!
Namun lagi lagi dua sosok di depan Rakumba menghadang menangkis hantaman tersebut, dan ternyata Jurus kekuatan mata tak berpengaruh terhadap para Layon tersebut, hanya Rakumba sedikit mengalami keadaan tersendat, namun semua bisa tertutupi oleh perisai dua sosok Kiwo dan Tengen, lalu Rakumba akan muncul di sela selanya untuk melakukan serangan balik yang membahayakan.
JDUAAAAAARRT....!
Akibat pukulan itu Kumala, Pelangi, Mata Elang dan Baroto terlempar cukup jauh.
Suroloyo, empu Cipta guna, Sugara, dan Narimo serta Jayeng Rono langsung menyerang tiga sosok itu secara bersamaan, namun lagi lagi semua serangan itu berhasil di mentahkan oleh tiga sosok Layon Pitu tersebut.
BLAAAAAARR...!!
Pukulan gabungan itu bertemu dengan pukulan Rakumba yang di bentengi dua sosok Kiwo dan Tengen.
Kembali semua terpental tercerai berai.
"Hati hati, serangan lawan sangat berbahaya..!!," teriak Pitu Geni memperingatkan yang lainnya, begitu kembali ke medan laga setelah terlempar tadi bersama Anuso Birowo.
Kini sisa anggota Awan Putih tersebut bertarung mengurung tiga anggota Layon Pitu dengan lebih hati hati.
_____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...
__ADS_1